NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

"Kita mau ke mana sih, Mas? Putar-putar terus," tanya Ayu sedikit berteriak agar suaranya tidak hilang disapu angin malam Bandung.

Rangga sedikit menoleh ke belakang tanpa melepas fokusnya dari jalanan. "Hmm, maunya ke mana? Saya ngikut saja."

Ayu mendengus jengkel sambil sedikit menarik jaket Rangga. "Ih, kan tadi Mas Rangga yang ajak, gimana sih? Kok malah nanya balik!"

"Ya sudah... kalau ke hotel mau nggak?" celetuk Rangga dengan nada santai, seolah sedang menanyakan mau makan di mana.

Seketika tangan Ayu mencubit pinggang Rangga dengan sangat keras sampai pria itu mengaduh.

"Aduh! Sakit, Yu!"

"Jangan macam-macam ya, Mas! Aku turun di sini nih kalau Mas ngomong yang aneh-aneh lagi!" seru Ayu.

Rangga tertawa renyah, menikmati reaksinya. "Bercanda, Yu. Galak banget sih, padahal maksud saya hotel itu... buat lewat depannya doang."

Tak lama kemudian, Rangga mengarahkan Honda CB-nya ke pinggir jalan yang cukup ramai dengan deretan pedagang kaki lima. Ia memberhentikan motornya tepat di depan sebuah gerobak sederhana yang mengeluarkan aroma gurih yang sangat menggoda.

"Nah, sampai. Ini tujuan kita," ucap Rangga sambil turun dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Ayu turun dari motor, matanya tertuju pada gerobak tersebut. "Telur gulung?"

"Iya. Makanan elit bagi orang-orang yang lagi jatuh cinta tapi gengsi mengakuinya," ledek Rangga. Ia memesan dua porsi besar telur gulung dengan saus pedas manis.

Mereka kemudian duduk di kursi plastik panjang yang disediakan di atas trotoar. Di hadapan mereka, jalanan Bandung masih cukup ramai dengan kendaraan yang melintas, sementara lampu-lampu jalan memberikan kesan hangat pada suasana malam itu.

Ayu duduk sambil merapatkan jaket denimnya, memperhatikan penjual yang dengan lincah memutar-mutar tusuk sate di dalam wajan berisi minyak panas. Di balik hijab instannya, senyum tipis akhirnya muncul juga.

"Masih ingat saja aku suka ginian," gumam Ayu pelan, hampir tak terdengar.

Rangga yang sedang memperhatikan wajah Ayu dari samping pun tersenyum.

"Apapun soal kamu, dari tujuh tahun lalu sampai sekarang, nggak ada yang saya hapus dari memori, Yu. Termasuk daftar jajanan pasar favorit kamu."

"Halah, gombalan om-om mah sudah basi, Mas."

Rangga menyodorkan satu tusuk telur gulung yang masih hangat ke arah Ayu, lalu mulai membuka percakapan.

"Yu, saya penasaran deh," ucap Rangga pelan.

"Kamu kan sudah lulus kuliah, gelar sarjana kamu juga bagus. Dulu juga sempat kerja kantoran yang posisinya lumayan, kan? Kenapa sekarang malah betah di kedai terus? Nggak ada niat buat ngelamar lagi?"

Ayu terdiam. Kunyahannya melambat, dan tatapannya yang tadi ceria saat melihat telur gulung mendadak meredup. Ia meletakkan tusuk sate yang masih tersisa sedikit ke dalam wadah plastik, lalu menghela napas panjang hingga terlihat uap tipis dari mulutnya karena udara Bandung yang dingin.

"Aku malu, Mas," jawab Ayu lirih.

Rangga mengerutkan dahi, ia meletakkan makanannya dan memutar tubuh menghadap Ayu sepenuhnya. "Malu kenapa? Kamu kerja halal, prestasimu juga bagus dulu."

Ayu memainkan ujung hijab instannya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bercerita.

"Mas ingat kan waktu itu... pas berita tentang Mama mulai menyebar? Soal Mama yang berselingkuh sama orang itu?"

Rangga mengangguk pelan. Ia tahu itu adalah masa terberat bagi keluarga Ayu.

"Waktu itu, kantor yang harusnya jadi tempat profesional malah jadi neraka buat aku. Semua orang di divisi, bahkan sampai ke OB, gosipin aku. Mereka bilang, buah nggak jatuh jauh dari pohonnya. Mereka ngucilin aku, nggak mau satu tim sama aku karena takut aku punya penyakit yang sama kayak Mama," cerita Ayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ia menelan ludah, menahan sesak di dadanya. "Puncaknya, aku difitnah macam-macam hanya karena aku dekat sama atasan buat urusan kerjaan. Mereka makin menjadi-jadi menghujat aku. Akhirnya aku resign karena nggak kuat lagi tiap hari masuk kantor dengan tatapan merendahkan dari semua orang. Makanya sekarang aku lebih milih di kedai, nemenin Nenek. Di sini nggak ada yang bakal ngehakimi aku karena kesalahan orang lain."

"Maaf ya, Yu. Saya nggak tahu kalau sampai sebegitunya," bisik Rangga.

Mereka. "Nggak apa-apa, Mas. Lagipula itu sudah lewat. Sekarang fokusku cuma Nenek sama kedai."

Rangga terdiam sejenak, menatap lekat wajah Ayu yang masih terlihat sedikit sendu di bawah remang lampu jalan. Sifat jahilnya pun mulai keluar untuk mencairkan suasana. Ia berdeham keras, memperbaiki posisi duduknya di kursi trotoar dengan gaya sok keren.

"Ya sudah, kalau gitu solusinya cuma satu, Yu," ucap Rangga dengan nada yang tiba-tiba serius.

Ayu menoleh, dahinya berkerut. "Apa?"

"Nggak usah kerja kantoran lagi. Mending kamu saya nafkahi saja seumur hidup, gimana?" tanya Rangga sambil menaik-turunkan alisnya.

"Uang belanja aman, jatah jajan telur gulung tiap malam terjamin, plus ada yang kelonin tiap malam, gimana mau ngga"

Ayu yang baru saja mau merasa terharu, seketika langsung berubah ketus. Ia mencibir sambil memutar bola matanya. "Dih! Nafkahi apanya? Nggak mau ah, masa aku nikah sama om-om."

Rangga langsung memegang dadanya, pura-pura terluka. "Aduh, kena mental saya! Om-om? Kamu bilang saya om-om?"

"Ya iyalah. Mas Rangga kan sudah kepala tiga, terus gayanya kalau lagi di bengkel itu sudah bapak-bapak banget," ledek Ayu sambil tertawa kecil melihat wajah Rangga yang syok.

"Lah, kalau nggak mau sama om-om, buktinya sekarang kamu jalan sama om-om?" Rangga balik menyerang sambil nyengir lebar.

"Mana duduknya nempel banget lagi tadi di motor. Malah pakai adegan peluk-peluk pas saya rem mendadak. Itu namanya apa kalau bukan terjerat pesona om-om?"

Wajah Ayu langsung memerah seketika. Ia menyambar sisa tisu di meja dan melemparnya ke arah Rangga.

"Mas Rangga! Itu kan karena terpaksa ya, daripada aku jatuh terjungkal ke belakang!"

"Ah, masa? Perasaan tadi pas jalanan lurus juga pegangannya masih kencang," goda Rangga lagi, membuat Ayu benar-benar salah tingkah dan buru-buru berdiri dari duduknya.

"Udah ah! Ayo pulang, nanti dicariin Nenek!"

Rangga berdiri dari kursi trotoar sambil tertawa kecil melihat Ayu yang sudah berdiri di samping Honda CB-nya dengan wajah merah padam. Ia mengambil helm milik Ayu yang tergantung di spion, lalu melangkah mendekat.

"Sini, biar saya pakaikan. Nanti kalau pasang sendiri malah kejepit hijabnya, makin ngomel kamu," ucap Rangga lembut.

Ayu diam mematung saat Rangga berdiri tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat, hingga aroma parfum musk khas dari baju Rangga tercium jelas. Dengan telaten, Rangga memasangkan helm ke kepala Ayu, lalu menarik talinya untuk dikunci. Matanya menatap dalam ke arah mata Ayu, membuat wanita itu refleks menahan napas.

"Nah, sudah cantik. Jangan ditekuk terus itu mukanya, nanti om-om ini makin jatuh cinta," bisik Rangga sambil menyentil pelan ujung hidung Ayu.

"Mas Rangga!" protes Ayu sambil mundur selangkah.

Rangga langsung naik ke atas motornya dan menyalakan mesin. "Ayo naik. Tapi sebelum pulang, kita cari martabak dulu yuk. Kasihan Nenek, masa kita yang jalan-jalan, Nenek cuma dikasih bau knalpot motor saja."

Mendengar nama Nenek disebut, kekesalan Ayu sedikit luruh. "Martabak manis ya? Nenek suka yang keju kacang."

"Siap, Tuan Putri. Apapun buat Nenek, biar restunya makin lancar buat saya," sahut Rangga sambil menepuk jok belakang motornya, mengisyaratkan Ayu untuk segera naik.

Ayu naik ke boncengan dengan gerakan perlahan, kali ini ia tidak lagi protes meski harus duduk dekat dengan Rangga. Motor CB itu pun kembali membelah malam Bandung yang semakin dingin, menuju kedai martabak legendaris yang tak jauh dari sana.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!