Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Ponsel retak itu kini memiliki arti yang jauh berbeda bagi Keira. Jika sebelumnya benda tersebut hanya menjadi perantara untuk menunggu pesan atau panggilan dari Davin, maka kini layar kecil itu menyimpan sebuah dunia rahasia sebuah jendela kecil tempat ia bisa mengintip ke luar tanpa harus melangkah meninggalkan kamar kos.
Sudah seminggu sejak ia mengunggah sketsa botol bunga pertamanya. Akun portofolio anonim itu tidak mengalami lonjakan drastis; pengikutnya masih bisa dihitung dengan jari, dan unggahannya yang kedua berupa sketsa ranting pohon kering di halaman kos hanya mendapatkan tambahan satu like baru. Namun, bagi Keira, angka-angka kecil itu bukan sekadar statistik. Setiap kali ia melihat notifikasi kecil di sudut aplikasinya, ada sensasi hangat yang menyusup di dadanya sebuah pengingat bahwa di luar sana, goresan tangannya diakui keberadaannya.
Pagi itu, hari Selasa, matahari bersinar terik. Davin sudah berangkat kerja sejak pagi setelah menyempatkan diri mengecup kening Keira dan meninggalkan uang belanja di atas meja plastik.
Keira duduk bersila di tepi kasur, memegang ponsel retaknya dengan hati-hati. Saat ia membuka aplikasi tersebut, sebuah notifikasi mengejutkan tertera di layar.
Bukan sekadar like. Sebuah komentar baru mendarat di unggahan sketsa ranting pohonnya.
@art_enam: Garisnya bagus, natural banget. Suka sama cara kamu mainin arsiran di bagian bayangan rantingnya. Pakai pensil 2B atau HB?
Keira tertegun, menatap deretan huruf di layar ponselnya selama beberapa detik. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ini adalah komentar pertama yang ia terima sejak membuat akun tersebut interaksi nyata pertama dari seseorang di luar sana yang benar-benar memperhatikan detail karyanya, bukan sekadar menekan tombol suka lalu berlalu.
Jemarinya sempat ragu-ragu di atas papan tik ponsel. Ada rasa canggung yang mendadak melanda. Selama berbulan-bulan, ia lebih sering berbicara hanya dengan Davin atau membalas pesan singkat dari Amara yang sempat merenggang. Berinteraksi dengan orang asing di ruang digital terasa asing sekaligus mendebarkan.
Namun, perlahan, ibu jarinya bergerak mengetik balasan.
@k_garismin: Terima kasih banyak. Aku pakai pensil B sama serutan manual aja kok.
Setelah menekan tombol kirim, Keira menghela napas panjang, merasa ada sedikit kelegaan yang menggelitik sudut bibirnya. Sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya senyuman tulus yang muncul bukan karena dibawakan martabak oleh Davin atau dipuji karena menjadi perempuan yang penurut, melainkan karena ia baru saja melakukan percakapan kecil tentang sesuatu yang benar-benar ia cintai.
Siangnya, kesibukan kecil itu teralihkan oleh suara derap langkah di koridor luar, disusul ketukan ringan di pintu kayu.
Ketika Keira membukanya, Bu Rina berdiri di sana sambil membawa mangkuk kecil berisi kolak pisang hangat.
"Mbak Keira, kebetulan banget tadi bikin kolak agak banyak buat camilan siang. Nih, cobain masih hangat," sapa Bu Rina ramah.
"Wah, terima kasih banyak, Bu. Repot-repot terus," balas Keira tulus, menerima mangkuk tersebut dengan senyuman lebar.
"Sama-sama, Mbak. Oh ya, muka Mbak Keira hari ini kelihatan lebih cerah ya. Kayaknya makin betah nih di kos?" puji Bu Rina sambil tersenyum menggoda.
Keira hanya tertawa kecil merespons candaan tetangganya itu, tidak ingin menceritakan rahasia kecil tentang akun seninya. Setelah Bu Rina pamit kembali ke kamarnya, Keira menikmati kolak pisang tersebut sambil kembali melirik buku sketsanya yang tergeletak di meja.
Dunia kecilnya di Jalan Melati memang tidak berubah. Dinding kamarnya tetap berukuran tiga kali tiga meter, dan bayang-bayang rutinitas bersama Davin akan kembali menjelang sore nanti. Namun, di dalam kepala dan di balik layar ponsel retaknya, batasan-batasan itu mulai terasa sedikit lebih longgar.
Ketika sore menjelang dan suara motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos, Keira sudah siap. Ia mengunci aplikasi seninya, meletakkan ponsel itu di atas meja bersama tumpukan buku, lalu melangkah tenang membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Sore, Sayang," sapa Davin sambil tersenyum lelah, langsung merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukannya.
Keira membalas pelukan itu dengan hangat seperti biasa, menyambut kepulangan lelaki yang merawat hidupnya. Namun, kali ini, ada perbedaan tipis di dalam dadanya sebuah rahasia kecil yang manis, di mana ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pelukan tersebut untuk merasa hidup.
Malam itu, setelah Davin pulang dan kamar kembali sunyi, Keira menyempatkan diri membuka kembali ponselnya sebelum tidur. Komentar dari akun @art_enam tadi siang ternyata sudah dibalas kembali, menanyakan apakah Keira sering membagikan karya-karya lain atau menerima pesanan ilustrasi sederhana.
Keira membaca balasan itu dengan debar yang perlahan berubah menjadi senyuman. Ia belum berani memikirkan soal pesanan komersial; gagasan itu masih terasa terlalu besar dan menakutkan. Namun, mengetahui bahwa ada orang yang tertarik melihat lebih banyak karyanya memberikan dorongan kecil yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia membalas pesan tersebut dengan sopan, mengatakan bahwa ia masih dalam tahap belajar dan baru saja mengunggah beberapa sketsa latihan. Tidak ada janji besar, tidak ada rencana muluk-muluk. Hanya sebuah interaksi sederhana di dunia maya yang memperlihatkan bahwa dirinya masih hidup dan memiliki ruang gerak di luar kendali siapa pun.
Hari-hari berikutnya bergulir dengan keseimbangan yang semakin tertata rapi di kepala Keira. Di satu sisi, ia tetap menjalankan perannya sebagai kekasih yang baik bagi Davin. Hubungan mereka berjalan tanpa gejolak berarti; Davin masih sering datang membawa makanan, membahas hal-hal sepele seputar kantor, dan sesekali mengeluhkan persiapan proyek cabang Bandung yang mulai memasuki tahap krusial.
Keira mendengarkan setiap keluh kesah itu dengan penuh perhatian, tanpa pernah merasa perlu mengorek lebih jauh soal memo atau nama Nadia yang sempat mengusiknya beberapa minggu lalu. Nama itu kini tersimpan rapi di dasar tumpukan diktat, tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan sekadar bagian dari dunia luar Davin yang berjalan di jalurnya sendiri.
Di sisi lain, dunia kecil Keira di atas kertas dan layar ponsel retaknya perlahan mulai bernapas lebih leluasa. Interaksi kecil dengan sesama pengguna akun seni di internet berlanjut sesekali, memberikan warna baru yang menyegarkan hari-harinya di kamar kos.
Suatu sore, ketika Keira sedang merapikan meja plastik tempat ia biasa menggambar, matanya tanpa sengaja menangkap kartu nama Galeri Senja Bimantara yang tersimpan di dalam dompet lamanya. Ia mengambil kartu tersebut, memandangnya cukup lama, lalu menyelipkannya kembali ke sela-sela halaman buku sketsa bersampul hitam.
Ia belum berniat untuk menghubungi galeri itu lagi. Keberaniannya belum sampai ke tingkat melamar pekerjaan secara langsung. Namun, menyimpan kartu nama itu di dalam buku sketsanya terasa seperti menanam sebuah bibit di tanah yang subur ia tahu tanaman itu belum tumbuh besar, tetapi ia juga tahu bahwa bibit itu ada di sana, menunggu waktu yang tepat untuk menembus permukaan.
Ketika suara deru motor matic Davin terdengar berhenti di depan gang kos menjelang petang, Keira dengan gesit menutup buku sketsanya, merapikan meja, dan menyambut kedatangan kekasihnya dengan senyuman yang hangat dan wajar.
Tidak ada yang berubah secara drastis di permukaan kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu. Pintu kayunya masih terkunci rapat dari dalam, dan dunia luar masih terasa begitu jauh. Namun, di dalam diri Keira, fondasi-fondasi kecil mulai terpancang kuat menjadikannya perempuan yang tidak lagi hanya menunggu angin membawa arah hidupnya, melainkan mulai memegang sendiri pensil di tangannya.
Pekan berikutnya membawa angin perubahan yang sangat halus pada rutinitas harian Keira. Akun seni anonim miliknya kini tidak lagi benar-benar sunyi. Selain @art_enam yang beberapa kali meninggalkan komentar suportif pada unggahan terbarunya sebuah sketsa sudut ruangan kamarnya sendiri beberapa akun lain mulai ikut singgah, meninggalkan tanda suka atau sekadar memuji pemilihan garis arsirnya yang dinilai punya ciri khas tersendiri.
Bagi seseorang yang selama berbulan-bulan hanya mendengar suara televisi kos dan omongan tetangga sebelah, apresiasi sekecil itu memiliki daya magis yang luar biasa. Setiap kali layar ponselnya bergetar menampilkan notifikasi baru, ada rasa hidup yang kembali mengalir di dalam dadanya. Keira tidak lagi merasa dirinya adalah bayangan transparan yang menempel di sudut kamar Davin. Ia adalah seseorang yang memiliki mata untuk melihat keindahan kecil dan tangan yang mampu merekamnya di atas kertas.
Namun, di tengah keheningan proses pemulihan batin itu, dunia luar kembali mengetuk pintu kehidupan mereka dengan cara yang tidak terlalu menyenangkan.
Hari itu, hari Kamis sore, Davin datang berkunjung lebih malam dari biasanya. Wajah lelaki itu tampak kusut, kemejanya sedikit keluar dari celana kain, dan rahangnya mengeras. Begitu masuk ke dalam kamar kos, Davin langsung melemparkan tas kerjanya ke atas lantai begitu saja, lalu menjatuhkan diri ke tepi kasur sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Keira yang sedang merebus air hangat langsung menoleh, sedikit terkejut melihat gestur kekasihnya yang tidak biasa.
"Lho, Vin? Kenapa? Capek banget tampangnya?" tanya Keira lembut, berjalan mendekat sambil membawakan segelas air putih dingin.
Davin meneguk air pemberian Keira sampai tandas dalam beberapa kali tegukan, lalu meletakkan gelas itu dengan bunyi dentingan yang cukup keras di atas meja.
"Bikin emosi, Kei," gerutu Davin dengan nada suara tertahan, napasnya masih sedikit memburu.
"Proyek cabang Bandung benar-benar bikin pusing kepala. Data anggaran yang dikirim sama tim pusat ternyata banyak yang meleset dari laporan fisik di lapangan. Otomatis aku sama tim harus bongkar ulang semuanya dari nol."
Keira mendengarkan dengan saksama, duduk berlutut di lantai tepat di hadapan Davin, lalu mengusap punggung tangan lelaki itu pelan untuk menenangkan.
"Sabar, Vin. Namanya juga proyek besar, pasti ada aja kendalanya. Jangan terlalu diambillah."
"Bukan masalah proyeknya aja yang bikin stres," keluh Davin, menggelengkan kepala sambil mengendurkan dasinya dengan kasar. "Si Nadia itu lho... Kerjanya bikin darah tinggi."
Mendengar nama Nadia disebut secara spontan dengan nada jengkel, debar di dada Keira sedikit berubah. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya.
"Emang kenapa sama Nadia, Vin?"
"Dia itu ya, kalau dikasih tahu soal kesalahan rekap data malah ngeyel. Kemarin sempat salah hitung selisih anggaran sampai puluhan juta, pas aku tegur keras di ruang rapat kantor, dia malah kelihatan sewot kayak merasa paling benar," cerita Davin panjang lebar, meluapkan kejenuhannya tanpa menyadari bahwa nama tersebut selalu membawa sensasi dingin di ujung jemari Keira.
"Padahal posisinya dia staf keuangan, harusnya lebih teliti soal angka. Kalau begini terus, bukan cuma aku yang kena tegur bos besar, tapi jadwal keberangkatan audit minggu depan bisa-bisa kacau."
Keira hanya mengangguk-angguk kecil, mendengarkan setiap keluhan Davin tanpa memberikan komentar berlebihan. Di satu sisi, amarah dan kejenuhan yang ditunjukkan Davin secara terbuka itu membuat rasa tegang di dadanya sedikit mereda. Penjelasan bahwa Davin memarahi dan menegur keras perempuan itu karena masalah pekerjaan membuat ketakutan-ketakutan aneh yang sempat singgah di kepalanya melebur seketika.
Namun, di sisi lain, mendengar betapa intensnya interaksi harian antara Davin dan Nadia di kantor bagaimana mereka harus berdebat, menyelesaikan masalah bersama, dan mempersiapkan jadwal keberangkatan audit ke Bandung dalam waktu dekat membuat Keira menyadari bahwa dunia profesional kekasihnya memang diisi oleh orang-orang yang gigih dan penuh tekanan.
"Udah ya, jangan dipikirin lagi kalau udah di sini," bujuk Keira tulus, mencoba menarik senyuman terbaiknya untuk menghibur sang kekasih.
"Sekarang kan udah di kos. Istirahat dulu, nanti aku siapin makan malam."
Davin menatap wajah Keira yang begitu sabar dan menenangkan. Garis-garis ketegangan di wajah lelaki itu perlahan-lahan mulai melunak. Ia menarik tangan Keira, lalu mengecup telapak tangan itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Maaf ya, Kei... Aku malah bawa emosi kantor ke sini," ujar Davin dengan suara yang kembali lembut.
"Cuma sama kamu aku bisa ngerasa waras lagi setelah seharian di kantor."
Keira mengangguk kecil, membalas senyuman itu.
"Iya, gak apa-apa. Istirahat ya."
Malam itu, setelah Davin selesai makan dan kembali pulang ke tempat tinggalnya untuk beristirahat, kamar kos kembali diselimuti kesunyian.
Keira duduk di balik meja plastik, membuka buku sketsa bersampul hitam miliknya. Ia tidak langsung menggambar. Matanya menatap lama pada lembaran-lembaran kertas putih di depannya, lalu beralih sekilas pada layar ponsel retak yang tergeletak di sampingnya.
Ia menyadari bahwa kesibukan Davin di luar sana adalah bagian dari dunia yang tidak sepenuhnya bisa ia jangkau atau kendalikan. Namun, di balik semua ketidak pastian itu, ia kini memiliki lembaran-lembaran kertas dan ponsel kecil yang menyimpan dunianya sendiri sebuah ruang rahasia tempat ia bisa terus merajut asa tanpa harus merasa gentar oleh badai di luar sana.