Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Bayangan
Malam di Kota Karasu menyisakan kesegaran sisa hujan gerimis yang membuat aroma aspal basah dan dedaunan lembap menyebar hingga ke koridor belakang sekolah. Lampu-lampu selasar hanya menyala dengan cahaya kuning temaram, menciptakan bayangan panjang yang bergoyang-goyang di dinding seperti sosok yang sedang menari sendirian. Ren berjalan dengan langkah yang ringan dan tanpa suara, kaki kirinya sedikit menggeser lantai semen saat ia menuju ruang klub memasak—kunci motornya pasti tertinggal di atas meja pantry, seperti yang ia duga saat sudah sampai di halaman parkir.
Kedinginan malam membuat kulitnya berdiri merinding, namun bukan karena itu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang tidak beres—insting yang diajarkan ibunya selama bertahun-tahun bekerja di dapur mulai berdenyut kencang di dalam dadanya, seperti peluit yang menyala tanpa suara.
Pintu ruang klub yang biasanya dikunci rapat dengan gembok tambahan hanya menutup separuh, celahnya cukup lebar untuk membiarkan udara dingin masuk ke dalam. Dari celah itu, ia bisa merasakan bahwa suhu di dalam ruangan lebih dingin dari biasanya—seolah lemari pendingin besar yang menyimpan bahan utama mereka dibiarkan terbuka terlalu lama.
Ren mempercepat langkahnya namun tetap menjaga agar tidak ada suara sepatu ketsnya menyentuh lantai. Ia menyelinap ke belakang tiang besi di depan pintu, lalu mengintip perlahan melalui celah yang terbuka. Di dalam ruangan yang remang-remang, sebuah sosok berjaket hoodie warna gelap berdiri tepat di depan kulkas besar berukuran dua pintu. Punggungnya sedikit membungkuk, tangan kanannya memegang botol kecil berwarna gelap dengan cairan keruh di dalamnya. Jemarinya sudah mulai meraih tutup wadah besar yang berisi kaldu ikan—kaldu yang sudah Yuki susah payah siapkan tadi sore, dengan proses penyaringan yang berlangsung lebih dari dua jam.
"Kalau kamu tuang itu ke dalamnya, kaldu akan mulai membusuk dalam satu jam karena reaksi enzim yang tidak terkendali." Suara Ren terdengar rendah namun jelas, memecah kesunyian malam seperti denting logam yang menusuk. "Semua kerja keras kita hari ini akan hilang begitu saja."
Sosok itu tersentak hebat, bahunya melompat ke atas dan botol kecil di tangannya hampir terjatuh ke lantai. Ia berbalik dengan gerakan panik, wajahnya tertutup masker kain yang menutupi dari hidung hingga dagu, namun matanya yang melotot lebar menunjukkan rasa takut yang luar biasa. Tanpa sepatah kata pun, ia mengangkat bahunya dan mencoba menerjang Ren untuk melarikan diri melalui celah pintu.
Ren tidak sedikit pun terkejut. Saat sosok itu menghampiri dengan langkah terburu-buru, ia melakukan gerakan yang cepat namun terkontrol—gerakan yang ibunya ajarkan saat ia masih kecil, untuk melindungi dapur dari orang yang tidak diinginkan. Tangan kirinya menyergap pergelangan tangan penyusup dengan presisi, sedikit memutarnya ke arah yang salah, lalu menekannya perlahan ke permukaan meja stainless steel hingga terdengar bunyi "debum" yang solid namun tidak terlalu keras.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Ryuji Asuka?" Ren bertanya dengan suara yang tetap tenang, namun ada aura dingin yang mengelilinginya membuat penyusup itu gemetar di bawah genggamannya. Keringat menetes dari dahi orang itu, mengalir ke bawah maskernya.
"A-aku tidak tahu siapa dia! Aku cuma dapat pesan dari seseorang yang memberi uang banyak kalau aku mau menaruh benda itu ke dalam makanan kalian!" Suaranya serak dan penuh dengan rasa takut, tubuhnya terus mencoba menarik diri meskipun tidak bisa melawan kekuatan Ren.
Ren sedikit melepaskan cengkeramannya saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah koridor jauh. Sebentar kemudian, cahaya senter menyambar ke dalam ruangan, menyinari sudut-dudut dapur yang sebelumnya gelap gulita. Bu Keiko muncul dengan mantel paritnya yang masih basah karena hujan, rambutnya sedikit kusut dan napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh.
"Ren! Aku melihat ada gerakan mencurigakan di CCTV keamanan belakang sekolah dan langsung datang ke sini—" Katanya terhenti mendadak saat melihat sosok penyusup yang sedang tertekan di atas meja dan Ren yang berdiri di depannya dengan tatapan yang dingin. Matanya segera menyusuri ke arah botol kecil yang kini tergeletak di lantai, cairan di dalamnya sedikit bergoyang mengikuti gerakan lantai yang tidak rata.
Bu Keiko mengambil botol itu dengan hati-hati menggunakan sapu tangan yang ada di saku mantelnya, matanya menyipit di balik kacamata bundarnya saat memeriksa isi botol. "Ini bukan barang sembarangan, Ren. Ini adalah zat pengurai protein buatan khusus—jika masuk ke dalam kaldu, rasa akan berubah menjadi pahit dan menyengat dalam waktu singkat, bahkan bisa membuat orang yang memakannya merasa tidak nyaman." Ia menatap Ren dengan pandangan yang serius. "Ini bukan sekadar prank atau kenakalan remaja. Ini adalah sabotase yang direncanakan dengan baik."
Ren menatap sosok yang kini meringkuk di sudut lantai dengan tatapan yang datar, tanpa ada rasa kasihan atau kemarahan yang terlihat jelas. "Lepaskan dia, Bu."
"Apa? Tapi dia baru saja mencoba menghancurkan semua persiapan kita untuk besok!" Keiko protes dengan suara yang sedikit meninggi, tidak menyangka Ren akan berkata seperti itu.
"Dia Hanya alat yang digunakan orang lain. Menahan dia tidak akan menghentikan yang sebenarnya memerintahkan." Ren melangkah mendekati penyusup itu, membungkuk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan mata orang itu yang masih penuh ketakutan. "Pergi dari sini. Dan katakan pada orang yang membayar kamu—jika dia ingin menang dalam kompetisi, silakan gunakan keterampilan memasaknya, bukan cara yang tidak jujur seperti ini. Jika dia berani menyentuh dapur atau teman-temanku sekali lagi..." Ren menjepit tangan kanannya sebentar, membuat jari jemari terdengar menggerincing. "...aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa memegang sendok makan lagi seumur hidupnya."
Penyusup itu tidak perlu diberitahu dua kali. Ia segera bangkit dengan tubuh yang masih gemetar, lalu berlari tunggang langgang menuju jendela belakang yang rupanya sudah dicongkel dari luar, meninggalkan celah cukup besar untuk dilewati. Dalam sekejap, sosok itu hilang dari pandangan mereka, hanya menyisakan suara kaki yang mengejar jauh dan deru angin yang masuk melalui jendela terbuka.
Bu Keiko menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke tepi meja dapur, tangan kanannya memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit karena tegang. "Kamu terlalu berisiko dengan keputusanmu itu, Ren. Kita bisa saja melaporkan ini ke polisi—dengan bukti botol ini, mereka pasti akan menyelidiki dan bisa saja mendiskualifikasi Asuka Jaya dari kompetisi."
Ren menggelengkan kepalanya perlahan saat berjalan menuju kulkas besar. Ia membuka pintunya dan memeriksa wadah kaldu yang masih utuh di dalamnya—untungnya, tidak ada satu tetes pun zat asing yang masuk ke dalam. "Tanpa bukti yang langsung menghubungkan dia dengan Ryuji, mereka hanya akan menganggap ini sebagai tindakan seorang pencuri atau orang yang tidak senang pada sekolah kita. Dan yang lebih penting..." Ia menutup pintu kulkas dengan hati-hati dan mengunciinya dengan gembok tambahan. "...aku ingin mengalahkannya dengan cara yang benar—di depan semua orang, dengan hidangan yang bisa membuktikan bahwa rasa yang dibuat dengan hati jauh lebih berharga daripada yang dibuat dengan uang dan trik kotor."
Bu Keiko diam sejenak, menatap Ren dari kejauhan. Di wajah pemuda itu, ia melihat bayangan sosok Kudo—ayah Ren yang juga seorang koki hebat. Tapi ada juga sesuatu yang lebih dalam, sebuah keteguhan yang kuat bahkan sampai terasa sedikit menakutkan. Ia melangkah mendekati Ren dan dengan lembut meletakkan tangannya di lengan bajunya yang sedikit berantakan dan basah karena hujan.
"Jangan pernah berpikir bahwa kamu harus menanggung segalanya sendiri, Ren." Suaranya terdengar begitu lembut dan manusiawi, jauh berbeda dari sosok guru matematika yang selalu kaku dan tegas di kelas. "Aku datang ke sekolah ini bukan hanya untuk mengajar angka dan rumus. Aku di sini untuk memastikan kalian semua bisa mengejar impianmu dan pulang dengan selamat setiap hari."
Ren merasakan kehangatan dari tangan Bu Keiko yang sedikit dingin karena terkena hujan. Ia menoleh dan melihat kekhawatiran yang tulus di mata gurunya—kekhawatiran yang sama seperti yang pernah diberikan ibunya sebelum dia pergi. Di ruang dapur yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung remang-remang, hubungan di antara mereka terasa begitu intim, melampaui batasan yang biasanya ada antara guru dan murid.
"Terima kasih, Bu." Ren mengucapkannya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar di tengah suara angin yang masuk melalui jendela terbuka. "Tapi tolong... jangan beri tahu Hana atau Yuki tentang apa yang terjadi malam ini. Aku tidak ingin mereka merasa takut atau terganggu saat memasak besok pagi. Mereka perlu fokus pada yang terbaik."
Bu Keiko mengangguk perlahan dan memberikan senyum yang lembut. "Baiklah, aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Tapi sebagai gantinya, izinkan aku menemanimu di sini sampai pagi hari. Tidak ada salahnya kita berjaga bersama agar tidak ada yang berani datang lagi untuk mengganggu kita."
Malam itu, mereka berdua duduk berdampingan di atas kursi tinggi yang menghadap jendela. Tidak banyak kata yang diucapkan—hanya ditemani oleh suara detik jam di dinding yang berdenyut dengan tetap dan desisan hujan yang mulai turun lagi dengan lebih deras. Ren melihat ke luar jendela, menyaksikan tetesan air yang menetes di kaca dan membentuk bayangan kabur dari jalan raya yang sepi. Saat itu juga ia menyadari bahwa perjuangan mereka melawan Asuka Jaya sudah tidak lagi hanya tentang memenangkan kompetisi atau melindungi nama baik restoran keluarga. Ini adalah tentang melindungi orang-orang yang mulai merasa seperti keluarga baginya—orang-orang yang membuat dapur itu terasa lebih hangat dari rumahnya sendiri.