NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Janji yang Terlupa Menceritakan

Langit Surabaya sore itu berubah pekat dalam hitungan menit. Angin kencang menerjang pepohonan di pinggir jalan, disusul suara guntur yang menggelegar sebelum akhirnya hujan tumpah dengan derasnya. Di dalam kantor kejaksaan, Dinara baru saja merapikan tumpukan berkas dakwaan. Ia melirik jam tangan; pukul lima lewat sepuluh menit.

Ia segera merogoh ponsel di saku seragam cokelatnya. Sebuah pesan singkat sudah ia kirimkan sejak siang tadi.

Mas, nanti jemput jam lima ya? Motor kantorku lagi masuk bengkel. Kita mampir beli lauk sekalian.

Pesan itu berstatus terkirim, namun belum terbaca. Dinara menghela napas. Ia berdiri di teras lobi kantor yang mulai tempias oleh air hujan. Dingin mulai merayap masuk ke balik kemejanya. Ia melihat rekan-rekan kantornya satu per satu pulang, ada yang menerjang hujan dengan jas hujan, ada pula yang dijemput pasangan masing-masing.

"Belum dijemput, Din?" tanya seorang staf senior sambil membuka payung.

"Belum, Pak. Mungkin Mas Dimas terjebak macet. Jalur ke sini kalau hujan memang parah," jawab Dinara dengan senyum yang dipaksakan.

Satu jam berlalu. Pukul enam sore. Adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid di seberang kantor. Dinara mencoba menelepon, namun panggilannya dialihkan. Hatinya mulai dipenuhi rasa gelisah yang bercampur dengan kekesalan. Ia akhirnya memutuskan untuk shalat Maghrib di mushola kantor, berharap saat ia selesai, SUV hitam suaminya sudah terparkir di depan.

Namun, hingga pukul tujuh malam, lobi kantor tetap kosong. Hanya ada suara hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sementara itu, di Dina Coffee, suasana tak kalah riuh. Bukan karena pengunjung, melainkan karena perdebatan sengit antara Dimas dan seorang supplier biji kopi baru yang datang mendadak.

"Lho, Mas, ini pesanan saya Arabica Java Preanger, kenapa yang datang malah campuran begini? Gak iso ngene, Cak (Nggak bisa begini, Mas). Pelanggan saya ini cerewet soal rasa," protes Dimas sambil menunjuk karung-karung di lantai gudang.

"Waduh, Mas Dimas, stoknya memang lagi kosong dari pusat. Ini kualitasnya hampir sama, kok," kilah si supplier.

Dimas memijat pelipisnya. Masalah stok ini krusial. Jika ia menerima barang berkualitas rendah, reputasi kafenya taruhannya. Ia sibuk mengecek nota, membandingkan sampel, dan bernegosiasi alot soal harga retur hingga lupa waktu. Ponselnya ia letakkan di meja kasir, tertutup tumpukan struk belanja yang berantakan.

"Nggih pun, besok pagi harus sudah ada barang penggantinya. Kalau nggak, saya cari supplier lain," tegas Dimas akhirnya.

Setelah supplier itu pergi, Dimas mengusap wajahnya yang lelah. Ia berjalan menuju meja kasir, bermaksud merapikan struk ketika matanya menangkap layar ponsel yang berkedip. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan dari Dinara.

Seketika, jantung Dimas terasa berhenti berdetak. Ia melihat jam di dinding kafe. Pukul setengah delapan malam.

"Ya Allah! Lali aku! (Lupa aku!)" seru Dimas panik. Ia menyambar kunci mobilnya tanpa sempat berpamitan pada pegawainya.

SUV hitam itu dipacu membelah genangan air di jalanan. Dimas berkali-kali memukul kemudi, merutuki keteledorannya. Ia tahu betapa kaku dan disiplinnya Dinara soal waktu. Apalagi dalam kondisi hujan badai seperti ini.

Dinara berdiri di pojok lobi yang sepi. Ia sudah menyerah. Ia memesan ojek daring sejak tiga puluh menit lalu, namun tak ada satu pun pengemudi yang menerima pesanannya karena cuaca buruk dan banjir di beberapa titik. Akhirnya, sebuah mobil SUV hitam masuk ke halaman kantor dengan terburu-buru.

Dimas turun dari mobil, berlari menembus hujan tanpa payung hingga bajunya basah kuyup.

"Sayang! Ya Allah, maaf... Mas bener-bener minta maaf," ujar Dimas terengah-engah saat sampai di hadapan Dinara.

Dinara hanya menatap suaminya dengan tatapan dingin. Ia tidak marah-marah, tidak juga berteriak. Ia hanya diam, namun diamnya terasa lebih menyakitkan daripada makian. Ia langsung berjalan menuju mobil tanpa menunggu penjelasan Dimas.

Di dalam mobil, kesunyian terasa begitu pekat. Hanya ada suara wiper yang bergerak cepat menyapu kaca depan. Dimas melirik Dinara yang duduk bersedekap, matanya menatap lurus ke arah jalanan yang gelap.

"Dek, tadi itu supplier kopi datang mendadak. Barangnya bermasalah, Mas harus beresin dhisik biar kafe nggak rugi. Mas beneran nggak lihat hp, tadi ketutup kertas," Dimas mencoba memulai penjelasan.

"Dua jam, Mas," sahut Dinara pelan namun tajam. "Aku nunggu dua jam di kantor yang sudah sepi. Aku telepon nggak diangkat. Mas tahu aku paling nggak suka orang nggak tepat janji."

"Mas tahu, Sayang. Mas salah. Sepurane sing akeh (Maaf yang sebesar-besarnya). Tadi itu Mas benar-benar panik urusan gudang."

Dinara menoleh, matanya berkaca-kaca karena rasa lelah dan kecewa yang memuncak. "Urusan gudang? Mas selalu bilang Dina Coffee itu buat aku, tapi rasanya kafe itu sekarang malah jadi penghalang antara kita. Mas lebih menghargai waktu supplier itu daripada waktu istri sendiri?"

"Nggak gitu, Dek. Kamu tahu sendiri kan Mas lagi berjuang buat kafe ini?"

"Berjuang bukan berarti boleh mengabaikan, Mas. Aku di kantor juga berjuang, tapi aku tetap sempatkan kasih kabar. Kalau Mas memang nggak bisa jemput, bilang. Jangan biarkan aku nunggu kayak orang ilang di kantor sendiri," suara Dinara mulai bergetar.

Dimas terdiam. Ia ingin membela diri lagi, tapi ia sadar posisi Dinara benar. Ia telah meremehkan janji kecil yang bagi seorang istri adalah bentuk perlindungan.

Sesampainya di apartemen, Dinara langsung masuk ke kamar dan menutup pintu dengan cukup keras. Dimas berdiri di ruang tengah, bajunya yang basah mulai membuat lantai apartemen becek. Ia merasa sangat bodoh. Keuntungan dari negosiasi supplier tadi terasa tidak ada harganya dibandingkan tatapan kecewa Dinara.

Setelah berganti baju kering dan menunaikan shalat Isya yang terlambat, Dimas mengetuk pintu kamar pelan. Ia membawa segelas susu cokelat hangat, berharap bisa mencairkan suasana.

"Dek... minum dulu dhisik," bisik Dimas.

Dinara sedang duduk di tepi ranjang, sudah melepas hijabnya, menatap ke jendela yang masih dibasahi hujan. Ia tidak menoleh.

Dimas duduk di lantai, di samping kaki Dinara, posisi yang selalu ia gunakan saat ingin meminta maaf dengan tulus. "Mas janji, besok-besok nggak bakal terulang lagi. Mas bakal pasang alarm khusus kalau ada janji sama kamu. Tolong jangan diam terus, Mas lebih mending kamu marahi daripada didiamkan begini."

Dinara menghela napas panjang, ia menatap suaminya. "Mas, aku nggak butuh kemewahan dari kafe itu kalau harganya adalah rasa aman aku. Aku cuma mau ngerasa kalau aku masih jadi prioritas Mas. Bukan cuma sekadar nama yang ditempel di depan toko."

Dimas meraih tangan Dinara, menciumnya lama. "Kamu selalu jadi yang utama, Dek. Selalu. Mas cuma lagi terlalu berambisi sampai lupa pijakan Mas sendiri. Maafin suamimu yang kurang teliti ini, nggih?"

Dinara menarik napas dalam, mencoba membuang sisa kekesalannya. Melihat wajah lelah Dimas dan rambutnya yang masih agak basah, hatinya yang keras perlahan melunak. "Nggih, Mas. Tapi kalau sekali lagi Mas lupa jemput pas hujan... Mas tidur di kafe saja sama karung-karung kopi itu."

Dimas nyengir, rasa lega membanjiri dadanya. "Waduh, jangan ta, Dek. Karung kopi itu keras, nggak empuk kayak pelukanmu."

"Mas! Masih bisa bercanda ya!" Dinara mencubit lengan Dimas, namun kali ini ada senyum tipis yang muncul.

Malam itu, hujan di Surabaya mulai mereda, menyisakan hawa sejuk yang menenangkan. Meski konflik hari ini terlewati, mereka berdua sadar bahwa manajemen waktu bukan hanya soal produktivitas kerja, melainkan soal cara mereka saling menghargai keberadaan satu sama lain di tengah bisingnya kesibukan dunia.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!