Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Resonansi yang Terpecah
Mobil tua milik Maya menderu pelan, suara mesinnya yang tidak stabil seolah mencerminkan detak jantung ketiga orang di dalamnya. Mereka membelah jalanan pinggiran Jakarta yang remang, menghindari lampu-lampu jalan utama yang kini telah dilengkapi dengan sensor pengenal wajah terbaru milik Rajendra Corp.
Di kursi belakang, Sari tertidur karena kelelahan, kepalanya bersandar di bahu Arga. Arga menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti pilar-pilar raksasa yang menindas rakyat kecil di bawahnya.
"Dia tidak akan pernah sama lagi, Arga," suara Maya memecah kesunyian. Matanya tetap fokus pada spion, memantau setiap kendaraan yang membuntuti.
Arga tidak menoleh. "Apa maksudmu?"
"Ekstraksi memori itu bukan sekadar mengintip isi otak. Itu seperti mencabut akar tanaman dari tanah secara paksa. Ada bagian dari dirinya yang tertinggal di laboratorium itu. Ada trauma yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata manis." Maya menghela napas, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Kau harus melatihnya. Bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri."
Arga mengepalkan tinjunya. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada pukulan Barata Adiraja. "Dia hanya warga sipil, Maya. Dia tidak seharusnya terlibat dalam kegilaan ini."
"Dunia tidak peduli apa yang 'seharusnya', Arga. Jagat Mahesa sudah menandainya sebagai 'Subjek 09'. Baginya, Sari adalah aset. Dan aset yang hilang akan selalu dicari sampai ditemukan."
Mobil itu berhenti di bawah jembatan layang utara, sebuah labirin pemukiman kumuh yang dibangun dari triplek dan seng karatan. Di sini, bau sampah yang membusuk dan uap dari sungai yang hitam menjadi pelindung alami dari penciuman elit.
Arga menggendong Sari keluar. Beberapa pria bertato dengan tatapan liar muncul dari kegelapan, namun saat mereka melihat wajah Arga, mereka menunduk hormat. Arga adalah legenda di sini—pria yang pernah menghajar bos geng penguasa wilayah ini sendirian untuk menyelamatkan seorang anak yatim piatu.
"Bawa kami ke tempat 'Abah'," perintah Arga.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan di bawah fondasi jembatan. Ruangan itu dipenuhi dengan monitor tua dan kabel-kabel yang malang melintang—pusat komando digital para "Anak-Anak Aspal". Di sana, seorang pria tua dengan kaki kayu sedang merokok lintingan. Dia adalah Abah, mantan teknisi militer yang dibuang oleh sistem.
"Arga... kau membawa badai ke rumahku," suara Abah berat, namun tidak ada nada penolakan.
"Aku butuh perlindungan untuknya, Abah. Dan aku butuh akses ke jaringan satelit pribadi Rajendra," Arga meletakkan Sari di atas balai-balai kayu yang dialasi kain bersih.
Abah menatap Sari, lalu menatap Arga. "Hadiah seratus miliar di kepalamu bisa membangun kembali seluruh tempat ini menjadi istana, kau tahu itu?"
"Tapi kau tidak akan melakukannya, karena kau tahu siapa yang membunuh istrimu di pabrik kimia sepuluh tahun lalu," balas Arga dingin.
Abah terdiam, lalu menghembuskan asap rokoknya. "Duduklah. Kita punya banyak pekerjaan."
Malam itu, di tengah kebisingan kota di atas mereka, Arga duduk di samping Sari yang baru saja terbangun. Gadis itu tampak ketakutan melihat lingkungan barunya.
"Arga, di mana kita? Kenapa tempat ini begitu gelap?" Sari mencengkeram lengan Arga, kuku-kukunya menekan kulit Arga hingga memerah.
Arga menatap mata Sari. Ia teringat kata-kata Maya. Ia tidak bisa lagi memanjakan Sari dengan perlindungan semu. "Sari, dengarkan aku. Tempat ini aman untuk sementara. Tapi kau harus belajar satu hal."
Arga mengeluarkan sebuah belati kecil yang ia ambil dari gudang Abah. Ia meletakkannya di tangan Sari.
Sari gemetar, mencoba melepaskan belati itu. "Tidak, Arga... aku tidak bisa. Aku bukan pembunuh."
"Ini bukan tentang membunuh, Sari. Ini tentang memegang kendali," Arga menangkupkan tangannya di atas tangan Sari, memaksa gadis itu menggenggam gagang belati tersebut. "Mereka mengambil memorimu karena mereka pikir kau lemah. Mereka pikir kau hanyalah wadah. Jika kau tidak belajar untuk melawan, mereka akan melakukannya lagi."
"Tapi aku takut..." Sari mulai terisak.
"Aku juga takut, Sari," bisik Arga, kali ini suaranya penuh dengan emosi yang jujur. "Setiap kali aku menggunakan Mustika ini, aku takut aku tidak akan bangun lagi sebagai diriku sendiri. Tapi aku tetap melakukannya karena aku punya sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan. Dan bagiku, itu adalah kau."
Kemistri di antara mereka di ruangan remang itu terasa begitu pekat—perpaduan antara ketakutan, keputusasaan, dan cinta yang dipaksa tumbuh di medan perang. Sari menatap belati itu, lalu menatap Arga. Perlahan, genggamannya pada belati itu mengencang.
"Ajari aku," bisik Sari.
Sementara itu, di lantai teratas Menara Mahendra, Vikri Mahendra (sepupu Arga) sedang berdiri di depan ayahnya, Indra Mahendra.
"Ayah, Arga sudah menyelamatkan gadis itu. Dia sekarang berada di wilayah bawah tanah," lapor Vikri, wajahnya penuh kebencian.
Indra Mahendra menyesap cerutunya. "Arga selalu menjadi masalah bagi keluarga kita. Dia memiliki darah murni Mahendra, tapi jiwanya adalah kuli. Biarkan Rajendra dan Mahesa memburunya terlebih dahulu. Kita akan menunggu sampai mereka semua kelelahan, lalu kita akan mengambil Mustika itu dan menghapus garis keturunannya selamanya."
Indra menatap peta digital Jakarta yang berkedip-kedip. "Kirimkan Devada Adiraja. Katakan padanya, aku ingin melihat seberapa kuat 'Master Muda' hasil didikan jalanan itu dibandingkan dengan petarung elit keluarga kelas satu."
Perang antar keluarga elit mulai bergeser. Arga bukan lagi sekadar buronan; ia adalah pusat dari badai yang akan menyapu seluruh hierarki kekuasaan.