Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Benar, saat ini Anda telah diberikan kekuatan dari batu ajaib yang ada di dada Anda. Gunakanlah kekuatan itu untuk membantu orang lain," ujar sosok yang tampaknya tinggal di dalam batu itu.
Abram masih terpaku memandang telapak tangannya yang baru saja disentuh petugas keamanan. Bibirnya sedikit menggigil saat mengingat ekspresi kesakitan pada wajah pria itu.
"Tapi... tadi... kenapa saat petugas keamanan memegang tanganku, tangannya malah seperti terbakar?" tanyanya dengan nada bingung, sambil menggosok-gosok telapak tangannya yang tidak menunjukkan sedikit pun bekas luka.
"Cahaya batu telah terjalin dengan hati dan jiwa Anda.. Reaksi itu muncul karena sentuhan itu tidak sesuai dengan keinginan batin Anda, Anda merasa terganggu dan tidak nyaman," jelas pak tua penghuni batu itu, suara nya makin jelas seolah-olah dia berdiri tepat di depan Abram.
Abram mengangguk perlahan, tangan kanannya secara tidak sengaja menyentuh dagunya saat sedang berpikir.
"Begitu ya? Lalu, sebenarnya kekuatan apa yang sekarang kudapatkan?" tanyanya dengan rasa penasaran yang semakin besar.
"Kamu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang yang sakit parah, baik penyakit yang bisa diobati dengan cara medis maupun yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran modern. Selain itu, ada kemampuan lain yang akan muncul seiring waktu, dan kamu akan merasakan sendiri bagaimana cara menggunakannya," kata pak tua itu dengan nada yang penuh hikmat.
"Menyembuhkan orang? Apakah aku jadi dukun?" tanya Abram dengan ragu, mengingat stigma yang melekat pada profesi yang sering dianggap mistis di tempat dia tinggal.
"Bukan dukun yang mengandalkan takhayul. Kamu adalah tabib, waris dari ilmu pengobatan tradisional kuno yang menggunakan kekuatan alam dan energi batin untuk menyembuhkan, tanpa perlu peralatan medis canggih," jelas pak tua itu untuk menghilangkan keraguan Abram.
"Oh, begitu. Kalau begitu, bisakah aku mencobanya sekarang?" tanya Abram dengan semangat yang tak tertahankan, matanya bersinar melihat harapan baru dalam hidupnya yang selama ini hanya penuh kesulitan.
"Kamu bisa mulai mempelajari ilmu misterius ini secara bertahap untuk memperdalam pemahamanmu. Namun ingat, jangan pernah mengobati orang dengan seenaknya. Gunakan pengetahuanmu dengan hati-hati dan hanya untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan," peringatan pak tua itu, lalu suara nya mulai mengantuk.
"Hoammm... aku sudah mengantuk. Aku akan beristirahat dulu. Selamat menjalani kewajibanmu yang baru."
Sebelum Abram bisa menjawab, cahaya keemasan dari batu kuning di dadanya perlahan menghilang, kembali menjadi batu biasa yang dingin di kulitnya.
"Hey pak Tua! Pak Tua!" teriak Abram dengan keras, suaranya bergema di ruangan kosong. Namun, tidak ada tanggapan, seolah-olah sosok dalam batu itu benar-benar tertidur pulas.
"Hm... aku belum sempat bertanya, bagaimana aku menggunakannya," gumam Abram kebingungan, menatap batu di dadanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Pertama-tama yang harus aku lakukan adalah aku harus pergi dari sini," kata Abram, pandangannya ke arah kamar mayat yang suram.
Aroma karbol dan kematian masih melekat kuat di udara. Ia melangkah mendekati pintu, berniat menutupnya rapat-rapat.
Tapi saat ia berbalik, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia menggosok matanya, mengira itu hanya efek cahaya atau kelelahan, tetapi pemandangan di depannya tidak berubah.
Asap hitam tipis, seperti kabut yang baru saja muncul, melayang di atas setiap mayat yang terbujur kaku di dalam kamar mayat itu. Asap itu menari-nari pelan, seolah memiliki kehidupan sendiri, meskipun tipis dan nyaris tak terlihat.
"Eh, apa aku tidak salah lihat? Kenapa tubuh para mayat itu ada asap hitam yang tipis ya?" tanya Abram pada dirinya sendiri.
Ia segera menutup pintu kamar mayat itu dengan tergesa-gesa, lalu mengunci pintu segera.
Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan bergegas meninggalkan tempat itu, langkahnya dipercepat untuk keluar dari rumah sakit ini secepat mungkin.
Saat ia berjalan terburu-buru di koridor rumah sakit yang panjang dan sepi, pandangannya kembali menangkap hal aneh.
Kali ini, bukan hanya mayat. Dua orang yang berjalan berpapasan dengannya memiliki ‘asap’ yang melayang di atas kepala mereka.
Yang satu berasap merah terang, sementara di sebelahnya, ada yang berasap hijau. Abram mengerjap-ngerjapkan matanya lagi, mencoba memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi.
"Eh, itu kenapa ya? Kok ada warna merah dan hijau? Aku beneran nggak ngerti maksudnya apa," gumam Abram, semakin bingung. Ia mengucek matanya, berharap penglihatannya kembali normal, namun asap-asap itu tetap ada.
Tiba-tiba saja seorang pria yang di atas kepalanya diselimuti asap merah menyala itu, terjatuh secara mendadak.
Gedebuk.
Suara yang keras membuat Abram terkejut. Pria itu pingsan seketika. Orang yang berjalan di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar dua puluh tahun, langsung panik. Ia berlutut di samping pria itu, mengoyangkan tubuhnya dengan cemas.
"Pa, Papa! Papa kenapa!" teriak anak laki-laki itu, suaranya bergetar karena panik.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya