Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase dan sidang di balik layar
Surat gugatan itu bukan sekadar gertakan sambal. Dampaknya instan: panitia NYIC mengirimkan email yang menyatakan bahwa proyek 'Resimen Hijau' ditangguhkan sementara dari daftar finalis sampai sengketa hukum selesai.
"Ini gila! Kita bahkan belum jualan, udah digugat!" keluh Rhea sambil membanting tasnya ke meja. "Siapa sih Global Eco-Tech ini?"
"Itu perusahaan boneka," jawab Gia sambil membolak-balik berkas digital di tabletnya. "Pemilik saham mayoritasnya adalah perusahaan cangkang yang berbasis di Singapura, yang setelah gue telusuri lewat relasi sepupu gue, ternyata punya kaitan sama aset-aset Pak Gunawan yang belum disita."
"Jadi bokap gue beneran mau narik kita semua ke lubang yang sama?" suara Laras terdengar getir. "Dia mau kita semua putus kuliah supaya dia ngerasa menang."
Bagas mendekati Laras, meremas bahunya lembut. "Dia nggak akan menang, Ras. Dia cuma punya uang, kita punya otak dan... kegilaan Eno."
"Eh, kok gue?" sahut Eno yang lagi berusaha benerin kabel sensor yang putus. "Tapi bener, gue punya ide. Kalau mereka bilang kita nyontek, gimana kalau kita tantang mereka buat pembuktian terbuka? Kita ajak media kampus, kita ajak dosen Teknik Mesin paling galak, terus kita adu mesin kita sama mesin mereka."
"Masalahnya, No," sela Juna, "mereka itu korporasi. Mereka punya pengacara yang bisa ngomong muter-muter sampai kita pusing. Kita cuma mahasiswa yang tidurnya kurang."
"Tapi kita punya satu hal yang mereka nggak punya," Gia tersenyum misterius. "Data log asli. Juna, lo bisa buktiin kan kalau source code mesin kita dibuat dari nol?"
"Bisa banget. Gue punya riwayat pengerjaan setiap baris kodenya, lengkap dengan jam dan menitnya."
"Dan gue," lanjut Gia, "bakal cari celah di paten mereka. Gue berani jamin paten mereka itu hasil 'copy-paste' dari jurnal luar negeri yang belum diterjemahin. Pak Gunawan itu mainnya kasar, biasanya dia males buat riset beneran."
Hari yang ditentukan pun tiba. Perwakilan dari Global Eco-Tech datang ke kampus untuk pertemuan mediasi yang sebenarnya adalah ajang intimidasi. Mereka datang dengan tiga pengacara berjas mahal, sementara Enam Serangkai datang dengan jaket almamater yang sebagian masih ada noda olinya.
"Adik-adik mahasiswa," kata salah satu pengacara dengan nada meremehkan, "lebih baik kalian tarik proposal ini. Kami akan berikan 'uang kompensasi' yang cukup buat kalian bayar UKT sampai lulus. Jangan sampai masa depan kalian hancur karena catatan kriminal pencurian ide."
Bagas hendak berdiri untuk memukul meja, tapi Laras menahannya. Laras yang kali ini angkat bicara.
"Uang kompensasi?" Laras tertawa sinis. "Bapak pikir kami serendah itu? Kami nggak butuh uang Bapak. Kami butuh dunia tahu kalau perusahaan sebesar Global Eco-Tech ternyata cuma pencuri ide mahasiswa."
"Jaga bicara Anda, Nona Laras," ancam si pengacara.
"Juna, nyalain," perintah Gia singkat.
Juna menekan tombol di laptopnya. Di layar proyektor ruang rapat dekanat, muncul perbandingan coding antara mesin mereka dan paten perusahaan itu. Tampak jelas bahwa paten perusahaan tersebut memiliki kesalahan logika yang sama persis dengan sebuah jurnal penelitian dari Universitas di Jerman tahun 2019, sementara coding Juna menyesuaikan dengan suhu lokal Indonesia.
"Paten Bapak itu cuma hasil Google Translate dari jurnal profesor Jerman," kata Gia tenang. "Sedangkan mesin kami berfungsi sesuai iklim sini. Kalau Bapak mau lanjut ke pengadilan, silakan. Tapi saya rasa, berita 'Perusahaan Besar Menjiplak Jurnal Jerman' bakal lebih menarik buat wartawan di luar sana."
Para pengacara itu saling pandang, wajah mereka mendadak pucat. Mereka tidak menyangka mahasiswa "receh" ini bisa melakukan riset sedalam itu dalam waktu singkat.
"Satu lagi," tambah Eno sambil nyengir lebar. "Tadi pas Bapak masuk, gue sempet naruh stiker 'Mesin Hasil Nyolong' di mobil mewah Bapak di parkiran. Udah gue foto juga, bentar lagi masuk Twitter."
"Eno!" tegur Rhea sambil tertawa kecil.
Mediasi berakhir dengan pihak perusahaan yang buru-buru pergi. Namun, kemenangan ini belum final. Panitia NYIC masih menunggu hasil verifikasi ulang. Dan yang lebih mengkhawatirkan, Bagas mendapati bahwa ban motornya disayat orang tak dikenal di parkiran, lengkap dengan sebuah catatan: 'Ini baru ban, besok bisa jadi nyawa.'
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...