NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyelamatkan Satu Nyawa

Tidak semua penyelamatan dilakukan dengan senjata.

Sebagian dilakukan dengan keheningan,

dengan waktu yang dicuri,

dan dengan keberanian untuk tidak tercatat di mana pun.

Qinara berdiri di depan jendela apartemennya ketika pesan terakhir dari Maya masuk.

Tim bergerak.

Jendela aman: 37 menit.

Tiga puluh tujuh menit.

Itu waktu yang mereka punya sebelum sistem—yang selama ini bergerak lambat—menyadari bahwa satu variabel penting akan keluar dari kendali.

Qinara menutup matanya sesaat.

“Ayah,” bisiknya, “aku tidak memilih seperti yang kau lakukan. Tapi aku harap kau mengerti.”

Rumah sakit kecil itu malam ini terasa berbeda.

Lorong yang biasanya sepi kini diisi langkah-langkah cepat yang berusaha tidak menimbulkan suara. Maya berjalan di depan, mengenakan jas sederhana tanpa tanda pengenal. Di belakangnya, dua orang medis yang tidak tercatat dalam jadwal jaga malam.

Surya duduk di kursi roda, selimut tipis menutupi kakinya. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam—lebih tajam dari hari sebelumnya.

“Ke mana kita pergi?” tanyanya pelan.

“Ke tempat yang tidak ada di sistem,” jawab Maya singkat.

Surya mengangguk. Ia tidak bertanya lagi.

Sejak sore tadi, potongan-potongan ingatan datang seperti serpihan kaca.

Bukan runtut.

Bukan lembut.

Ia mengingat bau kopi pahit di ruang rapat.

Mengingat tangan seseorang yang mengetuk meja tiga kali—kode tak tertulis untuk berhenti bicara.

Mengingat kalimat yang membuat dadanya sesak:

“Kecelakaan bisa diatur.”

Surya menelan ludah.

Ia tidak tahu semuanya. Tapi ia tahu cukup banyak untuk mati karenanya.

Lift terbuka.

Mereka tidak menuju lantai dasar, melainkan ke basement lama—area parkir yang sudah lama ditutup untuk umum.

Di sana, sebuah ambulans tua menunggu. Tanpa logo. Tanpa sirene.

“Masuk,” kata Maya.

Saat pintu belakang ambulans ditutup, suara mesin menyala pelan.

Dan pada saat yang sama—di lantai atas rumah sakit—sebuah alarm sistem berbunyi lirih.

Akses data pasien: NN-47 — STATUS DIPINDAHKAN

Di ruang kendali yang tidak memiliki alamat, pria berkacamata mengangkat kepalanya.

“Ada pergerakan,” kata salah satu bawahannya. “Pasien NN-47.”

“Dipindahkan?” tanya pria itu dingin.

“Ya. Tanpa persetujuan pusat.”

Pria berkacamata berdiri.

“Siapa yang menandatangani?” tanyanya.

Bawahannya ragu. “Tidak ada tanda tangan digital. Seperti… bypass.”

Pria itu tersenyum tipis—bukan senyum senang.

“Dia memilih menyelamatkan,” katanya pelan. “Bukan membuka.”

“Artinya?” tanya yang lain.

“Artinya kita masih punya waktu,” jawabnya. “Tapi juga berarti… Qinara Santosa bukan lagi bidak.”

Ia menoleh tajam.

“Aktifkan langkah terakhir.”

Ambulans melaju menembus malam.

Di dalam, Surya memejamkan mata. Setiap guncangan jalan memicu kilasan ingatan.

Ia melihat wajah seorang pria tua—ayah Qinara.

Mengingat tatapannya yang lelah, namun penuh tekad.

“Kalau saya tanda tangani ini, siapa yang bertanggung jawab saat runtuh?”

Surya membuka mata mendadak.

“Kamu kenal ayahnya,” katanya tiba-tiba.

Maya menoleh. “Sedikit.”

“Dia tidak bodoh,” lanjut Surya. “Dia tahu apa yang dia lawan.”

Maya mengangguk. “Dan itu sebabnya dia tidak dibiarkan hidup.”

Keheningan menyelimuti ambulans.

Surya menatap langit-langit.

“Saya melihat dokumen itu,” katanya pelan. “Malam sebelum kecelakaan.”

Maya menegang. “Yang mana?”

“Laporan akhir,” jawab Surya. “Bukan audit biasa. Daftar risiko dengan tanda merah. Nama-nama pejabat yang menolak perbaikan.”

Maya menoleh penuh perhatian. “Apakah kamu ingat siapa saja?”

Surya menggeleng pelan. “Belum. Tapi… ada satu hal.”

“Apa?” tanya Maya.

Surya menarik napas. “Ayah Qinara menyimpan salinan di luar perusahaan. Bukan di kantor. Bukan di rumah.”

Maya membeku.

“Di mana?” tanyanya cepat.

Surya mengerutkan kening. Kepalanya berdenyut.

“Dia bilang…” Surya berhenti, menahan sakit. “Dia bilang—‘tempat yang tidak akan dicurigai karena terlalu sederhana’.”

Di apartemennya, Qinara mondar-mandir.

Setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya.

Ia menatap laptop—file daftar nama masih tertutup. Keputusan untuk menunda unggahan itu belum terasa ringan.

Ia menyadari sesuatu yang pahit:

Menahan kebenaran

juga adalah bentuk kekuasaan.

Dan kekuasaan—betapapun tujuannya baik—selalu berbahaya.

Ponselnya berdering.

Dari Adrian.

“Gerakan besar,” katanya tanpa basa-basi. “Dewan Etik mempercepat putusan. Besok pagi.”

“Putusan apa?” tanya Qinara.

“Skorsing sementara,” jawab Adrian. “Mereka ingin membungkam kamu secara legal sebelum kamu bicara lagi.”

Qinara mengangguk. “Berarti mereka panik.”

“Ada lagi,” lanjut Adrian. “Ibuku—yang bekerja di pengadilan—bilang ada permintaan khusus dari atas. Untuk membatasi aksesmu ke sistem pelaporan.”

Qinara tertawa pelan. “Mereka ingin aku buta.”

“Dan sendirian.”

Qinara berhenti berjalan.

“Aku tidak sendirian,” katanya. “Tidak lagi.”

Ambulans berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Bangunannya biasa saja—bahkan cenderung terlupakan.

Surya dibantu turun.

“Ini aman?” tanyanya.

“Untuk sementara,” jawab Maya. “Tidak ada kamera publik. Tidak ada sinyal kuat.”

Mereka masuk.

Di ruang tamu kecil itu, seorang pria tua menyambut mereka. Rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput.

“Sudah lama,” kata pria itu pada Surya.

Surya menatapnya lama. Lalu matanya melebar.

“Kamu… penjaga arsip,” katanya pelan.

Pria itu tersenyum tipis. “Dulu. Sekarang hanya tukang jaga rumah.”

Surya menelan ludah.

“Dia datang ke sini?” tanya Surya.

Pria tua itu mengangguk. “Malam sebelum semuanya terjadi.”

Surya memejamkan mata. Ingatannya mengalir deras sekarang.

Ia melihat ayah Qinara menyerahkan sebuah map cokelat tipis.

“Kalau sesuatu terjadi pada saya,” kata suara itu dalam ingatannya, “berikan ini pada anak saya. Tapi hanya jika dia siap tahu bahwa ayahnya tidak sempurna.”

Surya membuka mata, napasnya memburu.

“Map itu masih ada,” katanya.

Pria tua itu mengangguk. “Terkunci. Tidak pernah dibuka.”

Maya menatap Surya dengan mata tajam. “Apakah kamu yakin ini yang kamu ingat?”

Surya mengangguk.

“Dan aku yakin,” tambahnya, “mereka akan mencari tempat ini.”

Di ruang kendali, layar-layar menampilkan titik-titik merah.

“Target berpindah ke zona mati sinyal,” lapor seseorang.

Pria berkacamata mengepalkan tangannya.

“Qinara memilih jalur emosional,” katanya. “Menyelamatkan saksi. Menggali masa lalu ayahnya.”

“Apakah kita hentikan?” tanya yang lain.

Pria itu terdiam sejenak.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Kita tekan dari arah lain.”

“Ke mana?”

Pria itu tersenyum dingin.

“Ke tempat yang paling dia lindungi.”

Malam hampir berganti pagi ketika Qinara menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Satu foto.

Pintu rumah lama—rumah masa kecilnya—terbuka. Lampu di dalam menyala.

Pesan menyusul.

Kami tahu kamu memilih menyelamatkan.

Sekarang giliran kami memilih apa yang kamu cintai.

Qinara merasakan darahnya dingin.

“Ibu,” bisiknya.

Ia segera menghubungi ibunya. Tidak aktif.

Menghubungi Adrian. “Mereka ke rumah lama.”

“Aku ke sana,” kata Adrian cepat.

“Tidak,” Qinara menahannya. “Aku juga.”

“Qinara—”

“Aku tidak akan bersembunyi lagi,” potong Qinara.

Ia meraih mantel, flashdisk, dan satu map berisi salinan dokumen.

Saat ia melangkah keluar, ponselnya bergetar lagi.

Pesan dari Maya.

Surya ingat lokasi arsip ayahmu.

Kita punya bukti fisik.

Tapi waktu kita menipis.

Qinara menutup mata sejenak.

Dua nyawa.

Dua tempat.

Satu jaringan yang menekan dari segala arah.

Ia membuka mata, tatapannya mengeras.

“Kalian ingin aku memilih?” katanya pelan. “Baik.”

Ia mengirim satu pesan balik ke Maya.

Amankan Surya dan arsip itu.

Apa pun yang terjadi, jangan biarkan mereka jatuh.

Lalu ia menulis satu pesan lagi—yang selama ini ia tahan.

Ke sebuah alamat media internasional.

Tanpa lampiran.

Tanpa nama.

Hanya satu kalimat:

Jika dalam 24 jam saya tidak muncul, cari daftar bernama “Malam_Keputusan_Akhir”.

Qinara memasukkan ponsel ke saku.

Ia tahu, langkah ini bisa menjadi pemicu.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bereaksi.

Ia mengatur. Surya hidup. Ingatan mulai kembali. Dan bukti fisik akhirnya ditemukan.

Namun jaringan juga bergerak—lebih brutal, lebih personal. Dan Qinara akhirnya berdiri di titik di mana menyelamatkan satu nyawa tidak lagi cukup.

Karena perang ini tidak hanya menuntut keberanian, tetapi kesiapan untuk kehilangan segala sesuatu yang masih ingin ia lindungi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!