SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Pencarian Andina
Sesuai instruksi dari Rizki, Arya, Appa dan tentunya Rizki datang ke salah satu rumah makan di pinggir jalan.
"Kamu yakin tadi Andina kesini?" tanya Appa serius pada Rizki. Mereka sedang berdiri di depan rumah makan itu, sedangkan Arya memperhatikan setiap bangunan di sekitar berharap ada cctv yang bisa membantu mereka.
"Yakin Kek, kata ibu-ibu yang metik daun teh mama berjalan ke arah sini sama perempuan, terus aku tanya ke pelayan disini katanya tadi emang ada yang pingsan dan ciri-cirinya seperti mama Andina."
"Kalau gitu kita tanya pemilik toko sembako yang di sebrang jalan, ada cctv mengarah kesini dan kemungkinan merekam orang-orang disekitarnya lalu kita tanya langsung ke pemilik warung makan juga," kata Arya mengusulkan.
Appa mengangguk setuju namun sebelum itu dia menahan Arya. "Ar, kamu periksa cctv di sana dan Appa bertanya di sini biar cepat prosesnya."
"Baik Appa."
"Aku ikut papa Arya, boleh?"
"Ayo." Arya dan Rizki ke toko depan sedangkan Appa masuk ke rumah makan.
Setibanya di dalam toko sembako, "permisi koh, saya boleh lihat cctv di depan toko koh?"
"Hayah, ada perlu apa ya?"
Lalu Arya menceritakan kronologisnya dan koh pemilik toko sembako mengangguk paham.
"Oalah, rupanya sedang cari informasi toh. Mari masuk."
Arya dan Rizki mengangguk mengikutinya ke dalam toko, keduanya berdiri di belakang koh Ahong yang sedang membuka laptop yang terhubung sama cctv-nya.
"Kejadiannya jam berapa?"
"Coba di sekitar jam satu siang, Koh." Arya yang menjawab.
Tangan pria tua itu bergerak memutar waktu ke beberapa jam sebelumnya.
"Koh berhenti, itu mamaku." Rizki bersuara setelah melihat orang yang masuk ke dalam mobil di jam setengah 2 siang.
Arya memperhatikannya Deng teliti, hampar saja dia tidak mengenali pria yang keluar dari dalam warung makan karena terhalang kendaraan lain.
Dari dalam cctv terlihat Andina pingsan tak sadarkan diri di gendong oleh pria, menyadari hal itu kedua tangan Arya mengepal kuat.
"Iya, ini mama Andina dan orang yang membawanya orang jahat. Ya Allah, mama di culik," ucap Rizki panik.
"Koh makasih sudah mengizinkan kami melihat cctv-nya." Arya berterima kasih banyak karena atas bantuannya bisa menemukan titik terang.
"Hayah, sama lah, semoga istri you segera ditemukan."
Dan sekarang Arya sudah berada di depan warung makan lagi menunggu papanya keluar. Tak berselang lama Appa Huda muncul sambil menggenggam ponselnya.
"Appa bagaimana?" tanya Arya panik.
"Kamu lihat sendiri." Appa pun memberikan rekaman cctv yang berhasil dia minta dari pemilik warung, untungnya orang itu berbaik hati memberikannya.
Arya dan Rizki menonton serius putaran cctv di ponselnya Appa, lagi-lagi Arya mengepalkan tangannya marah mengetahui dalang dibalik semua ini adalah Galuh.
"Mereka merencanakan ini sama mama, Papa Arya. Orang itu benar-benar jahat, tolong bantu mama Iki, Pah. Iki tidak mau mama kembali sama orang itu, mama udah cukup menderita," lirih Rizki memohon penuh air mata di hadapannya Arya.
Anak seusianya harus menjalani kehidupan tak baik-baik saja, ia juga menjadi salah satu saksi bagaimana hidup kakaknya yang terbilang tidak beruntung dalam hal apapun.
Rizki menangis sesenggukan takut kehilangan orang yang dia sayang, bagi dia hanya kakaknya yang dia punya di dunia ini, meski masih ada bapaknya, nyatanya bapaknya tidak menginginkan keduanya.
"Tolonglah," lirih Rizki putus asa.
Arya meraih tubuh anak itu, mendekap erat dengan mata berkaca-kaca. "Saya janji akan menemukannya dan saja janji tidak akan membiarkan mereka mengganggu kalian lagi."
Appa mengangguk setuju sambil mengusap lembut kepala Rizki. "Cepat cari Andina sebelum dia membawanya jauh!"
Deg.
Cepat-cepat Arya merogoh saku celananya mengambil ponselnya, menghubungi seseorang masih sambil memeluk Rizki.
"Halo, Raka. Gue butuh bantuan lo."
********
Kantor Barak.
Pria bernama Raka Bagaskara pemilik toko Barak koleksi, kini tengah duduk di kursi kebesarannya sebagai pemilik toko yang menjual berbagai macam sendal, sepatu, tas, baju, mainan anak-anak, bahkan aneka aksesoris."
Tokonya sudah banyak di berbagai kota dan koneksi pertemanannya pun tidak diragukan lagi. Selain dia yang dulu suka berkeliling kota mencari keberadaan adiknya, cerita adiknya ada di judul JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA, Raka juga mendapatkan teman-teman yang tidak biasa.
Ponselnya berdering, nama Arya tertera di layar ponselnya.
"Ya halo."
"Halo Raka, gue butuh bantuan elo."
"Soal?" Raka belum tahu permasalahannya jadi dia tidak mengerti.
"Gue butuh seseorang untuk menutup akses pria bernama IHSANUL FAHMI agar tidak bisa keluar dari kota B. Dia kabur menculik Andina."
"Andina di culik?" Raka berdiri kaget.
"Raka, please, waktunya gak banyak."
"Ok, gue bantu." Sambungan mereka terputus dan Raka segera menghubungi Abimana, salah satu polisi teman dekatnya.
"Bi, gue butuh bantuan." Dia pun menjelaskan akar masalahnya pada Abimana.
Pria di sebrang telpon mengangguk paham dan setelah selesai berbincang sama Raka, dia juga menggunakan koneksinya agar mobil yang membawa Andina tidak bisa keluar dari kota sana.
********
Di perjalanan, Isan tersenyum melirik ke sampingnya, Andina masih terlelap tak sadarkan diri. Lebih tepatnya minuman yang Andina minum tercampur obat tidur dalam dosis cukup tinggi sehingga membuatnya lama tak sadarkan diri.
"Akhirnya aku bisa membawamu kembali, Din. Maaf jika dulu aku melepaskan mu tapi kali ini aku tidak akan lagi melepaskan mu karena kamu satu-satunya perempuan yang bisa mengandung anakku."
Bisa di bilang Isan egois ingin memiliki anak dari Andina tapi dia mencintai wanita lain yang sekarang tidak bisa hamil, sementara keluarganya menginginkan anak.
"Isan, aku tidak bisa memberimu anak sebab rahimku sudah tidak ada. Kamu bisa mencari wanita lain."
"Kenapa mesti repot-repot mencari wanita lain? Cari saja istri pertama kamu yang belum kamu ceraikan sampai sekarang juga. Kamu hamili aja dia terus setelahnya anak itu bisa kalian urus bareng-bareng dan kamu bisa ceraikan Andina secara sah. Barulah kalian menikah sah, gampang kan?"
Itu percakapan terakhir Isan dengan ibu dan istrinya sebelum dia mencari Andina kembali. Niat hati tidak ingin mendaftarkan perceraian karena Isan ingin membuat Andina kesulitan menikah lagi setelah Andina kabur darinya.
Pernikahan mereka terjadi bukan atas dasar suka sama suka, tapi atas pembayaran utang keluarga Andina pada keluarganya. Maka Andina dijadikan alat bayar utang oleh keluarganya sendiri.
Mobil Isan tiba-tiba di hadang oleh polisi jalan, dia menemui tanpa curiga apapun. Dia menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa pak?"
"Boleh saya lihat surat-suratnya?" polisi itu menatap Isan lalu beralih menatap Andina yang ada di samping Isan.
"Iya." Di saat Isan mengambil surat kendaraannya, polisi itu mengangguk ke beberapa temannya.
Grep.
"CEPAT KELUAR!"
Tiba-tiba tangannya di cekal membuat Isan terkejut. "Apa-apaan ini?"
"Anda kami tahan atas kasus penculikan Andina Syifa."
"Apa?!"