NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Tenang Untuk Menghancurkan

Pagi menyapa kampung itu dengan cara paling sederhana angin lembut, cahaya keemasan, dan suara alam yang berjalan apa adanya. Tak ada yang tampak berbeda. Rumah-rumah berdiri tenang, seolah dunia tak pernah mengenal kekacauan. Padahal, di balik kedamaian yang jujur itu, malam telah meninggalkan jejak yang tak terlihat.

Di sebuah rumah sederhana, dua gadis terlelap dalam satu ruangan yang sama. Hani, sang pemilik rumah, tidur dengan wajah yang tampak damai terlalu damai untuk seseorang yang semalam menantang dunia dari balik layar. Di sisinya, Mutia, sahabat kecilnya, tertidur tanpa beban. Ia dipaksa menginap, katanya. Namun sebenarnya, ia memilih tinggal untuk mendengarkan, bukan ikut terlibat.

Semalam, Hani telah menyelesaikan sesuatu yang tak akan pernah diketahui kampung ini. Sebuah langkah gila yang mengguncang musuhnya, menjatuhkan kekuasaan yang selama ini berdiri angkuh, dan membuka jalan bagi kerja sama yang bahkan tak berani ia bayangkan sebelumnya. Mutia hanya menjadi saksi. Ia tak menyentuh apa pun, tak ikut bergerak hanya duduk, mendengarkan kisah tentang Steven, tentang Darren, dan tentang bagaimana takdir bisa berubah dalam satu malam yang terlalu sunyi untuk disebut biasa.

Dan pagi ini, kampung itu tetap damai.

Tak tahu bahwa salah satu penghuninya baru saja menggeser keseimbangan dunia.

Hani terbangun perlahan, bukan karena suara, melainkan karena kebiasaan. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Ia membuka mata, menatap langit-langit kayu rumahnya yang sudah terlalu akrab tempat yang selalu mengingatkannya bahwa ia masih berpijak di dunia yang sederhana.

Pagi, dan dunia masih berdiri. batinya

Di sampingnya, Mutia menggeliat, selimutnya melorot sedikit. Gadis itu mengerang pelan sebelum membuka satu mata.

“Pagi…,” gumamnya, suaranya masih berat oleh tidur. “Kamu nggak kelihatan kayak orang yang begadang semalaman.”

Hani tersenyum samar, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tidur,” jawabnya singkat. Tidak sepenuhnya bohong. Tidak sepenuhnya jujur.

Mutia mengangkat tubuhnya, menyandarkan punggung ke dinding. Ia menatap Hani beberapa detik lebih lama, seolah mencari sisa-sisa cerita semalam di wajah sahabatnya. “Dunia masih aman?” tanyanya setengah bercanda.

“Untuk sementara,” jawab Hani ringan.

Mutia tertawa kecil, lalu menguap. “Kalau gitu… aku mau mandi dulu. Ibuku pasti heran kalau tahu aku nginep tanpa izin resmi.”

Hani mengangguk. Saat Mutia beranjak pergi, ia kembali merebahkan kepala ke bantal, menatap jendela. Di luar, ayam berkokok, dan kehidupan berjalan seperti biasa.

Ich komme zurück, wenn ich bereit bin; die Welt ist zu heuchlerisch, um zu warten. (Aku akan kembali jika sudah siap, dunia terlalu munafik jika harus menunggu.) ucap Hani.

Hani bangkit perlahan dan duduk di tepi ranjang. Saat kakinya menyentuh lantai, pandangannya tertumbuk pada ponsel yang tergeletak terbalik di meja kecil. Ia tidak berniat menyentuhnya. Namun jemarinya bergerak lebih dulu kebiasaan lama yang seharusnya tak muncul di pagi setenang ini.

Ponsel Hani menyala, satu pesan masuk tanpa suara. Ia menoleh mendapati tertera nama orang paling menyebalkan yang mengirimkan nya sebuah pesan.

"Tidak semua perubahan meninggalkan suara. Yang paling menentukan biasanya selesai sebelum dunia menyadarinya." ucap Hani yang membaca satu kalimat pesan itu. Hani menatap layar lebih lama dari yang ia sadari.

Bagi orang lain, itu hanya refleksi dingin. Sebuah pemikiran singkat. Namun baginya, maknanya jelas.

Kau bekerja tanpa jejak. Kau menggeser keseimbangan. Dan kau melakukan dengan sempurna.

Hani tersenyum tipis setelah memikirkan maknanya. 'Jadi dia sudah sadar? ' pikir Hani. Dia mengetikkan balasan singkat, dan mengirim nya tanpa ragu.

"Jika tidak ada yang mendengar, berarti tidak ada yang perlu dijelaskan" ketiknya.

Dari dapur, suara Mutia memanggil pelan. Kehidupan kembali mengetuk. Hani mengunci ponsel dan menyelipkannya ke saku, wajahnya kembali tenang.

"Terlalu tenang untuk menghancurkan" ucap Hani untuk dirinya sendiri sembari melangkah menuju dapur.

"Aku udah sekalian siapin makanan tadi, kamu mandi aja dulu" ucap Mutia yang sudah membersihkan diri.

Hani menatap kegiatan yang dilakukan Mutia sejenak, ia tersenyum kemudian pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Suara dentingan sendok menjadi satu, ya disini lah tempatnya. Hani dan Mutia sarapan bersama setelah membersihkan dirinya, tidak ada perbincangan, semua fokus pada hidangan yang tersaji dihadapannya.

"Misi gila apa lagi untuk hari ini?" tanya Mutia ketika mereka sudah menyelesaikan sarapan nya dan memilih untuk duduk kembali menikmati secangkir teh dipagi Hari.

Hani mengetuk singkat meja makan dengan jari telunjuknya. "Ga ada, mungkin cuma berbelanja dipasar dan pergi ke hutan." jawab Hani, jujur saja ia ingin mengunjungi pemakaman kedua orang tua nya itu tetapi teringat jika anak buah Darren selalu mengikuti nya, maka ia membatalkan rencana itu.

Mutia mengangguk paham, ia tidak menawarkan bantuan tetapi akan selalu ada jika Hani membutuhkan. "Malam tadi... kamu benar-benar sangat cerdik, datang tanpa suara dan pergi tanpa jejak" ucap Mutia yang tidak sadar bahwa kata kata nya itu merupakan julukan sang sahabat dari dunia bayangan.

Hani tersenyum tipis, penuh arti, penuh misteri. "Itu julukan ku, dan The Velvet Phantom namaku" sahut Hani tenang.

Mutia nyaris tersedak teh yang sedang ia minum, nama yang disebutkan sahabatnya itu tidaklah asing ditelinga semua orang, Sebuah nama yang pernah menggemparkan dunia maya karena kemisteriusan seseorang dibaliknya. Tapi tidak ada yang tahu pasti siapa orang yang memiliki nama julukan itu.

"A-apa? itu hacker profesional yang sempat menghebohkan dunia, D-dan ternyata itu kamu?" tanya Mutia tak percaya, ia hanya tahu bahwa Hani bekerja sebagai hacker, tetapi bukan sebagai pemilik asli julukan The Velvet Phantom.

"Ya, tentu saja itu aku. Apa kamu ga sadar kemampuan ku ini terlalu hebat kalau hanya sekedar hacker biasa" ucap Hani lirih nyaris berbisik disebelah telinga Mutia.

Mutia tampak berfikir sejenak. "Iya juga sih, aku terlalu ga sadar untuk hal diluar nalar" ucapnya.

Hani hanya terkekeh kecil, perlahan kepingan-kepingan kehidupan nya itu ia sampaikan pada sang sahabat. "Udah lah, sekarang aku mau pergi ke pasar kamu mau ikut ga? aku ga maksa sih" ucap Hani.

"Eh aku ikut deh" ucap Mutia semangat.

Hani kemudian menatap penampilan Mutia dari atas sampai bawah, sahabatnya itu hanya menggunakan baju panjang dengan rok polos selutut sangat amat mencerminkan sebagai gadis desa. Sedangkan Hani saat ini tetap pada kebiasaan nya yaitu menggunakan drees cantik nan elegant dengan rambut yang terurai panjang.

"Oke sebelum pergi kamu harus make over penampilan, aku mau buat para bujang kampung ini tergila-gila juga sama kamu, pokoknya kita harus sama sama bersinar" ucap Hani.

Mutia tersenyum haru, sedari dulu ia memang tidak mengenal fashion maka dari itu hanya berpenampilan seadanya. "Oke oke aku nurut" ucapnya.

Hani segera membimbing Mutia untuk mengikuti nya memilih pakaian yang cocok didalam kamar, pilihan Hani jatuh pada sebuah dress bewarna abu-abu dengan sedikit motif tipis dibagian bawahnya.

"Nah pake ini cocok nih, cepet cobain sana" suruh Hani pada sang sahabat, Mutia hanya mengangguk setuju dan pergi untuk mengganti pakaiannya.

Beberapa saat kemudian Mutia datang menghampiri Hani yang sedang menunggunya didalam kamar. "Cocok ga?" tanya nya.

Hani menoleh ke arah sahabatnya, ia mematung sejenak melihat tampilan baru Mutia. "Perfect, kamu udah kaya bunga desa sekarang" ucap Hani bangga dengan mengacungkan ibu jarinya.

Mutia sedikit tersipu malu akan pujian sahabatnya itu, selama ini dia memang sudah memiliki paras cantik khas orang Indonesia berbeda dengan Hani yang paras nya cantik seperti orang bule.

"Yok berangkat" ucap Hani sembari menunjukkan kunci mobil nya.

Mutia sedikit kaget ketika Hani menunjukkan kunci mobil kepadanya. "Kita cuma mau ke pasar harus pake mobil?" tanya nya tak percaya.

Hani tersenyum penuh arti. "Hari ini aku mau bawa kamu ke kota, kita bersenang-senang disana sedikit melupakan masalah kehidupan" ucapnya.

"Loh loh, jadi ke pasar ga sih?" tanya Mutia heran.

Hani mempertimbangkan pertanyaan Mutia sejenak, "Besok aja deh lain kali, hari ini kita belanja di Mall kota" ucapnya santai.

Mutia reflek menggeleng cepat, ia tidak memiliki banyak uang untuk berbelanja disana. "Eh aku ga punya uang sebanyak itu, takut ga sanggup bayarnya" tolak Mutia.

Hani memutar malas bola matanya. "Tenang aja kamu ga disuruh bayar kok, biar aku yang bayarin" jawabnya.

"Aku ga mau ngerepotin kamu han" ucap Mutia lirih.

Hani sudah tidak sabaran lagi karena terus berdebat dengan sahabat itu, ia segera menarik tangan Mutia agar mengikuti nya. "Udah kamu ikut aja ga ada penolakan"

Mutia hanya pasrah saja mengikuti kemauan Hani yang sangat keras kepala. Dia tidak menolak tapi menghela nafas kasar.

Deru mesin mobil mewah milik Hani mulai terdengar dijalanan kampung, membuat para warga yang mendengar tampak memperhatikan siapa sosok yang lewat itu.

Mutia nampak menikmati perjalanan, pertama kalinya dia menaiki sebuah mobil mewah dan mengenakan pakaian yang bagus. Dia merasa sangat amat bahagia hari ini.

Tak lama perjalanan mobil itu berhenti tepat di sebuah mall mewah kota, Hani turun dengan senyum manis dan gaya anggun nya, dress hitam yang ia kenakan menambah aura nya. Sedangkan Mutia tampak diam didalam mobil entah apa yang ia pikiran tetapi mulut nya sedikit menganga, seperti anak sepesial.

"Mut kamu mau turun apa ngga sih? malah melongo gitu" ucap Hani sedikit terkekeh.

"Wah gila, ini bangunan nya kok besar banget, isi nya apaan?" tanya nya sedikit berbinar.

"Udah ayo buruan masuk kalau mau tau isi nya" ajak Hani.

Mutia menangguk cepat, keduanya melangkah masuk ke dalam mall besar dikota itu, Hani dengan senyum anggun nya sedangkan Mutia dengan senyum canggung.

Hani membawa Mutia ke sebuah toko baju yang menjual dress cantik langganan miliknya, seketika Mutia langsung terkagum-kagum melihat nya.

"Wah cantik banget bajunya." ucap Mutia sedikit antusias.

Hani hanya terkekeh kecil mendengar ucapan Mutia, "Ayo masuk, kamu beli deh sepuasnya" ajak Hani.

Belum sempat melangkahkan kaki masuk kedalam toko itu, suara nyaring nan sinis menghentikan langkah mereka. "Wah wah lihat ini, rupanya j*lang tuan Darren sedang berkeliaran di mall." ucap Bella dengan tatapan sinis.

Hani dan Mutia menoleh ke arah suara itu, tampak seorang wanita berpakaian seksi berdiri tak jauh dari mereka. "Siapa itu?" tanya Mutia nyaris berbisik ditelinga Hani.

Hani tersenyum tipis. "Benalu" jawabnya.

"Apa kau tidak malu menghabiskan uang calon tunangan ku hah" ucap Bella dengan sedikit keras, sehingga pengunjung mall mulai berbisik bisik mendengarkan nya.

Hani terkekeh kecil penuh ejekan. "Siapa calon tunangan mu itu?" tanya nya.

"Tentu saja Darren, dia sudah dijodohkan dengan ku. Dan kau adalah j*lang yang merusak hubungan kami" ucap Bella dengan menunjuk muka Hani didepan umum.

"Dijodohkan ya? baik kita lihat Darren akan memilih siapa diantara kita" ucap Hani dengan senyuman licik nya, ia kemudian mengeluarkan ponsel nya dari tas yang ia bawa dan menghubungi Darren.

Bella hanya berdecih karena yakin Darren akan memilih nya. Sedangkan disekeliling orang-orang mulai memperhatikan interaksi mereka.

"Ya sayang, kamu merindukan ku?" ucap Darren ketika dia sudah mengangkat panggilan telepon Hani.

Hani sengaja mengaktifkan loudspeaker agar suara Darren dapat sedikit terdengar jelas. Bella menggeram marah ketika Darren mengangkat telepon Hani dengan panggilan romantis, ia ingin menyambar ponsel itu tetapi kalah cepat dengan reflek Hani.

"Calon tunangan mu yang bernama Bella ini mengganggu ku di mall kota, sebaiknya kau kesini untuk menjemput nya" ucap Hani yang sengaja ingin membuat Bella diatas awan.

Bella sedikit tersenyum ketika Hani mengatakan bahwa ia calon tunangan pada Darren.

"Baiklah aku kesana sekarang" ucap Darren buru buru, tujuan nya adalah untuk Hani dan bukan Bella.

Bella yang mendengar hal tersebut semakin yakin jika Darren akan menjemput nya. "Haha kau dengar sendiri bukan? Darren akan datang kesini untuk menjemput ku, dasar j*lang murahan" ucap Bella sinis.

"Ga tau malu banget jadi j*lang tuan Darren"

"Dasar murah"

"Pasti dia godain tuan Darren maka nya mau"

Cibir para pengunjung mall secara terang-terangan, Bella tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Hani tetap tenang dengan muka datar nya, seolah ini bukanlah masalah besar.

Grep

Semua orang mendadak membisu ketika Darren datang dan langsung membawa Hani ke dalam pelukannya, Bella menggeram marah. Sedangkan Mutia tak bisa berkata-kata melihat sahabatnya.

"Kau tidak apa-apa sayang?" ucap Darren tepat disebelah telinga Hani.

Hani diam tak berkutik, jantung nya berdetak lebih cepat. Ia dapat merasakan nafas pria kutub menyebalkan itu menerpa leher nya. 'Oke harus pintar dalam memainkan peran' batin Hani.

"Emm aku tidak apa apa sayang, tetapi wanita itu menghinaku" ucap Hani sembari menunjuk ke arah Bella.

Darren menoleh tajam ke arah yang gadisnya tunjuk, tampak Bella berdiri dengan wajah yang sedikit tegang. "Beraninya kau menghina calon istriku" ucap Darren dengan penuh penekanan.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!