NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Belajar Hidup, Bukan Bertahan

Lin Feng terbangun di atas kasur empuk untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Kamar yang disediakan Kuil Cahaya Suci untuknya memang sederhana, namun terasa jauh lebih nyaman dibandingkan gua lembap atau tanah keras di tengah hutan. Sebuah kasur dengan seprai bersih, meja kecil di sudut ruangan, lemari pakaian sederhana, serta sebuah jendela yang menghadap langsung ke jalan kota.

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui jendela, membuat Lin Feng menyipitkan mata. Ia bangkit perlahan, duduk di tepi kasur, lalu meregangkan tubuhnya yang masih terasa sedikit kaku.

Jauh lebih baik, pikirnya sambil memeriksa luka-luka di lengannya. Hampir semuanya telah menutup sempurna. Yang tersisa hanyalah bekas kemerahan tipis. Mungkin dua atau tiga hari lagi sebelum benar-benar pulih.

Ia berdiri dan melangkah ke arah jendela.

Di bawah sana, kota Qingshui sudah hidup meski masih pagi hari.

Para pedagang membuka kios mereka. Para kultivator berjalan cepat dengan tujuan masing-masing. Sementara anak-anak kecil berlarian, sebagian dari mereka membantu orang tua mereka di toko.

Kehidupan yang normal. Kehidupan yang nyaris ia lupakan rasanya. Sepuluh tahun di akademi, ia hidup di bawah bayang-bayang. Sepuluh tahun tanpa benar-benar hidup, hanya bertahan dari hari ke hari.

Namun sekarang…

Sekarang aku punya kekuatan, pikir Lin Feng sambil menatap kedua tangannya. Kekuatan untuk tidak sekadar bertahan, melainkan benar-benar hidup. Untuk mencari kebenaran dan menuntut balas.

Tapi sebelum semua itu, ia harus memahami dunia ini terlebih dahulu, klan-klan, politik, siapa yang bisa dipercaya, dan siapa yang harus diwaspadai.

Dan tempat terbaik untuk memulai semua ini adalah... pasar di kota.

Setelah mandi dan berganti pakaian yang sudah disediakan kuil tanpa ada lambang apapun, Lin Feng akhirnya turun ke lobi.

Yue Lian sudah menunggunya di sana, duduk santai di salah satu kursi sambil membaca gulungan kecil. Begitu melihat Lin Feng, ia tersenyum dan melambaikan tangan.

“Pagi! Tidurnya nyenyak?”

“Sangat,” jawab Lin Feng dengan jujur. “Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali tidur seperti itu.”

“Bagus. Kau kelihatan lebih segar.” Yue Lian menutup gulungannya lalu berdiri. “Ada rencana hari ini?”

“Aku ingin berkeliling kota,” kata Lin Feng. “Melihat-lihat, mencari informasi dan mungkin membeli beberapa perlengkapan.”

“Mau aku temani?” tanya Yue Lian dengan antusias. “Aku cukup mengenal kota ini. Bisa jadi pemandu untukmu.”

Lin Feng ragu sejenak. Bepergian sendirian memang lebih aman, tak ada yang bertanya atau memperhatikan hal-hal mencurigakan. Namun di sisi lain, pemandu lokasi jelas sangat membantu.

“Baik,” akhirnya ia mengangguk. “Asal kau tidak keberatan berjalan cukup lama.”

“Tidak masalah!” Yue Lian sudah lebih dulu melangkah ke arah pintu. “Ayo. Kita mulai dari pasar pagi. Tempat terbaik untuk sarapan dan mencari barang murah.”

Pasar Pagi Kota Qingshui adalah lautan keramaian yang penuh warna. Ratusan pedagang memajang dagangan mereka di kios-kios kayu atau di atas tikar yang dibentangkan di tanah. Sayuran segar, buah-buahan, daging, ikan dari danau, roti, kue-kue, hingga barang kultivasi tingkat rendah seperti ramuan sederhana dan artefak dasar.

Beragam aroma bercampur di udara, daging panggang, rempah-rempah, bunga segar, dan samar bau ikan.

Lin Feng mengikuti Yue Lian yang bergerak lincah menembus kerumunan, sesekali berhenti di kios tertentu untuk melihat barang atau menanyakan harga.

“Ini,” kata Yue Lian sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil. “Roti isi daging. Sarapan favoritku setiap kali ke kota ini.”

Lin Feng menerimanya dan menggigit pelan. Hangat, lembut, dengan isian daging yang berair dan berbumbu pas.

“Enak,” katanya jujur, sedikit berbicara dengan mulut penuh.

Yue Lian tertawa kecil. “Betul Kan? Aku tidak bohong.”

Mereka berjalan sambil makan, sementara Yue Lian menjelaskan berbagai hal tentang kota, wilayah mana yang aman, mana yang sebaiknya dihindari, toko mana yang jujur dan mana yang terkenal suka menipu.

“Itu,” Yue Lian menunjuk sebuah bangunan besar di sudut pasar, “Gedung Serikat Kultivator. Tempat para kultivator bebas mengambil misi untuk mendapatkan uang. Atau menjual barang seperti ramuan, inti binatang, atau artefak yang mereka temukan.”

“Serikat Kultivator?” Lin Feng mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengarnya.

“Organisasi netral,” jelas Yue Lian. “Tidak berafiliasi dengan klan atau sekte mana pun. Sangat berguna untuk kultivator bebas sepertimu.”

Lin Feng menatap gedung itu dengan minat. Tempat yang bagus untuk mencari informasi dan juga penghasilan.

“Mari masuk,” ajak Yue Lian. “Aku tunjukkan cara kerjanya.”

Bagian dalam Gedung Serikat Kultivator dipenuhi suara riuh. Puluhan kultivator kebanyakan berada di tingkat rendah, Ranah Pengumpulan Qi atau Ranah awal Pembentukan Fondasi, mereka berkumpul di depan papan besar yang dipenuhi lembaran misi.

“Lihat,” Yue Lian menunjuk papan tersebut. “Misi dibagi berdasarkan tingkat kesulitan. Tingkat F paling mudah, lalu naik hingga tingkat S yang paling berbahaya. Setiap kultivator bisa memilih sesuai kemampuannya.”

Lin Feng mendekat dan membaca beberapa misi:

[Tingkat F] Mengumpulkan 10 Teratai Hijau dari Danau Giok

Pembayaran: 5 batu roh

Syarat: Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kesatu sampai Kelima.

[Tingkat E] Membunuh 5 Serigala Besi di Hutan Timur

Pembayaran: 20 batu roh

Syarat: Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Ketujuh ke atas.

[Tingkat D] Mengawal pedagang dari Kota Qingshui ke Kota Yanshan

Pembayaran: 50 batu roh

Syarat: Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Kesatu sampai Kedua.

[Tingkat C] Menyelidiki hilangnya kafilah di Jalur Gunung Hitam

Pembayaran: 100 batu roh

Syarat: Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Ketiga ke atas, disarankan berkelompok.

Di bagian atas papan, tertera misi tingkat B dan A dengan bayaran ratusan hingga ribuan batu roh, namun syaratnya juga sangat tinggi.

“Kau tertarik mengambil misi?” tanya Yue Lian.

“Mungkin,” jawab Lin Feng. “Aku butuh batu roh. Tidak bisa selamanya bergantung pada kebaikan kuil.”

“Kau tidak bergantung,” bantah Yue Lian. “Kau menyelamatkan nyawa kami. Itu jauh lebih berharga dari beberapa hari menginap.”

“Meski begitu, aku lebih nyaman mandiri.” Lin Feng menggeleng kepalanya pelan

Yue Lian menatapnya sejenak, ekspresinya sulit dibaca. “Lin Feng, menerima bantuan sesekali itu tidak salah. Tidak semua orang berniat memanfaatkanmu.”

“Aku tahu,” jawabnya lirih. “Hanya… kebiasaan lama.”

Belum sempat Yue Lian menanggapi, sebuah dorongan keras menghantam bahu Lin Feng dari belakang, jelas itu disengaja.

“Hei, minggir,” bentak sebuah suara kasar. “Kau menghalangi jalanku.”

Lin Feng berbalik. Tiga kultivator muda berdiri di sana, aura mereka menunjukkan Ranah Pengumpulan Qi yang tinggi. Yang di tengah, seorang pemuda bertubuh tinggi, ia tersenyum mengejek.

“Oh? Maaf,” katanya sinis. “Kupikir kau tuli.”

“Aku mendengarmu,” jawab Lin Feng tenang. “Koridor ini cukup lebar untuk kau lewat tanpa menyenggol.”

“Berani juga mulutmu,” pemuda itu melangkah mendekat mencoba menekan dengan postur tubuhnya. “Kau tahu siapa aku?”

“Tidak,” jawab Lin Feng datar. “Dan aku tidak peduli.”

Wajah pemuda itu memerah. Dua rekannya tertawa, tawa yang terdengar seperti lolongan serigala.

“Namaku Wang Hu,” katanya sombong. “Putra ketiga Keluarga Wang, salah satu keluarga terkaya di kota ini. Kau seharusnya tahu cara menghormati.”

“Rasa hormat harus diperoleh,” kata Lin Feng. “Bukan diminta.”

Wang Hu tampak hampir marah, Namun Yue Lian melangkah maju, berdiri di antara mereka dengan senyum manis.

“Wang Hu” ucapnya sopan namun tegas. “Ini wilayah serikat. Pertarungan dilarang dan mungkin kau juga tahu aturannya.”

Pandangan Wang Hu bergeser ke jubah Yue Lian. Saat melihat lambang Kuil Cahaya Suci, matanya sedikit membesar.

“Kuil Cahaya Suci…” gumamnya. Ia kembali menatap Lin Feng dengan tajam. “Kau beruntung punya pelindung. Lain kali, tidak akan semudah ini.”

Ia berbalik pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia sengaja menyenggol bahu Lin Feng sekali lagi.

Setelah mereka pergi, Yue Lian menghela napas panjang. “Maaf. Wang Hu memang terkenal sebagai preman di kota Qingshui. Keluarganya kaya, jadi dia merasa bisa berbuat apa saja.”

“Tidak apa-apa,” jawab Lin Feng. “Aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti itu.”

Terlalu terbiasa, batinnya pahit, ia teringat Zhao Ming dan para murid dalam lain di akademi yang selalu menindasnya.

“Ayo keluar,” kata Yue Lian akhirnya. “Masih banyak tempat yang ingin kutunjukkan.”

1
Green Boy
lanjut lagi thor
Green Boy
semangat thor💪💪💪
Green Boy
semangat thor💪💪💪💪
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
Arinto Ario Triharyanto
Yoi, MC terlalu naif, kyknya kalahan ini mah kalo tarung, apalagi sama cewek, Cemen 😄
rozali rozali
lanjut thor.
💪💪💪💪
Muh Nasrun
Thor, kenapa harus mencuri pil hanya utk meningkatkan kultivasinya, ini ga benar, kalaupun bisa tambah kuat tapi dgn cara yg tdk benar.
Arinto Ario Triharyanto
kebanyakan mikir lu Feng 🤣
Celestial Quill: masih belum pede dengan kekuatannya.😄
total 1 replies
Muh Nasrun
Tingkatan ke 3 tetapi bisa bertarung dgn level 8, apa2an ini, terlalu sekali, lebih baij tdk perlu ada level thor, tdk berguna level,kalau di cerita silat yg lainnya itu spt semut ketemu gajah, terlalu jauh rananya.
Celestial Quill: saya luruskan sedikit ya, Zhao Ming yang Lapisan Ketiga kenapa bisa bertarung dengan lapisan keenam atau Kedelapan bukan karena Lapisannya, melainkan karena teknik tempur nya kuat, tetapi ia tidak bisa bertarung dengan lama melawan lapisan yang lebih tinggi, karen Qi yang di milikinya terbatas berbeda dengan Lapisan yang lebih tinggi.🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
bagus, lanjutkan
Celestial Quill: Siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!