NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:44.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Baru di Sayap Kanan

Pukul empat tepat, mobil Matthias sudah terparkir manis di depan fakultas. Sepanjang jalan pulang, Matthias bersikap seolah semuanya normal, meski Sheena terus-menerus meremas ujung cardigan kremnya karena gugup.

Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam mansion, Sheena bermaksud langsung lari ke kamarnya di sayap kiri untuk menenangkan jantungnya. Namun, ia melihat beberapa pelayan sedang sibuk membawa tumpukan buku kedokterannya dan beberapa koper pakaian miliknya keluar dari kamar itu.

"Eh? Tunggu! Mau dibawa ke mana barang-barangku?" Seru Sheena panik. Ia segera menoleh ke arah Matthias yang sedang melepas jam tangan mahalnya dengan santai. "Matthias, apa yang terjadi? Kenapa mereka mengosongkan kamarku?"

Matthias tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan tas kerjanya pada pelayan lain, lalu menatap Sheena dengan tatapan yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan.

"Kamar itu akan direnovasi," jawab Matthias pendek.

"Direnovasi? Kenapa mendadak sekali? Lalu aku tidur di mana malam ini? Di sofa?" Tanya Sheena bertubi-tubi.

Matthias melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sheena harus mendongak. Ia meletakkan kedua tangannya di saku celana, menatap Sheena lurus-lurus.

"Kau akan tidur di kamarku. Mulai malam ini, dan malam-malam seterusnya," ucap Matthias tanpa beban, seolah ia baru saja membicarakan jadwal cuaca.

Mata Sheena membelalak sempurna. "A-apa? Satu kamar? Denganmu?!"

"Kita sudah menikah, Sheena. Secara hukum dan agama, itu hal yang wajar. Lagi pula..." Matthias sedikit menunduk, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Sheena berdiri. "...aku tidak suka harus berjalan jauh ke kamarmu setiap kali aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Lebih mudah jika kau berada dalam jangkauan tanganku."

"Tapi... tapi aku punya kebiasaan merapikan barang! Aku bisa mengganggu kenyamananmu!" Sheena mencoba mencari alasan terakhir untuk menyelamatkan harga dirinya yang mulai goyah.

Matthias justru tersenyum tipis—senyum yang sangat mematikan. "Aku sudah menyiapkan satu meja khusus untukmu di sana. Kau boleh menyusun pulpenmu se-simetris mungkin, aku tidak keberatan. Sekarang, naiklah. Kamar sudah disiapkan."

Sheena berjalan menaiki tangga dengan lutut yang terasa lemas. Begitu masuk ke kamar Matthias yang luas dan maskulin itu, ia melihat ranjang king size yang semalam menjadi saksi bisu mereka berpelukan. Sekarang, bantal milik Sheena sudah bersanding rapi dengan bantal Matthias.

Sheena berdiri kaku di depan lemari besar yang kini terbagi dua: setelan jas gelap Matthias dan baju-baju santai milik Sheena di sisi lainnya.

Matthias masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar sangat final di telinga Sheena. Pria itu melepas dasinya, membiarkan kancing kemeja teratasnya terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang kokoh.

"Kenapa diam saja? Masuklah. Ini kamarmu juga sekarang," ucap Matthias sambil berjalan menuju kamar mandi.

Namun sebelum menghilang di balik pintu, Matthias berhenti sejenak dan menoleh. "Dan satu lagi, Sheena. Di kamar ini, tidak ada aturan 'dilarang menyentuh'. Aku harap kau sudah siap dengan itu."

Blam.

Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan Sheena yang jatuh terduduk di tepi ranjang sambil memegangi pipinya yang terasa terbakar. Satu kamar dengan raksasa seperti Matthias Smith? Sheena merasa ujian kedokterannya jauh lebih mudah daripada harus menghadapi malam-malam yang akan datang di ruangan ini.

"Siapa pun, tolong aku."

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!