NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posesif

Bulan-bulan terakhir kehamilan kedua Alana membawa perubahan atmosfer yang sangat kontras di kediaman Vance. Jika dulu saat menanti kelahiran Leo, Brixton dipenuhi oleh kegelisahan dan rasa bersalah, kali ini pria itu tenggelam dalam jenis kepanikan yang jauh lebih lucu dan menggemaskan: kepanikan calon ayah dari seorang bayi perempuan.

Bagi Brixton, kabar bahwa ia akan memiliki seorang putri adalah segalanya. Namun, hal itu juga memicu insting protektifnya hingga ke level yang tidak masuk akal. Baginya, Alana dan bayi perempuan di dalam kandungannya adalah harta karun paling rapuh sekaligus paling berharga yang pernah ada di muka bumi.

Pagi itu, Alana terbangun bukan karena cahaya matahari, melainkan karena suara gemerisik kertas kado dan tumpukan kotak yang memenuhi sudut kamar mereka. Ia mengerjapkan mata dan menemukan Brixton sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh gunungan pakaian bayi berwarna merah jambu, peach, dan lavender.

"Brixton? Apa yang kau lakukan sepagi ini?" tanya Alana sambil berusaha duduk dengan perutnya yang sudah sangat besar.

Brixton mendongak, wajahnya tampak sangat serius seolah sedang meninjau laporan tahunan perusahaan. "Aku baru saja menyadari bahwa koleksi gaun musim panas untuk bayi kita masih kurang, Istriku. Jadi, aku memesan beberapa potong lagi dari Paris semalam."

Alana melihat ke sekeliling. "Beberapa potong? Brixton, itu ada lebih dari sepuluh kotak besar! Bahkan jika bayi kita berganti baju setiap jam, dia tidak akan sempat memakai semuanya sebelum dia tumbuh besar."

"Lebih baik berlebih daripada kekurangan," sahut Brixton santai. Ia kemudian mengambil sebuah bando kecil dengan pita besar berwarna pink dan menunjukkannya pada Alana. "Lihat ini. Bukankah ini akan terlihat sangat cantik di kepalanya nanti?"

Alana tertawa kecil, hatinya luluh melihat sisi lembut suaminya. Namun, kejutan belum berakhir. Alana memperhatikan bahwa di layar iPad Brixton yang terbuka, bukan grafik saham yang muncul, melainkan sebuah video tutorial YouTube berjudul: “Cara Mengepang Rambut Dasar untuk Ayah Pemula.”

"Kau... kau belajar mengepang rambut?" tanya Alana tak percaya.

Brixton berdehem, sedikit tersipu namun tetap berusaha mempertahankan wibawanya. "Aku ingin menjadi orang pertama yang menyisir dan merapikan rambutnya nanti. Aku tidak mau dia bergantung pada pelayan atau salon hanya untuk sekadar kuncir kuda. Aku harus menguasainya sekarang agar tidak canggung saat dia lahir."

Pria yang biasanya memerintah ribuan karyawan itu kini terlihat sibuk mencoba mempraktikkan kepangan pada sebuah boneka maneken kecil yang entah kapan ia beli. Jari-jarinya yang panjang dan kuat, yang biasanya mahir menandatangani kontrak jutaan dolar, tampak sangat kaku dan lucu saat mencoba menyilangkan helai-helai rambut sintetis itu.

Seiring bertambahnya usia kehamilan Alana, sifat protektif Brixton berkembang menjadi sifat posesif yang luar biasa. Brixton benar-benar tidak bisa membiarkan Alana berada di luar jangkauannya lebih dari lima meter. Ia memutuskan untuk bekerja sepenuhnya dari rumah, memindahkan seluruh operasional kantor ke ruang perpustakaan pribadinya agar ia bisa mengawasi Alana setiap detik.

Setiap kali Alana ingin berpindah ruangan, Brixton akan segera muncul di sampingnya, menawarkan lengannya untuk bersandar. Ia akan menciumi kening, pipi, dan tangan istrinya berkali-kali dalam sehari, seolah-olah ia sedang mengisi ulang energinya melalui Alana.

"Suamiku, aku hanya ingin ke dapur untuk mengambil air minum," ucap Alana lembut saat Brixton menghentikan rapat videonya hanya karena melihat Alana berdiri dari sofa.

"Duduklah, Istriku. Biar aku yang ambilkan," perintah Brixton.

"Tapi aku ingin sedikit menggerakkan kakiku..."

"Kalau begitu, aku akan mengawalmu," putus Brixton.

Dan dimulailah pemandangan unik di mansion tersebut. Alana berjalan perlahan menuju dapur, dan tepat di belakangnya, Brixton berjalan dengan langkah waspada, matanya tidak lepas dari setiap pijakan kaki Alana seolah-olah lantai marmer itu bisa mendadak berubah menjadi es yang licin.

Masalah muncul saat ada pelayan pria atau pekerja kebun yang tidak sengaja berada di jalur yang sama dengan Alana. Suatu siang, seorang pelayan muda sedang membantu membawa beberapa kotak perlengkapan bayi yang baru datang. Saat pelayan itu menatap Alana dan tersenyum sopan sambil menyapa, "Selamat siang, Nyonya Vance," Brixton yang berada di belakang Alana seketika berubah menjadi singa yang siap menerkam.

Brixton melangkah maju, menghalangi pandangan pelayan itu terhadap istrinya. Wajahnya mengeras, dan aura dinginnya kembali muncul dalam sekejap.

"Kenapa kau menatapnya begitu lama?" tanya Brixton dengan suara rendah yang mengancam.

Pelayan itu gemetar, wajahnya pucat pasi. "Ma... maaf, Tuan. Saya hanya ingin menyapa Nyonya."

"Letakkan kotaknya dan segera kembali ke tugasmu. Dan jangan pernah mencoba menatap istriku lebih dari dua detik, mengerti?" tegas Brixton.

Setelah pelayan itu lari terbirit-birit, Alana menarik lengan baju Brixton. "Suamiku, kau menakutinya. Dia hanya bersikap sopan."

"Dia menatapmu terlalu lama, Istriku. Aku tidak suka pria lain melihat betapa cantiknya kau saat sedang hamil seperti ini. Kau hanya milikku, dan bayi perempuan kita di dalam sana juga hanya milikku," sahut Brixton sambil memeluk Alana dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana dengan sikap sangat posesif.

Kecemburuan Brixton tidak hanya terbatas pada pelayan. Bahkan saat tukang dekorasi datang untuk memasang wallpaper di kamar bayi perempuan mereka, Brixton bersikeras untuk tetap berada di ruangan itu selama proses pengerjaan. Ia duduk di kursi sudut sambil membaca dokumen, namun matanya terus melirik ke arah para pekerja, memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara terlalu dekat dengan Alana.

"Brixton, kau membuat mereka gugup," bisik Alana sambil duduk di sampingnya. "Lihat, tangan pria itu gemetar saat memasang bunganya."

"Itu bagus. Artinya dia tahu bahwa dia sedang bekerja di bawah pengawasan pemilik rumah yang sangat tidak sabar," jawab Brixton tanpa perasaan bersalah. Ia kemudian menarik tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan dalam. "Aku hanya ingin memastikan segalanya sempurna, Istriku. Dan aku tidak ingin ada energi asing yang mengganggumu."

Alana hanya bisa menghela napas sambil tersenyum. Ia tahu bahwa di balik sikap posesif yang terkadang menyebalkan itu, terdapat rasa cinta yang begitu besar dan ketakutan akan kehilangan yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan Brixton.

Puncak dari "kepanikan" Brixton terjadi saat mereka sedang melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan. Di ruang tunggu, Brixton terus-menerus memeluk pinggang Alana, seolah ingin memberi tahu semua pria di ruangan itu bahwa wanita ini sudah dimiliki sepenuhnya.

Saat di dalam ruang periksa, sang dokter pria—yang sudah menjadi langganan keluarga mereka—menjelaskan tentang posisi bayi yang sudah mulai turun ke panggul.

"Nyonya Alana harus lebih banyak beristirahat, namun tetap jalan-jalan ringan agar persalinannya lancar," saran dokter tersebut sambil sesekali menatap Alana untuk memastikan sang pasien mengerti.

Brixton berdehem keras. "Dokter, apakah Anda harus menatap istri saya saat menjelaskan? Jelaskan saja pada saya, saya yang akan memastikan dia melakukannya."

Dokter itu, yang sudah hafal dengan sifat posesif Brixton sejak kehamilan Leo, hanya bisa tersenyum sabar. "Tuan Vance, saya hanya memastikan Nyonya mengerti prosedurnya."

"Saya suaminya, saya jauh lebih mengerti apa yang dia butuhkan," balas Brixton ketus, membuat Alana harus mencubit lengan suaminya secara sembunyi-sembunyi agar berhenti bersikap kekanak-kanakan.

Malam harinya, di dalam keheningan kamar mereka, sifat posesif itu berubah menjadi kelembutan yang mengharukan. Brixton membantu Alana mengoleskan minyak anti-stretch mark di perutnya, sebuah ritual yang tidak pernah ia lewatkan satu malam pun.

"Suamiku," panggil Alana pelan.

"Ya, Istriku?"

"Kau tahu kan, kalau kau tidak perlu merasa cemburu pada setiap orang yang berpapasan denganku? Aku tidak akan pergi kemana pun. Hatiku sudah terkunci untukmu."

Brixton menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap mata Alana dengan tatapan yang sangat intens. "Aku tahu, Alana. Tapi aku tidak bisa menahannya. Dulu aku pernah hampir kehilanganmu karena kebodohanku sendiri. Sekarang, saat kau membawa separuh jiwaku yang lain di perutmu, aku merasa seolah seluruh dunia adalah ancaman. Aku hanya ingin kalian berdua aman dalam pelukanku."

Brixton kemudian meletakkan telinganya di perut Alana, mendengarkan detak jantung bayi mereka. "Apalagi ini anak perempuan. Aku sudah membayangkan betapa banyaknya pria yang akan mencoba mendekatinya nanti. Aku harus mulai berlatih menjadi ayah yang paling galak sejak sekarang."

Alana tertawa, mengelus rambut suaminya. "Dia bahkan belum lahir, Brixton! Kau sudah memikirkan masa depannya sampai sejauh itu?"

"Tentu saja. Dia adalah putri dari Brixton Vance. Tidak ada yang boleh menyakitinya, tidak ada yang boleh membuatnya menangis," gumam Brixton pelan, lalu ia memberikan ciuman lembut di perut Alana.

Malam itu, Brixton tidak membiarkan Alana tidur tanpa berada dalam pelukannya. Ia melingkarkan lengannya di perut Alana, seolah ingin memastikan bahwa ia adalah orang terakhir yang dirasakan oleh bayi mereka sebelum terlelap.

Meski sikapnya terkadang berlebihan—membeli ribuan pita pink, belajar mengepang rambut yang gagal berkali-kali, hingga cemburu pada pelayan sendiri—Alana menyadari bahwa ini adalah bentuk cinta yang paling murni dari Brixton. Pria itu tidak lagi malu menunjukkan ketergantungannya pada Alana. Ia tidak lagi peduli pada citra "penguasa dingin" yang dulu ia banggakan.

Bagi Brixton, menjadi "suami yang posesif" dan "ayah yang panik" jauh lebih membanggakan daripada menjadi "pengusaha sukses". Di dalam kamar yang kini dipenuhi oleh barang-barang bayi berwarna merah jambu itu, Brixton menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Ia adalah seorang pria yang hidup hanya untuk mencintai istri dan anak-anaknya.

Setiap ciuman yang ia berikan pada Alana, setiap tatapan tajam yang ia berikan pada orang asing yang mendekat, dan setiap kepangan rambut yang ia coba buat pada boneka maneken, adalah bagian dari sumpah barunya. Sumpah bahwa di bawah naungannya, Alana dan putri mereka nanti tidak akan pernah merasakan dinginnya dunia, karena hangatnya cinta Brixton akan selalu mengelilingi mereka, menjaga mereka dalam sebuah benteng kasih sayang yang tak tertembus oleh siapapun.

"Aku mencintaimu, Istriku," bisik Brixton tepat di telinga Alana sebelum ia sendiri tertidur.

"Aku juga mencintaimu, Suamiku... si calon ayah yang paling posesif di dunia," jawab Alana dengan senyum bahagia yang menghiasi wajah tidurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!