Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. KEGAGALAN
Langit sore di atas Kerajaan Aurelius perlahan berubah keemasan ketika Elara Ravens melangkah keluar dari gerbang Akademi Kesatria.
Biasanya, selepas pelajaran, ia akan berjalan pulang menyusuri jalan batu menuju Kediaman Duke Ravens yang menjulang anggun di distrik bangsawan. Biasanya, ia akan mengatur napasnya, mengulang teknik di kepalanya, atau memersiapkan diri menghadapi tatapan para pelayan yang selalu terlalu hormat dan terlalu berhati-hati.
Namun hari ini, langkahnya tidak mengarah ke rumah.
Kakinya berbelok.
Menuruni jalan besar yang ramai.
Menuju jantung ibu kota.
Elara tidak ingin pulang.
Tidak ingin melihat wajah Papa yang tenang namun penuh kasih. Tidak ingin melihat Mama yang mungkin akan menatapnya dengan lembut ... dan itu justru lebih menyakitkan. Tidak ingin melihat Evan dengan seragam resminya yang segera akan menerima pengangkatan sebagai kesatria kerajaan. Terutama setelah pertengkaran mereka tadi.
Elara bahkan tidak tahu harus berkata apa jika mereka bertanya. Mungkin Elara sedang tidak ingin mendengar apa pun tentang dirinya.
Angin sore menyibakkan rambut hitamnya. Pasar mulai ramai oleh pedagang yang menyalakan lentera. Aroma roti hangat, sup kaldu, dan daging panggang bercampur di udara.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan bangunan kayu dua lantai yang tidak mewah, namun hangat.
Papan kayunya bertuliskan: 'Kuali Besi Berderak.'
Tempat makan sederhana yang sudah ia datangi sejak beberapa tahun lalu, tanpa pengawalan, tanpa identitas sebagai putri Duke, hanya sebagai Elara. Walau semua orang tahu Elara adalah putri Duke, tapi di sini semua orang melihat Elara hanyalah seorang gadis biasa.
Elara mendorong pintu.
Bel kecil di atasnya berdenting.
Suasana di dalam riuh oleh tawa dan dentingan cangkir kayu. Bau daging panggang langsung menyambutnya seperti pelukan hangat.
Beberapa pelanggan mengenalinya, menyambut Elara dengan suka cita seperti teman dekat.
Itulah yang Elara suka.
Gadis itu duduk di meja pojok dekat jendela.
"Seperti biasa!" serunya pada pelayan muda yang berlari kecil menghampirinya.
Tak lama kemudian, sepiring besar daging panggang dengan kentang rebus dan roti hangat diletakkan di hadapannya.
Elara menatap makanan itu.
Uapnya mengepul. Aromanya menggoda.
Namun Elara hanya menusuknya pelan dengan garpu kayu.
Pikirannya jauh.
Skorsing.
Pertandingan ranking.
Tatapan kecewa Kepala Akademi.
Dan wajah Evan.
Elara memejamkan mata sesaat.
Ia tahu Evan tidak bersalah. Ia tahu kembarannya itu hanya khawatir. Namun kata-katanya tadi ... terasa seperti penghakiman.
Kenapa kau harus melakukan semuanya dengan kekerasan?
Karena aku lelah. Karena aku selalu kalah. Karena aku tidak pernah cukup, batin Elara.
Elara menelan ludah.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, rasa bersalah menyelinap pelan di antara amarahnya.
Ia tidak seharusnya melampiaskan emosinya pada Evan.
Evan tidak pernah menganggap Elara demikian.
Justru dunia lah yang melakukannya.
"Elara Ravens!"
Sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.
"AGH!" Elara tersedak hampir menjatuhkan garpunya.
Elara berbalik dengan wajah meringis.
Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut cokelat kemerahan yang digelung sembarangan berdiri di belakangnya, tangan bertolak pinggang dan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Matanya tajam seperti elang, namun penuh kehidupan.
Namanya Mirena Valen.
Namun Elara memanggilnya Bibi Mirena.
Pemilik tempat makan ini.
"Kenapa kau memasang wajah murung seperti itu, Tuan Putri?" seru Mirena penuh semangat.
Elara memijat punggungnya. "Agh, Bibi! Kau itu sebenarnya pemilik bar atau tukang pukul sebenarnya? Kenapa pukulanmu selalu terasa sampai ke tulang?"
Mirena tertawa keras, suara tawanya memenuhi ruangan.
"Itu karena kau kurang makan! Ototmu tidak ada! Lihat ini!" Mirena menepuk lengannya sendiri yang kekar. "Makan banyak daging! Baru bisa kuat!"
Elara menghela napas panjang.
Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Senyum pertama hari ini.
Mirena memerhatikannya dengan mata menyipit. "Nah, itu baru wajah Elara yang kukenal. Sekarang katakan, kenapa kau yang biasa tidak diam kini wajahnya ditekuk seperti roti basi?"
Elara mendelik. "Kau membuatku terdengar seolah aku biang keributan di sini, Bibi."
Mirena menyeringai. "Bukankah memang seperti itu?"
Beberapa pelanggan tertawa kecil mengejek Elara.
Elara menatap para pelanggan yang justru semakin tertawa. "Diam kalian!"
"Jadi?" Mirena duduk di hadapannya tanpa izin. "Apa yang terjadi? Biasanya kau datang kemari dengan cerita tentang duel yang hampir kau menangkan atau bagaimana kau mengalahkan pria dua kali ukuranmu."
Elara terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Aku diskors."
Mirena membelalak. "Kau apa?"
"Diskors," ulang Elara.
"Kenapa? Bukankah tiga hari lagi ada ujian kenaikan ranking?" tanya Mirena.
Elara menusuk dagingnya lagi, tapi tak benar-benar memakannya. "Aku memukuli seniorku."
Mirena mengangguk pelan. "Bukankah itu sudah biasa."
Elara menatap Mirena protes. "Dan ... aku juga memukul guru," tambahnya.
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu ...
Mirena tertawa keras hingga hampir terjatuh dari kursinya.
"Benar-benar seperti dirimu!"
"Bibi!" Elara mendesis malu.
Mirena menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Biar kutebak. Mereka meremehkanmu lagi?"
Elara mengangguk pelan. "Dan kali ini mereka membawa-bawa soal ibuku."
Senyum Mirena perlahan memudar. Wajahnya berubah serius. Tangannya terlipat di dada.
"Oh. Kalau begitu kau tidak salah memukul mereka," kata Mirena pelan namun tegas,
Elara terkejut.
"Jika aku di sana," lanjut Mirena, "aku juga akan memukul mereka. Tidak peduli itu guru sekali pun."
Beberapa pelanggan yang mendengar mengangguk setuju.
"Bukan soal mereka meremehkanmu saja," kata Mirena. "Tapi mereka berani mengungkit Duchess Liora Ravens. Salah satu pahlawan kerajaan ini."
Elara menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus berat.
"Tapi tetap saja aku diskors," gumam Elara.
Mirena mendecak pelan. "Elara."
"Bibi, bagaimana jika aku berhenti saja menjadi kesatria? Kepala Akademi mengatakan secara tidak langsung aku tidak pantas jadi kesatria," kata Elara.
"Kau salah makan hari ini?" Mirena memasang wajah terkejut. "Sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini?"
Elara mengangkat bahu lemah. "Mungkin aku memang tidak cocok. Staminaku lemah. Aku selalu kalah kalau lebih dari tiga orang. Semua orang membandingkanku dengan Evan. Kurasa aku jadi pemilik bar sepertimu saja," katanya setengah bercanda.
Mirena mendengus keras. "Kalau begitu kurasa aku harus menjejalkan seluruh panggangan dagingku ke mulutmu sampai kau sadar."
Elara terkekeh pelan.
"Menyerah bukan seperti dirimu," lanjut Mirena. "Bukankah kau yang berdiri di atas meja ini setahun lalu dan berteriak bahwa kau akan menjadi kesatria terhebat sepanjang masa?"
Wajah Elara langsung memerah. "Bibi! Jangan ingatkan kejadian memalukan itu!"
Pelanggan di meja sebelah ikut tertawa.
Mirena tertawa lagi dan memukul punggung Elara sekali lagi.
"AGH! Bibi!" protes sang gadis.
"Kalau kau menyerah, aku akan benar-benar memukulmu sampai sadar!" kat Mirena.
Elara tertawa. Tawa yang lebih tulus dari sebelumnya.
Untuk sesaat, beban di dadanya terasa lebih ringan.
Namun ...
Sebuah getaran aneh menjalar di lantai kayu.
Elara mengerutkan kening. "Apa itu?"
Gelas-gelas di rak mulai bergetar.
Lentera bergoyang.
Lalu ...
DUARR!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan.
Dinding kayu hancur.
Kaca jendela pecah berkeping-keping.
Elara tidak sempat berpikir.
Tubuhnya terlempar ke belakang.
Dunia berputar.
Suara kayu patah, jeritan orang, dan debu memenuhi udara.
Lalu gelap.
Beberapa detik ... atau menit kemudian.
Elara membuka mata perlahan.
Semua terasa berat.
Debu mengaburkan pandangannya.
Elara menyadari dirinya tergeletak di lantai, tertimpa meja yang pecah dan serpihan dinding.
Sakit menjalar di seluruh tubuhnya.
"Bibi?" suara Elara serak.
Gadis itu memaksakan diri mengangkat meja yang menindihnya.
Dengan susah payah, ia merangkak keluar.
Dan membeku.
Tak jauh darinya, Mirena tergeletak tak sadarkan diri.
Kepalanya berlumur darah.
"Bibi?!"
Elara merangkak mendekat.
Namun sebelum ia sempat menyentuh Mirena ...
Bayangan besar menutupi cahaya senja.
Tanah kembali bergetar.
Elara menoleh perlahan.
Dan napasnya terhenti.
Sosok raksasa berdiri di tengah reruntuhan bar.
Tubuhnya menjulang lebih tinggi dari bangunan dua lantai yang kini setengah hancur.
Kulitnya kelabu seperti batu, dengan retakan merah menyala di sela-selanya.
Mata kuningnya menyala buas.
Taring panjang menyembul dari rahangnya.
Monster.
Bukan sekedar binatang liar. Ini makhluk kelas tinggi. Sesuatu yang biasanya hanya muncul di perbatasan kerajaan.
Bukan di tengah ibu kota.
Elara melangkah maju.
Setiap langkahnya menghancurkan batu dan kayu di bawahnya.
Elara membelalak.
Tubuhnya gemetar.
Namun bukan karena takut.
Karena ia tahu ...
Elara sedang diskors. Ia dilarang bertarung. Ia bahkan bukan kesatria resmi.
Namun di belakangnya, Mirena tak sadarkan diri.
Dan di sekitar, orang-orang berteriak ketakutan.
Darah Ravens mengalir panas di nadinya.
Staminanya mungkin lemah.
Rankingnya mungkin rendah.
Namun ia tetap putri Duke Alaric Ravens.
Elara perlahan berdiri.
Tangan Elara gemetar, tapi ia menggenggam pecahan kayu panjang seperti tombak darurat. Matanya menatap monster itu tanpa berkedip.
"Kalau kau ingin menghancurkan tempat ini..." ujar Elara
Angin berhembus membawa debu dan bau asap.
"... kau harus melewatiku dulu."
Dan monster itu mengaum.
Suara yang mengguncang sisa-sisa dinding. Bersama Elara yang berada di sana.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜