Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Deretan panggilan tak terjawab oleh Adrian terpampang pada layar ponsel Arini. Entah sudah berapa kali Adrian mencoba menghubunginya, namun Arini tak tergerak untuk menjawab panggilan itu.
Uap panas membumbung tinggi, memenuhi setiap sudut kamar mandi yang didominasi marmer putih itu. Arini melangkah pelan, menanggalkan beban hari itu bersamaan dengan pakaiannya, lalu menenggelamkan diri ke dalam bathtub yang penuh dengan air hangat.
Keheningan segera menyelimuti, namun justru dalam diam itulah suara-suara di kepalanya terdengar lebih nyaring. Bayangan Adrian, suaminya bersama wanita itu kembali muncul tanpa diundang. Arini memejamkan mata erat-erat.
Ia ingat betul tatapan Adrian yang penuh rahasia, sebuah sandiwara yang dimainkan dengan sangat rapi seolah Arini adalah penonton yang buta. Adrian mengira dirinya tidak tahu apa-apa. Adrian mengira pengkhianatan itu tersimpan rapat di balik senyum manisnya.
Dada Arini berdenyut nyeri. Amarah sempat naik ke tenggorokan, panas dan menyesakkan. Namun, ia segera mencengkeram pinggiran bathtub, kuku-kukunya memutih. “Tidak sekarang,” bisiknya pada diri sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan uap hangat masuk ke paru-parunya, memaksa detak jantungnya kembali normal.
Ia tidak akan membiarkan emosi menghancurkan ketenangannya. Ia ingin tetap jernih, ingin berdiri di kegelapan dan melihat sejauh mana Adrian akan melangkah dengan kebohongannya.
...****************...
Kediaman Erlangga
Lampu gantung di ruang makan berpendar kekuningan, menciptakan bayangan panjang di atas meja kayu yang luas. Di sana, Adrian duduk mematung. Di hadapannya, kepul asap dari sup ayam dan aroma rempah dari daging panggang masih memenuhi udara. Hidangan itu masih sangat hangat, namun suasana di ruangan itu terasa begitu dingin.
Adrian melirik kursi kosong di seberangnya. Biasanya, jam segini ia sudah mendengar suara denting sendok Arini atau cerita ringan tentang harinya. Namun pagi ini, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah berdentum lebih keras dari biasanya.
Ia mengerutkan dahi, menatap piringnya yang masih bersih. Tangannya bergerak meraih ponsel yang tergeletak pasif di samping serbet. Layarnya gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada pesan masuk.
"Ke mana dia?" bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ibu jarinya mengetik pesan dengan gerakan yang mulai tidak tenang.
“Sayang, kamu di mana?"
Ia menunggu. Satu menit, dua menit. Tanda centang pada pesan itu tidak kunjung berubah warna. Adrian mencoba menekan tombol panggil. Ia menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada sambung yang panjang, yang kemudian terputus oleh suara datar operator.
Arini tidak mengangkatnya.
Perasaan tidak nyaman mulai merayap di tengkuknya. Bukan rasa rindu yang mendalam, melainkan sebuah kegelisahan karena sesuatu berjalan di luar kendalinya.
Arini yang penurut, Arini yang selalu memberi kabar, tiba-tiba menjadi sebuah ruang hampa yang tidak bisa ia jangkau.
Suasana hening itu tiba-tiba terasa mencekik. Adrian mendorong piringnya menjauh. Ia berdiri, membuat kursi kayu itu berderit tajam, memecah kesunyian rumah yang luas tersebut. Selera makannya hilang menguap bersama uap makanan yang mulai mendingin.
Ia meraih kunci mobil di atas bufet dan menyambar jasnya yang tersampir. Langkah kakinya terdengar berat saat melewati ruang tengah yang gelap. Ia butuh jawaban.
"Mungkin dia masih di kantor," gumamnya pelan saat membuka pintu depan.
Mobil mewah bewarna hitam itu melaku dengan cepat meninggalkan kediaman. Bebebnya menit berlalu, tibalah Adrian di kantor.
Beberapa pegawai kantor menyapanya, ia hanya mengangguk sembari tersenyum. Matanya melihat setiap sudut yang Ia lewati, berharap menemukan wanita itu.
Adrian masuk ke dalam lift lalu menekan lantai 4. Begitu sampai di lantai itu, Ia bergegas keluar dan segera menuju ruangan Arini.
"Arini?"
Suara berat pintu terdengar, Adrian lalu muncul dari sama dan melangkah masuk. Senyumnya mengembang begitu melihat Arini yang tengah tertidur lelap di atas mejanya dengan beberapa tumpukan berkas-berkas di sampingnya.
Adrian melihat lebih dekat wajah istrinya itu, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Ia mengelus pelan kepala Arini dengan lembut.
"Untung saja dia masih disini," batin Adrian.
Wanita itu terbangun, Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan tersenyum melihat Adrian yang kini sudah berada di hadapannya.
"Adrian? Sejak kapan kamu sampai disini?" tanya Arini dengan terkejut, lebih tepatnya pura-pura terkejut.
"Baru saja, sayang," ujar Adrian dengan suara lembut itu lagi.
"Sialan, bisa-bisanya kamu masih panggil aku sayang." batin Arini kesal.
Arini memasang ekpresi manjanya, Ia lalu berdiri dan lekas memeluk sang suami. Adrian tertawa kecil, Ia menarik tubuh mungil wanita itu dan memeluknya lebih erat.
"Why? Tumben banget pagi-pagi kamu udah meluk aku,"
Arini menatap Adrian, "Memang ngga boleh?"
"Ngga, aku ngga bilang gitu sayang. Kamu boleh peluk aku sepuas kamu," ucap Adrian, kembali mengelus pucuk kepala Arini.
"Adrian, kamu siang ini free ngga? Ayo kita makan bareng," ucap Arini.
"Siang ini?"
Arini mengangguk, "Iya. Kenapa?"
"Kayaknya aku ngga bisa sayang, aku ada meeting nanti." ucap Adrian.
"Ya sudah, next time?"
"Pasti, sayang. Jangan lupa pulang ya, nanti malam aku usahain kita makan bareng di rumah."
Adrian memberikan kecupan manis pada wanita itu sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan itu, menyisakan Arini kembali seroang diri disana.
Senyum manis pada wajah Arini menghilang seketika. Ia tahu bahwa Adrian berbohong padanya. Ia sudah mengecek jadwal Adrian hari ini dan dia tidak ada meeting bersama klien manapun.
Arini meraih ponselnya dan menelpon seseorang di seberang sana. Beberapa saat kemudian, suara seseorang terdengar menyapanya dalam panggilan itu.
"Dam, lo free ngga sekarang?" tanya Arini.
"Of course, memang ada apa? Tumben lo telpon gua, kesambet apaan lo?" jawabnya.
"Gua mau ketemu lo hari ini, gua butuh bantuan lo,"
"Okey, mau ketemu dimana? Di kantor lo?" tanya orang itu.
Arini menyahut cepat, "No, jangan di kantor gua. Di apartemen aja,"
"Okay, tunggu gua."
Sambungan berakhir. Arini meraih tasnya dan bergegas meninggalkan kantor itu.