Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Meteor Biru
Kota Astra City masih bergetar setelah ledakan terakhir. Bau asap dan debu menyelimuti jalan-jalan, lampu jalan berkelap-kelip, dan sirine mobil patroli terus meraung di kejauhan. Raka berdiri di tengah jalan, tangan masih bersinar biru terang. Nafasnya terengah, tapi matanya menatap tajam ke arah pusat kota, di mana bayangan api hitam mengamuk.
Kayla mendarat di sampingnya, rambut merahnya masih berantakan karena angin. “Raka, kita harus bertindak sekarang! Mereka terlalu banyak, dan energi ini… jangan sampai lepas kendali lagi!” serunya, menahan beberapa puing yang jatuh dari gedung yang mulai runtuh.
Raka menelan ludah, mencoba menenangkan denyut jantungnya. “Aku tahu, Kayla… tapi aku harus belajar mengendalikannya. Aku… aku tidak ingin melukai kalian semua, apalagi orang-orang di jalan ini.”
Kayla mengerutkan alis. “Tidak ada waktu untuk berpikir seperti itu! Kalau kau ragu… kau bisa membunuh mereka tanpa sadar.”
Sementara itu, bayangan bergerak cepat dari sisi gedung, menembus kegelapan. Itu Adrian, yang diam-diam mengikuti Raka. Tangannya terulur, bayangan hitam menjalar dari kaki hingga ujung jari, siap menyerang. Ia menatap Raka dan Kayla, menilai kekuatan Raka yang baru saja muncul.
Raka merasakan kehadiran Adrian dan menatap ke arah bayangan yang bergerak lincah itu. “Adrian… apa maksudmu ikut campur? Kau bukan bagian dari ini!”
Adrian melangkah maju, suaranya dingin. “Aku tidak ikut campur, Raka. Aku memastikan kau tidak kehilangan kontrol sebelum kau terlalu jauh. Kau belum siap untuk apa yang menantimu.”
Tiba-tiba, dari arah pusat kota, terdengar ledakan besar disertai teriakan. Sebuah Astra liar muncul, tubuhnya terbakar api hitam, matanya merah menyala. Ia mengamuk tanpa arah, menyerang semua yang bergerak di sekitarnya.
Kayla mengerutkan alis. “Itu… itu salah satu yang muncul saat Gerhana Abadi! Raka, cepat!”
Raka menarik napas dalam, energi birunya berkumpul di tangannya. “Aku… aku bisa melakukannya. Aku harus bisa!”
Dengan satu lompatan, Raka meluncur ke arah Astra liar itu. Cahaya biru menyebar dari tubuhnya, membentuk medan energi yang mendorong beberapa puing jauh dari warga yang berlarian.
“Raka! Fokuskan energimu!” teriak Kayla, mengangkat tangan dan membuat medan gravitasi kecil untuk menahan reruntuhan jatuh di sekitarnya.
Raka menatap makhluk itu, dan untuk pertama kalinya ia merasakan kendali nyata atas kekuatannya. Plasma biru yang menyelimuti tubuhnya bergerak seirama dengan pikirannya, menargetkan setiap serangan makhluk itu.
“Ini… tidak buruk,” gumam Raka pelan, tapi tiba-tiba makhluk itu berubah bentuk. Tubuhnya meluas, bayangan api hitam menyebar, dan energi Raka hampir tersedot ke dalam pusaran kegelapan.
Kayla menatapnya panik. “Raka! Hati-hati! Jangan biarkan dirimu tersedot!”
Raka menutup mata, mencoba menenangkan diri. “Aku bisa… aku harus bisa!” Ia mengangkat tangan dan melepaskan gelombang plasma biru besar. Ledakan itu memantul di gedung sekitar, memecahkan kaca dan mengirimkan gelombang kejut. Astra liar itu terhuyung mundur, matanya merah menyala tapi ada rasa takut yang muncul sesaat.
Adrian muncul dari bayangan gedung lain, menatap Raka dengan serius. “Lihat? Kau mulai memahami. Tapi ini baru permulaan. Kau harus lebih cepat, atau kota ini akan hancur.”
Raka menatap Adrian. “Aku tidak butuh ceramahmu. Fokusku ada di sini!”
Kayla menatap keduanya, lalu kembali ke makhluk yang tersisa. Ia mengangkat tangan, mengendalikan gravitasi di sekitar makhluk itu, membuatnya sulit bergerak. “Raka! Sekarang!”
Raka menatap, memusatkan seluruh energinya. Tubuhnya bersinar lebih terang, plasma biru menyebar ke seluruh jalan, membentuk perisai sekaligus serangan. Dengan satu ledakan besar, makhluk itu hancur, api hitamnya lenyap, dan kota di sekitarnya hanya tersisa debu dan puing.
Raka terengah-engah, energi di tangannya mulai memudar. “Aku… aku berhasil,” gumamnya, tubuhnya gemetar karena kelelahan.
Kayla melompat ke sampingnya, tersenyum tipis. “Kau berhasil, tapi lihat sekelilingmu. Kota ini… hancur parah. Kau baru mulai, Raka. Ini baru permulaan.”
Adrian mendekat, bayangannya mengalir di tanah. “Kau tidak menyadari, tapi setiap kekuatan yang kau lepaskan akan meninggalkan jejak. Helios, Eclipse… semua yang mengincar Astra akan tahu tentangmu. Dan mereka akan datang. Lebih banyak dari ini.”
Raka menunduk. “Aku… aku tidak tahu apakah aku siap untuk itu.”
Kayla menepuk bahunya. “Kau tidak akan pernah benar-benar siap. Tapi kau bisa belajar, dan aku akan membantumu.”
Raka menatap ke langit yang masih merah dan retak, merasa detak jantungnya berpacu dengan kekuatan kosmik yang mengalir di tubuhnya. “Aku tidak punya pilihan lain, Kayla. Jika aku tidak menghadapinya sekarang… orang-orang akan mati.”
Adrian menatapnya, lalu menoleh ke langit. “Ya… dan kau harus siap menghadapi takdirmu. Karena apa yang datang berikutnya… tidak akan sesederhana ini.”
Tiba-tiba dari kejauhan, sebuah meteor biru terang jatuh dari langit, menabrak pinggiran kota dengan ledakan yang membuat Raka dan Kayla terlempar ke tanah. Debu dan serpihan beterbangan, dan energi Raka secara otomatis aktif lagi, melindungi mereka dari dampak.
Kayla menatap meteor itu, matanya melebar. “Apa itu…? Raka, kau melihatnya juga kan?”
Raka mengangguk, tubuhnya masih bercahaya biru. “Ya… itu… energi sama seperti yang ada di dalam diriku. Tapi… lebih kuat, lebih liar.”
Adrian menatap meteor itu dari jauh, bayangannya bergerak lebih gelap, seperti siap menyerang. “Ini baru awal. Meteor itu membawa sesuatu… sesuatu yang akan mengubah segalanya.”
Kayla menatap Raka, kepanikan dan kepercayaan bercampur di matanya. “Raka… kau harus menghadapinya. Bersama aku. Kita tidak bisa mundur lagi.”
Raka menarik napas dalam, menatap tangan yang bercahaya biru. Ia merasakan aliran energi yang sama dengan meteor itu, seperti panggilan yang menantinya. “Baiklah… aku siap. Aku akan menghadapinya. Untuk kota ini… dan untuk semua orang yang aku sayangi.”
Adrian tersenyum tipis, tapi dingin. “Bagus. Karena setelah ini… tidak ada jalan kembali. Semua akan berubah. Dan kau akan tahu, apa artinya menjadi Astra yang sesungguhnya.”
Di langit, meteor biru itu terbakar di udara, cahayanya memantul di gedung-gedung dan jalanan. Raka, Kayla, dan Adrian menatapnya. Ini bukan hanya peringatan. Ini adalah tantangan. Sebuah tanda bahwa kekuatan mereka, takdir mereka, dan seluruh kota akan diuji seperti belum pernah sebelumnya.
Dan untuk Raka, ini adalah saat pertama dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.