Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.5—Putri si pak tua
Rahmat mempertimbangkan. Waktu terlalu mepet untuk menolak. Orang ini memang aneh, terlihat mencurigakan, tapi dari analisis nilai sistem ia bisa melihat, dia bukan jahat.
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan ke mobil hitam yang terparkir di samping ruko.
Saat pintu belakang hendak dibuka—
Seorang gadi keluar dari rumah di samping ruko itu, melalui pagar, ia terlihat sudah menunggu lama. Itu adalah sebuah rumah yang sangat mewah dan megah, terlihat sangat jelas kalau pemiliknya orang kaya
“Papa, lama banget sih—”
Suara perempuan itu terhenti.
Rahmat menoleh.
Gadis itu membeku.
Mata mereka bertemu.
Ia langsung mengenalinya.
Rambut panjang yang semalam terurai saat ia berlari.
Wajah yang panik di bawah lampu gang.
Itu dia, gadis yang tasnya dijambret kemarin, beberapa detik terasa panjang.
“Kamu… Rahmat, kan?” suaranya pelan, namun jelas.
Rahmat memiringkan kepala, seolah berpikir keras. “Iya, kamu siapa ya?”
Nada suaranya datar. Nyaris tanpa emosi.
Gadis itu terpaku. Siapa? Ha? Bahkan ada pria yang tida kenal dirinya di sekolah!? Seorang primordia seperti dirinya, seorang gadis lugu, ramah, dan populer ada yang tidak kenal dengannya! Ini agak membuat harga diri gadis itu tercoreng.
Seharusnya banyak pria yang akan senang ketika bertemu dengannya, tapi dia malah terlihat bodo amat dengan tampang dinginnya.
Meski kesal, tapi ini membuat gadis itu makin tertarik.
“Kamu serius enggak kenal aku, rahmat!?”
Wajahnya memang familiar, tapi rahmat tipe orang yang susah hafal wajah orang jadi jawabannya sederhana.
“Engga.”
Gadis itu menundukkan kepala tampak suram.
Pria tua itu memandang mereka bergantian. “Kalian saling kenal?”
“Dia teman sekolahku, pa, tapi jahat banget dia lupa sama aku! Dia juga cowok keren yang kuceritakan nyelamatin—-” gadis itu merona langsung berdehem menghentikan percakapan barusan.
“Cowok yang apa?” Tanya bapak itu.
“Nggak lupain!”
Sementara Rahmat mula merasa kurang ajar jika bilang tidak kenal terus, gadis itu jelas kenal dirinya, tapi dia bilang nggak kenal serasa nggak enak.
Maka rahmat menggunakan kemampuan sistemnya untuk melihat bio si gadis….
Kalau terus pura-pura tidak kenal, suasana malah makin aneh.
Ia mengaktifkan sistem.
Layar transparan tipis muncul di sudut pandangnya, tepat mengarah pada gadis itu.
[Ding.]
[Analisis Target Dimulai…]
Beberapa baris data mulai tersusun.
Nama: Alya Pramudita
Usia: 16 Tahun
Status: Siswi SMA Kelas XI IPA 1
Reputasi Sekolah: Populer – Akademik & Nonakademik
Latar Belakang: Putri Pemilik KolektorPremium.id
Nilai Kepribadian: 8.7/10
Tingkat Kepercayaan Diri: Tinggi
Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 62% (Meningkat)
Tingkat kecocokan dengan Host : TINGGI
Rahmat berkedip pelan. Tingkat ketertarikan? Enam puluh dua persen? Dan tingkat kecocokan pula? sistem memberikan info yang sangat tidak berguna. Lagian itu, Itu cepat sekali.
Sistem melanjutkan.
[Catatan Tambahan:]
– Target memiliki rasa penasaran tinggi terhadap Host.
– Interaksi semalam meningkatkan impresi positif secara signifikan.
– Rekomendasi: Jaga jarak secukupnya untuk meningkatkan value persepsi.
Rahmat hampir tertawa kecil. Value persepsi? Apaan pulai itu? Sistem ini benar-benar memperlakukan hubungan sosial seperti grafik saham.
Ia mematikan tampilan.
Alya masih menatapnya dengan ekspresi campuran antara kesal dan malu.
“Jadi… kamu beneran nggak ingat?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Rahmat menggaruk pelipis.
“Semalam di gang belakang blok M” katanya singkat. “Tas kamu dijambret”
Mata Alya langsung membesar. “Jadi kamu ingat!”
Rahmat mengangkat bahu. “Cuma itu … ah, sekarang aku ingat! Kamu Alya yang itu. Iya yang itu! Pokoknya yang itu! Si bocah dari kelas ipa! Iya yang itu!”
[Hahaha, apa maksud tuan dengan yang itu!]
[Kalau gini tingkat ketertarikan langsung anjlok!]
Berisik aku gak biasa sama cewe
Wajah Alya memerah lagi. Ia memalingkan wajah. “Yang itu apa?! Ingat baik-baik kek.”
ia senang paling tidak diingat.
[Ding!]
[Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 68% (Meningkat)]
[Lah malah meningkat!]
Bahkan sistem ikut terkejut, Rahmat makin terkejut.
'Gadis ini gampang banget, ya.’
Ayahnya yang berdiri di samping mobil menyipitkan mata. “Semalam?” tanyanya pelan. “Oh, jadi dia itu bocah keren yang kamu ceritakan kemarin!”
Alya panik. “Papa nggak usah bahas itu!”
Pria tua itu menatap Rahmat beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Tatapan mengukur.
Bukan sekadar ayah protektif.
Tapi seperti seorang kolektor… yang sedang menilai sesuatu yang lebih berharga dari barang antik.
Mata itu adalah mata menilai.
“Menarik,” gumamnya pelan. “Aku suka pemuda sepertimu.”
Rahmat pura-pura tidak mendengar. Apa bahkan pak tua ini gay
*
Mereka masuk ke mobil.
Rahmat duduk di kursi belakang. Alya di sampingnya.
Suasana canggung beberapa detik.
Lalu Alya berbisik pelan, “Kenapa kamu nggak bilang aja semalam itu kamu?”
Rahmat menjawab tanpa menoleh, “ah, aku cuma lakuin hal semestinya. Lagian gak penting banget.”
Jawaban itu justru membuat Alya semakin terdiam.
Di kepalanya, Rahmat bukan cuma anak biasa lagi.
Bukan cuma cowok pendiam kelas belakang.
Tapi seseorang yang menolong tanpa cari pengakuan.
Dan itu… jauh lebih berbahaya dari sekadar populer.
Sistem kembali berbunyi.
[Ding.]
[Perubahan Status Relasi]
Alya Pramudita → Interest Level: 71%
[Efek Pasif Aktif: Daya Tarik Misterius +1]
Hahaha, daya tarik misterius itu bahkan apa?! Dia punya efek pasif aneh lainnya.
Rahmat menghela napas tipis. Kenapa malah berubah genre menjadi romance, sungguh ia tidak terbiasa dengan situasi ini.
Ia sejak kecil sudah bekerja membanting tulang, mulai dari nguli, jadi kacung, kerja serabutan dan sekarang menemukan yang lebih layak sebagai part time kasir.
Ia tidak pernah punya waktu untuk melakukan hal seperti itu.
Jadi ia mulai terasa seperti jalur yang tidak direncanakan.
Di depan, sekolah sudah terlihat.
Gerbang hampir ditutup.
Pria tua itu tersenyum samar.
“Kita lanjut ngobrol nanti, Rahmat,” katanya tenang. “Saya rasa… kamu anak yang menarik.”
Nada suaranya tidak terdengar bercanda.
Rahmat menangkap satu hal dari kalimat itu.