NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Us

---

Tiga tahun lalu.

Griya Asri masih terlihat baru saat itu. Cat pagar masih mengilap, tanaman-tanaman di halaman depan masih mungil-mungil, dan beberapa rumah masih dalam tahap renovasi kecil-kecilan. Kompleks mungil ini baru saja dihuni selama beberapa bulan, dan para penghuninya masih dalam masa saling mengenal.

Di taman kompleks—yang saat itu masih lebih banyak tanah kosong daripada rumput hijau—seorang wanita duduk sendirian di bangku kayu. Ia sedang membaca buku sambil sesekali mengawasi seorang anak laki-laki berusia sekitar satu tahun yang merangkak di atas tikar yang digelar di rumput.

Wanita itu adalah Irene. Saat itu, Rafa baru berusia 13 bulan dan sedang senang-senangnya menjelajah dunia dengan merangkak.

"Ra, jangan masukin rumput ke mulut!" teriak Irene, cepat-cepat bangkit dan membersihkan mulut Rafa yang sudah keburu memasukkan sehelai rumput. Rafa malah tertawa, mengira itu permainan.

"Dia suka eksplorasi, ya?"

Irene menoleh. Seorang wanita lain berdiri tidak jauh dari sana, tersenyum. Wanita itu mengenakan gaun sederhana, rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia membawa segelas air mineral.

"Iya, nih. Susah banget diawasin," jawab Irene ramah.

"Boleh saya duduk di sini? Taman ini sepi banget, baru kali ini lihat ada orang."

"Silakan, silakan."

Wanita itu duduk di bangku yang sama, memperhatikan Rafa yang sudah kembali merangkak menjelajah. "Umurnya berapa?"

"13 bulan. Masih batita."

"Lucu banget. Saya... belum punya anak." Wanita itu tersenyum sedikit getir. "Baru menikah setahun, tapi belum dikasih."

Irene merasakan nada sedih di balik senyum itu. "Bersabar aja, Mbak. Semua ada waktunya. Saya juga dulu nunggu tiga tahun baru dikasih Rafa."

Wanita itu menatap Irene, matanya sedikit berkaca-kaca. "Makasih, Mbak. Saya Jane."

"Irene."

Sejak sore itu, Irene dan Jane mengobrol panjang. Tentang pernikahan, tentang impian, tentang tantangan tinggal di kompleks baru. Jane bercerita bahwa ia pindah ke sini bersama suaminya, Mario, karena ingin punya lingkungan yang lebih tenang untuk memulai keluarga. Irene bercerita bahwa ia dan Elgi memilih Griya Asri karena dekat dengan tempat kerja Elgi dan taman ini cocok untuk Rafa bermain.

Saat matahari mulai condong, Jane pamit pulang karena harus menyiapkan makan malam. Tapi sebelum pergi, ia berkata, "Mba Irene, besok saya ke sini lagi, ya. Seneng ngobrol sama Mba."

"Iya, Jane. Aku juga seneng. Sini aja kalau lagi betah di rumah."

Mereka berpisah dengan senyum. Di balik perkenalan sederhana itu, sebuah persahabatan mulai tumbuh.

---

Seminggu kemudian, Irene datang ke taman dan menemukan Jane sudah duduk di bangku yang sama. Tapi kali ini, Jane tidak sendiri. Ada seorang wanita lain di sampingnya, wanita Asia dengan fitur wajah Korea yang cantik dan aura tenang.

"Mba Irene!" sapa Jane antusias. "Sini! Kenalin, ini tetangga baru saya. Udah sebulan tinggal di kompleks, tapi baru kenalan kemarin."

Wanita Korea itu tersenyum sopan, sedikit menunduk—khas orang Korea. "Halo, saya Soo Young. Senang bertemu."

Irene duduk di samping mereka. "Irene. Senang bertemu juga. Mbak Soo Young asli Korea?"

"Iya. Saya pindah ke Indonesia setelah menikah. Suami saya orang Indonesia, Endy."

"Wah, pasti adaptasinya berat, ya?"

Soo Young tersenyum. "Sedikit. Tapi Endy banyak bantu. Dan mertua saya baik sekali."

Mereka bertiga mengobrol dengan hangat. Soo Young bercerita tentang kehidupannya di Seoul sebelum pindah, tentang bagaimana ia belajar masakan Indonesia dari ibunya Endy, tentang kerinduannya pada keluarga di Korea. Jane dan Irene mendengarkan dengan antusias, sesekali bertanya tentang budaya Korea yang menarik perhatian mereka.

"Kimchi buatan Mbak Soo Young pasti enak, ya?" tanya Jane.

"Insya Allah. Nanti saya bikinin, ya. Kirim ke rumah."

"Wah, janji lho!"

Mereka tertawa bersama. Rafa, yang sedang asyik bermain dengan bola plastiknya, tiba-tiba menghambur ke pangkuan Irene.

"Ma, laper!"

"Iya, Sayang. Bentar lagi kita pulang." Irene mengelus kepala Rafa, lalu menatap Jane dan Soo Young. "Besok ketemu lagi, yuk?"

"Yuk!" jawab Jane semangat.

Soo Young mengangguk. "Saya tunggu."

---

Dua minggu kemudian, "geng" mereka bertambah lagi.

Sore itu, saat mereka bertiga duduk di taman seperti biasa, seorang wanita lain muncul. Wanita itu terlihat sedikit lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata, dan menggendong seorang balita perempuan yang tertidur di gendongannya.

"Mbak, boleh nitip anak sebentar? Saya mau beli susu di warung, tapi dia lagi tidur dan saya nggak tega bangunin." Wanita itu tersenyum ragu.

Irene segera bangun. "Sini, Mbak, saya gendong. Mau beli susu? Di warung ujung kompleks?"

"Iya, Mbak. Makasih banyak."

Wanita itu menyerahkan balitanya dengan hati-hati. Irene menggendongnya dengan lembut, memastikan anak itu tidak terbangun. Balita perempuan itu—berusia sekitar dua tahun—hanya menggeliat sedikit lalu tidur lagi.

"Nama saya Jisoo," kata wanita itu. "Saya baru pindah minggu lalu. Rumah nomor 3."

"Jisoo?" Jane terkejut. "Kakak? Ini Jane! Adek kamu!"

Jisoo membelalak. "Jane? Ya ampun, Jane! Kamu di sini?"

Mereka berpelukan erat, membuat Soo Young dan Irene bingung.

"Kalian... saudara?" tanya Irene.

"Iya! Ini kakak kandung saya!" seru Jane. "Jisoo, kok kamu pindah ke sini? Nggak bilang-bilang!"

"Aku... aku..." Jisoo tiba-tiba terisak. "Aku baru aja kehilangan suami, Jan. Dika meninggal dua bulan lalu. Aku pindah ke sini mau mulai hidup baru."

Suasana langsung berubah. Jane memeluk kakaknya erat. "Jis... kamu nggak bilang apa-apa ke aku."

"Aku nggak sanggup, Jan. Aku nggak sanggup cerita."

Irene dan Soo Young saling pandang. Irene menggendong Amora—karena ternyata itu nama balita itu—dengan hati-hati. Soo Young mengelus punggung Jisoo pelan.

"Duduk dulu, Mbak," ucap Soo Young lembut. "Cerita pelan-pelan. Kita di sini."

Jisoo duduk di bangku taman, terisak. Jane memeluknya, ikut menangis. Irene dan Soo Young menunggu dengan sabar.

Setelah beberapa saat, Jisoo mulai bercerita. Tentang Dika, suaminya yang baik. Tentang kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya. Tentang Amora yang saat itu baru dua tahun dan tidak mengerti kenapa ayahnya tidak pernah pulang. Tentang keputusannya untuk pindah dari rumah lama yang penuh kenangan, mencari tempat baru untuk memulai hidup.

"Aku nggak tahu harus ngapain, Jan. Aku takut. Takut nggak bisa jadi ibu yang baik buat Amora sendirian."

Jane memeluknya lebih erat. "Kamu nggak sendiri, Jis. Sekarang kamu punya aku. Dan mereka." Ia menunjuk Irene dan Soo Young. "Mereka tetangga yang baik. Aku yakin mereka mau bantu."

Irene mengangguk tegas. "Pasti, Mbak Jisoo. Kita di sini saling bantu."

Soo Young juga mengangguk. "Saya tahu rasanya jauh dari keluarga. Tapi di sini, kita bisa jadi keluarga untuk satu sama lain."

Jisoo menatap mereka satu per satu. Wanita-wanita yang baru dikenalnya hari ini, tapi sudah menawarkan bahu untuk bersandar. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini disertai senyum.

"Makasih... makasih banget."

Amora di gendongan Irene mulai bergerak. Ia membuka mata, bingung melihat wajah asing di depannya. "Ma...?" panggilnya lirih.

Jisoo segera mengambil Amora, menggendongnya erat. "Amora, ini Tante Jane, adiknya Mama. Ini Tante Irene, ini Tante Soo Young. Mereka teman baru Mama."

Amora mengerjapkan mata, lalu menatap mereka dengan rasa ingin tahu. "Tante...?"

"Iya, Sayang. Mereka tante-tante baik."

Amora tersenyum malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya di leher Jisoo. Semua tersenyum melihat tingkahnya.

---

Sore itu, untuk pertama kalinya, empat wanita duduk bersama di taman Griya Asri. Mereka belum genap saling mengenal, tapi sudah berbagi tangis dan tawa. Mereka belum lama tinggal di kompleks ini, tapi sudah mulai merasakan hangatnya kebersamaan.

"Besok kita kumpul lagi, ya?" usul Irene. "Biar makin akrab."

"Setuju," kata Jane.

"Amora pasti seneng," ucap Jisoo tersenyum.

"Iya. Saya juga seneng ada teman ngobrol," tambah Soo Young.

Dari kejauhan, seorang wanita muda berlari kecil ke arah taman. Ia terlihat sedikit kehabisan napas.

"Maaf! Maaf! Saya terlambat!" Wanita itu berhenti di depan mereka, membungkuk sedikit. "Saya Chaeyoung, tetangga baru di nomor 5. Tadi lihat orang kumpul di sini, jadi saya penasaran. Boleh gabung?"

Mereka tertawa. Jane menepuk bangku di sampingnya. "Sini, Chae. Tepat waktu malah. Kita baru mulai."

Chaeyoung duduk, tersenyum canggung. "Makasih, ya. Saya nggak punya teman di sini. Baru pindah minggu lalu."

"Sama," kata Jisoo. "Aku juga baru pindah minggu lalu."

"Kita semua pendatang di sini," ujar Irene. "Makanya, kita harus saling kenal dan saling bantu."

Matahari mulai terbenam, menerangi taman dengan warna jingga yang hangat. Kelima wanita itu duduk melingkar, berbincang tentang segala hal. Tentang asal-usul mereka, tentang pekerjaan, tentang impian. Rafa tertidur di pangkuan Irene. Amora mulai berani tersenyum pada Chaeyoung.

Dan di sanalah, di sore itu, "Geng Istri" Griya Asri lahir. Bukan dengan perencanaan matang, bukan dengan struktur organisasi. Hanya dari pertemuan sederhana lima wanita yang sama-sama mencari tempat untuk pulang—bukan secara fisik, tapi secara emosional.

Tiga tahun kemudian, tradisi itu masih berlanjut. Setiap sore, di taman yang sama, mereka masih berkumpul. Rafa sudah besar dan berlarian dengan Amora. Jane hamil dan mengelus perutnya dengan penuh cinta. Jisoo tersenyum lebih sering, meski kadang masih melamun mengingat Dika. Soo Young masih setia membawa camilan buatannya. Chaeyoung masih bercerita tentang Leon yang kini semakin dekat untuk pindah ke Indonesia.

Dan di taman itu, di bawah langit senja, pagar-pagar rumah bukan lagi pembatas. Mereka adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan hati-hati yang saling mencari, saling menemukan, dan saling menguatkan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!