kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAM, JARAK, DAN KEMBALI.
Tiga hari berlalu, rasanya kayak setahun. Arka tetap ada di rumah — makan, bangun pagi, bantu rapikan halaman — tapi dia seakan berjalan di tempat lain. Senyumnya hilang, tatapannya sering kosong, dan tiap kali gue mendekat, dia mundur pelan. Nggak kasar, nggak marah… tapi menjaga jarak.
Gue nggak mendesak. Gue tahu luka lama yang baru terbuka itu perih banget. Tapi diamnya tetap nyesek — tiap malam dia tidur membelakangi gue, tiap pagi berangkat duluan tanpa pamit. Rasanya kayak dia menarik dinding tinggi lagi, dan gue berdiri di luar.
Sore ketiga, gue duduk sendirian di teras. Angin sepoi-sepoi, tapi gue nggak merasakannya. Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar pelan di belakang.
"Belum tidur?"
Suara Arka — serak, lemah, tapi miliknya. Gue menoleh. Dia berdiri di sana, rambutnya berantakan, matanya cekung, tapi natap gue lurus.
"Nungguin lo," jawab gue pelan.
Dia duduk agak jauh, di ujung bangku. "Maaf ya…" suaranya berat. "Gue niatnya cuma tenangin diri… tapi malah bikin lo nunggu."
Gue geser pelan mendekat, nggak menyentuh. "Gue paham. Kecelakaan itu nyakitin lo banget, kan? Ternyata ada orang yang tahu dan diam… itu berat banget buat lo."
Arka menunduk, tangannya mengepal di lutut. "Gue nggak benci Kirana. Gue cuma… bingung. Selama ini gue pikir itu murni kecelakaan. Ternyata ada yang tahu dan simpan. Dan yang paling takut — gue takut mulai ragu sama semua orang. Termasuk lo."
Jantung gue nyeri sedikit, tapi gue tetap tenang. "Gue ngerti. Kalau lo butuh waktu, gue kasih. Gue nggak akan ke mana-mana. Tapi tolong… jangan tutup pintu sepenuhnya ya? Gue takut nggak bisa masuk lagi."
Dia menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca. "Gue nggak pernah tutup pintu buat lo, Luna. Cuma… gue takut kalau gue deket, gue bakal jadi orang yang nggak baik buat lo. Gue lagi kacau."
"Kacau boleh," gue pegang ujung bajunya pelan, berani sedikit. "Tapi jangan lupa — kita janji hadapi bareng, kan? Lo hancur, gue tahan. Gue hancur, lo tahan. Bukan sendirian."
Arka diam lama. Napasnya naik turun. Lalu perlahan, tangannya berbalik — menyentuh jari gue, menggenggamnya lembut, seakan takut gue lari.
"Lo bener," suaranya bergetar. "Gue salah sendirian. Maafin gue ya?"
Gue senyum, air mata menetes sendiri. "Udah dimaafin dari kemarin."
Dia tarik gue pelan ke pelukannya — erat, napasnya menempel di leher gue. "Besok… kita cari Kirana. Bareng."
Keesokan harinya, kita temukan Kirana duduk sendirian di pojok lapangan. Wajahnya pucat, matanya bengkak — seakan nggak tidur berhari-hari. Saat melihat kami, dia bangkit ingin pergi, tapi Arka panggil pelan.
"Tunggu, Kirana."
Dia berhenti, menunduk. "Gue tahu lo benci gue… gue siap menerima apa pun."
Arka mendekat, gue di sampingnya.
"Gue nggak benci lo," suaranya tenang dan tegas. "Lo salah — menyembunyikan itu menyakiti gue, menyakiti diri lo sendiri. Tapi gue paham alasannya. Takut kehilangan, takut dibenci… itu wajar. Tapi kakak lo harus bertanggung jawab. Itu bukan buat balas dendam, tapi supaya lo juga tenang."
Kirana menangis, menutup wajah. "Gue takut… kalau dia masuk penjara, keluarga hancur."
"Kalau dihadapi, keluarga bisa pulih," gue bicara pelan. "Kalau disembunyikan, luka makin dalam. Lo sendiri yang rasain kan?"
Dia mengangguk di antara isak tangis. Arka mengulurkan tangan — bukan menuduh, tapi menenangkan.
"Gue maafin lo, Kirana. Mulai sekarang, jujur aja. Nggak perlu simpan rahasia berat sendirian."
Kirana menatap kami berdua, air mata mengalir. "Makasih… maafin gue ya, Aluna. Gue iri sama lo, sampai lupa diri."
Gue senyum, pegang tangannya. "Udah ya? Kita mulai lagi dari awal?"
Dia mengangguk pelan, senyum tipis muncul — tulus, untuk pertama kalinya.
Saat pulang, Arka genggam tangan gue erat.
"Lo tahu nggak?" katanya di jalan pulang. "Bicara jujur sama dia… rasanya beban di pundak gue hilang sebagian. Gue pikir gue bakal marah selamanya. Ternyata maafin itu bikin gue yang tenang."
Gue sandarkan kepala ke bahunya. "Karena lo baik, Arka."
Dia senyum, kecup ubun-ubun gue pelan. "Bukan. Karena ada lo yang bikin gue inget — nggak semua hal harus dihadapi sendirian."
Malam itu, dinding yang sempat naik kembali runtuh — kali ini bukan karena ditarik paksa, tapi karena hati yang sudah siap terbuka lagi.