NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur semakin ramai ,dan teman baru

Pagi itu, langit masih berwarna abu-abu muda ketika suara klakson mobil Bu Anita terdengar dari luar ruko. Kirana yang sedang menyisir rambut Gio sambil duduk di atas kasur lipat langsung menoleh.

“Wah, Tante Anita datang!” seru Gio, langsung melompat turun dan berlari ke pintu,walau sandalnya masih nyangkut di kaki kiri.

Kirana buru-buru menyusul, membetulkan kaos oblongnya yang agak melipat di pinggang. “Jangan buka sendiri, Sayang! Nanti jatuh!”

Tapi sudah telanjur. Pintu ruko terbuka dengan derit logam yang biasa, dan di sana berdiri Bu Anita—tapi kali ini tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang perempuan muda berambut cepak, mengenakan kaos bergambar kucing lucu dan celana jeans ketat. Tangannya penuh plastik belanjaan, dan senyumnya lebar banget kayak habis menang undian.

“Kirana, ini Siska,” kata Bu Anita sambil menyeret dua karung beras masuk. “Dia teman lama aku waktu SMA . Sekarang kerja freelance, tapi lagi cari pekerjaan sambilan. Aku cerita soal catering kamu, dia langsung bilang, ‘Aku mau bantu!’”

Siska meletakkan belanjaan di lantai, lalu mengulurkan tangan. “Hai! Aku dengar ayam goreng mentega kamu bikin karyawan kantor sampe rebutan. Bahkan Mas Joko,yang biasanya cuma makan salad,sampe minta nasi ekstra!”

Kirana tertawa kecil, agak malu-malu. “Ah, nggak segitunya juga…”

“Segitu, dong! Aku udah coba resepmu, lho. Tapi gagal total. Menteganya gosong, ayamnya keras kayak sandal jepit.” Siska menirukan ekspresi sedih, lalu tertawa terbahak-bahak.

Gio, yang tadinya diam-diam mengintip dari balik kaki ibunya tiba-tiba nyeletuk, “Tante bisa masak es krim nggak?”

Siska jongkok, matanya setingkat dengan Gio. “Kalau es krim coklat pakai topping stik es krim bekas, aku jago banget.”

Gio langsung bersorak, “Mama! Tante Siska boleh bantu!”

Kirana hanya geleng-geleng, tapi hatinya lega. Sejak pesanan mulai bertambah,hari ini saja sudah lima belas porsi, padahal kemarin baru sepuluh—ia merasa tenaganya hampir habis. Apalagi kalau gas habis lagi atau Gio rewel pas lagi tumis bumbu.

“Masuklah, Siska. Maaf ya, tempatnya sempit. Dapur di belakang, sebelah kamar mandi.”

“Nggak apa-apa,mbak ! Aku pernah masak di dapur ukuran kotak sepatu waktu ngekos dulu,” jawab Siska sambil membawa plastik-plastik itu ke belakang.

Bu Anita ikut masuk, melepas jaketnya. “Mulai hari ini, kita naik level. Pesanan naik jadi dua puluh porsi tiap hari, plus permintaan spesial dari divisi marketing—mereka mau menu mingguan. Jadi, kamu butuh bantuan tetap.”

Kirana tercengang. “Dua puluh? Tapi… aku belum punya peralatan lengkap. Kompor cuma satu, wajan juga cuma dua…”

“Tenang,” potong Bu Anita sambil mengeluarkan amplop dari tasnya. “Ini modal awal buat beli peralatan dasar. Wajan anti lengket, panci besar, spatula, sama satu kompor portable. Nanti kalau untung, kita upgrade ke dapur profesional.”

Siska langsung nyelonong ke depan kompor. “Oke, aku ambil alih bagian iris-iris dan cuci bahan. Kamu fokus ke racikan bumbu dan penggorengan. Kita kerja tim kayak duo superhero,Kirana si Ratu Bumbu, Siska si Ninja Iris!”

Gio langsung nyambung, “Aku jadi Kapten Es Krim!”

“Deal!” sahut Siska, lalu pura-pura salaman dengan Gio pakai tangan kiri sambil ketawa.

Proses memasak hari itu berjalan jauh lebih lancar. Siska ternyata jago banget ngatur waktu,dia bisa mencuci kangkung, mengupas bawang, dan nyiapin nasi dalam waktu bersamaan. Bahkan dia bawa bumbu rahasia sendiri: daun jeruk purut kering dan sedikit jahe parut untuk ayam goreng mentega versi “remix”.

“Ini biar aromanya lebih nendang,” katanya sambil mencemplungkan irisan jahe ke wajan.

Kirana mencicip. “Wah… enak banget! Kayak restoran Betawi asli!”

“Namanya Ayam Goreng Mentega Remix ala Siska,” ujar Siska sambil pose kayak selebgram.

Kirana dan siska tertawa bersamaan .Kirana merasa senang karena sekarang ia tidak hanya berdua saja dengan Gio ,tapi ada siska yang ternyata orangnya asik dan juga Senang bercanda .

Mereka berdua sibuk dengan tugas mereka masing -masing .

Di tengah kesibukan, Gio duduk di pojok dengan kertas bekas dan pensil warna, asyik menggambar “menu es krim impian”-nya. Sesekali dia nyelonong minta cicip, tapi kali ini Kirana nggak ragu kasih sedikit,soalnya porsinya sudah dihitung lebih.

“Nanti kalau aku sudah besar ,aku mau mama dan Tante." celetuk gio dengan logat anak kecil

Siska yang berada di sampingnya tersenyum “Oke, gaji kamu satu es krim per hari,” jawab Siska.

Siang itu, Bu Anita datang lagi,lebih awal dari biasanya untuk antar kotak makan baru yang lebih rapi dan ada logo kecil: (Dapur Kirana – Enaknya Bikin Nagih!)

“Logo ini ide Mbak Rina,” katanya sambil tersenyum. “Dia bilang branding itu penting, biar orang ingat.”

Kirana memandangi kotak itu, rasanya seperti mimpi. Baru seminggu lalu dia masih bingung mau bayar listrik atau beli susu Gio. Sekarang, namanya sudah ada di kotak makan orang.

Saat mereka sampai di kantor, suasana ruang makan langsung riuh.

“Wah, hari ini ada bonus daun jeruk! Wanginya beda!” seru salah satu karyawan perempuan.

“Ini ayamnya lebih empuk dari kemarin,” tambah yang lain.

Bahkan Mas Joko,yang disebut si diet karbo,kali ini ambil nasi setengah porsi, “Cuma buat coba bumbunya, ya. Jangan dikasih tahu istriku.”

Kirana dan Siska saling pandang, lalu tertawa kecil di pojok ruangan.

“Kita bakal jadi legenda kantoran,” bisik Siska.

Usai mengantar makanan, mereka kembali ke ruko. Tapi sore itu, ada kejutan lain.

“Ada kiriman buatmu,” kata Bu Anita sambil menyerahkan sebuah paket kecil.

Kirana membukanya—ternyata buku resep masakan tradisional Indonesia, lengkap dengan catatan tangan di margin: (Untuk Kirana, calon chef hebat. Jangan takut bereksperimen. )

Air matanya langsung menggenang. Ia teringat ibunya , Ibunya,beliau yang mengajarkan Kirana memasak untuk pertama kalinya .

“ Kenapa mama nangis,?” tanya Gio, mengusap pipi Kirana dengan punggung tangannya yang masih belepotan crayon.

Kirana peluk erat anaknya. “Nggak apa-apa, Sayang. Mama cuma… senang banget.”

Malam harinya, setelah Gio tertidur, Kirana dan Siska duduk di lantai dapur yang masih berantakan, minum teh hangat dari gelas plastik.

“Besok kita coba menu baru: soto ayam santan ringan, plus perkedel jagung,” usul Siska.

“Boleh! Tapi jangan lupa bikin versi pedasnya juga. Katanya karyawan cowok suka pedas,” balas Kirana.

“Siap, Kapten Bumbu!”

Mereka tertawa, lelah tapi penuh semangat.

Di luar, lampu jalan menyala redup. Tapi di dalam ruko kecil itu, dapur Kirana mulai bersinar,pelan-pelan, hangat, dan penuh harapan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana merasa: (Aku bisa.)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!