"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Mahiya mendekati pria itu, kael yang duduk di sofa dengan mata tajamnya. Mahiya meraba tengkuknya yang mendadak dingin, tatapan pria itu jauh lebih dingin dan mencekam daripada musim dingin di antartika, mungkin. Karena sampai saat ini, jangankan ke antartika, keluar kota aja mahiya jarang pergi.
Mahiya belum duduk, gadis itu berdiri matanya mengerling mengamati ruangan kael yang terasa dingin.
"heummm, persis seperti pemiliknya" gumam mahiya, senyum tipis kelihatan di wajah cantiknya.
Kael mengernyitkan keningnya, entah apa yang digumamkan gadis itu, tapi kael kelihatan kesal melihat senyum tipis di bibir mahiya.
"bisakah kamu duduk!, sayang?"
Mahiya kaget, wajahnya langsung memerah jengah. Dia tahu kalau pria yang duduk di depannya itu, bukan sedang sok mesra, nada suara kael sedikit sarkas.
"nggak usah panggil sayang kali pak!, nggak ada siapa-siapa juga di sini"
Gadis itu malah nyengir, kael terkesima. Nyengir aja tuh perempuan tetap cantik, tapi apa gadis ini bodoh, padahal kael sedang sarkas.
Kael berdehem, mata cantik mahiya tadi berkedip-kedip indah. Beneran cantik ternyata gadis ini, dan sepertinya mahiya menyadari pesonanya itu.
"tadi asisten bapak bilang, kalau bapak pengen ketemu saya? Beneran pak?"
Kael mengangguk, sorot matanya masih tajam.
"kamu ngomong apa ke omaku?" tanyanya to the point.
"ohhh.." sahut mahiya pendek, mulutnya sampai membulat.
"nggak ngomong apa-apa sih, cuman ngikutin skenario yang bapak buat tadi"
Kael mengamati gadis yang sedang bicara dengan santainya itu, kael semakin yakin kalau mahiya memang gadis yang pro, tapi melihat penampilannya yang tidak glamour, kael kembali ragu.
"tadi buk nurmala bertanya, berapa lama kita pacaran, saya bilang sudah 6 bulan pak"
Kael tersentak, dan terbatuk. Untungnya nggak tersedak, dia mengusap bibirnya yang basah karena percikan kopi yang muncrat dari mulutnya tadi.
Mahiya menatap kael dengan sorot bersalah, karena membuat pria itu tersedak.
"Fyi pak, mana tahu nanti bapak di tanya"
"kamu punya pacar?"
Mahiya melotot kaget, ini cowok kok nggak ada sopan-sopannya sih, bertanya hal sesensitif itu pada seorang gadis yang terlahir jomblo, sangat tidak sopan.
Mahiya hampir mengangguk, tapi senyum tipis di bibir pria itu, membuatnya kesal.
"saya nggak punya pacar saat ini pak, dan anda harus tanggung jawab, karena bapak, saya bakalan sukses nggak akan pernah pacaran"
"loh kok saya yang tanggung jawab?"
Kael menatap heran mahiya yang kesal itu, walau sebenarnya dia tahu gadis ini sedang bermain trik dengannya. Zaman sekarang memang tak ada yang namanya gadis polos, tapi sok polos bejibun banyaknya.
"apa bapak pikir cerita tentang kita tidak tersebar ke seluruh rumah sakit ini?, saya seorang mahasiswi keperawatan semester 4 pacaran dengan seorang chaebol pemilik rumah sakit, trus apa bapak pikir, masih ada yang mau sama mantannya seorang kael, heummm kerennya kamu mahiya"
Mahiya menepuk-nepuk pundaknya sendiri, tapi di mata kael, tepukan itu bukan tepukan kebanggaan, lebih sebuah tepukan kesabaran.
"kamu mau jadi pacarku?"
Mahiya melotot lagi, malah semakin lebar. Gantian kini gadis itu yang terbatuk-batuk karena tersedak air ludahnya sendiri.
Kael tersenyum tipis dan sedikit sinis, dia tahu pasti jawaban itu, yang gadis berhijab itu inginkan darinya.
"nggak pak, saya nggak mau"
Mahiya menggeleng cepat, wajahnya pucat. Seumur hidupnya mahiya nggak pernah pacaran, abi dan umminya juga selalu mewanti-wantinya untuk tidak pacaran.
"pacaran haram pak, ntar abi saya marah"
Kael tergelak lucu, melihat kepanikan di wajah mahiya, terlalu mulus gadis ini berpura-pura polos, hampir saja kael tertipu dengan aktingnya.
"bapak jangan ngadi-ngadi deh!, saya nggak mau di usir dari rumah pak"
Kael mengernyitkan keningnya, matanya mengamati serius, apakah gadis di depannya ini jujur dan tidak sedang berpura-pura.
"tadi kamu minta saya bertanggung jawab?"
"nggak usah pak, saya cuman bercanda" mahiya menggeleng lagi,
"bapak nggak perlu kepikiran, nanti kalau ada yang tanya sama saya tentang hubungan kita, saya akan bilang kita sudah putus karena omanya bapak tidak suka sama saya"
Mahiya berdiri, gadis itu melirik jam tangan. Sudah saatnya makan siang, mahiya nggak mau melewatkan jam makannya.
"maaf mahiya, kamu nggak bisa mengumumkan apapun tentang hubungan kita"
Mahiya menoleh, karena tak enak hati dia duduk kembali. Mata indahnya memicing heran, menatap kael yang kelihatan serius.
"kamu harus tetap jadi pacar saya!"
"widihhhh.., nggak bisa gitu dong pak kael" teriak mahiya protes nggak terima,
"saya bisa di sate abi saya, kalau beliau dengar, anaknya ini pacaran"
"kalau begitu menikah dengan saya!"
Mahiya melongo kaget, mulutnya terbuka sempurna. Untungnya nggak ada lalat yang terbang nyasar, bisa dibayangin gimana sakitnya tersedak lalat hijau yang segede gaban itu.
Kael menatap mata yang kaget itu, sejujurnya kael terpesona. Dengan mulut terperangah dan mata yang hampir copot begitu, mahiya malah terlihat semakin cantik.
"kalau kamu nggak boleh pacaran, kalau menikah bolehkan?"
Mahiya mengatupkan bibirnya, meraba dada. Jantungnya tadi rasanya hampir copot,matanya masih memandangi kael yang emang terlihat sangat serius.
"bapak mabuk?"
Kael tersenyum, dia tahu gadis itu pasti syok dan tidak percaya.
"bapak kan nggak kenal saya, gitu juga saya. Agak aneh pak.."
Kael mengangguk paham, cowok itu merapikan posisi duduknya.
"kita nggak menikah beneran, saya butuh pertolongan kamu mahiya"
Mahiya terperangah, jantungnya deg-degan saat pria itu menyebut namanya. Apalagi saat namanya di sebut tadi, suara pria itu berubah lembut.
"maaf pak kael, kalau menikah bohongan, tetap juga dosa pak, kita tetap nggak bisa bersentuhan.."
"bersentuhan?" tanya kael dengan senyum penuh artinya, mahiya jengah melihat senyum itu, kepalanya dengan cepat menggeleng.
"maksud saya pak kael, walaupun cuman senggol-senggolan, kita tetap nggak boleh"
Kael tertawa, dia paham maksud mahiya, tapi cara perempuan itu menjelaskan sangat lucu.
"maksud saya mahiya, pernikahan kita beneran, tapi saya tidak akan menyentuh kamu dalam artian sebagai istri"
Mahiya tertegun, menatap lekat pria yang masih tertawa itu, ternyata kael sangat tampan dengan senyuman di wajahnya.
"gimana?"
Mahiya masih diam, dia bingung mau jawab apa. Lagian mahiya bingung, emang apa untungnya pernikahan itu untuknya, malah kalau dia menikah, mahiya harus berpisah dengan orangtuanya
Kael sepertinya memahami pikiran mahiya,dia berdehem, menyadarkan mahiya yang tertegun.
"saya akan tanggung biaya kuliah kamu, keperluan hidupmu akan menjadi tanggung jawab saya, bagaimana?"
"tapi saya masih 19 tahun pak"
Kael terbelalak tak percaya, nggak nyangka sama sekali, gadis cantik di depannya ini ternyata masih bocil.
Kael mendesah kasar, wajahnya frustasi. Kenapa dia nggak kepikiran dari tadi, mahiya masih semester 4, gap umur mereka lumayan jauh ternyata, 13 tahun.
Matanya menoleh, melihat mahiya yang tersenyum sambil nyengir, tapi tetap cantik.
'sial'
Bersambung...