NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam di Kerajaan Aethelgard terasa semakin menusuk tulang. Di aula utama, sisa-sisa aroma anggur dan musik pesta masih tertinggal, namun di lorong-lorong bawah tanah, yang ada hanyalah bau pengap dan keputusasaan. Alistair baru saja kembali dari penjara dengan wajah yang sekeras dinding benteng, membawa kabar bahwa darah Ara tidak memicu cahaya pada Pulpen Cendana Emas. Kabar itu menyebar di antara tujuh pangeran sebagai sebuah vonis mati bagi harapan mereka.

Namun, di sudut ruang baca yang remang, Gideon, si bungsu dari tujuh pangeran, tidak bisa duduk diam. Ia menatap kakaknya, Alistair, yang sedang membersihkan noda darah dari ujung belatinya dengan gerakan mekanis yang dingin.

"Kau menyerah begitu saja, Kak?" tanya Gideon, suaranya bergetar menahan amarah yang terpendam.

Alistair mendongak, matanya merah karena kelelahan emosional. "Ini bukan masalah menyerah atau bertahan, Gideon. Ini adalah kenyataan. Sihir Valerius tidak bisa berbohong. Jika dia adalah Aurora, pulpen itu akan mengenalinya. Tapi benda itu diam. Darahnya tidak memiliki kekuatan."

"Mungkin ada yang salah dengan pulpennya! Atau mungkin darahnya sedang sakit!" Gideon berdiri, menggebrak meja kayu di depannya. "Bagaimana dengan Morena? Kau sudah mencoba mengetes darahnya?"

"Morena membawa benda itu, Gideon! Dia punya bekas luka, dia punya ingatan. Dia putri kita!" bentak Alistair yang mulai kehilangan kesabaran. "Hentikan obsesimu pada pelayan itu. Besok, Raja Malakor akan tiba untuk meresmikan aliansi, dan Ara akan tetap di sana sampai pengadilan memutuskan hukumannya. Dia tidak akan diberi makan sampai saat itu tiba sebagai bentuk hukuman atas pengkhianat nya."

Gideon tertegun. "Tidak diberi makan? Kau ingin membunuhnya perlahan?"

"Itu adalah hukum bagi pencuri pusaka kerajaan," sahut Alistair dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Gideon mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Di antara tujuh saudara, Gideon adalah yang paling dekat secara emosional dengan ingatan masa kecil mereka tentang Aurora. Ia ingat bagaimana adik kecilnya selalu menarik ujung jubahnya untuk meminta digendong. Dan saat ia melihat mata Ara di pelataran istana tadi siang, ia merasakan tarikan yang sama.

Ia tidak peduli pada sihir pulpen itu. Ia tidak peduli pada logika Alistair. Ia hanya tahu bahwa hatinya menolak untuk membiarkan gadis itu mati dalam kehinaan.

Saat jam besar istana berdentang dua kali menandakan puncak malam, Gideon menyelinap ke dapur istana. Dengan cekatan, ia mengambil sekeranjang kecil berisi roti gandum yang lembut, sepotong daging asap, dan sebuah botol berisi susu hangat. Tak lupa, ia mengambil kotak obat rahasia milik Evander yang berisi salep penyembuh luka paling mujarab di kerajaan.

Dengan jubah hitam yang menutupi wajahnya, Gideon menuruni tangga menuju penjara bawah tanah. Penjaga di sana sedang terlelap karena pengaruh anggur yang diam-diam telah dicampur obat tidur oleh Gideon sebelumnya.

Langkah kaki Gideon sangat pelan saat ia mendekati sel paling ujung. Di sana, di dalam kegelapan yang nyaris total, ia melihat sesosok tubuh kecil yang meringkuk lemas di atas jerami kering. Ara tampak seperti burung kecil yang sayapnya telah patah.

"Ara..." bisik Gideon pelan. Gadis itu tersentak, mencoba mundur ke sudut sel dengan sisa kekuatannya.

"P-pangeran? Apakah Anda datang untuk mengambil nyawa hamba?

"Sshhh... diamlah. Aku di sini untuk menolongmu," Gideon berlutut di depan jeruji besi. Ia menyalakan sebuah batu cahaya kecil yang menerangi sel tersebut.

Saat cahaya itu menyebar, mata Gideon terpaku pada lantai sel yang berdebu. Di sana, di dekat kaki Ara, terdapat sebuah gambar yang digoreskan dengan jemari yang gemetar. Sebuah simbol burung phoenix dengan sayap yang melingkar membentuk hati.

Jantung Gideon seolah berhenti berdetak. Itu bukan sekadar gambar burung. Itu adalah simbol rahasia yang dulu sering digambar oleh ibu mereka, Ratu Elara, di atas pasir saat mereka bermain di taman istana bersama Aurora bayi. Simbol itu bukan lambang resmi kerajaan yang diketahui publik; itu adalah simbol kasih sayang keluarga yang hanya diketahui oleh orang dalam istana.

"Ara... dari mana kau tahu gambar ini?" suara Gideon bergetar hebat.

Ara mendongak, air mata membasahi pipinya yang kotor. "Hamba tidak tahu, Pangeran. Sejak kecil di Noxvallys, setiap kali hamba merasa ketakutan atau kesepian, hamba selalu menggambar ini. Ini membuat hamba merasa... aman. Seolah-olah ada seseorang yang sedang memeluk hamba."

Gideon memejamkan mata, menahan sesak di dadanya. Darah mungkin bisa ditutupi oleh sihir, tapi jiwa tidak pernah bisa berbohong, batinnya. Keyakinannya kini bulat seratus persen. Gadis di depannya ini adalah Aurora-nya.

"Dengarkan aku baik-baik, Ara," ucap Gideon sambil mengeluarkan makanan dari keranjangnya. Ia menyodorkannya melalui celah jeruji. "Makanlah ini. Pelan-pelan saja. Aku tahu kakak-kakakku telah berbuat kejam padamu, tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkanmu mati di sini."

Ara menerima roti itu dengan tangan gemetar. Ia makan dengan lahap, air matanya jatuh membasahi roti tersebut. "Mengapa Anda melakukan ini? Pangeran Alistair bilang darah hamba adalah darah pencuri..."

"Alistair salah. Dia hanya melihat dengan mata, bukan dengan hati," Gideon mengeluarkan kotak obatnya. "Berikan tanganmu padaku."

Melalui jeruji, Gideon membersihkan luka di jari Ara yang tadi digores oleh Alistair. Ia mengoleskan salep dingin yang seketika menghilangkan rasa perihnya. Ia juga mengobati lecet di pergelangan tangan Ara akibat rantai besi yang kasar.

"Aku akan datang setiap malam, Ara. Setiap malam," janji Gideon dengan nada suara yang sangat dalam dan protektif. "Aku akan membawakanmu makanan terbaik, obat-obatan, dan selimut hangat. Kau harus bertahan hidup. Aku tidak akan membiarkan Morena atau siapapun menyentuhmu lagi."

"Pangeran... hamba takut," bisik Ara, tangannya menyentuh jemari Gideon di sela besi sel.

Gideon menggenggam tangan kecil itu, memberikan kehangatan yang telah lama hilang dari hidup Ara. "Jangan takut. Kau adalah cahaya Aethelgard yang sedang tersembunyi. Biarkan mereka memuja kepalsuan untuk sementara waktu. Saat waktunya tiba, aku sendiri yang akan menghancurkan singgasana palsu Morena dan membawamu kembali ke tempat yang seharusnya."

Gideon menatap mata biru Ara sekali lagi. Mata itu kini tidak lagi hanya berisi keputusasaan, tapi ada setitik harapan yang mulai menyala. Sebelum ia pergi, Gideon membisikkan sebuah janji yang akan ia jaga dengan nyawanya.

"Aku akan menjagamu, Aurora. Meski seluruh dunia membencimu, aku akan tetap berdiri di depan sel ini untuk melindungimu." Gideon melangkah pergi dengan tekad yang baru. Ia tahu ia harus bermain cantik. Di depan kakak-kakaknya, ia akan berpura-pura menerima Morena, namun di balik bayang-bayang, ia akan menjadi pelindung rahasia bagi sang putri yang asli.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!