Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Suara kembang api yang meledak di atas langit London terdengar seperti dentuman meriam yang merayakan kehancuran. Di lantai tertinggi gedung Manafe Corp, angin malam bertiup kencang, membawa aroma mesiu dan dingin yang menusuk tulang. Ezzvaro melangkah keluar ke taman atap dengan napas memburu, rasa panas dari saus cabai di lidahnya tidak sebanding dengan kobaran api yang membakar dadanya.
Ia ingin sendiri. Ia ingin memaki langit. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet gaun hitam yang familier di sudut taman, bersandar pada pagar kaca yang menghadap ke arah Sungai Thames.
Itu Gabriel.
Bahu wanita itu terguncang hebat. Isak tangisnya yang selama ini ditahan di depan ratusan karyawan kini pecah, tenggelam di antara ledakan cahaya warna-warni di angkasa. Ezzvaro berdiri membeku. Kebencian yang ia bangun setebal tembok Berlin mendadak retak hanya dengan melihat punggung rapuh itu.
"Gaby..." bisik Ezzvaro, suaranya nyaris tak terdengar.
Gabriel tersentak. Ia berbalik dengan wajah yang basah oleh air mata, maskaranya sedikit luntur, namun ia tidak lagi peduli pada citra femme fatale-nya. Di bawah kerlap-kerlip kembang api yang memantul di matanya yang cokelat, Gabriel menatap Ezzvaro dengan tatapan yang sangat telanjang. Tatapan yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat-rapat.
"Kenapa kau di sini?" suara Gabriel parau, penuh luka. "Pergilah kembali pada Briana-mu. Biarkan aku hancur sendiri di sini."
"Aku tidak menginginkan siapa pun, Gabriel! Kau tahu itu!" Ezzvaro melangkah maju, namun Gabriel mundur, menggelengkan kepalanya dengan histeris.
"Kau pembohong, Vavo! Kau membuatku merasa seperti orang gila! Setiap detak jantungku seolah memanggil namamu, menciptakan gejolak yang tak tertahankan di dalam dada," teriak Gabriel, suaranya bersaing dengan gemuruh kembang api di atas mereka.
Air mata baru mengalir turun. "Aku merindukan segalamu—suaramu, tatapanmu, dan terutama kehangatan sentuhanmu yang selalu mampu menenangkan badai di jiwaku. Kau tahu... aku mencintaimu, Vavo. Aku mencintaimu sampai aku ingin mati karena rasa sakit ini!"
Deg.
Jantung Ezzvaro seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu—pengakuan yang paling ia nantikan sekaligus ia takuti—akhirnya meluncur dari bibir Gabriel. Panggilan 'Vavo' yang sarat akan kepemilikan itu meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Ezzvaro.
Tanpa berpikir lagi, Ezzvaro berlari menerjang jarak di antara mereka. Ia mencengkeram wajah Gabriel dengan kedua tangannya dan langsung menghantamkan bibirnya ke bibir wanita itu.
Ciuman itu bukan ciuman lembut yang penuh kasih sayang; itu adalah ledakan kelaparan, kemarahan, dan kerinduan yang telah membusuk selama tiga tahun. Gabriel membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya menjalar ke tengkuk Ezzvaro, menarik pria itu seolah takut ia akan menghilang menjadi asap kembang api.
"Aku juga merindukanmu, Sayang... Aku sangat merindukanmu," bisik Ezzvaro di sela-sela ciuman mereka yang semakin panas.
Rasa bersalah sempat melintas di benak Ezzvaro—tentang status mereka, tentang Ayah mereka, tentang dunia yang akan mengutuk mereka. Namun, darah yang berdesir kencang menuju satu titik di bawah sana mengalahkan segalanya. Hasrat yang selama ini ia katakan "mati", mendadak bangkit dengan kekuatan monster yang haus akan mangsa.
Tangan Ezzvaro tidak lagi tinggal diam. Dengan gerakan posesif, tangannya turun dari wajah Gabriel, menyusuri lekuk gaun sutra yang licin, dan langsung bergerak ke arah inti tubuh Gabriel.
"Ahh..." Gabriel melenguh, menyandarkan kepalanya ke pundak Ezzvaro saat jemari pria itu menyentuh bagian yang paling sensitif. Ada kekosongan yang menuntut di sana, sebuah ruang hampa yang selama ini hanya bisa diisi oleh Ezzvaro.
"Kau adalah sisi paling rapuh dalam diriku, Gaby," bisik Ezzvaro, suaranya serak oleh gairah yang tak terbendung. "Aku bisa menghadapi seluruh dunia, tapi aku tidak pernah bisa menghadapi matamu."
Ezzvaro tidak ingin mereka tertangkap di atap terbuka ini. Ia menyambar tangan Gabriel, menariknya menuju pintu akses pribadi yang langsung terhubung ke kamar istirahat di dalam kantor pribadinya.
Begitu pintu tertutup dan terkunci, seluruh pertahanan yang selama ini dibangun dengan rapi luluh lantak dalam sekejap.
Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya rembulan itu, terjadi gelora yang meruntuhkan segala batasan moral. Ezzvaro mendorong Gabriel ke atas ranjang besar, tidak membiarkan satu detik pun berlalu tanpa sentuhan. Ia merobek topeng "kakak" yang memuakkan itu dan kembali menjadi Vavo—pria yang hanya hidup untuk memuja setiap jengkal kulit Gabriel.
Setiap sentuhan adalah permintaan maaf, setiap desahan adalah pengakuan dosa. Ruangan itu menjadi saksi bagaimana keheningan malam tahun baru pecah oleh suara penyatuan dua jiwa yang seharusnya terpisah. Pakaian berserakan di lantai, meninggalkan jejak kekacauan yang menandakan bahwa mulai saat ini, segalanya telah berubah. Tidak ada lagi jalan kembali.
Di tengah pelukan yang menyesakkan itu, Ezzvaro menatap mata Gabriel, memastikan wanita itu tahu bahwa ia benar-benar kembali.
"Mulai malam ini," bisik Ezzvaro, keringat membanjiri tubuhnya saat ia bergerak berirama di atas Gabriel, "tidak akan ada lagi Nicolas, tidak akan ada lagi Briana. Hanya ada kita, Gaby. Peduli setan dengan dunia."
Gabriel hanya mampu mencengkeram punggung Ezzvaro, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah yang akan menjadi tanda kepemilikan. Di bawah langit London yang kini sunyi dari kembang api, dua manusia ini akhirnya menemukan rumah mereka kembali, meski rumah itu dibangun di atas bara api pengkhianatan keluarga.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰