Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Ruang di Antara Kami
Ada hal-hal yang tak pernah diajarkan di buku.
Bukan di kelas strategi fraksi. Bukan di pelatihan kepemimpinan. Bukan juga dalam percakapan formal antara seorang ibu dan anak laki-lakinya.
Hal-hal seperti:
bagaimana berdiri di ambang pintu kamar seseorang dan bertanya dengan suara pelan,
“Kamu butuh ditemani, atau butuh sendiri?”
Varrendra mempelajarinya suatu malam, ketika Rivena duduk di ruang tengah dengan mata kosong menatap jendela.
Hujan turun tipis. Bukan deras, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat dari biasanya.
“Tidak bisa tidur, bu?” tanya Varrendra.
Rivena menggeleng. “Pikiranku berisik.”
Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa. Diam. Hadir.
Beberapa menit berlalu sebelum Rivena bicara lagi.
“Aku takut.”
Satu kata. Tapi penuh arti.
Varrendra merasakan dadanya menegang. “Takut apa?”tanyanya
“Takut nanti aku tidak cukup baik. Takut aku salah membesarkan. Takut anak ini tumbuh dan membenciku.Takut aku menghancurkanmu”
Ia tertawa kecil, getir. “Aneh ya? Aku bahkan belum bertemu dengannya, tapi sudah takut kehilangan dia.”
Varrendra menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Rivena sebagai sosok yang selalu lebih tenang, lebih dewasa, lebih kuat. Ia melihat seorang perempuan yang sedang belajar percaya pada dirinya sendiri.
“mama tidak sendirian,” katanya pelan. “Dan… dia tidak sendirian juga.”
Rivena menoleh. “Karena kamu?”
“Karena kita,” koreksinya. “Ayah. Aku. Selvina. Semua yang ada di sekitarmu.”
Nama itu membuat Rivena terdiam sejenak. “Kalian… baik-baik saja?”
Varrendra tersenyum tipis. “Kami belajar. Sama seperti mama.”
Hening lagi. Tapi kali ini, tidak berat.
Di kamar lain, Selvina berdiri di dekat jendela, melihat hujan yang sama. Ia tidak masuk. Ia mengerti bahwa ada ruang yang perlu dibiarkan tetap milik mereka bertiga: Ibu, anak, dan kehidupan yang sedang tumbuh.
Dan ia tidak cemburu.
Ia justru merasa tenang.
Karena ia tahu, cinta tidak selalu harus berada di tengah. Kadang cukup menjadi penyangga dari samping.
"kau laki-laki hebat Varrendra. laki-laki yang tak seharusnya bersamaku. Kau mau belajar berada di posisi yang sebelumnya tak pernah kau bayangkan akan kau pegang. Kau sempurna dalam bayak hal, sementara aku..... aku hanya seorang gadis yang keluarganya hancur, aku hanya bertahan hidup dengan cara yang aku bisa, aku hanya seonggok kerikil bagi orang-orang seperti ayahku dan mungkin keluargamu. Seharusnya aku tak menerima perjodohan ini" Gumamnya panjang lebar sambil membayangkan wajah tampan sang suami alis Varrendra.
Malam itu, Rivena akhirnya tertidur di sofa. Varrendra tidak membangunkannya. Ia hanya mengambil selimut dan menutupkannya dengan hati-hati, seperti Gevano biasa lakukan.
Saat ia melangkah pergi, Rivena bergumam dalam tidur, hampir tak terdengar,
“Terima kasih… Kak.”
Satu kata kecil. Tapi mengunci sesuatu di dalam dirinya.
Varrendra berhenti di tempat. Menarik napas. Lalu menghembuskannya perlahan.
Ada peran-peran yang datang tanpa diumumkan.
Tanpa upacara.
Tanpa tanda tangan.
Tapi tetap mengikat.
Dan di ruang di antara takut dan siap,
di antara diam dan hadir,
ia menemukan dirinya tumbuh—
bukan sebagai pemimpin fraksi,
bukan sebagai suami saja,
melainkan sebagai kakak. Dan.......
disisi lain,
ada seseorang yang meragukan perannya.
-Bersambung-
buat bab selanjutnya gak ada hubungan sama konflik tapi bakal di isi sama subuh game di sekolah yang mungkin kalian tau
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍