seorang gadis bernama Alina Harus hidup menderita tinggal bersama bibinya sejak kecil selalu di perlakukan dengan kasar oleh sang bibi
hingga dirinya bertemu pria arogan bernama Devano Dirgantara seorang pengusaha mempunyai sifat dingin cuek galak berstatus duda Alina harus kerja di tempat Devano karena ganti rugi
bagaimana kisahnya? apakah Alina akan dapat kebahagiaan karena kehidupan nya begitu menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu Gayatri di Mall
"terserah kamu,mana yang paling buatmu nyaman memanggil saya,"jawab Devano membuat Alina ngangguk.
"Baiklah.. Om mungkin tepat tuan!"ucap Alina membuat Devano terkejut.
"saya ngga terlalu tua astaga!"protes Devano membuat Alina menghela nafas.
"usia kita lumayan berjarak jauh tuan!"ucap Alina membuat Devano menghela nafas.
"tapi ngga om juga, yang lain kek,"ucap Devano membuat Alina tersenyum.
"nanti deh,saya pikirkan saya bingung tuan!"ucap Alina membuat Devano menatap.
Alina merasa gugup di tatap Devano lalu Devano mendekat aroma tubuh Devano yang wangi membuat Alina suka apalagi melihat ia baru nyadar bahwa atasannya ini tampan karena blasteran juga entah blasteran mana Devano ini.
"Alina,saya ingin lindungi kamu jadi jika terjadi sesuatu saya mohon bilang saja dengan jujur,"ucap Devano membuat Alina ngangguk.
"saya lelah sekali tuan,ingin istirahat,"ucap Alina membuat Devano ngangguk.
*****
PAGI HARI KEMUDIAN..
Pagi ini Alina sudah berada di perusahaan dan saat ini Devano sedang pergi jauh jadi mungkin ngga datang ke kantor nya,Alina tetap merapikan ruangan Devano hingga semua rapi tanpa ada debu sedikit pun.
"Alina, sepertinya tuan Devano sangat peduli padamu!"celetuk Laras sang office girl.
"Ehmm.. Itu hanya perasaan mu mungkin,"ucap Alina dengan tersenyum.
"Karena tuan Devano,itu sangat cuek pada karyawan nya!"ucap Laras membuat Alina mengerutkan keningnya.
Ucapan Laras memang benar tapi Alina bingung kenapa sifat Devano seperti itu padanya ngga mungkin kalo seorang Devano menyukai dirinya, karena Alina sadar diri dari mana ia berasal dan juga kasta nya pasti sangat berbeda.
"itu ngga mungkin,kalo tuan suka padaku haha!"gumam Alina dengan terkekeh.
"Yaudah.. Aku kerjakan, pekerjaan dapur dulu,"ucap Alina balas Anggukan Laras.
Alina pun ke pantri membersihkan pantri padahal bukan tugasnya,tapi Alina ngga masalah karena ia sangat bosan harus melakukan apa jika ngga ada Devano di perusahaan ini, biasanya kalo ada Devano Ia membuat minuman untuk Devano.
"Huft.. Kalau tuan ngga ada,berasa ada yang kurang,"gumam Alina menghela nafas.
"tapi kalau marah, memang menyebalkan walaupun dia tampan!"celetuk Alina sembari cuci piring.
Beberapa Office girl membantu Alina bereskan dapur karena takut jika Devano tau kalau yang mengerjakan hanya Alina, mereka takut akan kena sembur bosnya karena kalau marah marah galak.
"nona anda lebih baik,tak usah bereskan dapur!"ucap David membuat Alina mengerutkan keningnya.
"kenapa kak?"tanya Alina merasa heran.
"karena anda, adalah Asisten pribadi tuan!"jawab David membuat Alina ngangguk.
Alina merasa ngga enak jika tak membantu mereka yang sedang sangat sibuk,namun jika yang patuhi takutnya Office girl kena marah Devano bisa juga mereka di pecat hanya karena masalah kecil.
"dasar tuan ini,bikin aku tak enak pada mereka!"gumam Alina menghela nafas.
"biarkan saja,kan dia juga pembantu!"ucap Novi membuat David menghela nafas.
"lebih baik,kamu diam saja nona!"sebal David dengan Novi.
****
SIANG HARI KEMUDIAN..
Siang ini Alina sedang berada di sebuah tempat perbelanjaan bersama temannya ingin membeli sesuatu walaupun waktu itu sempat ke mall bersama Devano,namun ia merasa ngga enak karena di bayar Devano setiap belanjaannya.
"Nisa,ini seperti nya enak!"celetuk Alina sembari menatap cemilan.
"Yaudah.. Kita beli ini,kamu mau beli apa Alina?"tanya Anisa membuat Alina tersenyum.
"aku lagi bingung juga!"jawab Alina membuat Anisa menghela nafas.
Alina pun membeli beberapa cemilan dan juga barang yang ia butuhkan, setelah itu ke kasir untuk membayar belanjaan nya berharap tak mahal totalnya karena ia memakai kartu milik Devano.
"Alina, seperti nya ada bibimu!"ucap Anisa membuat Alina menghela nafas.
"Abaikan saja,aku sudah muak dengan bibiku!"ucap Alina membuat Anisa ngangguk.
Setelah semua sudah di bayar mereka pun segera pergi ke lantai bawah ingin makan siang di mall ini,Alina berharap bibi nya tak melihat nya di sekitar mall ini karena Alina sudah sangat kecewa dengan sang bibi yang tega lakukan hal jahat seperti malam kemarin.
"Menu nya enak enak ya!"celetuk Anisa membuat Alina ngangguk.
"Aku pun bingung Nis,mau beli yang mana,"ucap Alina membuat Anisa ngangguk.
Gayatri yang berada di tempat yang sama tanpa sengaja melihat Alina bersama temannya membuat nya mengerutkan keningnya,Alina terlihat bahagia ia berpikir bahwa Alina memakai uang Fahmi padahal itu uang Devano.
"Haha.. Pasti kamu, belanja pake uang Fahmi!"cibir Gayatri membuat Alina mengerutkan keningnya.
"Bibi kenapa harus seperti itu,mau aku pake uang siapa itu bukan urusan bibi,"ucap Alina dengan tersenyum.
"kamu udah berani hm?"tanya Gayatri natap sinis.
"Aku selama ini,diam dengan perlakuan bibi itu karena aku menghormati bibi Gayatri!"jawab Alina.
"tapi bibi dengan tega jual diriku,bibi sangat jahat!"kesal Alina membuat Anisa kaget.
Anisa benar benar kaget dengan yang Alina ucapkan sungguh merasa miris dengan perbuatan Gayatri pada Alina, untung saja sahabat nya saat ini baik baik saja dan bisa menjauh dari keluarga sang paman.
"nyonya benar benar jahat, perbuatan mu bisa di laporkan polisi,"ucap Anisa membuat Gayatri cemas akan di laporkan.
"Nisa benar, perbuatan bibi bisa saja ku laporkan!"tegas Alina natap sinis Gayatri.
"Aku tak tinggal dengan,Fahmi orang yang sudah membeli diriku!"ucap Alina membuat Gayatri terkejut.
Gayatri mengerutkan keningnya ia merasa penasaran siapa yang menolong Alina selama ini, karena jika Alina melawan pria itu ngga mungkin apalagi tenaga Alina tak sekuat pria itu karena seorang wanita.
"nyonya stop ganggu Alina,dia juga berhak bahagia!"tegas Anisa.
"apakah dia,bisa hidup sendiri dia kan tak punya apapun,"ucap Gayatri membuat Alina tersenyum.
"Tentu saja bisa,aku sudah bekerja di perusahaan ngga seperti putri mu,"ucap Alina membuat Gayatri kesal.
Gayatri pun menamp4r Alina namun di tahan Alina sudah cukup selalu pasrah, karena Alina sebenarnya berani untuk melawan sang bibi hanya saja saat itu masih takut akan tinggal dimana karena tak punya uang selama ini.
"bibi ternyata ngga pernah berubah,tetap seperti ini,"ucap Alina membuat Gayatri mendengus.
"tapi aku,bukan Alina yang dulu karena Alina yang dulu sudah tiada karena terlalu banyak rasa sakit yang bibi berikan padaku, sekarang berhenti ganggu hidupku!"tegas Alina merasa muak.
"okey,awas jika pulang ke rumah!"ucap Gayatri natap sinis.
"tenang saja bi,aku ngga akan kembali kerumah yang penuh neraka,"ucap Alina dengan tersenyum.
"Aku senang,dirimu sudah berubah Alina,"gumam Anisa dengan tersenyum.
****
MALAM HARI KEMUDIAN..
Malam ini Devano baru pulang lumayan cepat perjalanan nya padahal habis di luar negeri karena sedang ada urusan,saat ia sampai rumah terlihat rumah nya sangat rapi dan harum pengharum ruangan seperti nya baru di beli namun entah siapa yang beli.
"Ehh.. Tuan sudah pulang?"tanya Alina membuat Devano ngangguk.
"tentu saja, seperti yang dirimu lihat!"jawab Devano membuat Alina ngangguk.
"yang beli pengharum siapa?"tanya Devano membuat Alina tersenyum.
"saya tuan, karena sudah habis!"jawab Alina membuat Devano mengerutkan keningnya.
"sebenarnya ini,bukan aroma favorit saya tapi ngga apa tetap suka,"ucap Devano sembari menarik kopernya.
Ka ayo baca novel ku juga, kalo mau 😼"changes that are becoming more pronounceed"