Istri pilihan menceritakan tentang.
Dina Nabila, Nabila kecil selalu bahagia, selalu ada senyum, dan canda tawa yang menghiasi hari - harinya dengan dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya.
Tapi, semua itu berubah semenjak sang Ayah pergi untuk selama - lamanya.
Bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan setelah di tinggal pergi untuk selama - lamanya oleh orang yang sangat sangat di cintainya yaitu Ayahnya.
"Dasar anak pembawa sial, menyesal aku pernah melahirkan mu kedunia ini."
Dia pun harus berjuang sendiri melawan dan melewati seluruh rintangan yang di depannya sudah menghadangnya. Hingga suatu ketika entah nasib baik atau buruk, dia terpilih menjadi istri seorang pemuda yang terkenal kayak raya dan cukup populer namanya di dunia bisnis.
Akankah Nabila menemukan kebahagiaan setelah menikah ?
Atau malah sebalinya, penyiksaan, caci maki dan air mata menjadi teman setianya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan harus kah berpisah adalah jalan terakhir yang harus mereka tempuh?
Simak ceritanya dalam "Istri pilihan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Aku pun berjalan kearah mereka semuanya. Mereka yang menyadari kehadiran ku, "Nabila sini sayang gabung dengan Bunda dan yang lainnya!" ucap Bunda Irene.
Aku pun berjalan lebih dekat ke arah mereka semuanya. "Nabila ... kamu cantik banget dan sangat cocok dengan baju itu. Itu baju," ujar Bunda Irene. "Sayang ayo duduk sini," perintah Bunda Irene.
Kini aku sudah duduk di sofa yang sama dengan Bunda Irene, setelah sama - sama terdiam untuk beberapa saat dan hanya mata yang saling tatap menatap, Nyonya Lucia pun memulai membuka pembicaraan.
"Nabila mungkin sebaiknya kamu pulang sekarang. Nanti supir pribadi ku yang akan mengantar kamu."
"Baik Nyonya."
Kemudian aku pun menatap wajah Bunda Irene, "Nyonya bagaimana dengan baju yang aku pakai ini?"
Bunda Irene pun tersenyum, "Tidak apa Nabila, ambil saja untukmu," ucap Bunda Irene seraya memegang tangaku.
"Terima kasih Nyonya. Nyonya sangat baik pada Nabila."
"Nyonya bolehkah Nabila memelukmu?"
Tanpa berkata Bunda Irene pun membawa ku ke dalam pelukkannya. "Boleh dong sayang kenapa harus bertanya, bukan kah sebentar lagi kamu bakalan menjadi bagian dari keluarga ini juga."
Masih dalam pelukan aku pun mengangkat wajahku. "Terima kasih Nyonya atas kebaikan anda."
Bunda Irene pun melepas pelukannya, "Sayang besok - besok jangan memanggilku dengan Nyonya. Panggil saja Bunda sama seperti Adam."
"Oh iya Bun, Si Adam kemana ya kok sudah jam segini belum keliatan batang hidungnya." ucap Ayah menimpali.
"Masih di kantor Tuan, ada sesuatu yang masih di urusnya," kini Ghea yang menimpali.
Sambil berdecak kesal, "Dasar cucu durhakan, tak tau diri. Sudah tidak datang menjempu di bandara, jam segini pun masih belum pulang kerja. Awas ya kalau kamu nanti sudah pulang ku jewer itu kupingmu."
Kemudian Nyonya Luciana menambahkan lagi seraya menatap wajah ku, "Ingat besok pagi aku akan datang menjemputmu. Aku ingin kamu menemani aku ke sesuatu tempat."
"Baik Nyonya."
Setelah berpamitan, kini aku sudah berada di dalam mobil Nyonya Lucia, "Sayang hati - hati di jalan ya, Pak Anas bawa mobil nya jangan ngebut - ngebut ya. Awas kalau calon menantuku lecet sedikit saja saya tidak akan mengampunimu. Paham?"
Pak Anas, "Siap Nyonya besar."
Pak Anas supir pribadi yang sudah bekerja lama dengan keluarga Widjayakusuma dan termasuk orang kepercayaan Nyonya Besar Luciana, walaupun umur sudah tak lagi muda, tapi soal tenaga dan lain sebagainya jangan di tanya.
"Nyonya, Tuan, Ghea, Nabila pulang dulu ya," ucapku seraya melambaikan tanganku pada mereka, mereka pun membalas lambaian tanganku.
Perlahan - lahan mobil yang mengantarku pulang bergerak, mulai dari lambat hingga melaju, lalu kemudian menghilang di balik keramian mobik yang sedang berlalu lalang di sore hari ini.
...Di tempat yang lain tepatnya di teras rumah....
Sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Arumi pun berjalan mondar mandir seperti setrikaan tepat di hadapan Ibu dan Kakaknya.
"Arumi, kakak pusing melihat kamu jalan mondar mandir seperti orang yang sedang patah hati yang habis di tolak mentah - mentah oleh seorang pria," ucap sang kakak yang kini duduk di sebelah sang Ibu.
"Yang di katakan kakak mu itu benar Arumi. Sebenarnya ada masalah apa sih kamu sebenarnya. Cerita ke Ibu," kini sang Ibu menimpali.
Arumi pun berjalan ke arah sang Ibu, "Bagaimana Arumi tidak galau Bu, ini sudah jam berapa tapi Nabila juga belum pulang - pulang. Bagaimana kita mau makan malam kalau rice cooker kita tidak di rumah, Clening service kita masih ada di luar rumah. Ibu tidak lihat rumah kita hari sangat berantakan." ucap Arumi yang mulai kesal dengan kelakuan sang Adik yang belum menampakan batang hidungnya sejak tadi.
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, terima kasih untuk yang sudah like mode senyap. Maaf tidak bisa membalas komentar - komentar kalian satu - persatu. Untuk yang promo, monggo promo tapi sebelum itu like karya author ya. Lalu tinggalkan jejak di kolom komentar nanti aku bakal berkunjung ke karya keren anda - anda semuanya....
...Terima kasih, semangat , dan mari saling mendukung. Tetap jaga kesehatan....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
I love you pulll😘😘💋💋
ini sekedar masukan doang thor