NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 7

Mataku terasa berat saat terbuka. Hal pertama yang kusadari adalah dinginnya lantai yang menusuk kulitku. Aku terbangun dengan wajah yang terasa kaku dan sembab.

Kutolehkan kepala ke arah jam dinding sudah pukul 05.30. Ternyata semalam aku tertidur di lantai, kelelahan setelah badai emosi yang menguras seluruh tenagaku.

Aku bangkit dengan tubuh yang terasa remuk, lalu bergegas ke kamar mandi. Saat bercermin, aku meringis melihat pantulan diriku sendiri. Matanya bengkak, merah, dan sangat sembab.

Tidak boleh ada yang melihatku seperti ini. Aku segera menyiapkan air hangat, merendam wajahku berkali-kali, berharap suhu hangatnya bisa meredakan bengkak di mataku dan menghilangkan jejak tangis semalam.

Pukul 06.30. Aku sudah siap dengan pakaian santai. Hari ini weekend, tidak ada jadwal kuliah. Aku berencana pergi dari rumah ini ke mana saja, asal bisa menghirup udara yang tidak menyesakkan.

Aku butuh ruang untuk meredakan amarah dan rasa kecewa yang masih mengendap di dadaku.

Namun, saat aku menuruni anak tangga langkahku terhenti.

Ada pemandangan yang sangat tidak biasa di ruang makan.

Papa dan Mama sudah ada di sana. Duduk tenang di meja makan, seolah badai besar semalam tidak pernah terjadi. Tidak ada teriakan, tidak ada piring terbang. Hanya ada keheningan yang dipaksakan.

"Sudah bangun, Sayang? Yuk, kita sarapan sama-sama,"

ucap Papa mengawali suaranya terdengar lembut, mencoba bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

Aku menghentikan langkah, berdiri beberapa meter dari meja makan. Aku menatap mereka berdua bergantian. Mama hanya menunduk, sesekali melirikku dengan tatapan bersalah sementara Papa mencoba mengulas senyum yang terasa tawar bagiku.

Hatiku bukannya luluh, malah terasa semakin panas. Bagaimana bisa mereka bersikap seolah-olah tamparan dan makian semalam bisa dihapus hanya dengan sepiring nasi goreng di pagi hari? Apakah mereka pikir kata-kata pedasku semalam hanya angin lalu?

Aku tidak membalas sapaan Papa. Aku hanya diam, menatap mereka dengan tatapan kosong dan dingin.

"Hana, Papa bicara sama kamu..." suara Papa terdengar ragu.

Aku tetap bungkam tanpa sepatah kata pun, aku membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar. Entahlah, melihat wajah mereka membuat dadaku kembali sesak. Rasanya muak melihat sandiwara keluarga normal yang mereka mainkan pagi ini. Aku hanya ingin pergi.

Suara mesin motorku menderu, memecah kesunyian garasi. Aku menarik gas cukup dalam, melesat keluar gerbang tanpa menoleh sedikit pun pada Papa yang mungkin masih berdiri mematung di ruang makan.

Aku hanya ingin lari. Lari dari wajah-wajah penuh sandiwara itu.

Laju motorku membawaku ke sebuah tempat yang sudah lama menjadi saksi bisu setiap kali hatiku sedang tidak baik-baik saja.

Sebuah taman di pinggir kota, tepat di sisi sungai kecil yang alirannya selalu tenang. Aku memarkirkan motor, mencari bangku kayu yang paling tersembunyi lalu duduk di sana.

Udara pagi yang segar menerpa wajahku, mencoba mencuci sisa-sisa sesak yang tertinggal.

Hal pertama yang kulakukan adalah merogoh tas, mengambil ponsel, dan menekannya hingga layar menjadi gelap. Mati. Aku tidak butuh telepon dari Mama, pesan singkat dari Papa, atau bahkan gangguan jahil dari Diva dan Dhea. Untuk saat ini, aku hanya ingin menjadi Hana yang tidak bisa ditemukan oleh siapa pun.

Aku menatap lurus ke depan, ke arah riak air sungai yang memantulkan cahaya matahari pagi. Jemariku memungut kerikil kecil di bawah bangku, lalu melemparkannya ke tengah sungai.

Plung.

Satu lemparan. Satu beban yang coba kubuang.

Plung.

Dua lemparan. Tapi hatiku justru semakin berat.

Tiba-tiba, sebuah senyum getir terukir di bibirku. Entah kenapa, suasana sungai ini, bau tanah basahnya, dan ketenangannya, menyeretku paksa kembali ke masa itu. Masa SMA.

Aku teringat dia.

Dulu, di tempat seperti inilah dia sering menggenggam tanganku. Dia yang akan mendengarkan semua ceritaku tanpa pernah memotong.

Dia yang akan mengambil batu di tanganku, lalu berkata,

"Jangan dilempar batunya, nanti sungainya sakit. Mending kamu bagi sedihnya ke aku aja."

Bayangan wajahnya yang tertawa begitu nyata di ingatanku.

Sosok yang dulu menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap percaya bahwa ada cinta yang tulus di dunia ini. Namun, bayangan itu juga yang mengingatkanku pada hari di mana semuanya hancur, hari di mana cinta kami berubah menjadi tragedi yang melibatkan polisi, jeruji besi, dan penghakiman yang menghancurkan masa depanku.

"Kamu di mana sekarang kamu apa kabar, kamu masih rindu aku nggak?" bisikku lirih, nyaris hilang dibawa suara air.

Aku merindukannya Ingatanku terseret paksa ke masa itu. Suasana taman yang tenang tiba-tiba berubah menjadi dingin, berganti menjadi ruang tunggu yang pengap dan mencekam, tempat aku terakhir kali melihatnya dengan tangan yang diborgol.

...~Flashback ON...

"Hana, kamu cinta aku, kan? Tolong aku, Han... aku nggak mau dipenjara!"

Suaranya gemetar hebat matanya merah menatapku penuh permohonan. Dia memegang tanganku erat, seolah-olah hanya aku satu-satunya dahan tempatnya bergantung agar tidak jatuh ke jurang.

"Kita sudah janji akan menikah, kan? Aku akan tanggung jawab, Han. Aku akan kerja apa saja buat kamu dan anak kita. Tolong bilang sama orang tuamu, cabut laporannya aku sangat mencintai kamu hana," ucapnya terisak-isak.

Aku hanya bisa mematung. Air mataku mengalir deras hingga dadaku terasa sesak, nyaris tak bisa bernapas.

Aku ingin berteriak bahwa aku juga mencintainya, aku ingin bilang bahwa aku ingin bersamanya. Di dalam perutku yang masih rata ini, ada nyawa yang baru saja mulai tumbuh anak kami. Buah dari cinta yang saat itu kami anggap sebagai segalanya, namun dianggap sebagai aib besar oleh dunia.

Tapi aku lumpuh. Di satu sisi, cintaku padanya begitu besar hingga aku rela mati bersamanya. Namun di sisi lain, aku berhadapan dengan tembok raksasa bernama orang tua.

"Nggak akan pernah!"

Suara Papa yang menggelegar kembali terngiang di telingaku.

"Laki-laki miskin ini sudah merusak masa depanmu! Dia harus busuk di penjara!"

Hanya karena perbedaan kasta, hanya karena dia tidak berasal dari keluarga terpandang seperti keluargaku, orang tuaku tidak sudi dia menjadi suamiku. Bagiku dia adalah segalanya, tapi bagi mereka, dia hanyalah sampah yang mencoreng nama baik keluarga.

Kemurkaan orang tuaku mencapai puncaknya saat mereka tahu aku tengah hamil. Di hari aku seharusnya merayakan kelulusan SMA dengan tawa, aku justru harus menyaksikan lelaki yang kucintai diseret paksa oleh polisi karena laporan ayahku sendiri dengan tuduhan yang menghancurkan hidupnya.

Aku ingat bagaimana aku bersimpuh di kaki Papa, memohon agar dia dilepaskan, namun yang kudapat hanyalah cacian. Aku terjepit di antara janji suci kami untuk menikah dan paksaan orang tuaku yang ingin melenyapkan keberadaannya dari hidupku.

"Maafin aku..."

hanya itu yang sanggup keluar dari bibirku saat itu sebelum petugas membawanya pergi.

...Flashback OFF...

...----------------...

Aku tersentak kembali ke kenyataan. Tanganku tanpa sadar meraba perutku yang sekarang kosong. Kerikil di tanganku terjatuh begitu saja. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah lagi, lebih deras dari sebelumnya.

Setiap kali mengingat hari itu, aku merasa seperti dibunuh berulang kali. Bukan hanya kehilangan dia, tapi aku juga kehilangan diriku sendiri. Aku benci orang tuaku yang egois, tapi aku juga benci diriku sendiri yang saat itu terlalu lemah untuk melawan.

"Kenapa cinta harus serumit ini?" bisikku pada aliran sungai yang seolah ikut menangis bersamaku.

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!