NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keretakan yang Kian Dalam

“Tapi besok saya nggak bisa, dok,” balas Randy. “Sudah ada janji.”

“Tapi waktuku yang lega cuma ada besok,” kata dr. Nadia di pesannya. “Aku sibuk, ada praktik dan ada beberapa seminar.”

Randy jadi ragu karena dia sebenarnya sudah ada janji dengan Mulan besok sore. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, seolah berharap ada jawaban yang bisa memudahkan pilihannya.

“Saya kasih kabar nanti, dok,” jawab Randy, lalu mengirim pesan WhatsApp kepada Mulan.

“Lan, besok aku datang agak maleman ya, barusan dipanggil dr. Nadia ke kantornya.”

Kembali pesan itu dibaca, namun tidak dijawab oleh Mulan yang bikin Randy jadi galau. Dia lalu menimang-nimang ponselnya beberapa lama, ingin rasanya ia menelepon Mulan, tapi keraguan menyelimutinya lalu dibatalkannya.

Sementara itu, di rumah Mulan, suasana malam berjalan seperti biasa, setidaknya yang tampak di permukaan. Mulan coba bersikap biasa saja, dan mengerjakan pekerjaan rutinnya, yaitu membungkusi kue-kue yang akan dijual ayahnya esok pagi, namun mamanya bisa merasakan ada keresahan di raut muka adiknya.

“Lan, ada apa sih?” tanya Mama Mulan dengan penuh perhatian. “Kayak ada yang beda.”

“Nggak ada apa-apa, kok, Ma,” jawab Mulan sambil meneruskan membungkusi kue.

“Ayolah, Mama tahu kamu sedang ada masalah,” kata mamanya lembut. “Soal Randy?”

Mulan diam saja, hanya menunduk sambil terus mengerjakan pekerjaannya dengan lambat.

“Iya, Ma,” akhirnya kata Mulan yang tak kuasa membendung tangisnya. “Beberapa kali dia membatalkan janji ketemu dengan Mulan.”

“Mungkin sedang sibuk saja dia, kali?” kata mamanya lalu memeluk putri cantiknya itu.

“Nggak, Ma. Dia minggu lalu memang sibuk karena sedang ujian di kampusnya, tapi ujian itu sudah selesai, dan dia sekarang sibuk dengan dr. Nadia,” isak Mulan. “Besok dia janji mau datang, tapi barusan dibatalkan lagi, katanya ada urusan dengan dokter itu, Ma.”

Mamanya mengelap mata anaknya dengan lembut menggunakan tisu sambil mempererat pelukannya. “Semoga itu tidak benar, Lan. Kalau Mama lihat, Randy kayaknya bukan tipe cowok seperti itu.”

Suwanto yang pura-pura tidur mendengar percakapan Mulan dan mamanya itu dari kamarnya yang dibiarkan terbuka. Ia lalu mengambil ponselnya dan diam-diam mengirim pesan kepada Rody:

“Rod, besok Randy gua denger nggak jadi ke sini, janjian sama dr. Nadia, kenalan barunya. Kesempatan emas buat lu.”

Lalu datang balasan dari Rody, “Sip bro, gua datang besok jam tujuhan.”

“Siap, Rod. Sekarang bola di tangan lu,” tulis pesan Suwanto lagi. “Tugas gua hanya membuka pintu lebar-lebar buat elu.”

Rody lalu menutup chat WhatsApp itu dengan Suwanto dengan emotikon jempol.

Malam itu Randy nggak bisa tidur, memikirkan apakah lebih baik membatalkan janji dengan dr. Nadia demi Mulan. “Mungkin sulit membatalkan janji dengan dr. Nadia. Nanti setelah selesai urusan dengan dr. Nadia, aku akan ke rumah Mulan.”

Besok sorenya, selesai dari kampus, Rody langsung menuju ke RS Harapan Bangsa tempat dr. Nadia bertugas. Dia segera menuju ruang dr. Nadia di lantai 2, lalu mengetuk pintu ruangan dr. Nadia.

“Masuk,” kata dr. Nadia. “Randy, silakan duduk. Aku pikir nggak jadi datang.”

“Selamat sore, dok,” sapa Randy. “Pasti datanglah, namanya sudah janji.”

“To the point saja, ya,” kata dr. Nadia dengan nada tegas seperti biasanya. “Ceritakan fenomena dan kemampuan penyembuhanmu itu.”

“Dalam konferensi pers waktu lalu, saya sudah katakan jika saya jelaskan pasti tidak ada yang percaya,” jelas Randy.

“Itu sudah kamu jelaskan sebelumnya,” tukas dr. Nadia dengan ketus dan mencoba menekan perasaannya terhadap Randy. “Di sini hanya kita berdua, tidak ada pers, jadi tolong jelaskan dengan detail, tidak usah takut rahasiamu terbongkar.”

“Dokter, sudah saya katakan rahasia saya ini gaib, tidak mudah menjelaskannya supaya orang lain percaya…” jelas Randy.

“Cukup!” potong dr. Nadia. “Berikan informasi baru padaku.”

Randy diam saja dan berpikir apakah mimpi dengan Ki Suromenggolo perlu dia jelaskan ke dr. Nadia. Akhirnya dia memutuskan menjelaskan kepada dr. Nadia, supaya urusan cepat klir.

“Suatu malam, seorang kakek buyut saya, Ki Suromenggolo, mendatangi saya lewat mimpi,” jelas Randy. “Lalu dia memberikan ilmu penyembuhan ini secara gaib.”

dr. Nadia menyimak dengan serius penjelasan Randy.

“Saya, sebagai mahasiswa teknik mesin, semula hanya percaya pada hal-hal yang logis, tidak percaya hal-hal yang berbau supranatural seperti itu,” kata Randy. “Tapi setelah mimpi itu, waktu di kampus ada seorang dosen yang kolaps karena serangan jantung, dan tangan saya mengeluarkan semacam kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan, dan dosen itu bisa selamat.”

Saat dr. Nadia memaksa Randy membuktikan kemampuannya, logikanya mulai runtuh ketika ia mendapatkan penjelasan yang sukar dijelaskan dengan akal sehat itu.

“Omong kosong,” ujar dr. Nadia. “Kamu saya undang kemari untuk penjelasan ilmiah, bukan menceritakan dongeng omong kosong seperti itu.”

“Dok, sudah saya katakan, pasti cerita saya ini tidak akan dipercaya,” kata Randy. “Dan dokter tidak percaya, kan?”

dr. Nadia diam saja, lalu berpikir dalam hati, “Haruskah aku percaya pada dongeng sebelum tidur anak ini? Dan bagaimana mungkin aku bisa percaya?”

“Dok, itu benar-benar yang saya alami, bahkan saya juga tidak bisa paham fenomena apa pula ini,” kata Randy pelan. “Sekarang terserah dokter, apakah mau percaya atau tidak. Dan saya harus pamit, karena ada janji lain.”

“Baiklah, tapi entah dari mana saya harus mempercayai ceritamu itu,” jawab dr. Nadia, nada bicaranya melunak. “Baiklah, selamat malam. Nanti kapan-kapan kalau aku perlu lagi, kita ngobrol-ngobrol lagi.”

Setelah berpamitan, Randy segera berjalan ke parkiran, lalu mengendarai motornya ke rumah Mulan.

Di Petak Sembilan, Rody tiba di rumah Suwanto sebelum jam tujuh. Mobilnya diparkir di mall dekat Petak Sembilan, dan dia berjalan kaki saja ke rumah Suwanto.

Setibanya di rumah Suwanto, Rody mengetuk pintu perlahan dan yang membuka pintu kebetulan Mulan.

“Selamat malam, Lan,” sapa Rody ramah. “Kokomu ada?”

“Ada, mari masuk dan duduk dulu,” kata Mulan lalu memanggil kakaknya itu. “Ko Wanto, dicari Rody!”

Tak lama Suwanto keluar dan menemui Rody di ruang tamu. “Halo, Rod, apa kabar?”

Kemudian mereka ngobrol di ruang tamu, dan tak lama mereka mau keluar cari ronde di Petak Enam.

“Lan, si Rody ngajak nyari ronde di Petak Enam,” panggil Suwanto. “Ikut, yo?”

“Aku malas sebenarnya ketemu Rody yang bicaranya selangit itu,” kata Mulan dalam hati. “Tapi Randy mau datang, aku lagi malas ketemu dia. Ikut saja deh, sama mereka.”

“Tunggu sebentar, Ko,” teriak Mulan dari dalam kamar. “Mulan siap-siap dulu.”

Nggak berapa lama Mulan sudah siap dengan rambut diikat, dan sweater hitam oversize-nya dengan padanan celana blue jeans yang membuat penampilannya membuat Rody makin klepek-klepek.

“Pa, Ma, Mulan jalan dulu ke Petak Enam sama Ko Wanto, ya,” pamit Mulan.

“Iya, Lan, hati-hati,” jawab Mama Mulan.

“Heran aku, Ma. Wanto kok bisa akur sama adiknya itu, ya?” desis Cu Niang pada istrinya. “Kesambet apa ya mereka?”

Baru sepuluh menitan Mulan, Suwanto, dan Rody jalan ke Petak Enam, Randy tiba dengan motornya di depan rumah Mulan, Cu Niang yang menyambutnya.

“Pasti cari Mulan, kan?” kata Cu Niang sambil tersenyum sebelum Randy mengucapkan sesuatu.

“Ah, enggak juga, kok, Om,” kata Randy agak tersipu malu. “Sekalian nengokin Tante dan Om.”

“Halah, nggak usah bohong,” tembak Cu Niang masih sambil tertawa. “Kayak gua nggak pernah muda saja.”

Randy hanya bisa tertawa digodain Cu Niang. “Iya deh, Om. Mulan ada?”

“Dia lagi keluar sama Suwanto dan temannya ke Petak Enam,” jawab Cu Niang. “Paling ke food court tempat kita makan waktu itu.”

“Oke lah, Om,” kata Randy. “Saya akan susul dia.”

Randy segera mengendarai motornya ke Petak Enam. Apakah dia akan menjumpai Mulan dan Rody makan ronde bareng di Petak Enam? Apa yang akan terjadi?

1
CACASTAR
hadir thor
CACASTAR: iyaaa,, kapan-kapan bantu like karya aku juga ya😄
total 2 replies
Anonim
semangat kak
Anonim
semsngst kak
sitanggang
gak ada gregetnya ,masih polos monoton gitu2 saja
jc: ada masukan, biar greget?
total 1 replies
sitanggang
mcnya kok lemah yaa, parah siih ini🤦
jc: lemahnya dimananya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!