(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 114: Tarian Bayangan
Di ruang bawah tanah perkebunan rahasia, obor menyala terang.
Di hadapan kelima murid bayangannya yang berlutut, Zhao Xuan (12 tahun) berdiri dengan tangan di belakang punggung. Di sisinya, Xiao Mei berdiri anggun dengan gaun merah darahnya, memancarkan keagungan absolut yang membuat kelima remaja fana itu menahan napas.
"Sebelum kalian melangkah ke medan perburuan yang sesungguhnya," suara Zhao Xuan menggema datar, "kalian harus memahami gunung yang akan kalian daki. Alam semesta ini diikat oleh delapan tangga kultivasi mutlak."
Zhao Xuan mengangkat tangannya, dan Xiao Mei dengan patuh memadatkan Qi-nya di udara untuk membentuk tulisan bercahaya sesuai dengan ucapan tuannya.
"Pertama, Qi Condensation (Pengumpulan Qi) Lapis 1-9. Ini adalah tahap dasar fisik, menyerap energi alam ke dalam otot dan tulang. Kalian berlima saat ini berada di Lapis 1.
Kedua, Foundation Establishment (Pembentukan Fondasi). Tahap membangun pilar spiritual di Dantian.
Ketiga, Core Formation (Pembentukan Inti). Memadatkan energi menjadi inti tenaga dalam yang padat.
Keempat, Nascent Soul (Jiwa Baru). Kelahiran jiwa baru yang abadi, memisahkan diri dari batas fana.
Kelima, Soul Transformation (Transformasi Jiwa). Tahap di mana kekuatan jiwa bisa memengaruhi dan memanipulasi materi secara langsung. Di tahap inilah Nona Xiao Mei berada saat ini.
Keenam, Ascendant (Kenaikan). Tahap menyatu dengan ketiadaan dan hukum dimensi.
Ketujuh, Nirvana. Tahap setengah dewa, di mana hukum alam tunduk pada sang kultivator. Ini adalah tahap Leluhur klan-klan yang saat ini menginvasi dunia kita.
Dan kedelapan... God Emperor." Mata hitam Zhao Xuan berkilat tajam. "Penguasa mutlak hukum alam. Takhta yang akan kita rebut kembali."
Jue Ying dan keempat bayangan lainnya menelan ludah. Mendengar bahwa wanita cantik di sebelah Tuan mereka berada di ranah Soul Transformation empat tingkat penuh di atas mereka membuat mereka menyadari betapa mengerikannya koneksi Tuan mereka. Dan fakta bahwa target mereka adalah God Emperor... fanatisme di mata mereka semakin membakar.
"Tuan," Xiao Mei menundukkan kepalanya dengan hormat kepada Zhao Xuan, mengabaikan statusnya sendiri sebagai penguasa ranah jiwa. Ia lalu melepaskan sebuah cincin spasial dari jarinya. "Anak-anak ini memiliki tekad Asura, tapi Lapis 1 Qi Condensation terlalu lambat. Ini adalah sebagian dari perbendaharaan pribadi saya. Sepuluh ribu Batu Spiritual Tingkat Menengah, dan seratus botol Pil Pembersih Sumsum."
Xiao Mei menjentikkan jarinya. Ratusan batu bercahaya biru murni dan botol-botol giok melayang dan mendarat di depan kelima bayangan itu.
"Telan pil itu, dan pegang batu spiritualnya," perintah Xiao Mei dengan nada dingin kepada Jue Ying dan yang lainnya. "Kalian adalah pedang Tuan Bayangan. Aku tidak akan membiarkan pedang Tuanku tumpul. Aku akan menggunakan Qi Soul Transformation-ku untuk melindungi meridian kalian agar tidak meledak saat menyerap energi ini secara paksa!"
Jue Ying tidak ragu. Ia menelan tiga pil sekaligus dan menggenggam batu spiritual.
"ARGH!"
Rasa sakit yang luar biasa menghantam kelima remaja itu saat Qi murni membanjiri tubuh fana mereka. Namun, sebuah tangan energi yang lembut dan sangat dingin Qi Yin milik Xiao Mei segera menyelimuti tubuh mereka, mendinginkan pembuluh darah mereka yang nyaris pecah, dan memandu energi buas itu masuk ke Dantian mereka dengan aman.
BAM! BAM! BAM!
Suara letupan teredam terdengar dari tubuh kelima remaja itu. Dalam waktu kurang dari dua jam, sebuah keajaiban yang akan membuat jenius Benua Tengah menangis darah terjadi. Dengan bimbingan langsung dari ahli Soul Transformation, kultivasi Jue Ying dan kawan-kawannya melesat naik!
Lapis 2... Lapis 4... dan akhirnya stabil di Lapis 6 Qi Condensation!
Tubuh mereka mengeluarkan keringat hitam yang berbau busuk kotoran fana yang berhasil dibuang. Otot mereka kini sekeras baja lentur, dan napas mereka seringan bulu.
Di sudut ruangan, Zhao Xuan yang masih bertubuh fana (tanpa Qi) mengambil satu Batu Spiritual Tingkat Menengah. Saat ia menggenggamnya, Sepuluh Roda Bintang Hitam di dalam jiwanya bereaksi. Dalam sekejap mata, batu spiritual itu berubah menjadi debu abu, energinya tersedot habis tanpa sisa ke dalam kekosongan Roda Bintang, seolah sebuah lubang hitam baru saja terbangun.
Menarik, batin Zhao Xuan tersenyum misterius. Kekuatan ini sangat rakus.
"Bersihkan diri kalian," perintah Zhao Xuan kepada kelima muridnya yang kini memancarkan aura pembunuh yang jauh lebih mematikan. "Malam ini, Klan Yao mendirikan kemah pengumpulan sumber daya di Hutan Timur, dijaga oleh sepuluh ahli Qi Condensation Lapis 8 dan dipimpin oleh satu Foundation Establishment awal. Jue Ying, bawa kepala pemimpin mereka padaku."
"Pedang kami adalah kehendakmu, Tuan!" jawab Jue Ying, suaranya kini mengandung getaran energi yang mematikan.
Tengah malam, Hutan Timur Kerajaan Zhao.
Sebuah kemah besar dengan panji 'Tungku Api' berdiri di tengah pembukaan hutan. Puluhan peti berisi tanaman obat fana dan besi berharga yang dirampas dari desa-desa sekitar tertumpuk rapi.
Di tengah kemah, Tetua Gu, seorang ahli awal Foundation Establishment dari Klan Yao, sedang duduk menikmati anggur.
"Dunia fana ini benar-benar miskin," gerutu Tetua Gu. "Tapi setidaknya membunuh semut-semut di sini untuk mengumpulkan poin kuota sangatlah mudah."
Di luar tenda, sepuluh murid Klan Yao tingkat tinggi Qi Condensation sedang berjaga. Mereka mengobrol santai, meremehkan tempat ini.
Di atas dahan pohon ek yang gelap, lima bayangan menyatu sempurna dengan malam. Seni Penyembunyian Napas Asura yang diajarkan Zhao Xuan membuat mereka tidak terdeteksi, bahkan oleh insting spiritual Tetua Gu sekalipun.
Jue Ying memberikan isyarat tangan. Tarian kematian dimulai.
Dua murid Klan Yao yang sedang berpatroli di dekat semak-semak tiba-tiba merasakan hembusan angin dingin. Sebelum mereka bisa menoleh, dua tangan pucat membekap mulut mereka dari belakang, sementara bilah belati hitam yang dilapisi Qi Lapis 6 mengiris persendian leher mereka dari titik buta. Tidak ada suara, tidak ada jeritan. Keduanya tumbang ke tanah perlahan.
Seni Pembongkar Tulang: Hantaman Senyap.
Dalam waktu tiga menit, menggunakan taktik gerilya, pengalihan lemparan batu, dan kecepatan fisik yang melebihi batas nalar kultivator biasa, kedelapan penjaga lainnya dieksekusi satu per satu dari dalam bayangan. Bagi Jue Ying, kultivator Lapis 8 atau 9 yang manja dan hanya mengandalkan sihir jarak jauh sangatlah rapuh dalam pertarungan jarak dekat.
Bau darah akhirnya tercium oleh Tetua Gu di dalam tenda.
"Siapa di luar?!" Tetua Gu membentak, meledakkan energi Foundation Establishment-nya hingga menghancurkan atap tenda.
Ia melayang ke udara, matanya membelalak melihat sepuluh muridnya tergeletak mati dengan leher tergorok rapi.
"Tikus fana mana yang berani—"
WUSSH!
Dari empat penjuru mata angin, empat bayangan melesat serentak ke arah Tetua Gu di udara. Mereka melemparkan belati hitam mereka yang telah diikat dengan kawat setipis rambut.
"Hmph! Senjata mainan!" Tetua Gu mencibir, memanggil Perisai Api Tungku di sekeliling tubuhnya. Belati-belati itu terpental, namun kawat-kawatnya saling menyilang, mengikat perisai api itu layaknya jaring laba-laba.
"Sekarang, Jue Ying!" teriak salah satu bayangan.
Keempat bayangan itu serentak menarik kawat tersebut dari empat arah yang berlawanan, menggunakan pepohonan sebagai titik tumpu (katrol fisik). Gaya tarik kinetik raksasa itu menahan posisi Tetua Gu di udara secara paksa selama satu detik penuh!
Satu detik adalah waktu yang setara dengan keabadian bagi seorang pembunuh bayaran tingkat dewa.
Dari dahan tertinggi tepat di atas Tetua Gu, Jue Ying melesat turun dengan kecepatan peluru. Ia memusatkan seluruh Qi Lapis 6-nya ke tumit kaki kanannya. Memanfaatkan gravitasi dan momentum jatuh bebas, Jue Ying menggunakan tubuhnya sendiri sebagai godam penembus zirah!
Seni Pembongkar Tulang Asura.
BAMMM! KRAAAAK!
Tumit Jue Ying menghantam tepat di titik puncak Perisai Api Tungku. Resonansi kinetik yang berpusat pada satu titik itu menghancurkan perisai spiritual Tetua Gu layaknya kaca.
"T-Tidak mungkin! Lapis 6?!" jerit Tetua Gu saat perisainya hancur. Ia mencoba memadatkan Qi di Dantian-nya untuk melawan.
Namun, saat Jue Ying mendarat di dada sang tetua dan mereka berdua jatuh menghantam tanah, remaja berbekas luka itu tidak memberinya kesempatan bernapas. Tangan kiri Jue Ying menepis tangan sang tetua yang mencoba merapal mantra, sementara tangan kanannya yang membentuk pukulan Phoenix Eye (buku jari telunjuk menonjol) menghantam tepat di ulu hati (titik Dantian) sang kultivator.
JLEEEB!
Tulang rusuk Tetua Gu patah menancap ke organ dalamnya. Dantian pilar spiritualnya retak parah akibat injeksi mematikan dari Niat Membunuh Jue Ying. Ahli Foundation Establishment itu kejang-kejang, darah hitam menyembur dari mulutnya, sebelum akhirnya mati dengan mata melotot penuh ketidakpercayaan.
Pertempuran selesai. Sepuluh elit dan satu ahli fondasi dibantai oleh lima bayangan tingkat rendah tanpa menggunakan satu pun Qi elemen. Murni eksekusi jarak dekat.
Jue Ying berdiri perlahan, mengusap cipratan darah musuh dari pipinya. Ia memenggal kepala Tetua Gu, lalu menatap keempat rekannya yang memancarkan aura kemenangan yang gelap.
"Ambil semua cincin penyimpanan mereka. Bakar kemah ini," perintah Jue Ying dingin, suaranya semakin menyerupai Tuan Bayangannya. "Tuan sedang menunggu rampasan kita."