NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Beberapa orang lahir untuk menjadi pusat perhatian, sementara yang lain lahir hanya untuk memastikan lampu sorot itu tetap menyala. Di Aethelgard, garis pemisah itu tidak pernah samar. Ia sejelas warna darah biru yang mengalir di urat nadi para bangsawan dan warna abu-abu debu yang menempel di paru-paru para pekerja. Masalahnya, terkadang takdir memiliki selera humor yang buruk dengan membiarkan dua kutub itu bersentuhan, menciptakan percikan api yang bisa membakar seluruh bangunan istana jika tidak segera dipadamkan.

Arlo Valerius berdiri di tengah aula dansa utama yang baru saja selesai dipoles. Bau minyak kayu cendana dan lilin lebah memenuhi udara, berusaha menutupi sisa-sisa aroma kapur yang masih tertinggal di ingatan Arlo. Ia mengenakan setelan formal berwarna biru tua dengan bordiran benang perak di bagian kerah. Mahkotanya terpasang di kepala, terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah emas itu sedang mencoba menekan otaknya agar berhenti memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.

Di depannya, Putri Helena berdiri dengan gaun berwarna sampanye yang dipenuhi kristal swarovski kecil. Cahaya dari lampu gantung kristal di atas mereka memantul di gaun itu, membuat Helena tampak seperti makhluk yang terbuat dari cahaya.

"Tangan Anda terlalu kaku, Arlo," bisik Helena, suaranya halus namun menuntut. Ia meletakkan tangan kirinya di bahu Arlo, sementara tangan kanannya menggenggam telapak tangan Arlo yang masih memiliki bekas lecet dari perancah besi kemarin. "Dan kenapa telapak tangan Anda terasa kasar? Apakah Jenderal Marcus sekarang melatih Anda memegang batu daripada pedang?"

Arlo tidak menjawab. Ia mengikuti irama musik harpa dan biola yang dimainkan oleh orkestra kecil di sudut aula. Langkah kakinya bergerak satu, dua, tiga, lalu berputar. Gerakannya sempurna, hasil dari latihan bertahun-tahun yang membosankan, namun matanya tetap kosong.

"Anda memikirkan sesuatu," Helena kembali bersuara, matanya yang biru pucat menatap Arlo seolah-olah sedang mencari noda di kain sutra. "Sesuatu yang bukan tentang saya, bukan tentang pesta ini, dan pasti bukan tentang masa depan kita."

"Aku sedang memikirkan betapa aula ini terlalu luas untuk dua orang yang sebenarnya tidak punya apa pun untuk dibicarakan," balas Arlo datar.

Helena tertawa kecil, tawa yang tidak pernah mencapai matanya. "Kita punya kerajaan untuk dibicarakan, Arlo. Kita punya aliansi yang akan membuat Aethelgard menjadi pusat perdagangan dunia. Apakah itu tidak cukup?"

"Bagi ayahku, itu lebih dari cukup. Bagimu, itu adalah segalanya. Tapi bagiku, itu terasa seperti penjara yang sangat luas," Arlo memutar tubuh Helena, membiarkan kain gaun wanita itu menyapu lantai marmer dengan suara desis yang halus.

Saat mereka berputar mendekati pintu besar aula yang terbuka sedikit, Arlo melihat sebuah gerakan di luar koridor. Di sana, melewati barisan pengawal yang berdiri kaku, seorang gadis sedang berjalan cepat sambil memikul tumpukan kain penutup debu yang besar.

Kalea.

Gadis itu tidak melihat ke dalam aula. Ia tampak tergesa-gesa, kepalanya menunduk, dan bahunya yang kecil tampak sedikit miring karena beban kain yang ia bawa. Rambutnya masih diikat asal-asalan, dan meskipun dari jarak ini Arlo tidak bisa melihat detail wajahnya, ia tahu ada kelelahan yang luar biasa di sana.

Konsentrasi Arlo pecah seketika. Langkah kakinya terhenti tepat saat musik mencapai puncaknya.

"Arlo?" Helena mengernyit, tubuhnya hampir menabrak dada Arlo karena berhenti mendadak. "Ada apa?"

Arlo melepaskan pinggang Helena dengan gerakan yang tidak sopan. Ia menatap ke arah pintu, namun Kalea sudah menghilang di balik belokan koridor menuju Sayap Utara.

"Maaf, Helena. Aku butuh istirahat sejenak," ucap Arlo tanpa menoleh.

"Kita baru mulai tiga menit, Arlo!" Helena berseru, suaranya mulai terdengar melengking karena tersinggung. "Instruktur dansa sedang memperhatikan! Raja akan datang sebentar lagi!"

Arlo tidak peduli. Ia melangkah lebar keluar dari aula, mengabaikan tatapan bingung para pemusik dan instruktur dansa yang berdiri di pinggir ruangan. Lord Cedric mencoba menghalangi jalannya di pintu masuk, namun Arlo hanya memberikan tatapan dingin yang membuat pria tua itu segera menyingkir.

"Yang Mulia, Anda harus tetap di dalam—"

"Jangan ikuti aku, Cedric. Jika kau melakukannya, aku akan memastikan kau menghabiskan masa pensiunmu di gudang bawah tanah," ancam Arlo dengan suara rendah yang berbahaya.

Arlo berjalan cepat menyusuri koridor, mengikuti arah perginya Kalea. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Seharusnya ia tetap di aula, menyelesaikan dansa itu, dan bersikap seperti pangeran yang baik. Tapi rasa hangat dari tubuh Kalea saat ia menangkapnya di perancah kemarin seolah-olah telah membakar naskah kepatuhannya.

Ia menemukan Kalea di sebuah ruangan kecil di dekat gudang logistik. Ruangan itu penuh dengan tumpukan kain lama dan aroma pengap. Kalea sedang meletakkan beban kainnya ke atas meja kayu besar, napasnya memburu. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu membungkuk untuk memijat betisnya yang mungkin terasa pegal.

Arlo berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap detail gerakan fisik gadis itu. Ia melihat bagaimana Kalea menelan ludah, bagaimana ia sedikit meringis saat mencoba meluruskan punggungnya, dan bagaimana ia menatap telapak tangannya sendiri yang memerah.

"Berapa berat kain-kain itu?" tanya Arlo.

Kalea terjingkat, hampir saja menabrak meja kayu di belakangnya. Ia menoleh dengan cepat, matanya membelalak lebar saat melihat seorang pria dengan pakaian kebesaran biru tua dan mahkota yang berkilau berdiri di ruangannya yang kumuh.

"Apa yang Anda lakukan di sini?!" Kalea berbisik panik, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia segera memeriksa koridor di belakang Arlo, takut ada pengawal yang mengikuti. "Anda... Anda seharusnya berdansa! Saya mendengar musiknya dari sini!"

Arlo melangkah masuk, membuat ruangan kecil itu terasa semakin sempit. Keberadaannya dengan pakaian mewah itu tampak sangat ganjil di antara tumpukan kain kotor. "Musik itu membosankan. Dan kain-kain itu terlihat terlalu berat untukmu."

Kalea mendengus, rasa takutnya mulai berganti dengan kejengkelan yang jujur. Ia menyilangkan tangan di depan dada, meskipun ia sadar noda debu di bajunya mungkin akan mengenai pakaian mahal Arlo jika mereka terlalu dekat. "Berat atau tidak, ini pekerjaan saya. Dan sejak kapan seorang Putra Mahkota peduli pada logistik kain penutup debu?"

Arlo mendekati meja kayu, jemarinya yang mengenakan cincin segel kerajaan menyentuh kasar permukaan kain yang dibawa Kalea. "Kenapa kau tidak minta bantuan tukang lain? Kau baru saja hampir jatuh kemarin."

"Karena tukang lain punya pekerjaan mereka sendiri, Arlo!" Kalea menekankan nama pria itu dengan nada yang tajam. "Dunia tidak berhenti berputar hanya karena saya hampir jatuh. Pengawas tidak peduli apakah kaki saya gemetar atau tidak. Yang mereka peduli adalah Sayap Utara harus bersih besok pagi."

Kalea mengambil salah satu kain dan mulai melipatnya dengan gerakan kasar, seolah-olah ia sedang melampiaskan kekesalannya pada kain itu. "Sekarang, tolong pergi. Jika Putri Helena melihat Anda di sini, dia akan berpikir saya mencuri Pangeran-nya, dan percayalah, saya tidak butuh masalah tambahan hari ini."

"Dia bukan pemilikku," ucap Arlo pelan.

Kalea berhenti melipat kain. Ia mendongak, menatap mata Arlo yang terlihat sangat serius di bawah cahaya lampu dinding yang temaram. "Dia calon istrimu. Di kerajaan ini, itu sama saja dengan pemilik. Anda lahir untuk dimiliki oleh rakyat, oleh Raja, dan oleh wanita itu. Jangan berpura-pura seolah Anda punya kebebasan, Arlo. Itu hanya akan menyakitkan jika Anda menyadarinya nanti."

Arlo mengepalkan tangannya di atas meja. "Kau selalu bicara seolah-olah kau yang paling tahu tentang rasa sakit."

"Karena saya merasakannya setiap kali saya harus membungkuk pada orang-orang yang bahkan tidak tahu nama saya!" Kalea melangkah maju, dadanya naik turun karena emosi. "Setiap kali saya melihat ayah saya batuk-batuk karena terlalu banyak menghirup debu kapur demi istana ini, sementara kalian membuang-buang makanan dalam satu malam pesta yang bisa membiayai hidup kami setahun. Anda ingin tahu rasa sakit? Rasa sakit adalah ketika Anda tahu Anda berharga, tapi dunia memperlakukan Anda seperti sampah."

Arlo terdiam. Ia melihat butiran air mata yang mulai menggenang di sudut mata Kalea, namun gadis itu dengan keras kepala menolak untuk membiarkannya jatuh. Arlo merasakan tarikan yang menyakitkan di dadanya. Ia ingin meraih tangan Kalea, ia ingin mengatakan bahwa dia akan mengubah segalanya, tapi ia tahu itu adalah janji yang kosong saat ini.

"Ayahmu... bagaimana kondisinya?" tanya Arlo, mencoba mengganti topik ke arah yang lebih nyata.

Kalea memalingkan wajah, kembali sibuk dengan kain-kainnya. "Dia memburuk. Tabib bilang paru-parunya penuh dengan sisa-sisa pekerjaan seumur hidupnya. Dia butuh obat yang hanya dijual di kota pelabuhan selatan. Harganya... harganya tidak masuk akal bagi seorang tukang cat."

Arlo menyadari sesuatu. Inilah alasan mengapa Kalea bekerja seperti orang gila. Inilah alasan mengapa ia rela naik ke perancah yang tinggi meski ketakutan.

"Aku akan mengirimkan obat itu," ucap Arlo tanpa ragu.

Kalea tertawa sedih, kali ini suaranya pecah. "Tidak. Jangan. Saya tidak ingin berhutang nyawa pada Anda. Jika Anda mengirimkan obat itu, itu berarti saya sudah menjual harga diri saya pada orang yang saya benci."

"Kau membenciku hanya karena aku seorang pangeran, Kalea? Itu sangat tidak adil," Arlo melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang Kalea coba bangun.

"Saya membenci apa yang Anda wakili!" Kalea berteriak kecil, memukul tumpukan kain di depannya. "Saya membenci kenyataan bahwa Anda bisa memberikan obat itu hanya dengan menjentikkan jari, sementara saya harus bertaruh nyawa di atas perancah setiap hari dan tetap tidak mampu membelinya! Anda adalah simbol dari ketidakadilan yang membunuh ayah saya!"

Kalea berbalik, membelakangi Arlo. Bahunya bergetar hebat. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya diisi oleh suara isak tangis tertahan yang Kalea coba sembunyikan.

Arlo berdiri membeku. Ia tidak pernah merasa sehina ini. Semua kemegahannya, gelarnya, dan bahkan niat baiknya terasa seperti penghinaan bagi Kalea. Ia perlahan mengangkat tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkan telapak tangannya di bahu Kalea yang mungil.

Kalea tersentak, namun ia tidak menghindar. Ia membiarkan tangan Arlo berada di sana, merasakan kehangatan yang merembes melalui kain bajunya yang tipis.

"Kalea... aku tidak memilih untuk lahir seperti ini," bisik Arlo di belakang kepala Kalea. "Sama seperti kau tidak memilih untuk menjadi tukang cat. Tapi di ruangan ini, sekarang... aku bukan simbol apa pun. Aku hanya seorang pria yang ingin membantu temannya."

"Kita bukan teman," bisik Kalea dengan suara serak.

"Lalu kenapa kau membiarkan aku memegang bahumu?"

Kalea terdiam. Ia tidak tahu jawabannya. Ia hanya tahu bahwa sentuhan tangan Arlo adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah dunianya yang sedang runtuh. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap Arlo dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Karena saya lelah, Arlo," ucap Kalea lirih. "Saya sangat lelah bertarung sendirian."

Arlo menatap wajah Kalea dengan perasaan yang tidak bisa ia definisikan. Ia mengangkat tangannya yang lain, jemarinya yang gemetar menghapus air mata di pipi Kalea. Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah-olah Kalea terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja.

"Kau tidak perlu bertarung sendirian lagi," ucap Arlo, suaranya terdengar seperti janji yang sakral.

Tepat saat itu, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat ke arah ruangan logistik. Bukan satu atau dua orang, tapi sekelompok prajurit.

"Pangeran Arlo! Yang Mulia!" suara Jenderal Marcus menggema di koridor. "Raja sedang menunggu di aula dansa! Anda harus segera kembali!"

Kalea segera melepaskan diri dari Arlo, wajahnya memucat karena ketakutan. "Pergilah! Jika mereka menemukan Anda di sini bersama saya... saya akan mati, Arlo. Benar-benar mati kali ini."

Arlo menatap pintu, lalu kembali menatap Kalea. Ia melihat ketakutan yang murni di mata gadis itu. "Aku akan pergi. Tapi dengarkan aku, Kalea. Obat itu akan sampai ke tangan ayahmu besok pagi. Dan jangan berani-berani menolaknya jika kau masih ingin melihatnya bernapas."

Arlo tidak menunggu balasan. Ia berbalik dan keluar dari ruangan tepat saat Jenderal Marcus dan pasukannya sampai di depan pintu.

"Yang Mulia! Apa yang Anda lakukan di sini?" Marcus bertanya dengan dahi berkerut, matanya melirik ke dalam ruangan yang pengap itu.

"Aku mencari tempat yang tidak berbau melati, Marcus," jawab Arlo dengan nada angkuh yang kembali ia pasang sebagai topeng. "Dan sepertinya gudang ini adalah pilihan yang bagus."

Marcus tampak tidak percaya, namun ia tidak punya pilihan selain membungkuk. "Raja sangat murka, Yang Mulia. Putri Helena menangis di aula."

"Biarkan dia menangis. Itu mungkin hal paling nyata yang pernah dia lakukan sepanjang hidupnya," Arlo melangkah melewati Marcus, kepalanya terangkat tinggi, namun tangannya terkepal erat di samping tubuh.

Sepanjang jalan kembali ke aula dansa, Arlo bisa merasakan noda air mata Kalea yang tertinggal di ujung jemarinya. Di aula, musik masih bermain, namun nadanya terdengar seperti simfoni yang sumbang di telinga Arlo. Ia melihat ayahnya yang menatapnya dengan kemarahan yang meluap, dan ia melihat Helena yang sedang menyeka matanya dengan saputangan sutra.

Arlo berjalan menuju tengah aula, membungkuk di depan ayahnya, lalu berlutut di depan Helena.

"Maafkan kekasaranku, Putri Helena," ucap Arlo, suaranya terdengar sangat formal dan dingin. "Saya hanya ingin memastikan istana ini cukup layak untuk menyambut kehadiran Anda yang agung."

Helena menatap Arlo dengan curiga, namun ia memberikan tangannya agar Arlo bisa mencium punggung tangannya. Saat bibir Arlo menyentuh kulit Helena yang wangi parfum, Arlo hanya bisa memikirkan aroma debu kapur dan air mata yang tadi ia rasakan.

Malam itu, saat pesta berakhir dan istana kembali sunyi, Arlo duduk di balkon kamarnya. Ia menatap ke arah perkampungan pekerja di kaki bukit istana yang gelap. Di suatu tempat di sana, ada seorang gadis yang sedang berjuang melawan ketidakadilan dunia, dan Arlo tahu, mulai detik ini, mahkota yang ia pakai tidak lagi memiliki arti apa pun jika ia tidak bisa menyelamatkan gadis itu.

Retakan itu tidak lagi hanya ada di dinding. Retakan itu kini telah sampai ke inti jantung Aethelgard. Dan Arlo Valerius siap untuk melihat seluruh bangunan ini runtuh, asalkan ia bisa tetap menggenggam tangan yang kasar dan penuh noda cat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!