Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Genggam tanganku erat-erat, Hazel..." bisik Sagara lirih di tengah deru angin malam yang berhembus kencang di tepi jurang. Meskipun peluh dingin dan air hujan membasahi wajahnya, tatapan mata pria itu begitu hangat, berusaha menenangkan Hazel yang gemetar di sampingnya.
Namun, sebelum Hazel sempat membalas pegangan itu, salah satu pengawal berbadan tegap maju menerjang dengan kecepatan kilat.
Greb!
Cengkeraman tangan raksasa pengawal itu langsung menyambar bahu Hazel, menariknya secara kasar hingga genggaman jemari Hazel dan Sagara terlepas secara paksa.
"K-Kak Sagara!" jerit Hazel histeris.
Pengawal itu mencengkeram kedua lengan Hazel dari belakang, mengunci tubuh ramping gadis itu hingga tak mampu bergerak. Saat Hazel mencoba menendang dan menggigit, pengawal itu justru mendesis tajam tepat di dekat telinganya dengan nada bernada iblis.
"Diam kau, Anak Haram!" bisik pengawal itu penuh ancaman. "Kau tidak boleh mati malam ini. Nona Cateline dan Nyonya Helena butuh kau tetap hidup... untuk jadi kambing hitam atas kematian pria ini! Kau yang akan dituduh membunuhnya!"
Darah Hazel rasanya membeku seketika. Rencana keji keluarga Adeline benar-benar tak berperikemanusiaan. "Lepas! Lepaskan aku, brengsek! Jangan sentuh dia!" jerit Hazel murka, memberontak sekuat tenaga hingga siku dan pergelangan tangannya memerah lebam.
Melihat Hazel dipiting dan disakiti, sesuatu di dalam diri Sagara mendadak meledak. Binar matanya yang biasa polos berubah menjadi tajam dan membara. Tanpa memikirkan rasa sakit di punggungnya yang baru saja dijahit, Sagara menerjang maju hendak menyelamatkan Hazel.
"LEPASKAN HAZEL!" teriak Sagara menggelegar.
Namun, tiga pengawal lainnya langsung pasang badan menghalangi langkah Sagara. Sagara mencoba melawan—gerakan tubuhnya refleks melayangkan pukulan cepat yang berhasil memukul mundur satu pengawal, memperlihatkan sisa-sisa keahlian bertarungnya yang terpendam. Namun, kondisi fisiknya yang belum pulih total dan kekalahan jumlah membuat Sagara terdesak ke sudut paling berbahaya.
Langkah kaki Sagara terpeleset di atas tanah berlumpur yang licin. Tumitnya kini sudah berada tepat di bibir jurang yang curam.
"KAU YANG DISURUH UNTUK MATI MALAM INI!" bentak pengawal utama seraya melayangkan hantaman batang besi keras tepat ke dada Sagara, disusul dorongan kuat dua tangan berurat ke tubuh pria itu.
BRAK!
"TIDAKKKK! KAK SAGARAAA!" jerit Hazel melengking, memecah pekatnya kegelapan malam.
Waktu seolah melambat secara mengerikan.
Di bawah temaram sorotan senter dan guyuran hujan deras, Hazel menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tubuh Sagara terdorong ke belakang, kehilangan pijakan, dan melayang jatuh ke dalam kegelapan jurang yang curam dan dalam.
Untuk satu detik yang menyiksa, mata Sagara menatap Hazel di detik-detik terakhirnya. Tidak ada rasa takut di mata pria itu—hanya ada tatapan penuh kasih dan penyesalan karena tidak bisa melindungi Hazel lebih lama. Tubuhnya kemudian hilang tertelan pekatnya malam, disusul suara hantaman keras di antara bebatuan tajam dan derasnya arus sungai di dasar jurang.
"TIDAK! KAK SAGARAAAA!"
Hazel meledak dalam histeria yang luar biasa. Dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap, Hazel menghentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung pengawal yang memeganginya hingga cengkeraman itu terlepas.
Hazel berlari kencang ke bibir jurang, menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah berlumpur. Ia memajukan tubuhnya ke depan, mencengkeram rumput basah, dan menatap ke bawah jurang yang gelap gulita tanpa dasar.
"Kak Sagara... KAK SAGARA!" teriak Hazel terpekik, suaranya pecah dan serak parah.
Tangis Hazel meledak seketika sebuah tangisan yang teramat pilu, menyayat hati, dan penuh dengan keputusasaan yang mendalam. Air mata bercampur air hujan mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Dadanya naik turun terengah-engah, merasakan rasa sakit yang luar biasa dahsyat, seolah-olah separuh jiwa dan jantungnya ikut direnggut dan dilempar ke dalam jurang bersama Sagara.
"Bangun, Kak... Tolong bangun... Jangan tinggalkan aku..." teriak Hazel meratapi kegelapan di bawah sana, jemarinya menggali tanah basah hingga kuku-kukunya berdarah. Suara tangisannya bergaung pilu di antara pepohonan hutan, meratapi hilangnya pria polos yang baru saja mulai membawa kehangatan di dalam hidupnya yang kelam.
Tubuh Hazel yang berlutut di tepi jurang bergetar hebat. Tangis histerisnya perlahan berubah menjadi bisikan pilu yang makin melemah. Syok yang teramat dahsyat, rasa bersalah yang menusuk, serta kelelahan fisik membuat kesadaran gadis 19 tahun itu perlahan menguap. Tatapannya melebur dalam kegelapan hingga akhirnya tubuh ramping Hazel roboh pasrah, terkulai tak sadarkan diri di atas tanah berlumpur yang dingin.
Melihat Hazel tak sadarkan diri, pengawal utama menghembuskan napas lega. Ia melambaikan tangannya kasar pada dua anak buahnya.
"Bawa dia!" perintahnya dingin. "Pastikan tidak ada luka luar yang mencolok. Sesuai rencana Nyonya Helena dan Nona Cateline, gadis ini akan bangun besok pagi di tempat terisolasi sebagai tersangka utama pembunuhan Sagara."
Dua pengawal itu mengangguk, menyambar tubuh Hazel yang lemas lalu membopongnya pergi menembus lebatnya hutan, meninggalkan tepi jurang yang membisu.
Sementara itu, jauh di dasar jurang yang kelam dan curam.
Arus sungai yang deras menghempaskan tubuh basah kuyup itu ke atas gundukan batu-batu kali yang keras. Keheningan malam di bawah sana hanya dihiasi deru air dan gemericik dedaunan basah. Tubuh yang tadi tak bergerak itu mendadak tersentak pelan.
Uhgg...
Sebuah rintihan rendah dan dalam keluar dari tenggorokannya. Jemari panjangnya bergemetar, mencengkeram bebatuan licin di bawahnya. Perlahan, kelopak matanya yang basah oleh air hujan dan noda darah mulai terbuka.
Rasa sakit yang membakar di kepalanya memicu hantaman memori yang datang bagaikan gelombang bah yang menghancurkan benteng amnesia selama dua tahun terakhir.
Siksaan Cateline... kehidupan sebagai pelayan... kebingungan atas identitasnya... hingga bayangan wajah Hazel yang menangis histeris di tepi jurang... semuanya berputar kilat di dalam otaknya. Namun bersamaan dengan itu, potongan ingatan sejati yang terkunci rapat akhirnya terbuka sepenuhnya.
Pria itu mendudukkan tubuhnya secara perlahan di atas bebatuan licin. Ia mengusap bercak darah dan lumpur di wajahnya dengan punggung tangan.
Dia bukan Sagara.
Nama "Sagara" hanyalah kebohongan konyol yang diciptakan oleh keluarga Adeline saat menemukan tubuhnya yang terdampar dua tahun lalu akibat kecelakaan helikopter.
Nama aslinya adalah Arlend Kyren Victor.
Ia adalah puncak tertinggi dari struktur kekuasaan underworld pemimpin mutlak sekaligus 'Raja' dari Clan Victor, dinasti mafia terbesar dan paling menakutkan yang mengendalikan jaringan ekonomi, politik, dan keamanan internasional dari balik layar. Di dunia gelap, tak ada satu pun konglomerat, penguasa, bahkan pejabat hukum nomor satu yang berani menyebut namanya tanpa rasa gemetar. Kekejaman Arlend adalah definisi ketakutan yang nyata dingin, tak tersentuh, dan mematikan tanpa ampun.
Pria itu mengusap rambutnya yang basah ke belakang. Kepolosan, kepasrahan, dan pendar lugu di matanya menguap habis tanpa sisa.
Mata cokelat jernih milik Sagara yang biasa memancarkan ketakutan kini berganti menjadi mata elang yang teramat tajam, dingin, dan mengintimidasi. Aura dominasi yang pekat dan berbahaya melingkupi tubuh tegapnya di tengah kegelapan dasar jurang.
Arlend berdiri tegak, merapikan pakaian hitamnya yang robek dengan gerakan yang amat tenang dan penuh keangkuhan alami.
"Keluarga Adeline..." bisik Arlend. Suaranya tidak lagi berat dan ragu, melainkan sangat dingin, rendah, dan sarat akan ancaman kematian yang mutlak. "Kalian bermain-main dengan monster yang salah."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...