Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
main belakang
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
[Aku ingin bicara. Aku tunggu di parkiran.]
Sebuah pesan masuk dari Iban muncul ketika Liliana keluar dari ruangan toilet. Tak membalas. Hanya saja, langkahnya yang harusnya menuju ke depan, malah menuju ke parkiran seperti yang diperintahkan Iban.
Liliana melihat laki-laki itu. Iban duduk di atas sepeda motornya. Mengutak-atik iseng handphone di tangannya.
Liliana berjalan mendekat. Iban menyadarinya. Tatapannya lansung tertuju ke arah Liliana.
"Ada apa?" Suara Liliana terkesan dingin. Tak sehangat biasanya. Kini ia berdiri di hadapan Iban. Iban pun langsung turun dari sepeda motornya.
"Kanapa kau bohong?" Iban berkata demikian.
"Maksudnya?"
"Ternyata kau sudah menikah."
"Aku tak pernah bohong. Cuma aku tak pernah memberitahukannya."
"Kenapa?"
"Apa perlu aku jawab?" Iban terdiam. Mereka hanya saling menatap.
Iban. "Aku sedikit kecewa," lirih
"Kecewa karena apa?"
"Ternyata kau milik orang lain"
"Aku malah sudah kecewa dari dulu-dulu," balas Liliana.
"Apa aku terlalu egois?"
"Ya. Kamu terlalu egois. Kau hanya maunya menyakitiku. Kau tak mau balas kusakiti. Kau hanya_"
Pukkkk.....
Iban merengkuh tubuh Liliana, menghentikan ucapan Liliana. Ia memeluk erat wanita berambut panjang tersebut.
"Kau tak takut dilihat orang? Bisa saja mereka akan mengadu pada istrimu," lirih Liliana.
"Aku tak peduli. Untuk saat ini, aku ingin begini. Jangan melarangku." Iban malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya.
***
KEMBALI POV JUNA
Aku berdiri tak begitu jauh dari keberadaan mereka. Aku mendengar semua yang mereka bicarakan. Dan sekarang, aku melihat dengan jelas pemandangan yang begitu menyesakkan. Wanita yang selama ini kunikahi, wanita yang selama ini kucintai dengan sepenuh hati, telah jatuh ke pelukan laki-laki lain.
Selama tiga tahun lebih aku selalu bertanya-tanya, mengapa Liliana tak pernah bisa mencintaiku. Tak pernah mau membuka pintu hatinya untukku. Sekarang akhirnya, aku mengetahui jawabannya. Karena hatinya sudah ia habiskan untuk orang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa menit sebelumnya....
Brakkkk....
Iban berdiri dari tempat duduknya, tepat setelah Liliana ke kamar kecil.
"Mau kemana kamu?" Salah satu temannya bertanya.
"Mau ngerokok dulu di luar." Iban pun melangkah pergi. Keluar dari bangunan cafe.
"Kalian nyadar nggak dia kelihatan cemburu." Wanita berambut pendek sebahu berbicara. Wanita yang tadi duduk di samping Iban.
"Cemburu gimana?" Laki-laki berjaket kulit menimpali.
"Dia cemburu lihat Liliana ke sini sama Mas Juna."
Mendengar namaku disebut, aku semakin memperhatikan obrolan mereka.
"Kenapa musti cemburu?"
"Kan, Iban mantan Liliana. Bisa saja kan Iban masih memiliki perasaan sama Liliana."
Deg....
'Mantan?' Aku tertegun.
Perasaan cemburuku menyeruak. Jadi benar, mereka memiliki hubungan spesial lebih dari sekedar teman. Dan Liliana tak berterus-terang padaku.
Brakkkk....
Aku berdiri dari posisi dudukku.
"Saya ke toilet dulu ya," pamitku ke yang lainnya.
Aku melangkah meninggalkan mereka. Berjalan keluar dari bangunan cafe. Mengikuti arah ke mana Iban melangkah tadi. Entah mengapa perasaanku tak enak. Aku yakin kepergian laki-laki itu ada hubungannya dengan Liliana.
Aku mengedarkan pandangan begitu sampai di area luar. Aku melihat Iban. Dia berada di parkiran cafe. Duduk di salah satu motor.
Aku melangkah tertuju ke arahnya. Belum benar-benar sampai, langkahku sudah lebih dulu terhenti. Aku melihat Liliana, dia berjalan menghampiri Iban.
Dugaanku benar. Kini mereka tengah bertemu. Tentu tanpa sepengetahuan siapapun.
Aku berdiri tak jauh dari keberadaan mereka. Sedikit sembunyi agar tak terang-terangan terlihat. Aku mendengar obrolan mereka.
Mereka yang tengah mengungkapkan isi hati masing-masing. Tubuhku gemetar, tanganku mengepal kuat. Aku geram, apalagi setelah melihat mereka saling berpelukan. Seolah bangunan rumah yang bertahun-tahun aku bangun dan kupertahankan, runtuh begitu saja.
Hampir aku meluapkan emosiku. Memaki Liliana, dan memukul laki-laki yang dicintainya tersebut. Tetapi aku urungkan. Aku lebih memilih pergi. Lebih memilih meredam emosiku. Lebih memilih untuk menyelesaikan terlebih dahulu hatiku yang saat ini tengah porak poranda.
***