NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GENETIKA PENGKHIANATAN

Kabut di pemakaman keluarga Pratiwi pagi itu terasa seperti kain kafan yang menyelimuti bumi. Dinginnya menembus pori-pori, namun Sasmita tidak merasakannya. Seluruh sarafnya terpusat pada Buku Merah di tangannya dan sosok pria tua yang berdiri beberapa meter di depannya. Hendra Waskita, pria yang selama ini ia anggap sebagai monster dari luar, ternyata adalah sumber dari setiap tetes darah yang mengalir di nadinya.

"Sasmita, jangan menatapku seolah-olah aku ini hantu," suara Hendra Waskita memecah keheningan, berat dan penuh otoritas yang dipaksakan. "Darah tidak pernah berbohong. Kamu memiliki tatapan mata yang sama denganku. Dingin, tajam, dan tidak kenal menyerah."

Sasmita merasakan mual yang hebat di ulu hatinya. Ia melihat Buku Merah itu, lalu menatap Hendra. "Darah mungkin tidak berbohong, tapi manusia iya. Kamu menghancurkan ibuku. Kamu memerkosa jiwanya sebelum kamu memerkosa tubuhnya. Dan sekarang kamu berdiri di sini, di atas tanah leluhurnya, mengklaim aku sebagai milikmu?"

"Aku tidak mengklaimmu, aku menyelamatkanmu!" bentak Hendra. Ia melangkah maju, sepatu kulit mahalnya menginjak tanah becek tanpa peduli. "Wirya Janardana adalah pria lemah. Dia tahu kamu bukan anaknya, itulah sebabnya dia membiarkan Rena menyiksamu. Dia membuangmu ke London agar dia tidak perlu melihat wajahku setiap kali dia menatapmu! Aku adalah alasan kamu masih hidup sampai hari ini, Sasmita. Aku yang membayar biaya sekolahmu di London secara rahasia!"

Sasmita tertegun. Jadi selama ini, uang beasiswa misterius yang ia terima saat hidup terlunta-lunta di Inggris bukan dari tabungan rahasia ayahnya, melainkan dari pria ini? Rasa syukur yang sempat ia rasakan selama bertahun-tahun berubah menjadi racun yang membakar tenggorokannya.

"Kamu tidak menyelamatkanku," bisik Sasmita, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Kamu menjadikanku investasi. Kamu membiarkanku menderita agar suatu saat aku kembali dan menjadi alatmu untuk menguasai Janardana Group secara total. Kamu bukan ayah... kamu adalah pemilik modal yang sedang menagih dividen."

Di sisi lain, Aris tertawa sumbang. Ia berdiri di samping Bramasta yang masih terkapar lemas. Aris memainkan senjata apinya dengan ujung jari, seolah benda mematikan itu hanyalah mainan plastik.

"Sudah kubilang, Sasmita. Di dunia ini tidak ada cinta yang gratis," ujar Aris. "Hendra menginginkanmu sebagai ahli waris sah agar transisi aset Waskita ke Janardana terlihat legal di mata bursa saham internasional. Dan kakaku... si bodoh Bramasta ini, dia membantu Hendra karena dia pikir itu cara terbaik untuk melindungimu. Dia pikir jika kamu menjadi 'Putri Waskita', kamu akan aman."

Sasmita menoleh ke arah Bramasta. Pria itu mencoba mendongak, wajahnya hancur, matanya yang bengkak menatap Sasmita dengan permohonan maaf yang bisu.

"Bram... benarkah?" tanya Sasmita. "Kamu tahu siapa ayahku sejak sepuluh tahun lalu?"

"Sasmita... maafkan aku..." suara Bramasta nyaris tak terdengar, teredam oleh darah di mulutnya. "Ibumu memintaku berjanji... dia tidak ingin kamu tahu. Dia ingin kamu tumbuh sebagai seorang Janardana, bukan sebagai produk dari sebuah tragedi. Aku bekerja untuk Hendra hanya untuk memastikan dia tidak membunuhmu saat kamu masih kecil..."

"Kamu berbohong!" teriak Sasmita. "Kalian semua berbohong! Kalian membagi rumahku, membagi hidupku, dan sekarang kalian mencoba membagi jiwaku!"

Sasmita mengangkat Buku Merah itu tinggi-tinggi ke udara. "Kalian menginginkan rahasia di dalam buku ini? Kalian ingin kode akses ke 'Brankas Langit' yang berisi semua bukti pencucian uang lintas negara ini?"

Hendra Waskita tampak sangat gelisah. "Sasmita, berikan buku itu. Itu adalah masa depanmu! Dengan uang di dalam brankas itu, kamu bisa membeli kembali sepuluh mansion Janardana! Kamu bisa menghancurkan Rena dan Vano hanya dengan satu jentikan jari!"

"Aku tidak butuh mansion yang dibangun di atas mayat ibuku!" balas Sasmita.

Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan pemantik api perak yang ia ambil dari laci meja kerja Wirya Janardana—benda terakhir yang ia miliki dari pria yang secara hukum adalah ayahnya. Ia menyalakan api kecil itu. Cahayanya menari-nari di tengah kegelapan subuh, memantul di mata Sasmita yang kini tampak sangat liar.

"Sasmita! Jangan!" Aris berteriak, ia mencoba mengarahkan senjatanya ke arah kaki Sasmita, namun ia ragu. Jika buku itu terbakar, semua usahanya meretas sistem Waskita akan sia-sia.

"Dengar," ujar Sasmita, suaranya tiba-tiba menjadi sangat tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan. "Garis merah yang kubuat di rumah itu... awalnya kupikir itu untuk membatasi wilayah. Tapi sekarang aku sadar. Garis merah itu adalah peringatan. Dan kalian semua... sudah melintasinya terlalu jauh."

Dengan gerakan cepat, Sasmita menyobek halaman pertama Buku Merah—halaman yang berisi foto ibunya—dan menyimpannya di balik dadanya. Sisanya, ia dekatkan ke nyala api pemantik.

"TIDAK! AMBIL BUKU ITU!" perintah Hendra kepada anak buahnya.

Dua orang pengawal bertubuh besar menerjang maju. Namun, Sasmita tidak lari. Ia justru melemparkan Buku Merah yang sudah mulai terjilat api itu ke arah tumpukan daun kering dan kayu yang ia kumpulkan di bawah kaki patung malaikat yang menangis.

Wusss!

Api menyambar dengan cepat. Buku Merah itu mengandung kertas-kertas tua yang kering, dan di dalam sampulnya tersimpan mikrofilm yang sangat mudah terbakar. Dalam hitungan detik, api berkobar besar, menerangi area pemakaman yang gelap itu dengan cahaya jingga yang menyeramkan.

Hendra Waskita menjerit histris. Pria tua itu mencoba menerjang api dengan tangan kosongnya, berlutut di tanah, mencoba meraup abu yang berterbangan. "Miliaran dolar! Rahasia kekuasaanku! Semuanya ada di sana!"

Sasmita berdiri di depan kobaran api, siluet tubuhnya tampak seperti dewi kematian yang sedang menyaksikan runtuhnya sebuah kerajaan. Ia menatap Hendra yang sedang menangis meraung-raung di atas tanah.

"Sekarang kamu tidak punya apa-apa lagi, Tuan Waskita," bisik Sasmita. "Bukan uang, bukan rahasia, dan bukan juga seorang putri."

Tiba-tiba, suara sirine polisi dan deru helikopter membelah langit Bogor. Lampu sorot dari udara mulai menyapu area pemakaman. Sasmita telah mengatur pengiriman data digital cadangan yang ia temukan di flashdisk sebelumnya ke server kepolisian pusat tepat saat ia menyalakan api. Ia memang membakar buku fisiknya, tapi ia sudah memastikan kebenaran akan tetap terbit bersama matahari pagi.

Aris menyadari situasi telah berbalik. Ia menatap Sasmita dengan kebencian murni. "Kamu menghancurkan semuanya, Sasmita! Kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan!"

"Aku tahu persis apa yang kulakukan, Aris," balas Sasmita. "Aku baru saja memutus garis keturunanmu yang busuk."

Aris melepaskan tembakan ke arah lampu taman untuk menciptakan kegelapan, lalu ia melompat ke arah sungai dan menghilang ke dalam hutan belakang. Anak buah Hendra mulai panik dan mencoba melarikan diri, namun polisi sudah mengepung gerbang utama.

Hendra Waskita tidak lari. Ia tetap berlutut di depan abu Buku Merah, tangannya yang terbakar hitam tidak ia hiraukan. Saat petugas kepolisian merangsek masuk dan menodongkan senjata ke arahnya, ia hanya menatap Sasmita dengan pandangan kosong.

"Kenapa..." gumam Hendra. "Aku ini ayahmu..."

"Ayahku sudah mati di dalam mobil yang remnya kamu sabotase," jawab Sasmita dingin.

Petugas kepolisian memborgol Hendra Waskita. Sasmita melihat pria itu diseret pergi, martabatnya hancur, kekuasaannya musnah. Sasmita kemudian mendekati Bramasta yang masih terbaring. Ia mengeluarkan pisau lipat kecil dan memotong tali di tangan pria itu.

"Kesalahanmu sepuluh tahun lalu sudah lunas, Bram," ujar Sasmita tanpa emosi. "Tapi jangan pernah mencariku lagi. Bagiku, kamu adalah pengingat akan setiap kebohongan yang pernah kuterima."

Bramasta menatap Sasmita dengan kesedihan yang tak terkatakan. Ia tidak mencoba membela diri. Ia hanya mengangguk pelan, bangkit dengan susah payah, dan berjalan menjauh menuju arah mobil ambulans yang baru saja tiba.

Sasmita berdiri sendirian di bawah rintik hujan yang mulai turun, membasahi abu Buku Merah yang kini sudah dingin. Ia meraba halaman foto ibunya yang ia simpan di balik pakaiannya. Ia merasakan detak jantungnya sendiri—detak jantung yang sekarang ia tahu berasal dari darah seorang Waskita, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan darah itu tidak akan pernah lagi merugikan orang lain.

Matahari akhirnya muncul di ufuk timur, menyinari nisan-nisan yang saksi bisu kehancuran dua dinasti besar. Sasmita berjalan keluar dari pemakaman itu. Ia tidak menoleh lagi.

Rumah yang terbagi itu memang sudah menjadi abu, tapi Sasmita baru saja menyadari bahwa ia tidak butuh dinding untuk merasa aman. Ia hanya butuh kebenaran. Dan kebenaran itu, meski pahit, telah membebaskannya.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!