NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Fondasi Baru

Bulan ketiga setelah perang.

Markas Klan Gong mulai menunjukkan wajah barunya. Bukan lagi sekadar benteng megah dengan Aula Utama yang angkuh. Sekarang, markas ini lebih seperti perpaduan antara benteng dan desa—tembok kokoh di luar, tapi di dalam, rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, sawah-sawah kecil di belakang, dan bengkel-bengkel tempat warga biasa bekerja.

Aku sengaja merancangnya seperti ini.

"Kau mau bangun apa sebenarnya?" tanya Hyerin suatu sore, saat kami berjalan di antara rumah-rumah baru.

"Komunitas. Bukan sekadar markas militer. Tempat orang bisa hidup, bekerja, membesarkan anak."

"Tapi klan butuh pendekar."

"Pendekar bisa dilatih. Tapi tanpa rakyat yang mendukung, mereka hanya tentara bayaran." Aku menunjuk ke arah sawah. "Lihat itu. Dulu, Klan Gong bergantung pada pajak dari desa-desa bawahan. Sekarang, kita bisa produksi makanan sendiri."

Hyerin diam, merenungkan kata-kataku.

Lalu dia berkata, "Oppa, kau benar-benar ingin mengubah dunia, ya?"

Aku tersenyum. "Bukan dunia. Hanya... bagian kecil di sekitarku."

---

Di bengkel, perkembangan pesat terjadi.

Dengan bantuan para pengungsi dari berbagai daerah—banyak yang kehilangan tempat tinggal akibat perang antar-klan—aku merekrut tukang kayu, pandai besi, bahkan beberapa mantan ilmuwan dari klan-klan kecil.

Mereka kuajari dasar-dasar metalurgi, kimia sederhana, dan teknik mesin.

Hasilnya? Dalam enam bulan, bengkel ini memproduksi:

· Senapan genggam: 50 unit

· Meriam portabel: 10 unit

· Bom berbagai ukuran: 500 buah

· Perangkap mekanis: 200 set

· Alat pertanian modern: bajak besi, sistem irigasi, dll.

Tapi yang paling membanggakan—sekolah.

Sekolah pertama di Murim yang mengajarkan bukan hanya ilmu pedang, tapi juga baca tulis, hitung, dan sains dasar.

---

Hari peresmian sekolah, semua penduduk berkumpul.

Aku berdiri di depan bangunan kayu sederhana dengan papan nama bertuliskan: "Akademi Jin".

"Ini," aku memulai, "adalah tempat kalian akan belajar hal-hal baru. Bukan hanya untuk jadi pendekar, tapi untuk jadi manusia yang lebih baik. Di sini, anak-anak kalian akan belajar membaca, menulis, berhitung. Mereka akan belajar tentang dunia, tentang alam, tentang bagaimana segala sesuatu bekerja."

Seorang pria tua angkat bicara. "Tuan, untuk apa semua itu? Anak saya mau jadi pendekar, bukan jadi juru tulis."

Aku tersenyum. "Pendekar yang bisa baca peta lebih baik dari yang buta huruf. Pendekar yang bisa hitung jarak lebih akurat dari yang hanya mengandalkan insting. Pendekar yang paham cara kerja mesiu... dia bisa ciptakan senjata baru."

Pria tua itu diam. Yang lain mulai mengangguk-angguk.

Hyerin berdiri di sampingku, tersenyum bangga.

---

Tapi tidak semua berjalan mulus.

Tiga bulan kemudian, kabar buruk datang dari utara. Surat dari Dae-ho—pendek, tapi isinya berat.

"Saudaraku,

Maaf baru menulis. Situasi di sini memanas. Faksi konservatif makin kuat. Mereka tuduh aku terlalu dekat denganmu, terlalu banyak memberikan sumber daya untuk klan asing. Beberapa tetua bahkan usul untuk memutuskan hubungan dengan Klan Gong.

Aku masih bisa bertahan. Tapi cepat atau lambat, mereka akan memaksaku memilih. Maaf, Tae-kyung. Mungkin aku tidak bisa membantu lagi seperti dulu.

Tapi ingat: apa pun yang terjadi, kau tetap saudaraku.

Dae-ho"

Aku membaca surat itu berulang kali.

Hyerin melihat ekspresiku. "Ada apa, Oppa?"

Aku menyerahkan surat itu padanya. Dia membaca, lalu diam.

"Kita kehilangan sekutu," bisiknya.

"Untuk sementara." Aku meremas surat itu. "Tapi aku tidak akan biarkan ini menghancurkan kita."

---

Malam itu, aku memanggil semua pemimpin tim.

Baek Dongsu, sekarang jadi kepala keamanan. Song Hwa—mantan muridku dari Klan Gong—yang pulang dan jadi kepala produksi. Dan Hyerin, tentu saja.

Aku menjelaskan situasi.

"Klan Utara mungkin akan menarik dukungan. Kita harus siap mandiri."

Song Hwa angkat bicara. "Tapi kita masih punya persediaan mesiu untuk setahun. Dan senjata cukup."

"Persediaan tidak abadi. Kita butuh sumber bahan baku sendiri."

Baek Dongsu menimpali. "Di pegunungan timur, ada tambang belerang yang belum digarap. Tapi itu wilayah Klan Ma."

Klan Ma. Salah satu klan kecil yang dulu pernah menyerang desa kita.

"Mereka masih dendam?" tanyaku.

"Mungkin. Tapi mereka juga takut. Kita jauh lebih kuat sekarang."

---

Negosiasi dengan Klan Ma berlangsung alot.

Tiga kali pertemuan, tiga kali hampir baku hantam. Tapi akhirnya, kesepakatan tercapai: mereka izinkan kita mengelola tambang belerang, dengan imbalan 30% hasil dan perlindungan dari klan lain.

Hyerin heran. "Kenapa mereka tiba-tiba setuju?"

"Karena mereka lihat kita tidak akan mundur." Aku tersenyum tipis. "Dan karena mereka lebih takut pada Klan Selatan daripada kita."

---

Tahun pertama pascaperang berlalu.

Markas baru kokoh. Penduduk bertambah—banyak pengungsi dari berbagai daerah datang mencari perlindungan. Sekolah berjalan dengan tiga puluh murid. Bengkel produksi terus bekerja.

Hyerin hamil.

Aku tahu kabar itu saat dia pingsan di tengah latihan. Tabib memeriksanya, lalu tersenyum lebar.

"Selamat, Tuan Muda. Nona Hyerin mengandung."

Dunia serasa berhenti.

Aku berlari ke sisinya, memeluknya erat.

"Oppa... kita punya bayi..." bisiknya, air mata bahagia.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memeluknya, merasakan keajaiban di dalam rahimnya.

---

Malam itu, di paviliun kami, Hyerin bertanya.

"Oppa, kau senang?"

"Senang? Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Di duniaku dulu, aku tidak pernah berpikir punya keluarga. Terlalu sibuk bekerja."

"Sekarang?"

"Sekarang... aku punya kau. Punya desa ini. Punya anak dalam kandungan. Aku... bahagia. Sangat bahagia."

Dia tersenyum, lalu tiba-tiba bertanya, "Oppa, kalau anak kita lahir, kita kasih nama apa?"

Aku diam, memikirkan.

"Kalau laki-laki... Jin Hyun. Untuk menghormati Hyun Moo."

Dia mengangguk pelan. "Hyun Moo... nama yang bagus."

"Kalau perempuan?"

"Terserah Oppa."

"Jin Bi. Berarti 'hujan' dalam bahasa kuno di duniaku. Semoga dia membawa kesegaran, seperti hujan setelah kemarau."

Dia tersenyum lebar. "Aku suka."

---

[Bersambung ke Bab 26]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!