NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Nisa berjalan ke arah tempat tidurnya, dengan ponsel yang masih ada dalam genggamannya.

"Simpan ponselnya, atau besok ku jual kembali benda itu." Ancam Gian.

"I-iya ... " Ucap Nisa patuh, dia perlahan meletakan ponsel di meja dekat sofa.

Gian menepuk-nepuk tempat kosong, tepat di sebelah dirinya berbaring. "Ayo sayang."

Kenapa menakutkan sekali sih? Kenapa kata sayang itu sama sekali tidak romantis di telingaku?

Nisa perlahan membaringkan tubuhnya, dengan sebelah tangan Gian melingkar di balik bahu Nisa. "Di bawah sana aman kan?"

"A-aman? Aman apanya?"

"CK ... Begitu saja tidak mengerti."

"Langsung saja, tidak usah menggunakan kode seperti itu!"

"Kamu sedang tidak menstruasi kan?"

"Tidak!" Jawab Nisa ketus.

"Izinkan aku menyentuhmu lebih dalam lagi Nis, ada harapan dari orang tuaku disana ... Apakah kamu bersedia?"

"Jadi ... Itu semua karena orang tua? Bukan atas dasar cinta?" Ucap Nisa dengan suara pelan.

Sial, aku masih saja menutup gengsiku. Batin Gian.

"T-tidak ... M-maksudku ... Akupun menaruh harapan besar untuk menjadi seorang ayah, apa kamu tidak menginginkannya?"

"Aku menanyakan soal cinta, bukan soal keturunan." Jelas Nisa lagi.

Apa ini bisa di sebut cinta? ... Tapi kenapa sulit sekali mengungkapkannya, perasaan ini sangat aneh sekali ... Aku merasa memilikinya, tak rela jika wanitaku di dekati pria lain, tapi untuk mencintai layaknya pasangan suami istri ... Mungkin bisa makin berkembang seiring berjalannya waktu, tapi untuk keinginan menyentuhnya saat ini ... Apakah hanya perasaan normal seorang laki-laki saja? Atau memang hanya penasaran dengan bagaimana rasanya?

"Aku ... Aku ... "

"Apa?!"

"Aku mulai mencintaimu ... Dan ingin lebih jauh lagi mencintai kamu, Nisa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu terus menghindar seperti ini karena tidak bisa mencintaiku?"

*Cup

Tanpa aba-aba Nisa men ci um bi bi r Gian, hingga pria itu otomatis terbungkam, matanya mulai terpejam merasakan sensasi yang bukan pertama kali dia rasakan.

Hangat sekali ... aku pernah melakukan ini sebelumnya dengan Arabela, tapi tidak pernah sehangat ini rasanya, i love you Nisa.

Saat Nisa sudah mulai tersengal kehabisan na fas, wanita itu berusaha melepas pautannya, tapi Gian sama sekali tak mengizinkan itu, pria itu seperti seekor ikan yang kehausan, tangannya pun ikut menjelajah tu buh Nisa yang selama ini hanya bisa diam lihat saja dari kejauhan.

Tak ada perlawanan dari Nisa, perlahan tangannya membu ka satu per satu kan cing ba ju istrinya itu, perlahan tapi pasti ... Akhirnya dua bongkahan indah terpampang nyata di hadapannya. "Indah sayang." Puji Gian dengan suara bergetar.

"Milikmu." Kata Nisa, yang membuat Gian memulai aksinya dengan brutal pada malam itu.

Pria itu sama sekali tak mengenal kata kasihan, dia terus melakukannya dengan naf su yang menggebu.

Untuk pertama kalinya juga, Nisa langsung di suguhkan dengan aksi suaminya yang tanpa ampun ... Hanya perlahan di awal tapi selanjutnya Gian terus memegang kendali sesuka hati.

.

.

"Eugh ... Sakitttt." Nisa terpejam saat Gian terus menerus men ci um beberapa titik wajahnya.

"Apa? Sakit? Apakah bibirku berduri?" Protes Gian.

"Bukan itu ... Tapi di sini, sakit sekali." Nisa menunjuk bagian inti tubuhnya.

"Hah? Benarkah? Apa aku terlalu kasar semalam? Padahal aku sudah berusaha pelan." Ungkapnya sambil menyingkap selimut yang menutupi kaki Nisa.

Terlihat beberapa spot bercak da rah pada sprei yang berwarna coklat muda itu. "Sayang buka kakinya."

"Hah? Mau apa?"

"Aku periksa dulu, bagaimana aku bisa lihat kalau terus di tutupi seperti itu?"

"Janji? hanya lihat? Atau bisa panggilkan dokter? Aku takut asetku rusak, rasanya sakit sekali jika bergerak."

"Aku lebih tau soal masalahmu di bandingkan seorang dokter, cepat buka kakinya!"

Perlahan Nisa membuka kakinya, dengan mata yang di fokuskan ... Gian melihat dengan bantuan lampu flash di ponselnya, terlihat sedikit lecet dan darah segar disana.

Sekuat itu kah aku? Batin Gian, bibirnya mengembang karena merasa percaya diri.

"Bagaimana? Apakah ada sesuatu serius?"

"Tidak ada, nanti malam juga sembuh ... ada sedikit luka disana, pertanda bahwa kamu mempunyai suami yang perkasa."

"Hah? Perkasa? Lebih tepatnya lagi suami yang kasar."

"Maaf sayang."

Karena kejadian tersebut, akhirnya Gian harus menahan untuk tidak melakukan itu sampai luka Nisa sembuh total.

***

Hubungan pernikahan Gian dan juga Nisa makin hari semakin membaik, Gian sangat menghargai istrinya dan tak sungkan lagi untuk menunjukan rasa kasih sayang.

"Pengen di suapin sayang." Rengek Gian, tangannya menggoyangkan kedua bahu Nisa dengan manjanya.

"Biasanya juga sendiri."

"Tuh kan, aku kan pengen mesra-mesraan sama kamu disetiap aktivitasnya. Yaudahlah ... mungkin aku yang cinta sendiri." Wajah Gian berubah menjadi sendu.

Nisa menghela nafasnya pelan, "Bukan seperti itu ... "

"Gian ... " Panggil Nisa, tapi pria itu tetap diam sambil memainkan ponselnya.

"Baiklah ... Oke oke ... buka mulutnya." Tangan Nisa sudah memegang sendok berisikan makanan.

"Sayang ... " Bujuk Nisa lagi.

Wajah Gian langsung memerah ketika pertama kalinya Nisa memanggil dengan kata sayang, di tambah suaranya lembut dan terdengar menenangkan.

"Aku pengen makan pakai sendok kamu, bukan sendok baru."

Nisa memejamkan matanya pasrah, saat harus menghadapi Gian yang seperti anak-anak yang merengek-rengek pada ibunya.

"Okey." Perlahan Nisa mengambil sendok yang sebelumnya dia gunakan, lalu di pakai untuk menyuapi Gian.

Pria dewasa itu makan dengan lahapnya, tentunya dengan ponsel di tangan yang terus dia mainkan.

"Sayang cium pipiku." Gian menunjuk pipinya dengan jari telunjuk, padahal mulutnya sedang sibuk mengunyah dan mata yang fokus pada ponsel, tapi masih saja dia meminta permintaan yang lain.

"Makan dulu ... " Sahut Nisa.

"Cuman cium doang sayang, berat buat kamu?"

*Cup

Tanpa berkata apapun lagi, Nisa mencium kedua pipi Gian bergantian, karena sanggahan apapun tidak akan berlaku untuk suaminya ini.

"Lagi ... Lagi."

"Sayang, kamu seperti anak-anak."

"Makanya kita harus cepat punya anak, biar aku tidak seperti ini ... Ayo cium lagi." Rengek Gian.

Saat Nisa tengah melakukan adegan cium pipi kedua kalinya, bertepatan dengan Lulu dan juga Akbar yang baru saja berpulang tanpa mengabarkan terlebih dahulu.

Lulu menghentikan langkah suaminya, jarinya di letakan ke mulut agar suaminya tidak mengeluarkan suara apapun.

Beberapa detik Lulu dan juga Akbar melihat perlakuan mesra kedua suami istri ini, lalu tersadar ketika kunci mobil yang Akbar genggam terjatuh di lantai.

"Eh!"

"Ii-ibu ... A-ayah ... " Ucap Nisa gugup.

"Cepat sekali kalian pulang, kenapa tidak tambah satu Minggu lagi." Celetuk Gian.

Lulu berlari kecil ke arah Gian, lalu tangannya menjewer telinga Gian dengan pelan, "Hm ... Apa kamu bilang? Mentang-mentang baru merasakan enaknya menikah, bisa-bisanya berkata begitu."

"Aw ... Aw ... Ampun Bu ... Ampun."

Gelak tawa terdengar dari Nisa dan juga Akbar yang melihat Kedekatan antara ibu dan anak itu.

.

.

Nisa mengantar Gian berangkat bekerja sampai pintu mobilnya.

"Nanti malam kita makan di luar, aku akan pulang cepat."

"Ibu dan ayah?"

"Tidak ... Hanya kita sayang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!