Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian dari Keluarga
Hari berikutnya, rumah itu terasa seperti menahan napas.
Maëlle masih tidak bangun. Pintu ruang praktik masih tertutup rapat. Bunyi monitor masih terdengar sesekali seperti detak jantung kedua rumah ini—bukan detak yang menenangkan, melainkan pengingat bahwa waktu tetap bergerak meski seseorang terbaring diam.
Fred tidak bisa diam.
Ia mengejar Mercer di ruang tamu begitu Mercer keluar dari ruang praktik dengan wajah letih dan tangan yang masih berbau antiseptik. Mercer baru sempat meletakkan cangkirnya ketika Fred sudah berdiri di depannya seperti tembok kecil.
“Kamu bilang nanti,” kata Fred, suaranya tegang. “Sekarang. Aku mau tahu. Siapa kamu sebenarnya. Kenapa kamu punya semua ini. Kenapa Maëlle sampai segila itu melindungiku.”
Mercer menatap Fred lama, seolah menilai apakah Fred cukup dewasa untuk menerima kebenaran yang tidak bisa ditarik kembali. Lalu Mercer menghela napas—napas orang yang menyerah pada pertanyaan yang memang harus dijawab.
“Maëlle berpesan sebelumnya,” kata Mercer pelan. “Kalau sesuatu terjadi padanya… aku harus jelaskan semuanya padamu.”
Fred menelan ludah.
Mercer melanjutkan, suaranya datar tapi jujur, seperti orang membacakan kronologi.
“Dia bilang: kamu sudah tidak punya tempat. Takdirmu mempertemukanmu dengannya. Dan setelah semua yang terjadi… kamu bagian dari keluarga kami.”
Kata keluarga membuat dada Fred nyeri, tapi juga membuatnya kosong. Ia tidak tahu apakah ia boleh percaya pada kata itu setelah melihat begitu banyak kematian.
Atau karena memang dirinya sudah tidak punya tujuan dan tidak bisa berkeliaran di jalanan karena kematian menantikan dirinya di setiap sudut.
“Kami juga punya datamu,” lanjut Mercer. “Bukan untuk mengancam. Untuk melindungi. Itu sebabnya Maëlle memperlihatkan rahasia ruang bawah tanahnya kepadamu. Dan itu juga sebabnya dia memaksa aku ikut membantumu.”
Fred mengerutkan kening. “Memaksa?”
Mercer mengangguk kecil. “Maëlle bisa sangat… meyakinkan.”
Fred hampir tersenyum—hampir—tapi rasa itu segera hilang.
Mercer berjalan ke kursi, duduk perlahan seperti tulangnya ikut capek, lalu menatap Fred dengan mata yang lebih tua dari wajahnya.
“Aku bukan dokter sejak awal,” kata Mercer. “Aku dulu agen spionase.”
Fred membeku.
Mercer menghela napas. “Aku ditipu atasan. Di satu operasi, aku diperintah membunuh seorang diplomat—target yang disebut pengkhianat negara. Aku jalankan. Aku tembak. Aku mengakhiri hidupnya.”
Mercer menelan ludah, rahangnya mengeras.
“Setelah itu aku tahu… itu bukan pengkhianat. Itu korban.” Mercer menatap ke lantai sebentar. “Orang itu… orang tua Maëlle.”
Fred merasakan udara di paru-parunya membeku.
“Jadi…” Fred berbisik, “kamu yang…”
Mercer mengangkat tangan, menghentikan kalimat Fred sebelum jadi tuduhan.
“Aku yang menembak, ya,” kata Mercer, jujur. “Tapi aku bukan otak. Aku pion yang dipakai. Setelah kejadian itu, atasan membuangku. Aku dijadikan kambing hitam. Aku jadi buronan.”
Fred menelan ludah, menatap Mercer seperti melihat orang asing baru.
Mercer melanjutkan, suaranya tidak naik, tidak mencari simpati.
“Aku mengambil Maëlle karena rasa bersalah. Dia masih muda waktu itu. Dunia sudah mencuri semua dari dia. Aku… tidak bisa mengembalikan orang tuanya. Tapi aku bisa memastikan dia tidak mati di jalan.”
Fred merasakan tenggorokan panas. “Dan atasanmu?”
Mercer menatap Fred tajam. “Aku membunuh anak buah atasanku yang bermain curang—yang berubah jadi penjahat internasional berkedok agen. Tapi atasanku sendiri… dia lebih licik. Lebih tinggi.”
Mercer menyandarkan punggung ke kursi. “Aku butuh menghilang. Aku operasi plastik. Ganti identitas. Ganti nama jadi Mercer. Aku pergi jauh dari dunia itu dan… aku kuliah kedokteran.”
Fred mengerjap, mencoba menyatukan potongan-potongan ini.
“Aku bangun sesuatu yang bisa menampung dua hal,” lanjut Mercer. “Tempat berlindung, dan tempat memancing.”
“Kafe,” bisik Fred.
Mercer mengangguk. “Kafe Mercer. Aku membangunnya untuk menerima kontrak pembunuhan. Kedengarannya gila, ya? Tapi itu caraku mengontrol arus. Kalau kontrak lewat tempatku, aku bisa melihat pola. Aku bisa tahu agen mana bergerak. Siapa yang mengincar siapa.”
Fred menatap Mercer, tidak percaya. “Jadi kamu… menampung pembunuh.”
“Dan aku memilih siapa yang boleh masuk,” kata Mercer. “Beberapa profesional mendaftar untuk bekerja sama. Veteran, agen yang dihianati, tentara bayaran… orang-orang yang dunia buang. Aku jadikan kafe itu seperti kolam. Mereka datang karena butuh pekerjaan. Aku memantau karena butuh informasi.”
“Untuk mencari atasanmu,” Fred menyimpulkan pelan.
Mercer menatap Fred, kali ini ada sedikit persetujuan di mata tuanya. “Ya. Dia sekarang menjual aset negara Amerika. Dia bukan lagi ‘atasan’—dia pedagang manusia bersenjata.”
Fred merasakan mual. “Dan Maëlle… kamu melatih dia.”
Mercer mengangguk pelan. “Aku melatih Maëlle. Karena kalau aku tidak melatihnya, dunia yang membunuh orang tuanya akan membunuh dia juga. Aku tidak mau dia mati sebagai korban dua kali.”
Fred terdiam lama. Ruang tamu terasa sesak oleh kata-kata yang terlalu besar untuk rumah kecil ini.
Mercer menambahkan, lebih datar: “Ketika aku ‘pensiun’ dari pekerjaan kotor itu… aku menyerahkan operasional kepada orang yang kupercaya mengurus lapisan luarnya. Manajer kafe. Orang gemuk itu.”
“Ada organisasi yang mengelola dan mengurusnya. Dimana aku sudah tidak mengurusnya secara mendetail. Orang gemuk itu Adalah karyawan organisasi.” Lanjut Mercer.
Fred mengingat wajah perempuan gemuk di kafe—cara ia duduk, cara ia bicara soal “kode etik.”
“Dan sekarang…” Fred berbisik.
“Sekarang dia mayat,” kata Mercer. “Dan the cleaner sudah membersihkan.”
Fred menelan ludah. Kata the cleaner terdengar seperti istilah film. Tapi di rumah ini, kata-kata film berubah jadi fakta.
Fred menatap Mercer, dada masih naik turun.
“Jadi… semua ini…” Fred berbisik. “Kamu, Maëlle, kafe, agen-agen… ini perang lama yang ketemu aku secara tidak sengaja?”
Mercer tidak langsung mengiyakan.
“Kamu masuk karena kamu dipilih,” kata Mercer akhirnya. “Kenapa kamu dipilih, itu yang masih kita cari. Tapi sejak Maëlle memutuskan melindungimu, kamu bukan lagi orang yang bisa dibuang begitu saja.”
Fred mengusap wajah, lalu pertanyaan yang paling menekan sejak kemarin akhirnya keluar.
“Maëlle… berapa lama dia siuman?”
Mercer menghela napas, menatap pintu ruang praktik.
“Bisa besok,” kata Mercer pelan. “Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Bisa tahun depan.”
Fred membeku.
“Tidak ada yang tahu,” lanjut Mercer. “Tapi nyawanya sudah stabil. Itu yang bisa aku jamin.”
Fred menelan ludah, suara mengecil. “Bolehkah aku melihat dia?”
Mercer menatap Fred sejenak, lalu mengangguk kecil. “Aku meletakkannya di ruang rahasia. Tempat penyimpanan peralatan medis.”
Fred berdiri pelan, kaki sedikit gemetar. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan dari “melihat” Maëlle. Mungkin bukti bahwa dia masih ada. Mungkin permintaan maaf yang tidak sempat diucapkan. Mungkin janji yang tidak pernah diminta tapi kini terasa wajib.
Mercer berdiri, berjalan ke arah koridor.
“Jangan lama,” kata Mercer. “Dan jangan sentuh kabel-kabelnya.”
Fred mengangguk.
Mereka berjalan menuju ruang praktik. Mercer membuka pintu, lalu membuka panel rahasia di dinding. Udara dingin dan bau steril menyambut.
Fred melangkah masuk perlahan, jantungnya berdetak keras.
Dan di balik alat-alat medis yang berdengung pelan, di bawah lampu putih yang membuat segalanya tampak terlalu nyata, Maëlle terbaring—diam, pucat, tapi masih bernapas.
Fred berdiri di samping ranjang itu, tanpa kata.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak memikirkan kontrak, agen, atau Fox.
Ia hanya memikirkan satu hal sederhana yang membuat matanya panas:
Orang ini memilih melindungiku… sampai hampir mati.
Dan sekarang, Fred harus memilih apa yang akan ia lakukan dengan hidup yang masih tersisa. Berkeliaran di jalanpun tidak mungkin. Kini dia bagai lenyap di telan bumi.