"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kejutan! Adrian Ternyata Teman Kakakku?
Pria itu mengetuk kaca jendela dengan senyum yang sangat misterius dan menyapa Adrian dengan sebutan adik kecil di depan Lala yang ternganga. Adrian segera menginjak rem dengan paksa hingga tubuhnya dan tubuh Lala terdorong ke depan secara bersamaan. Ia menatap sosok pria berjaket kulit hitam itu dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat sekaligus penuh dengan rasa terkejut yang luar biasa besar.
"Sedang apa kamu berkeliaran di area rumah sakit ini, Kak Danu?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat rendah dan sangat tajam.
"Hanya ingin menyapa adikku yang paling kaku, sekaligus menjemput adik perempuanku yang sepertinya sedang tersesat di mobilmu," jawab Danu sambil menunjuk ke arah Lala.
Lala merasa seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas dan membeku saat menyadari bahwa ksatria zirah putihnya ternyata mengenal baik kakak laki-lakinya yang super galak itu. Ia menatap Adrian dan Danu secara bergantian dengan mata yang berkedip berulang ulang karena masih mencoba mencerna informasi yang sangat mengejutkan tersebut. Dunia serasa berputar sangat cepat bagi Lala karena rencana pengejaran ugal-ugalan miliknya kini terancam oleh kehadiran orang dalam dari keluarganya sendiri.
"Kalian berdua saling mengenal? Jadi Dokter Adrian adalah teman Kak Danu?" tanya Lala dengan suara yang hampir menghilang karena saking takutnya.
"Bukan hanya teman, kami adalah musuh bebuyutan sejak jaman kuliah kedokteran dulu, sebelum aku memutuskan untuk berhenti dan jadi pengusaha," sahut Danu sambil membuka pintu mobil secara paksa.
Danu segera menarik tangan Lala agar keluar dari mobil Adrian dengan gerakan yang cukup tegas namun tetap terlihat protektif sebagai seorang kakak. Adrian hanya bisa diam mematung di balik kemudi sambil meremas stir mobilnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pasien paling tidak tahu malu yang selama ini mengganggunya adalah adik kandung dari satu satunya orang yang paling ia hindari di masa lalu.
"Turun sekarang Lala, Ayah sudah menunggu di rumah dengan rotan panjang karena kamu bolos sekolah seharian!" perintah Danu sambil melirik tajam ke arah Adrian.
"Kak, jangan bilang Ayah kalau aku bersama Dokter Adrian, aku bisa dikurung di kamar selamanya!" mohon Lala dengan wajah yang sangat pucat pasi.
Danu tidak memedulikan permohonan Lala dan justru menatap Adrian dengan senyum yang sangat merendahkan seolah telah memenangkan sebuah undian besar. Adrian merasakan harga dirinya kembali diuji karena ia tahu Danu pasti akan menggunakan informasi ini untuk mengejeknya di setiap kesempatan yang ada. Ketegangan di antara kedua pria dewasa itu terasa sangat menyesakkan dada bagi siapa pun yang melihatnya di parkiran tersebut.
"Jadi ini caramu menghabiskan waktu di rumah sakit, Adrian? Dengan menggoda siswi sekolah menengah atas?" sindir Danu dengan tawa yang sangat mengejek.
"Jaga bicaramu Danu, saya hanya menjalankan tugas medis untuk mengobati luka di lutut adikmu yang ceroboh itu," bela Adrian sambil keluar dari mobilnya.
Adrian berdiri tegak menantang Danu yang kini mulai melangkah mendekat dengan aura permusuhan yang sangat kental dan sangat nyata. Lala yang berada di tengah tengah mereka merasa seperti sedang terjepit di antara dua gunung es yang siap untuk bertabrakan kapan saja. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa sangat malu sekaligus sangat khawatir akan nasib cintanya yang baru saja mekar tersebut.
"Lala, masuk ke mobil Kakak sekarang juga, jangan biarkan Dokter kulkas ini meracuni pikiranmu lebih jauh lagi!" bentak Danu tanpa mengalihkan pandangan dari Adrian.
"Aku tidak mau! Aku ingin Dokter Adrian yang mengantarkanku pulang!" teriak Lala yang secara tiba-tiba kembali mendapatkan keberanian ugal-ugalan miliknya.
Danu tersentak kaget mendengar teriakan adiknya dan segera menoleh dengan wajah yang penuh dengan rasa tidak percaya yang sangat mendalam. Ia melihat bagaimana Lala kini justru berlari kembali ke arah Adrian dan memeluk lengan jas putih sang dokter dengan sangat erat. Adrian sendiri tampak sangat bingung dengan aksi spontan Lala namun ia tidak melepaskan kaitan tangan gadis itu dari lengannya.
"Lepaskan dia Adrian, atau aku akan melaporkan ini kepada seluruh rekan sejawatmu tentang kelakuan bejatmu ini!" ancam Danu dengan tangan yang sudah mengepal sangat kuat.
"Silakan saja, saya punya rekam medis yang membuktikan bahwa adikmu masuk ke sini karena cedera saat membantu polisi," jawab Adrian dengan sangat tenang.
Pertarungan kata-kata di antara mereka berdua terus berlanjut hingga beberapa petugas keamanan rumah sakit mulai berdatangan karena mendengar keributan yang cukup gaduh. Lala terus saja menangis sambil tetap memeluk lengan Adrian seolah pria itu adalah satu-satunya pelabuhan aman baginya di tengah badai keluarga. Danu yang merasa semakin kehilangan kendali akhirnya memutuskan untuk menarik paksa kerah baju Adrian sebelum akhirnya dilerai oleh para petugas keamanan.
"Masalah ini belum selesai, aku akan memastikan Ayah tahu siapa pria yang sudah mencuci otak adikku!" teriak Danu sambil menyeret Lala pergi menuju mobilnya.
"Dokter Adrian! Tunggu aku! Aku akan tetap mencintaimu meski dunia melarang kita!" seru Lala dengan suara melengking yang menggema di seluruh area parkir.
Adrian berdiri mematung sambil menatap kepergian mobil Danu dengan perasaan yang benar benar hancur berkeping-keping dan tidak keruan. Ia menyadari bahwa rahasia masa lalunya dengan Danu kini akan menjadi tembok besar yang menghalangi hubungannya dengan sang gadis kompor. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar sambil meratapi nasibnya yang kini terlibat dalam drama keluarga yang sangat rumit dan penuh dengan konsekuensi.
Ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan menemukan sebuah pita rambut berwarna merah muda yang terjatuh di atas kursi yang tadi diduduki oleh Lala.
Baru saja ia hendak menyimpan pita itu, telepon genggamnya bergetar dan menampilkan sebuah pesan singkat dari ayah Lala yang memintanya datang ke kantor polisi untuk keperluan interogasi resmi malam ini juga.