Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enem welas (16)
Tengah malam di tanah hitam itu biasanya sesunyi kuburan, namun malam ini, sensor di kepala Han Jia berbunyi nyaring. Ia tersentak bangun dari dipan kayunya bukan karena mimpi buruk, tapi karena laporan data yang masuk ke penglihatannya.
"Profesor, bangun! Fase inkubasi telah mencapai titik jenuh. Benih Padi Baja sedang melakukan... emmm... pelepasan energi cahaya!" Hera berseru riang di dalam kepalanya.
Han Jia segera melompat turun, hampir saja menendang Feng Shura yang sedang tidur mendengkur di lantai beralaskan tikar. Ia berlari keluar gubuk tanpa alas kaki, dan seketika langkahnya terhenti.
"Luar biasa..." bisik Han Jia.
Di hadapannya, ladang yang tadinya gelap gulita kini dipenuhi bintik-bintik cahaya biru elektrik yang keluar dari dalam tanah.
Suara ting...
ting...
clink...
Terdengar halus namun konstan, seperti ribuan jarum perak yang sedang menembus permukaan tanah secara bersamaan.
Tunas-tunas Padi Baja itu muncul, memantulkan cahaya bulan dengan kilauan logam yang sangat indah.
"Identifikasi fenomena... bio-luminesensi... ah, bukan!" Han Jia memukul jidatnya sendiri. "Maksudku... lihatlah pertumbuhan padi yang sangat bercahaya ini! Hera, lihat laju transfer energinya!"
"Sangat stabil, Profesor. Tanahnya memberikan nutrisi mineral yang kuat sehingga batang padi ini mengandung... emmm... mengandung daya tahan setingkat baja karbon," balas Hera yang muncul di samping Han Jia, kali ini mengenakan gaun malam hologram yang ikut bercahaya biru.
"SIAPA?! ADA APA?! MUSUH DATANG?!"
Tiba-tiba, sebuah teriakan bariton memecah kesunyian. Feng Shura melompat keluar dari gubuk dengan pedang terhunus dan rambut yang masih berantakan. Matanya melotot menatap ladang yang kini berubah menjadi hamparan cahaya biru.
"Han Jia! Menyingkir dari sana! Tanahmu... tanahmu sedang terbakar api dingin!" Shura berteriak panik. Ia mengayunkan pedangnya ke udara kosong, bersiap menyerang cahaya-cahaya biru itu.
Han Jia menoleh dengan wajah datar. "Simpan pedangmu, Shura. Itu bukan api. Itu cuma padi yang sedang... emmm... sedang tumbuh dengan semangat."
"Semangat macam apa yang bisa membuat tanaman berbunyi seperti pedang beradu?!"
Shura mendekat dengan sangat hati-hati, kakinya gemetar. "Ini pasti sihir petir lagi. Kau tidak puas menyengatku kemarin? Sekarang kau mau memanggangku dengan padi-padi bercahaya ini?"
Han Jia menghela napas panjang, menatap Shura dengan tatapan kasihan. "Ini bukan petir, Spesimen Kuli. Ini adalah padi yang memiliki... emmm... memiliki kulit yang sangat keras. Cahaya itu berasal dari... eh... berasal dari saripati bumi yang meluap!"
Han Jia menggerutu dalam hati. 'Hera, tolong ingatkan aku untuk minum ramuan penambah sabar. Menjelaskan pelepasan foton akibat reaksi kimia pada tanaman logam ini tanpa bahasa ilmiah benar-benar menguras energi batinku!'
Shura akhirnya berjongkok di tepi ladang, menatap satu tunas yang paling dekat dengan kakinya. Tunas itu hanya setinggi sepuluh sentimeter, tapi warnanya perak murni dan mengeluarkan aura dingin yang menenangkan.
"Indah sekali..." gumam Shura pelan. Cahaya biru itu terpantul di matanya yang tajam, membuat wajah sang jenderal tampak lebih lembut di bawah sinar rembulan. "Aku belum pernah melihat yang seperti ini di seluruh kekaisaran. Kau... kau benar-benar menciptakan keajaiban di tanah mati ini."
Han Jia terdiam sejenak. Ia melihat profil samping Shura yang tampak terpana. Untuk pertama kalinya, Han Jia tidak ingin memarahi pria itu.
"Ini bukan keajaiban, Shura. Ini adalah... emmm... hasil dari cara menanam yang sangat teliti," Han Jia bicara dengan nada yang lebih pelan. "Jika kau memakannya nanti, kau tidak akan butuh baju besi lagi. Tubuhmu sendiri yang akan menjadi zirah."
Shura menoleh ke arah Han Jia. Di bawah cahaya biru yang magis itu, Han Jia yang biasanya ketus dan sibuk dengan botol-botol kimia tampak sangat... berbeda. Ia terlihat seperti seorang pencipta yang sedang bangga pada karyanya.
"Kau benar-benar bukan manusia biasa, Han Jia," bisik Shura tulus.
"Sudah kubilang, aku—"
"Profesor, maaf memutus momen estetik ini," suara Hera mendadak berubah menjadi nada waspada. "Deteksi panas terdeteksi dalam radius lima kilometer. Sekelompok pasukan berkuda sedang bergerak menuju koordinat ini. Sepertinya cahaya padi ini terlalu mencolok hingga bisa terlihat dari kejauhan."
Wajah Han Jia seketika berubah serius. "Shura! Berhenti menatap padi! Ada tamu tak diundang yang datang karena tertarik pada cahaya ini."
Shura langsung berdiri tegak, auranya berubah kembali menjadi jenderal perang yang haus darah. "Warga desa lagi?"
"Bukan. Mereka bergerak dengan formasi... emmm... formasi yang rapi dan cepat. Sepertinya mereka tentara atau tentara bayaran profesional," Han Jia menatap ke arah kegelapan hutan.
"Hera, siapkan modul pertahanan kedua. Sepertinya kita harus menunjukkan pada mereka bahwa ladang ini bukan cuma punya 'padi cantik', tapi juga punya 'kejutan pedas' yang mematikan."