“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 16
Kilat senja jauh lebih hangat dari hari biasanya, semerbak harum tanah basah menguarkan wangi alami alam yang bersih. Di kursi kemudi, Rizal menjalankan mobilnya dengan pelan, sesekali ia menoleh ke kaca yang sengaja ia buka, menyapa beberapa warga yang sedang duduk bersantai di halaman rumah.
Senyum tipis melengkung dari bibirnya saat melihat dua buah nanas yang ia bawa dari bedeng—hasil dari merampok milik Yasir. Bayangan wajah berbinar Nadya dan bibirnya yang mengecap menari di pelupuk matanya.
Sesampainya dirumah, ia buru-buru turun dari mobil, menenteng nanas hasil rampasan, lalu masuk rumah masih dengan senyum yang mengembang.
“Assalamualaikum,” sapanya sebelum melewati pintu depan.
“Waalaikumsalam,” sahut Bu Harmi yang sedang sibuk didepan mesin jahitnya. “Bawa apa kamu, Zal?”
“Nanas, Nadya sama Adam di mana, Bu?” tanya Rizal.
“Di kamar, habis ngobrol sama Ibu tadi di sini, terus mau mandiin Adam katanya,” jawab Bu Harmi.
Rizal mengangguk mengerti, lalu berjalan menuju kamar sang putra. Melihat itu Bu Harmi berseru cepat.
“Mandi dulu, Zal, bisa di omeli Nadya kamu, baru pulang dari areal langsung ke kamar dia,” ujar wanita paruh itu, ada senyum tipis yang terselip di bibirnya saat melihat raut tidak sabar sang putra.
“Cuma mau ngasih tau kalo Rizal bawakan nanas, Bu. Dari kemarin Nadya pengen makan nanas hutan katanya,” sahut Rizal.
Laki-laki yang masih mengenakan pakaian khas mandor itu berdiri di depan pintu kamar, satu tangannya terulur—siap mengetuk pintu, namun gerakannya terhenti saat mendengar suara Nadya sedang menelpon seseorang. Panggilan yang di loudspeaker oleh gadis itu membuatnya bisa mendengar jelas apa yang sedang Nadya bicarakan.
Seketika, Estate manager sawit itu terperangah, bibirnya bergumam pelan. “Amara Nadya? Apa jangan-jangan Nadya anaknya Pak Ilyas?” lanjutnya.
Rizal berbalik badan, berjalan pelan menuju meja makan lalu meletakkan nanas yang dibawanya. Pundaknya merosot, senyum yang sedari mengembang hilang. Ia menyurai rambutnya kasar, seolah ingin menghilangkan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
‘Pantes saja dia selalu menolak uang perjanjian itu. Tapi, kalau benar Nadya anaknya Pak Ilyas, lalu untuk apa dia melakukan semua ini dan kenapa dia dikejar preman malam itu?’ batin Rizal meracau, galau.
Melihat perubahan raut Rizal, alis keriput Bu Harmi mengerut dalam, ia pun beranjak dari meja jahitnya, berjalan pelan menghampiri sang putra. “Kenapa tidak jadi di kasih ke Nadya, Zal?”
Rizal masih tertegun di meja makan, seolah tak mendengar suara sang ibu, sampai suara serak-serak basah Nadya yang keluar dari kamar menyadarkannya.
“Apa yang mau di kasihkan ke saya?” seru gadis itu.
“Rizal bawakan nanas itu, Nad. Katanya kamu kepengen. Tapi, tau itu tadi semangat kasih ke kamu, tiba-tiba bengong begitu,” jelas Bu Harmi.
Rizal menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya kasar—berusaha menghilangkan raut pias di wajahnya.
“Yasir tadi dapet waktu ngecek areal yang deket hutan,” timpal laki-laki itu.
Nadya mengambil satu nanas yang tergeletak di meja, menghirup aromanya dalam. “Widihhh, masih mengkel. Mantep betul ini kalo di pindang sama ikan baung,” serunya kemudian. “Ibu ada stok ikan apa di kulkas?” tanya Nadya kemudian.
“Ada patin sama gabus, rencana sore ini mau Ibu santan pedas,” sahut Bu Harmi.
“Ibu, boleh nggak Nadya yang masak sore ini, sekalian biar Ibu ngerasain masakan Nadya,” pinta gadis manis itu.
Bu Harmi yang sedang berada di dapur sambil mengeluarkan stok ikan yang di maksud menoleh cepat, dahinya mengernyit tipis. “Kamu bisa masak?”
“Bisa dong, enak tau Bu masakan Nadya.”
Ia kemudian menoleh ke arah Rizal, menoel kasar pundak laki-laki itu, mata sendu gadis manis itu menyipit saat melihat wajah pias bapak satu anak itu. “Kesambet kamu, Bang, kok pucet gitu mukanya?”
Rizal menunduk sekilas, lalu kembali mendongak sambil berdecak kasar. “Ck, kamu yang nyambet.”
“Dih … buru mandi sana, terus ajak main Adam. Saya mau masak,” titah Nadya.
“Emang kamu bisa masak?” tanya Rizal, sembari beranjak dari tempatnya.
Nadya mencebik kecil sambil meletakkan Adam ke ayunan rotan, berceloteh sebentar seolah sedang berbicara dengan Adam. “Papamu ngeremehin masakkan, Nad-nad. Awas aja ntar pas makan nambah-nambah.”
Rizal yang berdiri di belakang Nadya terkekeh pelan, tangannya terulur—ingin mengusap puncak kepala gadis itu, namun cepat-cepat ia tarik saat Nadya berbalik sambil menatap tajam dan mengepalkan tinju.
“Berani pegang Adam saya tonjok, ya. Mandi dulu sana!” hardik Nadya.
Rizal mengeraskan rahangnya, bibir bergumam pelan, tangannya yang sempat menggantung di udara, mengusap gemas puncak kepala Ibu susu anak semata wayangnya.
“Yang mau pegang Adam siapa?” ujarnya sambil berjalan meninggalkan Nadya yang melotot galak.
Wangi kuah pindang yang bercampur daun kemangi segar menguar dari dapur sederhana rumah Rizal, aroma sengak sambal mentah dengan tomat rampai dan terasi menggala, juga beberapa lembar daun jambu mete muda, mentimun dan daun kemangi sebagai lalapan, menjadi pelengkap menu malam itu.
Rizal dan Bu Harmi baru saja menyelesaikan kewajiban mereka—sholat maghrib dan membaca yasin saat Nadya sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka.
Yessy yang biasanya akan pulang saat maghrib menjelang, turut ditahan oleh Nadya untuk makan bersama mereka.
“Wah, Ayuk Nadya ternyata bener-bener jago masak. Banghik betul ini, Yuk,” ucap Yessy, sambil menyesap sisa kuah pindang di panci yang akan ia cuci. “Baru tau aku kalo pindang pake nanas seger begini,” lanjut gadis remaja itu. (Banghik\=enak)
“Anaaah, kamu orang Sumatera pula, Yes, masak nggak tau?” sahut Nadya.
“Bukan nggak tau, tapi nggak pernah masak,” timpal Bu Harmi, “Ayo kita makan, Ibu udah nggak sabar, dari tadi ngaji sampe nggak konsentrasi gara-gara nyium wangi sambel terasi sama kemangi,” imbuh wanita paruh baya itu.
“Saya makan di rumah ajalah, Yuk. Kasian Emak nanti nunggu-nunggu,” ucap Yessy, seraya berpamitan.
“Makan dulu baru pulang, Yes,” sela Nadya.
“Makasih, Yuk, saya bawa pulang aja jatah saya, mau makan bareng sama emak,” sahut Yessy.
“Malam minggu, Nad. Udah janjian sama Yasir itu pasti,” ledek Rizal yang sudah bersiap di meja makan.
“Apaan sih, Bang Rizal ini,” kilah Yessy sambil tersenyum malu-malu. “Ya dah, Yessy pamit pulang dulu, Bu, Ayuk Abang, Assalamualaikum.” seru Yessy sambil buru-buru berlari keluar rumah.
“Waalaikumsalam.” sahut ketiganya hampir bersamaan.
Setelah kepergian Yessy, rumah sederhana itu sedikit lengang, hanya denting sendok beradu piring keramik mengisi ruang makan dengan penerangan lampu emergency dan lilin, sudah seperti rutinitas, menjelang atau selepas maghrib pemadaman lampu selalu terjadi di desa itu.
Namun, suasana remang dan sedikit panas, tidak mengurangi kehangatan dan kenikmatan yang tercipta di meja makan. Terhitung, sudah tiga kali Rizal menambahkan nasi dan kuah pindang di piringnya, begitupun Bu Harmi. Wanita paruh baya itu tak berhenti-berhenti menyesap kuah pindang di mangkoknya hingga tandas tak bersisa.
Senyum kecil mereka di wajah manis Nadya yang sudah lebih dulu menyelesaikan makannya, ia menunduk sebentar sambil menimang Adam yang rewel karena kepanasan.
“Gitu tadi Papamu meragukan masakan Nad-nad, ya, Ndut sekarang nambah-nambah,” celetuknya kemudian, membuat Rizal yang masih asik dengan kuah pindangnya nyaris tersedak.
“Seger betul ini, Nad, Ibu sampe nggak bisa berhenti nguyup kuah pindangnya,” sahut Bu Harmi.
Rizal meneguk kuah terakhir di mangkoknya, sesaat kemudian napas panjang berembus dari bibirnya. “Ahhh … nikmat mana lagi yang kau dustakan,” selorohnya, diiringi senyum kecil di sudut bibirnya—tanda betapa nikmatnya masakan Nadya.
“Mantap, Bang,” goda Nadya.
“Setiap hari kamu masakin begini betah Abang, Nad. Mulai besok kamu aja yang masak, enakkan masakan kamu sama punya Ibu,” imbuh laki-laki itu seraya melirik sang Ibu yang duduk di sebelahnya.
“Wani piro?” balas Nadya.
Mendengar candaan sang putra dengan Nadya, senyum hangat terbit di wajah senja Bu Harmi, tatapannya penuh binar disertai rasa syukur yang membuncah dalam hatinya.
Sementara itu di teras samping, Hasna menggenggam erat rantang yang dibawanya, senyum di wajah gadis itu perlahan memudar saat melihat pemandangan yang terpantul di kaca jendela. Tatapannya terpaku sejenak, lalu berpaling seolah ada yang menghantam dadanya, sesak.
‘Kemarin Sukma, sekarang Nadya. Apa memang ini ujian untuk cinta kita, Bang,’ batinnya sebelum melangkah pergi.
Bersambung.
Semangat 🔥