Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Insting Bertahan Hidup
Mata Sukma memicing menembus silau matahari pagi.
Siluet tegap berseragam loreng pudar itu melangkah maju, menghalau cahaya yang menyorot halaman.
Jantung Sukma yang semula bergemuruh hebat, mendadak anjlok merosot ke ulu hati.
Bukan Sutrisno.
Jaket loreng kebesaran itu membungkus tubuh gempal Prapto. Pria itu sekadar lewat di depan pagar bambu sambil memanggul cangkul.
Dia sengaja membusungkan dada memamerkan jaket curian milik kakaknya.
Senyum mengejeknya tercetak jelas, menantang Sukma yang masih pucat duduk di ambang pintu.
Sialan. Bikin jantungan saja.
Sukma membuang muka, mengusap dadanya yang berdesir ngilu akibat sisa ingatan pemilik asli tubuh ini.
Marni ikut membuang napas kasar. Uang sepuluh ribu di tangannya akhirnya ia tekuk, diselipkan paksa ke balik kutubaru pudar miliknya.
"Yo wis, Ibu simpan. Ndak bakal Ibu pakai sepeser pun." Marni menepuk-nepuk sakunya, menatap putrinya lekat.
"Ibu simpan buat celenganmu. Nek koen kehabisan uang, ambil ke rumah."
Purnomo menepuk bahu istrinya pelan. Bayangan terik matahari mulai merambat naik. Mereka harus segera kembali menggarap sawah orang.
"Jaga diri baik-baik, Nduk. Ojo gampang dibodohi mertuamu lagi." Purnomo bersuara serak.
Sukma menahan gejolak aneh di rongga dadanya. Ia mengangguk kaku, membiarkan sepasang suami istri tua itu berjalan menyusuri jalan setapak hingga hilang di kelokan desa.
Keempat anak itu lenyap entah ke mana begitu kakek-neneknya pamit.
Baguslah. Sukma butuh ruang napas.
Kakinya melangkah gontai menyusuri lantai plesteran semen rumah bata ini.
Tiga kamar tidur berderet rapi, berpusat pada satu ruang tengah yang lumayan luas.
Dapur bertungku tanah liat terpisah di area belakang. Pohon mangga rindang memayungi sumur di halaman samping.
Dinding kokoh ini berdiri murni dari keringat darah Sutrisno. Memori lama kembali berkelebat.
Suaminya bertaruh nyawa di hutan perbatasan, menolak mentah-mentah tuntutan Lasmi yang ingin merampas uang tunjangan perumahannya demi merenovasi rumah tua.
Niat Sutrisno cuma satu: anak perempuannya, Sinta, harus punya kamar sendiri saat puber nanti.
Tentu saja Lasmi murka.
Ketukan di kusen pintu depan membuyarkan lamunan.
Mbak Tari, kakak ipar Kades Darman, berdiri menenteng bakul anyaman bambu. Senyumnya lebar, sedikit canggung melihat kondisi rumah yang berantakan ditinggal Jamilah.
"Nduk." Tari menyodorkan bakul itu menembus pintu yang separuh terbuka.
"Ta lihat bocah-bocahmu lagi ndak di rumah. Iki, Mbak bawakan timun, kacang panjang, sama sedikit kemangi dari kebon. Wong loro ndak usah mikir masak sing repot-repot."
Sukma langsung mengatur postur. Bahunya merosot, tangannya berpegangan erat pada kusen. Napasnya ditarik putus-putus.
"Matur nuwun, Mbak Tari. Repot-repot... aku malah baru bingung mau kasih makan anak-anak pakai apa."
Tari berdecak keras. Tangannya bertolak pinggang menghadap arah rumah Lasmi.
"Mertuamu iku kebangetan. Beda kelakuan, beda omongan. Lek sampai mereka ndak ngasih jatah beras hari ini, lapor Kades! Ben diurus sekalian pisah KK! Ojo gelem ditindas terus!"
Sukma menunduk lemah menyembunyikan kilat puas di matanya. Bibit perlawanan sudah ia tanam di kepala keluarga aparat desa.
"Iya, Mbak. Dongano aku lekas-lekas ndang waras ben iso urus bocah-bocah dewe."
Begitu punggung Tari menghilang, Sukma menutup pintu kayu jati itu rapat-rapat. Palang kayunya diselot kuat.
Satu kedipan mata, tubuh Sukma tersedot ke dimensi tanpa batas.
Gudang pribadinya. Ruang spasial yang entah bagaimana menyatu dengan jiwanya ini.
Segala harta masa depannya tersimpan utuh di sini.
Kamar mandi berkeramik putih menyambutnya. Air hangat mengucur deras dari shower, menghantam kulit punggungnya yang kaku.
Spons mandi berbusa tebal mulai menggosok lengannya. Daki hitam tebal rontok bercampur busa kecokelatan. Bau asam keringat tahun luntur membasahi lantai keramik.
Rasanua menjijikkan sekaligus sangat melegakan.
Rambutnya yang menggumpal lengket dicuci dua kali pakai sampo mint anti-ketombe masa depan. Kulit kepalanya kembali bernapas lega.
Selesai mandi, badannya terasa ringan bak kapas.
Tangannya menyambar bahan makanan dari rak pendingin spasial. Sayuran organik super segar, sebotol kaldu ayam murni, minyak wijen murni, puluhan butir telur ayam ras, dan dua bungkus mi telur keriting buatan tangan.
Semuanya ia pindahkan ke dapur kumuh rumah bata. Siap dieksekusi.
Matahari memanggang ubun-ubun di lereng bukit.
Tangan kecil Syaiful memerah penuh luka goresan ilalang. Sesekali balita itu menyeka ingus bercampur debu di wajahnya. Sinta sibuk menumpuk daun singkong liar.
Di atas gundukan tanah, Sigit membabat rumput gajah pakai sabit tumpul.
Tenaganya dikerahkan habis-habisan memasukkan potongan rumput tajam itu ke dalam keranjang bambu besar.
Target mereka harus tercapai atau kambing milik neneknya bakal kelaparan, dan ujung-ujungnya punggung merekalah yang mencicipi rotan bambu.
Tole, anak dari keluarga sepupu Lasmi, berteriak dari dasar bukit.
"Git! Ndang mulih! Makku masak sayur lodeh! Kalian berempat makan di rumahku wae!"
Sigit menggeleng keras. Sabitnya menebas akar rumput tanpa ampun.
"Ndak usah, Le! Kesuwun! Ini belum selesai!"
Gito membuang sabit karatan di tangannya ke tanah. Napasnya ngos-ngosan, keringat bercucuran masuk ke mata.
"Mas... wetengku perih. Ayo mulih." Gito memegang perut ratanya yang terus berbunyi keroncongan.
"Aku masih simpan roti cokelat manis dari Mbah Uti."
Sinta mengusap peluh di dahinya. Gadis kecil itu melirik Sigit takut-takut.
"Mas... Ibu mungkin wes mendingan. Tadi pagi Ibu ndak bentak-bentak waktu Mbah pamit."
Mata Sigit menajam, menghunus adiknya.
"Berapa kali Mas bilang? Wedokan iku ndak bakal berubah! Tadi pagi dia cuma cari muka di depan Mbah Uti!" Sigit mencengkeram lengan baju Gito.
"Tahan lapar kalian. Habis setoran rumput ini kelar, kita baru pulang."
Di waktu yang sama, kepulan asap mengepul dari dapur rumah Lasmi.
Wati menyuapkan nasi jagung ke mulut bayinya perlahan. Matanya melirik sisa tempe goreng dan tumis kangkung porsi besar di atas meja kayu jati.
"Bu," Wati memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Ndak dipanggil tah bocah-bocah itu? Dari subuh ngarit rumput buat kambing kita, lak yo kelaparan nyampe siange."
Prapto mendengus keras. Tangannya menyambar sisa tempe goreng terakhir tanpa dosa.
"Biarin mati kelaparan! Maknya saja songong berani minta pisah lumbung gabah nang ngarepe Kades!" Prapto mengunyah rakus.
"Biar tahu rasa dia nyari beras sendiri!"
Lasmi menyesap teh tawar hangatnya santai. Raut wajahnya setajam silet.
"Jangan ada yang berabu nganter makanan sedikit pun ke rumah bata!" Perintah Lasmi mutlak.
"Biar Sukma ngesot ke mari ngemis utang beras!"
Aroma kaldu ayam gurih, minyak wijen panggang, dan irisan daun bawang meledak ke udara luar rumah bata.
Baunya menari-nari ditiup angin siang, mengalahkan bau apek kotoran ayam di halaman.
Keempat bocah itu melangkah masuk pekarangan dengan langkah terseret. Perut mereka sakit luar biasa.
Hidung Gito kembang kempis. Langkahnya terhenti mendadak.
"Bau mi... pakai bumbu bawang..."
Sukma muncul dari ambang pintu dapur tanah liat. Rambutnya agak basah, menyebarkan aroma wangi mint aneh yang belum pernah dicium anak-anak desa itu seumur hidup.
Pucat di wajah ibunya masih membekas, tapi sorot matanya jernih terang.
"Masuk." Jari telunjuk Sukma menunjuk empat mangkuk keramik cap jago di atas lincah bambu ruang tengah.
Tubuh keempat bocah itu kaku membatu.
"Makan." Suara Sukma datar, tanpa emosi berlebihan.
"Habis itu cuci piringnya. Sigit, Gito... sore ini cari kayu bakar. Persediaan dahan kering kita tipis."
Tanpa menunggu jawaban, Sukma membalikkan badan, menyeret kakinya perlahan masuk ke kamar dan menutup pintu rapat.
Sebenarnya, ia mengintip dari celah lubang kunci.
Empat pasang mata membelalak lebar menatap isi mangkuk yang masih mengepul panas itu.
Mi keriting kenyal berwarna kuning sempurna berendam dalam kuah kaldu kekuningan berminyak gilingan wijen.
Irisan daun sawi hijau cerah menghiasi pinggiran. Di tengahnya bertahta sebutir telur mata sapi dengan tepian krispi kecokelatan yang digoreng matang sempurna.
Air liur Gito menetes. Akal sehatnya kalah telak oleh insting bertahan hidup.
Bocah tujuh tahun itu menerkam mangkuknya.
Bunyi seruputan keras langsung terdengar. Matanya terpejam merasakan gurihnya kaldu ayam murni menghantam lidahnya yang biasa hanya makan sisa kerak nasi campur garam.
Syaiful ikut merangkak naik ke atas lincak. Tangannya yang masih belepotan tanah langsung menyambar telur, menyuapkannya utuh-utuh sampai pipinya melembung kepenuhan.
Sinta mengunyah pelan. Air mata hangat menetes jatuh bercampur kuah mi.
"Ibu... Ibu beneran masak enak, Mas," isak gadis kecil itu lirih.
Sigit tak menjawab. Tangan kapalannya memegang sendok bebek seng dengan gemetar.
Dihabiskannya mi itu tanpa sisa. Kuahnya diseruput sampai mangkuk ayam jagonya kering kerontang menjilak dasar.
Perutnya kenyang luar biasa. Sensasi hangat menjalar menyamankan seluruh otot tubuhnya yang pegal.
Tapi, tatapan Sigit justru makin menggelap pekat. Matanya menancap lurus ke arah pintu kamar ibunya yang tertutup.
Perempuan iblis ini sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih mematikan.
Sigit yakin seratus persen. Makanan semewah ini, mi telur mahal, kaldu sewangi ini, sama sekali tidak wajar. Ini bukan jatah makan siang biasa.
"Gito." Suara Sigit nyaris menyerupai bisikan beracun. Tangannya mencengkeram lutut sang adik dari bawah meja.
Gito menoleh dengan mulut masih penuh kunyahan.
"Sore ini, Sinta sama Syaiful biar di rumah." Urat leher Sigit menegang menahan ledakan kewaspadaan di dadanya.
"Koen baturi aku cari kayu bakar di bukit belakang."
Gito mengerutkan kening. "Kenapa? Kasihan Sinta disuruh jaga Syaiful dewean."
Rahang Sigit mengeras. Gigi taringnya bergemeretak.
"Biar kita tahu." Tatapan Sigit menyorot tajam celah pintu kamar ibunya.
"Kalau kita berdua sengaja pergi agak lama... apa yang bakal dilakuin wedokan iku ke adik-adik kita di rumah.