Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Risa segera mengikuti langkah kaki Alvian, hari imi mereka akan melakukan peninjauan pada proyek pembangunan hotel yang ada di kota mereka. Jika orang - orang melihat mereka, mereka bukan lah seperti atasan dan bawahan. Karena usia pak Alvian tidak begitu jauh selisih nya, Alvian saat ini berumur 30 tahun.
Sepanjang perjalanan Risa hanya diam dan dia hanya akan berbicara jika pak Alvian mengajak nya berbicara. Selebihnya dia hanya diam saja.
Ketika Alvian sedang berbicara dengan mandor proyek, tidak sengaja Risa melihat seorang anak perempuan yang berumur kira - kira 10 tahun sedang menjajakan dagangan nya pada orang - orang yang berlalu lalang.
Entah kenapa Risa merasa kasihan melihat nya, Risa segera mendekati anak perempuan itu dan melihat dagangan nya.
"Jualan apa nak?" Tanya Risa pada gadis kecil itu.
"Jual kue kak!" Jawab Gadis kecil itu sambil membuka keranjang berisi berbagai macam jenis kue tradisional.
"Berapa harga nya dek?" Tanya Risa sambil berjongkok agar bisa sejajar dengan tubuh mungil itu.
"10 ribu kak!" Jawab Gadis itu lagi.
Risa mengambil 5 kotak kue dan membayar nya dengan uang pecahan 100 ribuan.
"Maaf kak, belum ada kembalikan nya!" Jawab Gadis kecil itu dengan lugu.
"Ambil saja dek kembalian nya!" Ujar Risa sambil tersenyum.
"Wah benar kah kak?" Dia bertanya pada Risa dengan mata berbinar.
"Iya sayang, ini buat kamu!" Jawab Risa sambil tersenyum.
"Makasih banyak kak!" Gadis kecil itu memasuk kan uang itu ke dalam saku celana nya.
"Siapa nama mu sayang?" Tanya Risa pada gadis kecil itu.
"Nama saya Mira kak!" Jawab Gadis bernama Mira itu.
"Mira, memang nya orang tua mu kemana hingga Mira harus berjualan kue?" Tanya Risa pada Mira.
"Ibu Mira sudah meninggal kak, Mira dan adik Mira tinggal bersama nenek. Ayah Mira sudah menikah lagi, selama ini nenek yang berjualan kue. Tapi tadi pagi nenek mengalami kecelakaan dan dia tidak bisa berjualan. Jadi Mira yang jual kue nya!" Mira berkata panjang lebar pada Risa.
"Kalau kakak boleh tahu, memang nya siapa nama nenek nya Mira?" Tanya Risa penasaran. Pasal nya tadi pagi dia bertemu dengan nek Karmin yang juga seorang pedagang kue yang mengalami tabrak lari, saat dia mengantar kan dia pulang ke ruang nya tadi, cucu nya sedang tidak ada di rumah.
"Nenek Mira nama nya Nek,,,,,,!" Belum selesai Mira menyebut kan nama nenek nya, tiba - tiba pak Alvian memanggil nama Risa.
"Risa, apakah kau mau tetap tinggal di sini?" Pak Alvian berkata dengan lantang.
"Mira, kakak pergi dulu ya!" Bergegas Risa pergi meninggal kan Mira dan menemui pak Alvian.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil yang setia menunggu sejak tadi.
"Apa yang kamu bawa bawa itu?" Tanya Pak Alvian sambil memperhatikan kotak kue yang di bawa Risa.
"Ini cuma jajanan pasar pak!" Jawab Risa sambil membuka salah satu kotak kue yang dia bawa.
Tanpa di sangka, Pak alvian langsung mencomot salah satu kue itu dan memakan nya. Risa terkejut dan dia tidak menyangka orang seperti pak Alvian menyukai kue yang biasa di makan oleh orang biasa.
Pak Alvian makan kue itu hingga 5 biji dan setelah itu dia bersendawa karan kekenyangan.
"Kamu kenapa memandangi saya seperti itu?" Tanya pak Alvian pada Risa.
"Maaf pak, saya tidak menyangka bapak suka dengan kue - kue murah seperti ini!" Risa mengungkap kan rasa keberanan nya.
"Makanan itu sama saja, jika tujuan nya sama - sama mengenyang kan maka tidak ada beda nya bagi saya mau mahal atau pun murah. Asal kan itu bersih!" Jawab pak Alvian dengan santai.
Risa hanya mengangguk kan kepala nya, dia melihat sisi lain dari sekarang Alvian yang terkenal tegas dan dingin pada bawahan nya.
"Seperti nya kamu kenal baik dengan anak pedagang kue itu tadi?" Pak Alvian bertanya pada Risa.
"Tidak pak, ini baru pertama kali nya saya bertemu dengan nya!" Risa menggeleng kan kepala nya.
"Oh, begitu ya. Saya pikir kamu mengenal nya!" Pak Alvian berkata sambil tersenyum.
"Oh ya Risa, sore ini saya ada pertemuan dengan klien di kafe Bintang. Kamu siap kan berkas nya!" Pal Alvian memberi perintah pada Risa setelah mereka tiba di kantor.
"Baik pak!" Jawab Risa.
Risa segera menyiapkan berkas yang di maksud oleh pak Alvian, kini pekerjaan nya dari manajer beralih menjadi seorang sekretaris pribadi seorang CEO yang terkenal tegas dan dingin. Tapi pengalaman Risa menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar sebelum dia menikah dulu begitu sangat berguna bagi diri nya sekarang.
Mereka berangkat menuju kafe Bintang setelah sholat ashar, Risa begitu rajin dan bisa di andal kan. Selama ini belum ada perempuan yang bertahan menjadi sekretaris nya, karena sikap ketus dan dingin yang di milik oleh pak Alvian
Ketika pertemuan itu sedang berlangsung, tiba - tiba hujan turun dengan deras nya. Hingga pertemuan itu selesai, belum ada tanda - tanda hujan mau berhenti.
"Kita kembali ke kantor sekarang juga!" Pak Alvian memberi perintah.
Risa hanya menurut dan dia tidak membantah sama sekali, lagian kan motor nya saat ini masih berada di kantor. Dia tidak mungkin pulang dengan meninggal kan motor kesayangan nya itu di kantor.
Sudah ham 7 malam, Risa saat ini sedang berada di lobi kantor nya menunggu hujan reda. Hujan yang di seratai petir menyambar membuat Risa harus menunggu untuk pulang ke rumah, di tambah lagi jika hujan badai seperti ini pasti jalanan akan banjir dan itu akan menyulitkan diri nya dalam berkendara.
"Kita pulang sekarang, aku yang akan mengantar mu!" Tiba - tiba Pak Alvian sudah berada di samping Risa tanpa Risa sadari.
"Tidak usah pak, biar saya menunggu hujan reda dulu!" Risa menolak tawaran pak Alvian.
"Kamu pulang terlambat karena saya, jadi biar kan saya yang mengantar mu pulang!" Pak Alvian berkata sambil memasuk kan kedua tangan nya di saku celana nya.
"Terima kasih pak, tapi bagaimana dengan motor saya jika saya pulang bersama bapak?" Risa tidak ingin meninggal kan motor itu di sini.
"Motor mu akan aman di sini, tidak akan ada yang berani untuk mencuri nya!" Sindir pak Alvian sambil mata nya lurus ke depan memandangi air hujan yang terus turun dari langit.
Risa terdiam sejenak, diri nya baru mengenal pak Alvian satu hari. Diri nya akan menjadi sasaran kemarahan Erlin jika dia tahu bahwa Risa pulang ke ruang nya dengan di antar kan oleh atasan nya tersebut.
"Tidak perlu pak, biar saya menunggu hujan reda saja!" Risa tetap kesehatan menolak tawaran pak Alvian.
"Tidak masalah jika kau mau tidur di kantor malam ini!" Alvian berkata sambil duduk di kursi tunggu yang ada di lobi.
Sementara Risa terus menunggu hujan reda untuk bisa pulang ke rumah nya, dia tidak ingin merepotkan atasan nya. Risa sadar siapa diri nya, dia tidak ingin di cap orang- orang dengan sebutan janda gatal seperti yang di lakukan oleh Erin.