Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2- Aku yang Mengejar
Pagi itu, Alea terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya sempat menjerit. Bukan karena sambutan cahaya matahari, melainkan akibat rasa cemas yang meremas ulu hatinya, sebuah rasa sakit yang menyerupai cakar tajam yang enggan tanggal. Ritual pertamanya adalah meraih ponsel, sebuah bentuk penghancuran diri yang ia lakukan dengan sukarela. Layarnya kosong. Bersih. Pesan yang ia kirim semalam tak kunjung berbalas, dan kekosongan itu menjelma menjadi hantu yang jauh lebih bising daripada rentetan makian mana pun.
Ia menatap langit-langit kamar yang tampak kusam. Pikirannya melayang pada kilauan jam tangan perak di unggahan Han semalam. Alea ingat betul setiap tetes peluh yang ia tumpahkan, setiap jam lembur yang ia ambil di toko demi membawa pulang benda itu. Kini, jam tersebut melingkar di pergelangan Han yang tengah bersulang di restoran mewah, sementara pesan darinya dibiarkan membusuk di ruang obrolan yang membeku.
“Aku terlalu berisik,” gumamnya pada bantal yang terasa dingin. “Aku yang nggak bisa nahan diri, padahal dia cuma butuh ruang. Aku nggak boleh ngerusak ini cuma karena aku ketakutan sendiri.”
Alea bersiap berangkat dengan satu misi tunggal: menjadi sosok paling pengertian di dunia. Sepanjang perjalanan, ia mencoba mencuci otaknya sendiri. Ia menelan semua prasangka, membungkus rapi semua luka semalam dalam kotak hitam di sudut hati, dan menggantinya dengan senyum yang dipaksakan. Ia merasa seperti tengah menyusun kembali istana pasir yang baru saja diratakan, berharap jika ia membangunnya lebih rapi, kaki yang sama tidak akan tega menginjaknya lagi.
Di toko buku, Alea menenggelamkan diri dalam kesibukan. Ia menyikat mesin espresso hingga mengilap, menata barisan buku sampai ujung kertasnya sejajar sempurna hingga ke milimeter terakhir. Ia ngeri jika ia diam sebentar saja, pikirannya akan mulai berteriak. Namun, matanya tetaplah pengkhianat. Setiap beberapa menit sekali, pandangannya terjatuh pada layar ponsel di dekat mesin kasir, berharap ada satu kedipan lampu notifikasi yang bisa menyelamatkan harinya dari keruntuhan.
Jam dua siang. Kesabarannya habis terbakar oleh ketidakpastian yang memanggang dada. Dengan jempol yang kaku, ia mulai mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
“Siang, Han. Capeknya udah hilang? Aku tadi buat cookies kesukaan kamu, nanti agak sorean aku antar ke kantor, ya? Aku kangen.”
Dua kata terakhir itu adalah sebuah pertaruhan besar di atas meja yang rapuh. Ia berharap kata ‘kangen’ mampu memicu sisa-sisa kasih sayang yang mungkin masih tersisa. Namun, satu jam berlalu, hanya ada dua centang biru yang membisu. Dada Alea terasa makin sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang memeras paru-parunya. Ia mengetik lagi, merendahkan diri hingga ke titik paling bawah.
“Atau kalau kamu sibuk banget, aku titip di resepsionis aja? Aku nggak akan ganggu kamu rapat kok. Aku cuma mau kamu makan yang enak supaya pusingnya hilang.”
Ia menatap barisan kata itu sampai matanya perih. Alea merasa seperti pemulung yang mengais sampah di tengah hujan, berharap menemukan satu keping logam mulia di antara kotoran. Ia benar-benar mengabaikan harga dirinya yang perlahan meluncur jatuh, berceceran di atas lantai kayu toko yang dingin.
Di kepalanya, bayangan masa kecil kembali menghantui. Ia teringat ibunya yang selalu berdandan rapi setiap sore, menyiapkan hidangan kesukaan ayahnya meskipun sang ayah sering kali tidak pulang tanpa kabar. Ibunya akan duduk di meja makan sampai larut malam, menatap piring yang mendingin dengan harapan yang pelan-pelan padam. “Aku nggak akan berakhir kayak Ibu. Aku akan bikin dia pulang,” janjinya dalam hati dengan napas yang memburu.
Sore itu, saat aroma kafein bercampur dengan bau tanah yang basah, ponselnya bergetar panjang. Jantung Alea mencelos. Ia menyambar benda itu dengan harapan yang melambung setinggi langit.
“Nggak usah. Aku sibuk. Jangan ke kantor. Kamu bikin aku risih.”
Dunia Alea rasanya berhenti seketika. Kata ‘risih’ itu terasa lebih tajam daripada belati mana pun. Cuma itu? Setelah semua perhatian dan tenaga yang ia tawarkan secara cuma-cuma? Oksigen di sekitar Alea seolah lenyap. Ia merasa seperti baru saja ditampar di depan umum, padahal saat itu hanya ada Dinda di sana.
Rasa panik mulai mengambil alih logika. Ia merasa jika ia tidak mendengar suara laki-laki itu sekarang, hubungan ini akan benar-benar menguap menjadi abu. Dengan nekat, ia menekan tombol telepon.
Panggilan pertama dialihkan.
Panggilan kedua diangkat pada dering terakhir.
“Halo, Han... aku minta maaf kalau tadi pesan aku ganggu—“
“Al, bisa nggak sih sehari aja jangan jadi beban?”
Suara di seberang sana sangat dingin, seolah dilapisi es. “Aku lagi capek, kerjaan aku berantakan, dan kamu terus-terusan chat kayak orang nggak punya kehidupan lain!”
“Aku... aku cuma mau perhatian kamu bentar, Han. Aku cuma mau pastiin kamu oke—“
“Apa lagi sih?!” Han membentak, suaranya menggelegar menghantam gendang telinga Alea.
“Tuh kan, mulai lagi. Curigaan, posesif, nuntut hal-hal nggak penting. Ini alasan aku malas balas pesan kamu. Kamu bikin aku sesak, Al! Kamu itu racun buat pikiran aku kalau lagi kerja!”
Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Alea. Racun. Ia yang selama ini berusaha mati-matian menjadi obat, kini justru dituduh sebagai zat mematikan. Tangannya mulai bergetar hebat, ponsel yang ia pegang nyaris merosot karena seluruh tenaganya tiba-tiba luluh lantak.
“Maaf...”suara Alea mengecil, nyaris seperti bisikan anak kecil yang ketakutan. “Maaf kalau aku bikin kamu capek. Aku cuma takut kita makin jauh.”
“Ya kalau kamu begini terus, kita emang bakal selesai. Udah ya, jangan telepon lagi. Jangan cari aku dulu. Ngerti?”
Sambungan terputus. Alea masih menempelkan benda itu di telinganya yang panas, mendengarkan nada sibuk yang seolah sedang menertawakan kehancurannya. Di sudut toko, Dinda berdiri mematung. Tatapan sahabatnya itu bukan lagi sekadar kasihan, tapi kengerian melihat seseorang yang sedang memutilasi harga dirinya sendiri.
“Al...” Dinda mendekat pelan. “Lepasin handphone-nya, Al. Lihat tangan kamu, gemetaran sampai kayak gitu. Dia nggak layak buat kamu.”
Alea tidak menjawab. Ia segera menunduk, mencoba menyusun kembali botol-botol sirop di bar kopi. Suara denting kaca yang beradu terdengar nyaring, seperti suara hatinya yang sedang retak satu per satu dalam sunyi.
“Aku cuma mau benerin ini, Din,” bisik Alea akhirnya. “Aku tahu aku bisa. Kalau aja aku lebih sabar, dia nggak akan semarah itu.”
Dinda memegang kedua bahu Alea, memaksa gadis itu berhenti dari kesibukan kosongnya. “Al, sadar! Kamu nggak salah. Berhenti minta maaf buat kesalahan yang nggak kamu lakuin. Kamu aneh hari ini, Al. Kamu kayak orang yang nggak punya kendali atas diri sendiri.”
Alea menatap tangannya yang ada dalam genggaman Dinda. Jemarinya memang bergetar parah, seolah saraf-saraf di tubuhnya sedang protes atas beban mental yang sudah melampaui batas. Namun, bukannya merasa iba, Alea justru merasa jijik pada kelemahannya sendiri.
“Aku mirip Ibu ya, Din?” tanya Alea tiba-tiba dengan tatapan hampa.
Dinda mengerutkan kening, gerakannya terhenti sebentar. “Maksudnya?”
Alea menarik napas pendek yang gemetar. “Ibu yang selalu nunggu Ayah, padahal Ayah sengaja nggak mau pulang. Aku selalu benci lihat Ibu begitu dulu. Tapi sekarang…aku malah ngelakuin hal yang sama.”
Dinda terdiam, lalu menarik Alea ke dalam dekapan. Alea tidak membalas; ia hanya berdiri mematung. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis histeris. Ia hanya membiarkan bulir bening jatuh satu per satu, membasahi bahu Dinda tanpa suara.
“Kamu bukan ibu kamu, Al. Kamu punya pilihan buat berhenti,” bisik Dinda.
Namun, di balik semua kehinaan itu, Alea masih berbisik dalam batinnya yang keras kepala, “Besok aku akan coba lagi. Aku akan diam. Aku akan jadi perempuan yang dia mau, supaya dia balik lagi ke aku.”
Malam itu, Alea menutup toko dengan gerakan yang lemas. Ia berjalan menembus gerimis, memeluk tasnya erat-erat seolah sedang memeluk sisa-sisa harga diri yang masih tercecer di jalanan. Di tengah lampu jalan yang berpendar redup, ia menyadari satu hal: ia sedang mengejar bayangan seseorang yang sudah lama mematikan lampunya, meninggalkan Alea meraba-raba sendirian di tengah kegelapan yang kian menganga luas.