Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Pagi itu di kediaman utama keluarga Lopez, suasana terasa sedikit berbeda. Jika biasanya sang Mommy yang memegang kendali penuh atas drama anak-anaknya, pagi ini sang kepala keluarga, Mateo Lopez, duduk di ujung meja makan dengan koran fisik di tangannya, sebuah kebiasaan lama yang tak bisa ia tinggalkan meski dunia sudah serba digital.
Mateo adalah pria yang tenang namun memiliki aura yang sangat mengintimidasi. Berbeda dengan Zion yang meledak-ledak, Mateo adalah tipe pria yang bisa menghancurkan lawan bisnisnya hanya dengan satu panggilan telepon sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Zion belum turun?" tanya Mateo tanpa mengalihkan pandangan dari berita ekonomi.
"Sedang bersiap, Dad," jawab Lionel yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya. "Sepertinya semalam dia tidak tidur nyenyak. Kamarnya berantakan seperti habis kena badai."
Laxia, yang sedang asyik memoles kuku sambil menunggu sarapan, menimpali, "Bukan badai, Dad. Tapi hantu masa lalu. Kak Zion sedang 'berperang' dengan manajer proyek barunya, Cassie Vorcan."
Mateo menurunkan korannya perlahan. Matanya yang tajam menatap ke arah Laxia, lalu beralih ke istrinya yang baru saja bergabung di meja makan.
"Cassie Vorcan?" Mateo mengulang nama itu dengan nada datar, namun ada kilatan pengenalan di matanya. "Nama yang tidak asing. Bukankah itu gadis yang dulu sering kau bicarakan saat SMA, Zion?"
Tepat saat itu, Zion melangkah masuk ke ruang makan. Wajahnya tampak kuyu, namun ia berusaha tegap di depan ayahnya. "Pagi, Dad."
"Duduk, Zion," perintah Mateo. "Baru saja adikmu menceritakan tentang manajer proyekmu. Aku ingat nama itu. Gadis dari panti asuhan yang pernah kau bawa ke pesta ulang tahun perusahaan sepuluh tahun lalu, bukan? Yang kau bilang akan kau bawa ke California?"
Zion tertegun. Ia tidak menyangka ayahnya masih mengingat detail kecil itu. "Ya, Dad. Dia orang yang sama."
Mateo menyesap kopi hitamnya, matanya menatap lurus ke arah putra sulungnya. "Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian sepuluh tahun lalu. Tapi aku tahu satu hal, kau kehilangan fokus mu sejak dia menghilang. Dan sekarang dia kembali, dia bukan lagi gadis panti asuhan yang bisa kau beli dengan boneka atau janji manis. Dia adalah aset penting bagi proyek kita di South Side."
Mateo meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras hingga membuat si kembar tersentak.
"Zion, dengarkan Dad baik-baik," suara Mateo merendah, penuh otoritas. "Jika kau membiarkan perasaan pribadimu mengacaukan profesionalisme proyek ini, aku sendiri yang akan menendang mu keluar dari posisi direktur operasional. Aku tidak membesarkan seorang pecundang yang mengejar-ngejar wanita hingga melupakan tanggung jawabnya sebagai pewaris Lopez Group."
Zion mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku tidak akan mengacau, Dad."
"Bagus. Karena aku mendengar dari orang-orang ku di lapangan, Cassie Vorcan adalah wanita yang sangat keras kepala. Dia tidak butuh uang kita, dia butuh hasil kerja yang sempurna," Mateo berdiri, merapikan jasnya. "Satu lagi, Zion. Dad melihatmu kemarin memacu mobilmu di Michigan Avenue seperti orang kesurupan. Jika aku mendengar kau balapan lagi hanya karena frustrasi oleh seorang wanita, kunci mobilmu akan aku sita selamanya. Kau mengerti?"
"Mengerti, Dad," jawab Zion parau.
Mateo mengangguk sekali, lalu mencium kening istrinya sebelum berangkat. Namun, sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Mateo berhenti sejenak dan menoleh ke arah Zion.
"Zion... jika dia memang Cariad-mu seperti yang kau tulis di buku harian bodoh mu dulu, buktikan kau pria dewasa. Pria dewasa tidak meminta maaf dengan kata-kata, tapi dengan memperbaiki apa yang sudah ia hancurkan."
Setelah Mateo pergi, suasana meja makan kembali riuh oleh bisikan Lionel dan Laxia.
"Wah, Dad benar-benar tahu cara menekan tombol emosimu, Kak," bisik Laxia. "Tapi dia benar. Cassie itu sekarang seperti berlian yang sangat tajam. Salah sentuh, tanganmu yang berdarah."
Zion tidak menjawab. Ia hanya menatap kursi kosong ayahnya. Mateo tidak tahu bahwa apa yang dihancurkan Zion sepuluh tahun lalu bukan sekadar hati seorang gadis, melainkan sebuah masa depan yang kini berjalan di atas kaki kecil bernama Logan, rahasia yang bahkan belum diketahui oleh Zion sendiri.
Zion bangkit berdiri, mengambil kunci mobilnya dengan tekad baru. "Aku pergi ke lokasi proyek. Dan kalian berdua," Zion menunjuk si kembar, "berhentilah menjadi mata-mata. Atau aku akan pastikan kalian dipindahkan ke cabang di Alaska."
Laxia hanya menjulurkan lidahnya, sementara Lionel tersenyum tipis. Mereka tahu, drama hari ini di lokasi proyek akan jauh lebih seru daripada sarapan pagi ini.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.