NovelToon NovelToon
Dendam Putri Yang Tertukar

Dendam Putri Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Bagaimana, Nona? Apa kita temui dulu tamunya?" tanya Xiao Yan.

Yuxin hanya mengangguk, lalu naik ke kereta kudanya, diikuti pelayannya, Xiao Yan. Kereta itu pun melaju melewati gerbang kediaman keluarga Lin. Dan benar saja, di sana berdiri Chen Muyang, kakak Ruoxi, pria yang dulu kerap memukulinya setiap kali Yuxin tidak memberinya uang untuk mabuk-mabukan.

Sosoknya masih sama seperti yang diingat Yuxin dari kehidupan yang lalu: jubah lusuh yang bau arak, mata merah karena kurang tidur, dan senyum miring yang selalu muncul sebelum dia mulai mengancam.

Begitu kereta berhenti, Chen Muyang melangkah maju dengan santai, seolah dia punya hak penuh untuk berdiri di depan gerbang keluarga bangsawan.

"Yuxin," sapanya, suaranya berat dan serak, "sudah lama tidak bertemu, adikku."

Xiao Yan yang baru turun dari kereta langsung waspada, tubuhnya bergeser sedikit, seolah ingin melindungi Yuxin dari sosok asing yang tampak tidak sedap dipandang itu.

Yuxin turun perlahan, wajahnya tenang meski di dalam dadanya sesuatu yang lama tertidur mulai bergolak. Bekas luka yang tak pernah benar-benar sembuh, luka yang dulu ditinggalkan tangan pria ini di lengan dan punggungnya.

"Kau bukan kakakku," ucapnya dingin, tanpa basa-basi.

Senyum miring Chen Muyang melebar. "Oh, jangan begitu. Kita kan tumbuh bersama bertahun-tahun. Meski bukan sedarah, itu tetap berarti sesuatu, bukan?"

"Apa maumu?" Yuxin memotong, nadanya tajam, tidak ada lagi sisa gadis penurut yang dulu gemetar setiap kali pria ini mendekat.

Chen Muyang mendengus, matanya menyipit menilai penampilan Yuxin yang kini jauh berbeda, hanfu yang lebih baik, sikap yang lebih tegak, aura yang tidak lagi bisa diintimidasi semudah dulu.

"Kudengar kau sekarang jadi putri bangsawan. Hidup enak sekarang, ya? Sementara aku..." dia merentangkan tangannya, menunjukkan lengan bajunya yang compang-camping, "masih harus berjuang setiap hari untuk sesuap nasi."

"Itu bukan urusanku."

"Bukan urusanmu?" Chen Muyang melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya. "Kau lupa siapa yang membesarkanmu selama ini? Kau lupa siapa keluarga yang menampungmu waktu kau masih bayi?"

Yuxin menahan diri untuk tidak tertawa getir mendengar kata "menampung" seolah penyiksaan bertahun-tahun bisa disamarkan menjadi kebaikan hati.

"Katakan apa maumu," ulangnya, suaranya semakin dingin.

Chen Muyang tersenyum puas, seperti sudah menunggu pertanyaan itu sejak awal. Dia merogoh sesuatu dari balik jubahnya, segulung kertas lusuh yang diikat tali kasar.

"Aku hanya butuh sedikit uang, adikku," ucapnya pelan, menggoyangkan gulungan kertas itu di depan Yuxin. "Atau mungkin, kau lebih tertarik jika aku menunjukkan ini pada keluarga barumu yang terhormat?"

Yuxin menatap gulungan kertas itu, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat meski wajahnya tetap tenang.

"Apa itu?"

Senyum Chen Muyang semakin lebar, matanya berkilat licik. "Sesuatu yang akan sangat menarik bagi keluarga Lin untuk mengetahuinya. Tentang siapa dirimu yang sebenarnya... dan apa yang benar-benar terjadi di rumah kita."

Chen Muyang membuka gulungan kertas itu perlahan, menunjukkannya sekilas. "Catatan utang keluarga kita," ucapnya pelan, senyumnya semakin licik. "Kalau ini sampai bocor ke telinga keluarga Lin yang terhormat... bagaimana menurutmu reaksi mereka?"

Yuxin menatap kertas itu, kemudian menatap wajah Chen Muyang yang penuh keyakinan bahwa dia sedang memegang kartu as.

"Kenapa kau menunjukkan itu padaku?" Yuxin bertanya dengan sikap tenang, membuat Muyang sedikit terperangah. Biasanya Yuxin akan ketakutan hanya dengan sedikit intimidasi seperti ini, tapi kali ini berbeda. "Semua itu sudah tidak ada hubungannya denganku."

Chen Muyang mengerjap, senyum liciknya sedikit goyah. "Apa maksudmu tidak ada hubungannya? Kau tumbuh besar di rumah itu, makan dari uang itu..."

"Dan disiksa oleh keluarga kalian," potong Yuxin, suaranya tetap dingin, tanpa nada marah sedikit pun. "Kalau kau ingin menyebarkan catatan utang keluarga Chen ke telinga keluarga Lin, silakan saja. Yang akan malu bukan aku, Chen Muyang. Namaku sekarang Lin Yuxin. Utang itu bukan milik keluargaku, tapi itu utang keluarga Chen."

"Kau..." Chen Muyang mengepalkan tangannya, wajahnya mulai memerah menahan amarah, tidak menyangka ancamannya dipatahkan semudah itu.

"Kalau kau pikir aku akan panik hanya karena selembar kertas usang," lanjut Yuxin, melangkah lebih dekat tanpa rasa takut yang biasa menghiasi wajahnya di masa lalu, "kau salah besar. Justru, mungkin aku yang harus berterima kasih kalau kau menyebarkannya. Biar semua orang tahu, seperti apa keluarga yang dulu 'menampungku' dan seperti apa perlakuan yang aku terima selama bertahun-tahun di sana."

Chen Muyang terdiam, rahangnya mengeras. Dia tidak menyangka permainannya akan berbalik secepat ini.

Dari kejauhan, derap kuda mendekat cepat, seorang penunggang kuda berpakaian khas pria bangsawan, memacu kudanya lurus ke arah gerbang keluarga Lin.

Ternyata itu adalah Shen Yifan.

"Nona Lin, apa Anda butuh bantuan?" tawarnya, menghentikan kudanya tepat di depan gerbang, matanya beralih dari Yuxin ke sosok Chen Muyang yang masih berdiri kaku beberapa langkah darinya.

Yuxin terdiam menatap Shen Yifan. Di kehidupannya yang lalu, Yifan tidak pernah tertarik padanya, bahkan melirik pun dia enggan, meski situasi Yuxin waktu itu jauh lebih buruk dari sekarang. Tapi kenapa di kehidupan ini, justru dialah yang lebih dulu menawarkan bantuan?

"Tidak perlu, Tuan Muda Shen," jawab Yuxin akhirnya, suaranya tetap terjaga tenang meski pikirannya berkecamuk. "Ini hanya kesalahpahaman kecil yang sudah selesai."

Shen Yifan turun dari kudanya, matanya menyipit menatap Chen Muyang. "Kesalahpahaman? Kudengar dari penjaga gerbang, ada orang mabuk yang mengganggu Nona di depan kediaman keluarga Lin."

Wajah Chen Muyang berubah pucat mendengar kata "orang mabuk" kesadaran bahwa dia sedang dilihat oleh seseorang dari kalangan bangsawan istana membuat sikap angkuhnya seketika menciut.

"Aku... aku hanya kerabat jauh yang ingin bersilaturahmi," gumam Chen Muyang, mundur selangkah.

Shen Yifan tidak menjawab, hanya menatapnya lama dengan sorot mata yang membuat Chen Muyang semakin gelisah, sebelum akhirnya pria itu berbalik dan pergi tergesa-gesa, langkahnya jauh lebih cepat dari saat dia datang.

Yuxin menatap kepergian Chen Muyang, lalu menoleh kembali pada Shen Yifan, yang kini justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit dia baca, bukan ketertarikan yang jelas, tapi juga bukan ketidakpedulian seperti yang selalu dia rasakan di kehidupan sebelumnya.

"Terima kasih, Tuan Muda Shen," ucap Yuxin hati-hati, "tapi boleh aku bertanya sesuatu?"

"Silakan."

"Kenapa kau repot-repot berhenti untukku?"

Untuk sesaat, Shen Yifan tidak langsung menjawab. Matanya menatap Yuxin lebih lama dari yang seharusnya, seolah mempertimbangkan sesuatu yang belum siap dia ucapkan.

"Karena," jawabnya akhirnya, suaranya pelan namun terdengar jelas, "aku merasa pernah melihatmu sebelumnya. Entah di mana."

1
Adi Sudiro
lama" muak ama ni cerita drama yg di ulang ulang ujung " nya matanya pada picek menjijik kan wassalam lah ku kira cerita nya agak lain dari yg lain ternyata sama saja alurnya..
Dessy C: Maaf ya akak kalau tidak sesuai harapan 🙏... terimakasih atas masukannya nanti akan di perbaiki ke depan nya 🙏🥰
total 1 replies
Yeni Astriani
saya kecewa sama Li cen sbg Putra Mahkota yang tidak mampu melindungi Putri Mahkota dr persengkokolan jahat Permaisuri Xuan terlalu mudah kena tipu daya Gu Yueran
kymlove...
selalu diam dan mengamati, sehingga telat untuk membela diri.... entah kenapa yuxin ini mengamati situasi terlalu lama, seakan berhati-hati sekali, tapi dengan selalu lama dalam mengambil tindakan terkesan membiarkan masalah terlalu terlambat untuk di selesaikan!
Dessy C: makasih akak masukan nya 🙏🥰
total 1 replies
Adi Sudiro
perkumpulan wanita culas.... 🤭🤭🤭
Adi Sudiro
lah kan memang bukan putri keluarga lin... lawak nih tuan besar... 🤭🤭
Dessy C: makasih akak komemn nya 🙏🫰
total 1 replies
kymlove...
bagus!! jika ruoxi masih tak tau diri.. dan tetap gak sadar diri...!! emang bener 2 benalu abadi sih ini!!
kymlove...
bilang aja jujur yuxin kalau ruoxi memberi mu hanfu sampah!!!
kymlove...: semangat trz kk🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!