Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. TRANSISI INDRA DAN TEROR REKAN KULINER
"Dokter... mau main petak umpet lagi?" bisik kepala kecil itu sambil nyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi runcingnya.
"Astagfirullahaladzim..." ucap Rahsya nyaris berbisik.
Ia segera menundukkan kepala sedalam-dalamnya, berpura-pura sibuk membetulkan letak jam tangan peraknya agar tidak perlu bertatapan langsung dengan kepala plontos yang nangkring santai di bahu asisten rumah tangga ibunya.
Dengan langkah seribu, ia memacu tungkainya menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumah orang tuanya. Sepanjang jalur pendakian itu, bibir Rahsya tidak henti-hentinya komat-kamit merapalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang masih diingatnya dengan baik.
Ajaibnya, di sudut mata, ia melihat bayangan kecil itu perlahan-lahan mulai memudar. Sosok-sosok aneh yang tadinya sempat bergelantungan di sepanjang pagar tangga mendadak buyar dan menguap menjadi kepulan asap putih tipis yang langsung tertiup angin pendingin ruangan.
"Alhamdulillah... hilang juga," desah Rahsya penuh syukur saat telapak tangannya berhasil menyentuh gagang pintu kamar pribadinya.
Ia bersandar lemas di balik pintu kayu yang baru saja dikuncinya rapat-rapat, sementara deru napasnya perlahan mulai kembali teratur. Tanpa membuang waktu lagi, Rahsya segera menyambar selembar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengguyur seluruh tubuhnya menggunakan guyuran air dingin, berharap sisa-sisa hawa mistis dari Desa Ci Sepi bisa luruh bersama dengan busa sabun antiseptik yang dipakainya hingga dua lapis berturut-turut.
Sambil mengeringkan rambutnya yang basah, pikiran Rahsya langsung tertuju pada satu nama: Reno. Sahabat kentalnya sejak zaman SMP itu memang dikenal luas di lingkungan pertemanan mereka sebagai "manusia aneh".
Reno memiliki hobi nyentrik mengoleksi barang-barang antik kuno yang konon "berisi" makhluk halus sejak tiga tahun yang lalu. Rahsya yakin, jika ada orang di dunia ini yang bisa menjelaskan mengapa dirinya mendadak menjadi magnet hantu genit dan tuyul pemain yoyo, orang itu pastilah Reno.
"Gue harus ketemu Reno sekarang juga. Kalau enggak, bisa-bisa besok gue terpaksa buka praktik pengobatan spesialis pasien dua alam," gumam Rahsya sambil menyambar kaus putih polos dan kunci mobilnya di atas meja.
Vroomm!
Mobil Tesla merah mewah milik Rahsya melesat membelah kemacetan kota Jakarta menuju ke sebuah restoran mewah di kawasan pusat bisnis.
Ia tahu betul, jam makan siang begini Reno pasti sedang sibuk mengawasi jalannya kerajaan kuliner miliknya.
Begitu sampai di lokasi, Rahsya memarkirkan kendaraannya tepat di lobi utama. Meskipun ia hanya mengenakan kaus putih polos dan jins hitam, aura seorang dokter yang rapi, karismatik, dan tampan tetap terpancar sangat kuat dari dalam dirinya.
"Permisi Mbak, Pak Renonya ada di dalam?" tanya Rahsya pada seorang pelayan wanita di meja resepsionis depan.
"Ada di dalam ruangannya, Mas," jawab pelayan itu dengan seulas senyum sopan yang tertahan.
Ia tampak sedikit terpesona melihat ketampanan Rahsya yang meskipun tampak sedikit "berantakan" namun tetap terlihat estetis.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Rahsya melesat menaiki anak tangga menuju ke lantai dua restoran. Ia sepenuhnya mengabaikan dekorasi restoran yang tampak elegan dan mewah. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada sebuah daun pintu kayu jati besar yang berada di ujung lorong atas.
Tok! Tok!
"Siapa?" sahut sebuah suara berat dari dalam ruangan kerja.
"Ini gue, Rahsya!"
"Langsung masuk saja, Bro! Biasanya juga lo main nyelonong masuk kayak jelangkung!"
Rahsya mendorong pintu dan langsung mengempaskan tubuh tegapnya ke atas sofa kulit berwarna cokelat tua. Ruangan kerja itu berbau harum aromaterapi kayu cendana, dipenuhi dengan berbagai macam pajangan keris kuno dan guci-guci tua di setiap sudut ruangan.
"Tumben lo datang ke mari? Liburan tenang lo di desa sudah selesai?" tanya Reno tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun. Ia masih sibuk membolak-balik berkas laporan pendapatan bulanan di atas meja kerjanya.
"Gue baru saja sampai di Jakarta. Sebenarnya gue datang ke sini mau konsultasi sama lo, Ren. Barangkali lo bisa membantu gue," ucap Rahsya dengan nada bicara yang sangat serius, bahkan nyaris berbisik.
Reno menghentikan aktivitas menulisnya seketika. Ia menyipitkan sepasang matanya, lalu bangkit berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan duduk di sofa tepat di samping posisi Rahsya. Aura kepanikan yang terpancar nyata dari wajah sahabatnya itu sama sekali tidak bisa disembunyikan.
"Roman-romannya kayak lagi ada masalah yang serius banget nih," ucap Reno sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Namun, baru saja Rahsya hendak membuka mulut untuk bercerita, Reno langsung memotong kalimatnya dengan sangat semangat.
"Gue tahu! Lo pasti didesak kawin lagi sama nyokap lo, kan? Makanya gue bilang juga apa, liburan itu ke luar negeri, Bro! Minimal lo balik ke Jakarta bawa bule cantik. Ini malah pergi ke kampung terpencil, palingan baliknya cuma bawa rengginang!"
Reno terus saja mencerocos panjang lebar tanpa henti tanpa memberikan jeda. "Tenang saja, sebagai sahabat yang baik dan pengertian, gue bakal membantu lo biar cepat dapat jodoh yang saleha, rajin menabung, rajin mengaji, rajin—"
Plak!
Rahsya menabok bibir Reno menggunakan telapak tangannya, membuat rentetan kalimat "rajin" itu terputus seketika di udara.
"Sudah! Jangan sok tahu! Gue yang lagi punya masalah, kenapa malah lo yang terus-terusan berbicara?" semprot Rahsya kesal.
"Gimana gue mau cerita kalau lo sendiri enggak kasih celah sedikit pun buat gue mengambil napas!"
Reno mengusap bibirnya yang baru saja terkena "salam olahraga" mendadak dari Rahsya sambil meringis pedih. Namun, sedetik kemudian, ekspresi wajah jenakanya lenyap total tanpa bekas. Sepasang matanya mendadak membelalak lebar, terpaku kaku pada area pundak kiri Rahsya dengan sebuah tatapan horor yang amat meyakinkan.
"Sya... itu... di pundak lo..." bisik Reno dengan nada suara yang tercekat di tenggorokan, seolah-olah ia sedang melihat sosok penguasa kegelapan sedang nangkring bersiap untuk menerkam mereka berdua.
Rahsya seketika membeku di tempatnya duduk. Bulu kuduk di tubuhnya berdiri tegak mirip barisan tentara yang sedang melakukan upacara. Ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menolehkan lehernya sedikit pun; otot lehernya mendadak terasa kaku seperti adukan semen kering.
"Apaan, Ren? Jangan nakut-nakutin gue! Gue baru saja berhasil lolos dari maut di Desa Ci Sepi!"
"Tunggu sebentar, jangan bergerak dulu! Kalau lo bergerak, urusannya bisa panjang!" ucap Reno panik.
Ia melompat dari atas sofa, berlari kecil menuju ke arah lemari pajangan kaca miliknya, lalu menyambar salah satu keris pusaka koleksi pribadinya.
Rahsya yang saat itu sudah berada di ambang serangan jantung hanya bisa memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Bibirnya komat-kamit merapalkan Ayat Kursi dengan kecepatan pelafalan seorang rapper profesional, berharap makhluk gaib yang ada di pundaknya segera pindah dimensi.
Sret!
Reno menghunus keris kuno itu dengan gaya yang sangat dramatis—kedua kakinya memasang kuda-kuda kokoh, dan matanya menyipit tajam bak seorang pendekar sakti di film kolosal. Ia mengarahkan ujung keris itu tepat ke arah pundak Rahsya dan...
Pluk!
Dengan sekali sentakan cepat, Reno menyingkirkan seekor cicak yang sedari tadi nangkring santai di pundak Rahsya menggunakan ujung keris tersebut. Cicak malang itu mendarat di atas lantai marmer dan langsung lari pontang-panting karena trauma mendadak ditodong oleh senjata tajam.
"Sudah, Sya. Sudah beres," ucap Reno enteng.
Ia menyarungkan kembali keris pusakanya dengan gerakan keren dan meletakkannya kembali ke rak pajangan seolah-olah ia baru saja berhasil menyelamatkan dunia dari kiamat.
Rahsya membuka salah satu matanya dengan ragu-ragu. "Gimana... gimana bentukannya? Seram enggak? Matanya merah darah? Giginya taring semua?" tanya Rahsya beruntun, suaranya masih bergetar hebat.
Reno kembali menghampiri dan mengempaskan bokongnya di samping posisi duduk Rahsya. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap sahabat dokternya itu dengan tatapan heran.
"Enggak, enggak seram sama sekali. Geli iya. Orang bentukannya masih begitu-begitu saja dari zaman nenek moyang gue juga. Badannya bantet, kakinya ada empat, terus ada ekornya yang suka putus kalau lagi panik," ucap Reno santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Rahsya seketika terlonjak dari duduknya, wajah tampannya kian pucat pasi. Pikirannya langsung melayang kembali ke legenda-legenda mistis yang ia dengar dari mulut warga desa.
"Maksud lo... siluman buaya buntung?! Kok bisa makhluk itu ikut nyampai ke Jakarta?!" teriak Rahsya histeris.
Reno sempat terdiam diam selama satu detik, lalu sebuah ledakan tawa yang sangat keras menyembur keluar dari mulutnya sampai-sampai ia tersedak oleh air ludahnya sendiri.
"BWAHAHAHA! Siluman buaya buntung apa-apaan, Sya! Itu cicak! C-I-C-A-K! Hewan kecil yang suka bunyi cek-cek-cek di atas plafon rumah!"
Reno memegangi perutnya yang kaku karena tertawa terpingkal-pingkal. "Sumpah, lo kenapa sih? Habis kena santet ilmu hitam di desa apa gimana? Orang cicak kecil begitu lo sangka siluman. Sebenarnya lo lagi memikirkan apa sih, Sya?"