Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Perpisahan dan Sebuah Awal Perjalanan
Pohon persik di belakang rumah belum berbuah tahun ini.
Huang Shen mencangkul tanah di bawahnya dengan luwes. Tanah di sini lebih lunak dari kebun depan, lembab dari hujan dua hari lalu, dan cangkulnya masuk dengan mudah di setiap hantamannya. Di sampingnya, Mu Qingxue berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya.
“Ruh itu dikirim Sekte Iblis Hitam,” tutur Huang Shen tanpa berhenti mencangkul. “Mereka sedang mengujiku.”
Mu Qingxue menatap lubang yang semakin dalam. “Mereka tahu tentang bocah itu dari awal?”
“Mereka yang mengirimnya ke sini.”
Tidak ada jawaban dari Mu Qingxue. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh batang pohon persik di sampingnya, menggenggamnya sebentar seperti butuh sesuatu yang kokoh untuk dipegang.
Manakala lubang itu cukup dalam, Huang Shen meletakkan cangkulnya dan mengangkat tubuh bocah itu. Dia mengatur posisinya di dalam tanah dengan gerakan yang lebih hati-hati.
Sementara Mu Qingxue ikut membantu untuk menimbun tanahnya. Tangannya gemetar di setiap sekop, tapi tidak berhenti sampai mereka akhirnya duduk berdua di beranda setelah semuanya selesai. Tidak ada minuman atau makanan. Hanya dua orang yang duduk di antara pagi yang belum sepenuhnya memutuskan mau jadi seperti apa hari ini.
“Aku akan menerima tawaran mereka,” kata Huang Shen.
Mu Qingxue menoleh. “Kenapa?”
“Karena jika aku tidak pergi, mereka akan mengirim yang lain.” Matanya menatap ke arah pohon persik, ke gundukan tanah yang masih baru. “Dan kali ini, mungkin bukan ruh yang menempel pada anak kecil. Bisa lebih buruk lagi.”
Keheningan menetap di antara mereka.
Lalu dari sudut beranda, Mu Qingxue mendengar sesuatu yang bukan suara nyata. Lebih seperti ingatan yang datang dengan tekstur suara. Suara bocah itu memanggil “Nyonya Mu” dengan nada yang tidak pernah bisa ditiru karena ada kepolosan di dalamnya yang tidak bisa dipelajari.
Matanya memanas untuk pertama kalinya sejak semalam. “Aku ikut,” cetus wanita itu.
Huang Shen hanya menatapnya.
“Aku ikut,” ulangnya. “Kau tidak bisa pergi sendirian ke tempat yang bahkan Sekte Iblis Hitam berani mengirim ujian ke pintu rumah kita.”
“Tidak.”
“Huang Shen—”
“Tidak,” ulang pemuda itu dengan cara yang sudah tiga tahun Mu Qingxue pelajari artinya.
Maka sesuatu di dalam Mu Qingxue yang biasanya menurut memilih untuk melawan khusus hari ini.
“Suamiku mati,” gumamnya meski kalimat itu keluar lebih datar dari yang dia niatkan. “Kami menikah selama enam tahun. Dia orang baik. Tidak sempurna, tapi baik. Dan selama enam tahun itu, kami menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.”
“Siapa yang tidak ingin memiliki anak, bukan?” Kata itu keluar begitu saja. “Kami ingin mempunyai setidaknya satu. Tapi Dewa sepertinya tidak pernah mengkaruniai kami.” Matanya kembali ke gundukan tanah di bawah pohon persik. “Lalu bocah itu datang. Dengan lehernya yang menjulur dari pagar dan senyumnya yang tidak mengenal malu itu.” Suaranya mulai retak di tepinya. “Dan aku tahu itu bodoh. Aku tahu dia bukan anakku. Aku tahu tiga tahun bersamamu sudah mengubah diriku menjadi sesuatu yang tidak lagi aku kenali di cermin.”
Huang Shen masih terus mendengarkan.
“Tapi ketika dia ada di sini, ada bagian dari dalam diriku yang merasa… seperti orang biasa lagi.” Tangannya menggenggam tepi kursi beranda. “Tapi sekarang dia sudah… dan aku ingin menangisinya, tapi kenapa sangat sulit? Bahkan aku tidak sempat menanyai namanya.”
Kalimat terakhir itu keluar seperti sesuatu yang sudah lama tersangkut dan baru sekarang terlepas.
Sampai Huang Shen berbicara. “Dunia ini berjalan dengan satu aturan,” tuturnya. “Yang kuat memutuskan, yang lemah menerima. Aku benci aturan itu. Tapi aku juga sudah terlalu lama hidup di dalamnya sampai aku tidak bisa berpura-pura berada di luar.” Matanya menatap tangannya sendiri, urat-urat yang tadi malam masih merah sekarang sudah kembali ke warna biasa tapi masih terasa seperti jaringan yang dipaksa bekerja melebihi batasnya. “Kita bersama karena kita saling membutuhkan.”
“Tapi ada yang berubah meski aku tidak tahu kapan tepatnya.” Kalimat itu keluar dengan cara yang jarang Huang Shen gunakan. “Kau tidak bisa ikut bukan karena kau lemah. Tapi karena aku tidak bisa melindungimu di sana, dan aku tidak ingin kehilangan satu-satunya tempat yang bisa aku pulangi.”
Satu-satunya.
Kata itu tinggal di udara antara mereka lebih lama dari kata-kata lainnya. Tentu saja tidak ada kesan romantis dari cara pemuda itu berucap, tidak pernah.
Meskipun begitu, ucapan itu tetap memaksa Mu Qingxue untuk menutup matanya hingga satu tetes air matanya jatuh, sampai dia berhenti menghitung berapa banyak yang mengalir keluar.
Hujan pun datang pagi itu tanpa peringatan, dari langit yang tadinya masih biru di satu sisi dan sudah berubah kelabu di sisi lain. Beranda menjadi tempat yang berbeda saat hujan turun, atapnya yang kayu mengeluarkan suara seperti ribuan jari mengetuk sekaligus.
Adapun Mu Qingxue berdiri di ambang pintu, menatap hujan. Lalu berbalik ke Huang Shen yang masih duduk.
Dia mendekatinya sesuai apa yang hatinya perintahkan. Hingga bibirnya melumat bibir Huang Shen dengan kekuatan yang membuatnya mundur setengah langkah. Tangannya menjawab dengan naik ke belakang leher Mu Qingxue, sebelum menariknya lebih dekat, membalas dengan intensitas yang tidak pernah ada di semua malam kultivasi ganda mereka sebelumnya.
Ini adalah sesuatu yang tidak punya nama, tidak punya tempat di antara dua orang yang dulu sepakat bahwa yang mereka butuhkan hanyalah tempat tinggal dan perlindungan.
Mu Qingxue menggigit bibir bawahnya saat Huang Shen membalas dengan cara yang sama. Tangannya meremas pinggangnya, mendorongnya mundur ke pintu, lalu ke dalam ruang tamu yang gelap. Dia membiarkan pakaiannya terlepas, membiarkan tangan Huang Shen menjelajahi tubuhnya dengan cara yang tidak pernah seagresif ini, karena ada sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, dan ini adalah satu-satunya cara yang tersisa.
Di luar sana hujan semakin deras. Air mengalir dari atap kayu, jatuh ke tanah di bawah pohon persik yang gundukannya mulai rata diterpa air. Mu Qingxue menarik Huang Shen ke lantai, ke tempat di mana mereka dulu tidak pernah berbaring bersama selain di atas ranjang. Tangannya membuka setiap lapisan jubah, jari-jarinya dingin, tapi bibirnya panas, dan Huang Shen membiarkan dia memimpin, membiarkan dia mengambil apa yang selama ini mungkin tidak pernah berani dia minta.
Mereka berguling di lantai ruang tamu yang dingin, tubuh melekat satu sama lain seperti orang yang tahu bahwa setelah malam ini tidak akan ada malam lain. Setiap tarikan napas adalah permintaan. Setiap erangan yang tertahan adalah pengakuan. Huang Shen mendominasi tubuhnya dengan gerakan yang tidak lagi kasar.
Sementara Mu Qingxue mengerang pelan, tangannya mencengkeram punggung Huang Shen, kukunya meninggalkan bekas di kulit yang belum sepenuhnya pulih dari malam sebelumnya.
Kini hujan mereda menjelang sore. Mereka masih berbaring di lantai, di atas selimut yang diambil Mu Qingxue di tengah-tengah, dengan tubuh yang lelah dan napas yang perlahan pulih.
“Aku tidak akan mati,” kata Huang Shen.
Mu Qingxue tidak menjawab. Matanya terpejam, tapi napasnya berubah.
“Aku tidak tahu kapan aku akan kembali,” lanjutnya. “Tapi aku akan kembali.”