Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris!
Ashar mendekat.
Tangannya menyentuh pipiku dengan hati-hati.
Sentuhan yang sangat lembut.
Seperti seseorang yang memegang sesuatu yang rapuh.
Aku menutup mata ketika ia menciumku.
Ciuman itu pelan.
Tidak terburu-buru.
Seperti percobaan pertama.
Aku membalasnya.
Dan perlahan suasana di antara kami berubah.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Tangannya berpindah ke bahuku.
Kemudian ke punggungku.
Aku merasakan tubuhku mulai rileks di pelukannya.
Ashar menarikku sedikit lebih dekat.
Aku bisa merasakan detak jantungnya.
Cepat.
Sangat cepat.
Kami perlahan berbaring di kasur.
Lampu kecil di samping tempat tidur membuat ruangan terasa hangat.
Tangannya menyentuh tanganku.
Kemudian menggenggamnya.
Aku menatapnya.
Matanya terlihat gugup.
Tetapi juga penuh keinginan untuk mencoba.
Aku mengusap pipinya pelan.
“Kita tidak perlu terburu-buru.”
Ia mengangguk.
Kami kembali berciuman.
Lebih lama dari sebelumnya.
Tangannya mulai memelukku lebih erat.
Aku merasakan kehangatan tubuhnya.
Dan tanpa sadar…
Aku mendesah kecil.
“Ah…”
Suaranya sangat pelan.
Tetapi cukup membuat Ashar membeku.
Ia langsung berhenti.
Tubuhnya menegang.
Aku membuka mata.
“Ashar?”
Ia mundur sedikit.
“Aku menyakitimu?”
Aku mengerjap.
“Apa?”
“Kamu barusan seperti kesakitan.”
Aku hampir tertawa karena gugup.
“Bukan begitu.”
“Tapi kamu—”
“Itu bukan karena sakit.”
Ashar terlihat bingung.
Aku menghela napas kecil.
Bagaimana cara menjelaskan hal seperti ini kepada seseorang yang benar-benar tidak pernah mengalami hal serupa?
“Aku cuma… gugup,” kataku.
Ia masih terlihat ragu.
Tangannya perlahan menjauh dari tubuhku.
“Aku tidak yakin aku melakukan ini dengan benar.”
Aku memegang tangannya lagi.
“Kita sama-sama belajar.”
Ia menatapku lama.
Namun ketakutan itu masih ada di matanya.
“Aku takut membuatmu menyesal.”
Kalimat itu lagi.
Aku mulai menyadari betapa dalam rasa takut itu tertanam dalam dirinya.
Aku memeluknya.
“Kamu tidak akan kehilangan aku hanya karena salah.”
Ia tidak menjawab.
Tetapi aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Ashar menghela napas panjang.
“Aku tidak bisa.”
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang lembut tetapi berat.
Kami kembali duduk di tepi ranjang.
Sunyi.
Tidak canggung.
Tetapi juga tidak sepenuhnya tenang.
“Aku minta maaf,” katanya pelan.
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
Tetapi dalam hatiku…
Ada sedikit rasa kecewa yang tidak bisa aku bohongi.
Keesokan harinya aku bertemu Sinta.
Kami bertemu di sebuah kafe kecil yang sering kami datangi sejak kuliah.
Sinta langsung menatapku dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Jadi?”
Aku sudah tahu pertanyaan itu akan datang.
Aku mengaduk kopi di depanku.
“Nyaris.”
Sinta hampir tersedak.
“Nyaris bagaimana?”
“Nyaris berhasil.”
“Lalu?”
“Ashar berhenti.”
“Kenapa?”
“Dia pikir aku kesakitan.”
Sinta menatapku lama.
Lalu menghela napas panjang.
“Pria itu benar-benar aneh.”
Aku tersenyum lemah.
“Dia cuma terlalu hati-hati.”
Sinta menyandarkan dagunya di tangan.
“Kamu yakin dia tidak punya masalah lain?”
“Maksudmu?”
Ia menatapku dengan tatapan yang sedikit menyelidik.
“Jangan-jangan dia sebenarnya tidak tertarik pada perempuan.”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu yakin?”
“Raka sudah menjelaskan semuanya.”
Sinta terdiam beberapa detik.
“Jadi kamu mau bagaimana sekarang?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
Karena sebenarnya aku juga belum punya jawaban.
Aku hanya tahu satu hal.
Kami butuh suasana baru.
Sesuatu yang berbeda dari rumah ini yang selalu dipenuhi kejadian tidak terduga.
Aku menatap Sinta.
“Mungkin kita harus pergi.”
“Pergi?”
“Bulan madu ulang.”
Sinta mengangkat alis.
“Itu ide yang bagus.”
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Aku merasa menemukan sedikit harapan.
Mungkin kami hanya butuh tempat baru.
Tempat di mana tidak ada kenangan duka.
Tidak ada gangguan.
Hanya aku dan Ashar.
Dan kesempatan untuk akhirnya benar-benar memulai hidup kami sebagai suami istri.