NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA

Rani duduk di balkon kamarnya, bulan purnama bersinar lembut. Farhan baru saja memberi kabar jika dua hari lagi ia akan pulang.

Matanya menatap lurus taman yang hanya ada rumput sintesis. Tak ada bunga atau pohon apapun karena memang Rani tak suka bercocok tanam.

"Apa sebenarnya yang aku cari?" gumamnya lirih.

"Apa aku harus jujur atau apa? Lalu status Rafna?" pikiran-pikiran negatif berkeliaran di kepalanya.

"Rafna anak haram karena aku menikah masih status istri dari Mas Iqbal?" gumamnya.

Lalu ia menghela nafas panjang, Rani berdiri dan masuk ke kamarnya. Semua benda ia tatap lalu mulai ia taksir jumlahnya.

"Kalau dijual semua, sepertinya cukup untuk hidup aku dan Claudia. Aku bisa cari kerja atau usaha sendiri ...," tiba-tiba ide gila melintas di pikirannya.

Rani kembali ke meja riasnya, membuka laci dan menatap amplop coklat itu. Dalam pikirannya, di atas amplop itu ada pendeteksi waktu seperti bom. Ia akan meledak kapan saja.

"Arrgghhhh!" pekiknya kencang, frustrasi.

"Aku bisa-bisa gila!"

Ting! Sebuah notifikasi pesan. Rani melirik, pesan dari nomor yang tak dikenal.

"Siapa ini?" ia gugup sekali.

Rani membuka pesan yang berisi sebuah file. Dengan ujung jari gemetar. Ia mengklik file itu dan tak lama matanya melebar sempurna.

"Foto pernikahan aku dan Mas Iqbal ...!" nafasnya mendadak sesak.

"Tapi kenapa ia bisa tau nomor ponselku? Aku tak pernah kasih nomor ...," ucapannya terhenti, ia mengingat waktu di kafe Iqbal sempat menyentuh ponselnya.

"Apa jangan-jangan?" ponselnya langsung merosot dari tangannya.

"Tidak ... Tidak bisa!" gelengnya pelan.

"Aku harus pergi dari sini! Ya aku harus pergi!" angguknya yakin.

Sementara di negara kanguru. Farhan menatap langit Melbourne yang kemerahan. Ia berada di hotel berbintang lima, baru saja selesai meet and greet dan akan berlanjut dua hari ke depan.

Entah kenapa hatinya mendadak gelisah, seperti ada sesuatu yang besar terjadi.

"Tidak ... Aku tak boleh berpikir jelek!" gelengnya bergumam.

Kembali ke kamar Rani, wanita itu sudah menyusun semuanya.

"Bi Asih?" satu-satunya orang yang paling sulit ia kendalikan.

"Tapi bagaimana caranya agar Claudia mau ikut? Dia pasti menolak!" gumamnya lagi.

Rani benar-benar stress, ia ketakutan sendirian. Wanita itu tertidur ketika adzan subuh memanggil. Sungguh, Rani hanya sholat ketika bersama Farhan atau diajak Farhan berjamaah.

Pagi datang, Claudia sudah rapi. Gadis kecil berusia sembilan tahun itu sudah mandiri, jadi ia bisa menyiapkan kebutuhannya sendiri.

"Bi, Mama belum bangun ya?" tanyanya pada Asih.

"Belum, Non. Apa kau dibangunin?" Claudia menggeleng.

"Nggak usah Bi. Sepertinya Mama agak sakit deh. Dari kemarin aku lihat muka mama pucat!" ujarnya pelan.

"Ya udah. Nanti Non berangkat sekolah sama Pak Sabar ya!" Claudia mengangguk. Ia pun menghabiskan sarapannya.

Asih memasukkan kotak bekal ke dalam tas Claudia. Gadis kecil itu menatap lantai atas di mana ibunya tidur. Ia menghela nafas panjang, lalu berangkat bersama supir yang sudah menunggunya.

Rani bangun sekitar jam sepuluh pagi Matanya bengkak, rambutkan acak-acakan. Wajahnya pucat seperti orang kehabisan darah.

"Astaghfirullah, Nyonya. Anda tidak apa-apa?" tanya Asih terkejut ketika melihat istri majikannya turun.

"Jangan banyak tanya. Mana sarapan!" sahutnya ketus.

Asih pun diam, lalu memberikan roti bakar selai nanas ke Rani. Wanita itu memakan sarapannya. Lalu ia menatap Asih sinis.

"Jika aku suruh kamu pulang besok ...."

"Saya hanya menerima perintah dari Pak Farhan, Nyonya!" jawab Asih tegas.

"CK! Menyusahkan!" gumam Rani pelan.

Ia menghabiskan sarapannya, lalu hendak berlalu ke kamarnya.

"Nyonya ... Neng Rafna sedikit hangat ...."

"Kompres saja!" potong Rani tak peduli.

"Tolong masalah ... Rafna ... jangan kau ganggu aku!" lanjutnya.

Rani pun melangkah pelan, baru menaiki satu tangga. Tiba-tiba ia berhenti dan membalik tubuhnya menatap Asih yang masih menatapnya tak percaya.

"Aku tak suka jika kau mengadu yang tidak-tidak! Jika aku mau, kau bisa saja pergi atas suruhan suamiku, Mas Farhan!" ancam Rani lagi.

Lalu ia berbalik lagi dan menaiki tangga menuju kamarnya. Asih menatap punggung wanita itu. Lalu matanya menatap kamera pengawas di beberapa sudut.

"Bukan saya yang bilang, Nyonya ... Tapi Bapak pasti tau sendiri nanti ...," gumamnya pelan.

Sedangkan di sebuah bangunan, aroma mentega tercium. Bau karamel bersanding sempurna dengan balutan telur dan ekstrak vanila.

Sinta tengah mengolah kue ketan karamel yang tengah viral. Pagi ini banyak pelanggan datang untuk memesan makanan itu untuk sarapan.

"Meja dua belas, bolu ketan hitam karamel dan susu segar!" seru Lia salah satu karyawannya.

Sinta menyeka peluh di dahinya dengan ujung celemek. Kesibukan pagi ini setidaknya membantu mengalihkan pikirannya dari urusan ASI donor dan rekomendasi misterius Farhan.

Sinta mengangkat loyang dari oven dengan hati-hati. Uap hangat langsung mengepul bersama aroma manis karamel yang menggoda. Ia menaruh loyang itu di atas meja marmer panjang, lalu memotong bolu ketan hitam yang baru matang dengan pisau besar.

Potongannya lembut, teksturnya padat tapi tidak keras.

“Bagus… nggak bantat,” gumamnya puas.

Lia segera mendekat membawa piring saji.

“Banyak banget yang pesan pagi ini, Bu,” katanya sambil tersenyum.

"Alhamdulillah, kita bersyukur aja atas rejeki hari ini, Lia!" sahut Sinta tersenyum.

Tak lama Ninda dah Riani datang dari berbelanja bahan kue. Dua karyawannya itu langsung mengeluarkan semua belanjaan ke meja bahan.

"Bu, ini semua bahan yang sudah habis di dapur. Untuk masalah restoran, kami sudah pesan via online!" jawab Riani asistennya.

"Iya tadi Luna udah kasih tau. Katanya banyak distributor sayur, ikan dan daging mau jadi vendor di kedai Nasi kita!" jawab Sinta.

"Tepung dan lainnya nanti akan ada yang ngantar, Bu!" sahut Ninda kali ini.

Sinta mengangguk, lalu ia kembali berkutat dengan olahan bahan kue.

Kembali ke rumah Rani, wanita itu turun dengan langkah anggun. Ia memakai celana jeans belel dipadu dengan baju tanpa lengan warna putih gading. Kulitnya yang putih bersih begitu terlihat bersama deretan perhiasan di tubuhnya.

Rani memakai kalung bermata rubi merah yang harganya selangit. Ia menatap jam, Claudia pasti sudah pulang dijemput oleh supir.

Asih berdiri sedang menggendong Rafna. Rani berlalu melewati keduanya dan naik mobil.

Tak lama kendaraan itu keluar dari halaman rumahnya. Asih memandangi sambil menggeleng kepala.

"Gusti ... Engkaulah yang Maha tau. Hanya pada-Mu hamba berpasrah. Selamatkan Non Claudia dan Neng Rafna ... Aamin!"

Mobil mewah warna merah itu memasuki sebuah kawasan pertokoan elit. Kendaraan itu masuk setelah melewati sistem keamanan. Ia pun keluar dari mobil dan masuk ke sebuah toko perhiasan.

Ting! Bunyi bel pintu, Rani masuk dan duduk di depan etalase yang memajang banyak perhiasan mewah.

"Selamat Siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pemilik toko ramah.

"Saya mau jual kalung ini. Apa bisa?" Rani mencopot kalung dari lehernya.

Pemilik toko langsung mengambil teropong khusus dan melihat benda berkilau di tangannya.

"Ini mahal banget, Bu. Maaf kami belum mampu!" ujar pemilik toko.

"Emang harganya berapa?" tanya Rani tak tau.

"Ini ada dua setengah M!' jawab pemilik toko.

"M?" Rani mengerutkan keningnya.

"Miliar, Bu!" lalu mata Rani langsung membola ketika mendengarnya.

Bersambung.

Wah ... Wah ... Wah ...

next?

1
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!