Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di sebuah rumah yang sederhana. Tapi rumah yang penuh dengan kasih sayang dan juga kebahagiaan itu.
Ada seorang ibu berusaha untuk membangunkan anak gadisnya.
Anak gadis yang baru saja merayakan ulang tahun ke 18 tahun.
Dia Naura Violetta adalah seorang murid di SMA Taruna yang masuk melalui jalur prestasi. Karena Naura terkenal akan kepintarannya.
"Naura ... Bangun sayang," ucap ibu Naura seperti biasa penuh kelembutan dan juga kasih sayang sembari mengelus elus pucuk kepala anaknya.
Tapi ada yang aneh dengan wajah ibu Naura sekarang ini, dia terlihat menatap anaknya itu dengan tatapan penuh kepedihan, seperti ada beban berat yang akan menghantam dadanya.
Bahkan Matanya ibu Naura memancarkan sebuah kesedihan.
Wanita yang bernama Ratih itu selalu menyayangi putri semata wayangnya.
Dia tidak pernah marah atau pun melakukan kekerasan jika putrinya itu melakukan kesalahan.
Naura terlihat menggeliat tubuhnya seraya tersenyum. Tapi Naura terlihat masih menutup matanya, dia sengaja berpura-pura.
"Naura ... Bangun nak udah siang loh!" tegur Ratih seraya menggoyang-goyangkan tubuh anaknya yang terlihat tidak bergerak.
Dengan gemas Ratih pun memencet hidung putrinya yang mirip seperti hidung orang Korea.
Mancung tidak terlalu tinggi tapi kecil.
"Akh ... ibu, kebiasaan deh ... Bisa amblas nanti hidungku!" gerutu Naura dengan wajah kesal, dia terlihat membenarkan hidungnya dengan tangan kanannya agar mancung kembali.
"Kamu ini lucu Naura, emangnya itu adonan, yang bisa kamu bentuk. Gak mungkin-lah sekali pencet langsung amblas!" ujar Ratih sembari menggeleng gelengkan kepala melihat putrinya yang ceria dan selalu bertingkah lucu itu.
Naura mencebikkan bibirnya, kala melihat ibunya malah menertawakannya.
Tapi tiba-tiba kedua bola mata Naura membulat sempurna, kala ibunya itu malah memeluknya begitu erat.
Hal ini sungguh membuat Naura heran, karena biasanya ibunya itu memeluknya saat akan berangkat sekolah.
Ini adalah kali pertama, ibunya memeluk dirinya sesaat setelah bangun tidur, apalagi Naura merasa pelukan ibunya kali ini sungguh berbeda.
Tanpa Naura sadari ibunya itu menitihkan air mata.
Ratih memeluk putrinya itu dengan sangat erat, tanpa ingin melepaskan pelukan pada putrinya itu.
Sampai ayah Naura lewat didepan kamar putrinya.
Mata Ratih pun terlihat membelalak sempurna, kala pandangan matanya dan juga suaminya itu beradu.
Santo seperti memberikan kode pada istrinya.
Ratih sendiri yang mendapatkan sebuah kode dari suaminya, buru-buru melepaskan pelukannya itu dari putrinya.
"Ibu menangis?" tanya Naura bingung, sembari mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi ibunya.
"Tidak sayang... Ibu hanya kelilipan. Buruan mandi terus sarapan nanti kesiangan loh!" desak ibu Naura seraya bangkit dari duduknya.
"Lah, Buk ... ini kan baru jam 5 pagi," balas Naura dengan suara malas, bahkan Naura terlihat untuk kembali rebahan diatas kasurnya.
"Naura buruan kamu mandi. Habis ini kita harus pergi ke salon!" bentak ayahnya dari pintu kamarnya.
Sebenarnya ada yang nyeri didalam ulu hati Santo.
Seumur umur baru kali ini dia membentak putri semata wayangnya itu.
'Maafin Ayah nak, ini semua ter paksa kami lakukan, karena kami sudah tidak ada pilihan lain, mereka begitu menggunakan kekuasaannya,' batin Santo dengan mata berkaca kaca.
Naura yang dibentak pun buru buru bangkit lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
Dengan air mata yang terus luruh membasahi kedua pipinya.
Hati Naura sangat sakit karena dibentak, dia sampai tidak terpikir alasannya untuk apa dia ke salon sebelum berangkat ke sekolah?
Naura yang sudah selesai mandi, lalu bergegas memakai seragam sekolahnya.
Setelah itu Naura terlihat keluar dari dalam kamarnya dengan wajah yang terlihat lesu, tanpa menyapa ke dua orang tuanya.
Naura pun langsung duduk di kursi makan.
Terlihat ke dua orang tua nya juga sudah duduk di kursi makannya masing masing.
Naura yang biasanya tersenyum sembari menyapa ke dua orang tuanya, sekarang ini memilih acuh dan langsung memakan sarapannya. Padahal waktu masih menunjukan pukul 05.30 pagi.
Setelah selesai sarapan.
"Ayo Naura, kita berangkat sekarang," ajak Santo pada putrinya itu dengan suara yang dingin.
Naura dengan patuh pun mengambil peralatan sekolahnya, dan berjalan ke luar rumah.
Naura mengernyit, kala melihat ibunya yang ikut keluar dari rumah bersamanya, bahkan ibunya juga terlihat mengunci pintu rumahnya.
Naura semakin dibuat bingung, saat ibunya itu malah ikut mengantarkannya ke sekolah dengan motor buntut bebek ayah nya dengan berbonceng tiga.
Tapi karena hati Naura yang masih terasa perih, karena bentakan ayahnya tadi.
Akhirnya dia memilih diam dan tidak banyak bertanya.
Selang 20 menit kemudian. Sepeda motor buntut ayahnya itu terlihat berhenti di sebuah salon yang terlihat mahal dan juga mewah.
Baik Santo dan juga Ratih terlihat menggandeng putri semata wayang nya untuk masuk ke dalam salon itu.
Saat mereka bertiga masuk langsung disambut oleh sang pemilik salon itu sendiri.
Naura yang benar benar dalam keadaan mood yang buruk, diam saja kala orang tuanya itu mendudukkannya dikursi pengunjung salon yang akan dimake up.
"Kenapa aku malah di dandani seperti ini Ayah ... Ibu ... Naura kan mau berangkat ke sekolah. Sekarang udah mau jam 7 loh!" tegur Naura pada orang tuanya dengan wajah bingung, setelah 1 jam wajahnya itu di make up.
"Kamu libur dulu hari ini Nak. Kita akan pergi ke Carnaval. Lumayan nanti dapat hadiah berupa uang, jadi uang itu bisa buat makan besok," ucap ayah Naura dengan wajah dingin dan juga datar.
Tapi kedua bola mata Santo masih menunjukkan kepedihan.
Naura tahu, jika keluarganya kadang kekurangan uang untuk makan.
Tapi sekarang ini banyak pertanyaan yang sekarang ini muncul didalam benaknya. Carnaval?
Kalau cuman Carnaval, kenapa juga harus datang ke salon Liem Bridal? Bukankah ini salon untuk orang orang yang akan menikah.
Naura masih berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Bahwa mungkin ini agar dia datang ke carnaval dengan penampilan terbaik.
Tapi dia bingung dari mana ayah nya mendapatkan uang untuk membayar jasa salon sekarang ini. Naura terus berpikir.
"Sudah selesai. Begitu cantik .. sekarang ganti baju ini ya adek cantik," ujar Nona Liem sang pemilik salon itu.
Tapi ada beberapa pegawai menatap Naura dengan tatapan sengit.
Para pegawai terlihat duduk santai, hanya Nona Liem saja yang merias wajah Naura.
Bahkan hanya Nona Liem yang membantu Naura untuk memakai sebuah gaun yang seperti baju yang biasa digunakan untuk orang yang akan melangsungkan pernikahan.
'Harusnya Nona Liem itu pecat saja mereka! Dari pada mereka gak ada kerjaan' batin Naura dalam hatinya dengan wajah kesal.
Naura menggunakan gaun warna merah pass body dan mirip seperti gaun pernikahan orang China.