Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Dendam
“Jadi itu yang mau kamu bilang ke aku?”
Tiffany berdiri kaku, tak percaya. Menatap wajah Hans yang dingin, dia merasa pria itu seperti orang asing. Dada Tiffany terasa sesak. Luka dan kecewa perlahan memenuhi hatinya.
“Iya! Itu yang mau aku bilang! Kamu inget baik-baik, jangan ikut campur urusan aku lagi. Hidup mati aku gak ada hubungannya sama kamu. Kita sudah gak ada hubungan apa-apa. Ngerti?” Hans membentaknya tanpa ampun.
Kata-kata kejam itu membuat Tiffany terpaku. Dia tidak menyangka, alih-alih berterima kasih atas niat baiknya, Hans justru menyalahkannya. Sejak kapan mereka berubah jadi seperti musuh?
“Heh, Hans Rinaldi! kamu masih punya hati gak sih?” Rachel yang berdiri di samping sudah tidak tahan. “Gimana bisa kamu ngomong begitu ke Nona Rasheed? Dia tadi mau nolongin kamu! Kok bisa-bisanya kamu gak tahu diri?”
“Terus aku harus ngomong apa? Muji dia karena berani-beraninya nerobos tempat Bimbo?” balas Hans dingin.
“Kamu bener-bener gak tahu terima kasih!” Rachel semakin geram.
“Cukup! Udah! Mulai sekarang aku gak bakal ikut campur urusan kamu lagi. Kamu hidup atau mati, itu bukan urusan aku!”
Akhirnya Tiffany tak mampu menahan diri. Dia berbalik dan pergi dengan marah. Tidak ada yang menyadari, perempuan yang biasanya tegar itu mulai meneteskan air mata.
“Hans Rinaldi! Kamu ingat kata-kata kamu hari ini! Jangan pernah datang minta tolong ke kita lagi!” bentak Rachel sebelum menyusul Tiffany.
“Bodoh,” gumam Othan pelan sambil mengikuti mereka. Ini kesempatan bagus baginya untuk mendekat. Dia tidak mungkin menyia-nyiakannya.
“Perempuan keras kepala .…” gumam Hans lirih.
Tatapannya masih mengikuti langkah Tiffany yang menjauh. Semua itu sengaja dia katakan untuk melindunginya. Kalau tadi dia tidak datang tepat waktu, Bimbo pasti sudah memanfaatkan keadaan.
Hans tidak mau kejadian serupa terulang lagi. Satu-satunya cara adalah memutuskan hubungan dengan kejam.
“Akhirnya waktunya bergerak.”
Hans menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah gedung Rumble Group. Dia tadi tidak pergi bukan karena takut. Dia hanya tidak ingin Tiffany ikut terancam. Sekarang Tiffany sudah aman. Tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.
Balas dendam seharusnya dilakukan dengan tenang. Sayangnya, Hans bukan orang yang sabar. Dia ingin semuanya selesai hari ini.
Tanpa ragu, dia melangkah masuk ke gedung Rumble Group. Di bawah tatapan terkejut orang-orang di sekitar, dia mengunci pintu utama dari dalam. Tak lama kemudian, teriakan dan jeritan menggema dari dalam gedung.
Semua itu berlangsung sekitar dua puluh menit.
Dua puluh menit kemudian.
Dengan suara keras, pintu kantor di lantai paling atas hancur diterjang tubuh salah satu pengawal yang terlempar tak bernyawa.
Hans melangkah masuk sambil menginjak mayat itu. Tubuhnya berlumuran darah. Wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. Lantai dan dinding dipenuhi bercak merah.
Suasananya mencekam.
Para pengawal Bimbo di dalam ruangan membeku. Wajah mereka pucat. Rasa dingin merayapi tubuh mereka.
Hans seperti monster. Mereka tidak menyangka pria itu sekuat ini. Dari lantai pertama sampai lantai paling atas, tidak ada satu pun yang tersisa.
Hampir dua ratus orang dia habisi sendirian.
Apa dia masih manusia?
“Kamu … Kamu siapa?” Bimbo mundur dengan panik. Tadi, saat melihat Hans kembali, dia sempat menyeringai, mengira pria itu datang mencari mati.
Ternyata dia salah.
Sangat salah.
Hans tidak datang untuk mati.
Dia datang untuk membantai.